cerita kedelapan untuk qq

detik ini, fiksi ini mencapai sepotong angka yang berputar seperti ular atau mungkin sebuah roti di toko bakeri yang melingkar-lingkar. kata-kata ini seperti eksperimen kimiawi di atas tuts-tuts hitam, eksperimen kimiawi sekumpulan cerita-cerita untukmu seorang. adalah kau! yang begitu kugilai untuk kutulis dan untuk kujadikan dewa di antara tulisan-tulisanku, atau mungkin tuhan karena keterpanaanku pada manusia-manusia yang memberhalakan segala hal.

biarkanlah aku bercerita suatu hal, suatu senja yang semarak dengan pecahan kaca dan ada diriku di antaranya. aku, sebuah metromini ibukota, sepotong tongkat besi dan hujan beling kering. memang kekerasan adalah makanan sehari-sehari ibukota atau lebih tepatnya suatu kebiasaan. sejenak aku membenci diriku yang nyaris dihujami kaca bis metromini, karena seperti orang gagu aku menjadi penonton setia kehidupan yang berlalu. senja yang berlalu dengan pilu, penuh amarah dari penggengam tongkat besi.

radio masih bergema dengan pengadilan, aku jatuh ke tanah mendengarkan dakwaan yang berjalan nyaris satu jam lamanya untuk membicarakan detail-detail peluru anak sang jendral tua. aku muntah tepat di depan muka, lalu setengah berpikir tak bisakah hakim berkacamata membaca sendiri dengan seksama. kawan dekatku hanya tertawa, pahit, miris dan dengan sangat sarkistis. hukum di negeri ini memang sebuah sandiwara, melebihi cerita wayang, katanya dengan tawa membahana, ha-ha-ha-ha.

aku mati hari itu, berkali-kali, dibunuh diri sendiri dan dibunuh oleh udara yang kuhirup. aku menghentikan doa-doa dan menyembahmu sejadi-jadinya.

“Pranggg!!!” bunyi itu benar-benar memekakkan mendungnya senja di dalam bis kota. Sebilah kaca melayang mengenai kulit hidungku di sebelah kiri, aku merabanya, tidak, tidak luka, hanya seperti panas tergesek. Hanya kekagetan yang berdegup dalam kekerasan instan harian di jalanan kota Jakarta.

Soneta LXVI
-Pablo Neruda

Aku tidak mencintaimu kecuali karena aku mencintaimu;
aku pergi dari mencintaimu menjadi tidak mencintaimu,
dari menunggu menjadi tidak menunggu dirimu
hatiku berjalan dari dingin menjadi berapi.

Aku mencintaimu hanya karena kamulah yang aku cinta;
aku membencimu tanpa henti,
dan membencimu bertekuk kepadamu
dan besarnya cintaku yang berubah untukmu adalah bila aku tidak mencintaimu tetapi mencintaimu dengan buta.

Mungkin cahaya bulan Januari akan memamah hatiku dengan sinar kejamnya,
mencuri kunciku pada ketenangan sejati.

Dalam bagian cerita ini hanya akulah yang mati, hanya satu-satunya,
dan aku akan mati karena cinta karena aku mencintaimu.
karena aku mencintaimu, cintaku, dalam api dan dalam darah.

-terjemahanku

yah, karena aku begitu gila menulismu, aku jatuh, lalu mati dan buta.

hari ini panas, bangsat sekali, mungkin kata itu cukup untuk mengambarkan kekeringan ini. aku terbangun sore hari, masih panas sekali, hujan begitu tanggung untuk mengucurkan airnya. kedua orangtuaku bergeletakan seperti orang mati. lalu ada ciuman melintasiku, ada apa semalam tadi?

aku ingin merokok dan bercinta denganmu
tepat di ruang tamu itu
dengan lantainya yang berkotak hitam putih berpetak-petak

aku tak minta asbak bisa bicara saat itu
walau tembok melihat dengan seksama
apa yang diperdebatkan
apa yang didiskusikan
sewaktu kita pun sadar
berapa panjang lagi umur kita bersama di dunia

