Sewaktu laki-laki itu memberi tanda, ia mengambil nafas dalam-dalam membaui kamarnya. Kerlipan mata hitam menggema ke segala ruang tubuhnya, laki-laki itu pergi keluar pintu dan ia mati membujur kaku, mengantung diri di antara langit-langit.

mata ingin membuang pergi
tapi rekatnya begitu dalam
menusuk semua yang ada
menusuk semua raga
juga jiwa

dalam melayang pun
elang tak jua bisa memangsa
semua yang tertinggal di atas sarang

tetapi semua harus tetap terbang

inilah bentuk kegilaanku yang kutumpahkan pada halaman-halaman hitam dan tinta-tinta merah merana, karena kata-kata memenuhi semua relung kepalaku, dari sela gigi sampai pojokan liang telinga, kata-kata yang melesak meruak dan tumpah ruah pada tuts-tuts keyboard ataupun bolpen-bolpen hitam. semuanya demi pembelaan sepotong bibir kelu dan sepasang mata sendu dan hati yang terlena, satu jiwa yang sedang menghancurkan kesemuan-kesemuan di muka. sebuah kebebasan yang tak butuh kepemilikan, di antara helai-helai daun cintaku.

PADA SEBUAH KOTA
sebuah fiksi percobaan
-Astrid Reza Widjaja

Pada sebuah kota kutitipkan pesan-pesan rindu, kosong dan berisi, perenungan-persetubuhan-penulisan dan kematian yang datar. Aku tidak hanya berbicara pada muka lampu sepetak taman, yang meredup dan berderaian ditutup tirai-tirai hitam, aku berguman pada tatanan batu-batu sungai, yang meluap lalu terbang. Lonceng-lonceng berdentang pada lentikan sepasang mata perempuan, yang kau setubuhi sepanjang senja. Aku bertanya ada apakah dengan jam malam, kau jawab hanya dengan sentuhan bibir tipis, pengerebekan, pengerebekan, sahutmu berulang-ulang pada mantra-mantra pagi hari. Keesokan harinya kutuliskan sepasang surat merpati pada para penjaga moral yang tengah bermabuk-mabukan dan beronani tolol di depan video-video porno sitaan. Kukirimi mereka seekor ayam bercat bulu-bulu pink, merah dan ungu, yang jika dimasak meninggalkan warna warni lipstick pada sisa minyak pengorengan. Mereka lalu mencariku dengan parang sembari menarik ristleting-ritsleting celana panjang dan membiarkan sperma-sperma yang setengah basah membusuk di antara celana dalam. Berpetak umpatlah kami mengelilingi sudut-sudut kota dan dalam sekejap aku berkeliaran seperti kelelawar malam, bermata burung hantu dan berkawan dengan tikus-tikus got. Kuketuk pintu kamarmu suatu petang dan kau masih bercinta, menikamku dari belakang, hanya melawan kekonvensionalan katamu setelah keringat-keringat bercucuran. Berdiamlah disini bisikmu di sela asap-asap batangan rokokmu yang kesembilan, moralitas sudah kuhancurkan tadi pagi dengan ledakan bom yang membuat mereka berteriak di pojokan neraka, lanjutmu saat kaunyalakan batang rokok yang kesepuluh. Kau aman, kau aman, aku memang aman, tidakkah aku selalu merasa demikian dalam setiap dekapanmu. Tetapi sayang, aku bukanlah kesetiaan, pada tetes embun pertama aku berjingkat, menyelipkan sepasang sandal kesayanganmu dan melemparkan diri kembali pada jalanan.

Masih pada sebuah kota, dimana perut-perut kosong meneriakkan yel-yelan massa dan rakyat sunyi dari bunyi-bunyi, seolah-olah tidak ambil peduli. Kita pernah duduk menonton mereka, dengan tempat duduk kelas pertama beserta sekantung cemilan-cemilan yang kita bawa. Sandiwara bertujuan mulia yang kehilangan penontonnya satu per satu, hanya kita yang duduk tertinggal dan masih mengunyah sebutir dua butir kacang. Drama perjuangan yang tragis komentarmu, setelah semua pemain berjatuhan dan diangkut ke rumah sakit terdekat. Kita bangkit dan menepuk debu-debu yang melekat pada pantat, membuang bungkusan kacang dan berlomba lari pulang. Kita bersungguh-sungguh berlarian pulang karena tak lama terdengar suara-suara tembakan pembubaran, walau sepanjang jalan gas alam di perutmu mendesak keluar dan dua jariku mencoba menutup hidung, bau-bau amis darah, kentut masam yang berpadu dengan malam.

Di sepanjang kelokan tangga kota ini kutuliskan pesan-pesan, kugoreskan puisi-puisi dan kugantungkan prosa-prosa percobaan. Satu tembok kusam habis tertempel foto-fotomu dan satu tembok putih penuh sketsa-sketsa pensilmu. Kamarmu, ruangan yang menjadi galeri pameran kita, sewaktu kita bercinta tanpa pintu dan jendela, hanya di halaman depan terpampang rapi tulisan kami tidak butuh pengakuan dan ritual ikatan. Semua orang diam, suara televisi menjerang dan nyanyian radio bersayup-sayup kelam. Kuingin mengandung, aku ingin menghamilimu, dua buah keinginan tiba-tiba lepas kita nyatakan di antara desahan, seraya melepaskan kondom yang baru saja akan terpasang. Hari yang ditunggu selama sembilan bulan dan sepuluh hari telah tiba, aku merasakan ada sesuatu yang pecah pada perutku dan tak sadarkan diri. Dalam keremangan kulihat wajahmu terpaku menatap kematian tanpa kesedihan atau kesenduan, aku tak ingat apakah ada yang keluar dari liang rahimku, hanya pada sebuah kota, kutinggalkan sebuah kelahiran dan mimpi-mimpi pemberontakan.

Yk, 220102

Dialog [I]
utk d.a.r.

Hari itu bertutupkan kain bandana biru, separuh wajahmu dan bingkai kacamatamu menghiasi kesan-kesan penutupan hati yang luka. Seekor macan yang garang, terluka tetapi masih menunjukkan kegagahannya. Kulit-kulit kehitaman itu, itu kulitmu, bukan kulitnya. Kegelapanmu sewaktu lampu-lampu dipadamkan untuk satu malam saja. Adakah yang salah dalam belaian keibuan dan berbagi kehangatan? Lalu mengapa pagi berlarian melarikan diri, ke arah barat dan ke arah timur. Mereduplah pelita-pelita hati dalam sekejap bersama deruman motor yang terpencar pada sisi jalanan. Dan aku hanya tersisa dengan sebatang rokok di meja tamu. Karena dua malam itu tidak melahirkan cerita-cerita seribu seratus malam, hanya pembicaraan-pembicaraan dini belaka, empat puluh delapan jam lamanya.