Ketika Rasa Sedih Menghilang dan Hujan Tak Kunjung Datang

: dalam usaha mengingat sebuah fragmen kecil

Hujan tak datang-datang dan kau merasa tidak biasa. Semua tempat yang kau datangi, yang kau tinggali selalu hujan. Sehingga tak jarang, sejak kecil orang-orang menamaimu: Gadis Pembawa Hujan.  Ada rasa sedih yang seolah tersedan di dadamu, ketika daun-daun menguning dan tak lagi mampu menyimpan rindunya pada awan-awan kelabu.

Atas segala rasa sedih, tak ada serintik pun yang turun dari langit. Seolah-olah dunia sedang kehilangan perasaan. Dan terik mentari tak lagi menjadi menyenangkan. Bahkan segala yang terlalu terang itu menyakitkan. Dalam remangnya matahari sore, hembusan angin yang bagai nafas pada jiwa pun tak membekas. Kau mencoba menghitung segalanya kembali dengan menjejerkan sekian kerikil di tanah. Pasir kering bercucuran. Tanah kehilangan pegangannya. Kau melihat kelapa terbelah. Sekian pawang menahan langit berbarengan. Doa pun dengan sia-sia kau panjatkan.

Tak mengerti lagi kau akan bau cuaca. Akan bau hujan yang akan datang. Karena semua sedu sedan telah tertahan. Kau telah lupa bagaimana caranya tanah basah, aroma lembab yang menguat di ruas ujung hidungmu telah hilang. Demi Tuhan, betapa keringnya dunia ketika rasa sedih menghilang. Bahkan pertanda hujan pun tak lagi menjadi harapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s