-bis kota, 06.03.02

cerita ketujuh untuk qq

seorang perempuan datang di kota bunga, datang sore itu bersama seorang laki-laki. laki-laki itu bukan kau, dia seorang penjaga. dia menjaganya sepenuh hati sampai waktu menginjak bulan ketujuh, dia terkadang mungkin ingin meninjumu tepat di pelipis kiri. dia menawarkan perempuan itu sebungkus rokok di suatu tepian tangga, dan malam itu mereka tidur berdua, saling bersisian, menjaga, itu saja. karena lelah begitu tak terkandung, berjalan sepanjang jalan panjang melewati pelacur-pelacur dan menginap di hotel tua. karena dia adalah penjaga bukan si pecinta.

fragmen-fragmen cerita ini untuk seorang laki-laki*

Dia adalah sebuah misteri yang datang dan pergi. Aku bertemu dengan misteri itu pada sebuah senja yang mendung, udaranya pekat, juga lengket khas dengan bau hujan yang menjadi prolog. Waktu itu ia mengenakan sweater merah pucat dengan sablon di dada kiri berwarna putih, samar dan tak terbaca, singkatnya nyaris hilang dan celana jeans biru muda dengan lubang di lutut kanan. Matanya seperti elang langsung menatap langsung dan menusuk, hidungnya bangir, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya cukup pendek tetapi tidak rapi seperti cukuran standard seorang serdadu. Tetapi dia bukanlah seorang serdadu, dia seorang pecinta yang datang untuk menagih sebuah hati.

Dia datang untukku. Hatiku.

Ruang tamu rumah itu, kursi-kursinya cukup tua sehingga kempis dan bantalannya agak melesak ke dalam. Dia duduk di pojokan salah satu kursi dan aku menempatkan diri di hadapannya. Tangannya menyentuh dagu sewaktu aku melewatinya. Aku mengamatinya, tajam matanya, kulit sawo matangnya, dadanya, pundak dan detil-detik tubuhnya. Entah kapan aku menjadi begitu jalang dalam liarnya tatapan, terutama padanya, si pecinta berbaju merah pucat.

Aku pun seorang pecinta, dan aku datang untuknya, tetapi kemejaku kotak-kotak warna krem dan celanaku hitam. Itulah yang membedakan kami.

Dan kami tiba di tempat itu untuk bercinta, satu hari satu malam, dimana-mana. Senja sudah menagih janji kami untuk bercinta, karena malam akan tiba dan waktu akan menjadi semakin pendek. Tetapi cinta bukanlah sekedar basa-basi, waktu mengujinya. Lalu kami bercinta dengan kata, dengan udara, dengan ciuman, dengan tubuh, dengan jiwa, masih dimana-mana.

Si pecinta pergi keesokan harinya, meninggalkan satu amplop coklat yang berisi sebuah foto pribadi, tumpukan pembatas buku dan segenggam kartu nama. Aku lari mengejar kereta, untuk pergi dan kembali. Karena dia masih sebuah misteri, juga aku.

Sebulan kemudian aku kembali, masih dengan kereta yang itu-itu juga melewati jalur yang itu-itu juga. Kota itu masih sama, dan si pecinta masih datang dengan keagresifan yang sama, dengan tatapan yang sama dan dengan hati yang sama. Aku datang membawa diriku seorang, demi sebuah penjagalan yang diatur oleh waktu setahun kemudian.

Dia menyambut dengan senyum, kubalas dengan senyum. Kami ingin mati di buaian matras bermalam-malam berikutnya sambil mengali lubang kuburan dalam kamarnya yang tak begitu dalam tetapi menembus langit malam. Kamar itu tidak kutemukan sebulan kemudian, melainkan sebuah kamar yang merah karena luka, mungkin oleh bekas darah.

“Dimana kuburan kita?” aku bertanya pada si pecinta.
“Sudah hilang karena harga sewanya semakin mahal, aku membakarnya tadi malam lalu kutebar di dalam kabut merah untuk mewarnai kamar ini. Setahuku kau suka merah, bukankah begitu?”

Kamar itu kuciumi, masih segar memang dengan api yang membara dan merah yang begitu menawan. Dia kuciumi, masih segar dengan bau sabun setelah mandi jam lima sore…………..

(bersambung)

*semoga bisa berlanjut menjadi sebuah buku