AKY, sore hari

Gemuruh itu masih tertinggal di kedua liang telingaku, kawanku mengajakku pergi ke ruang ganti. Joned, sang sutradara adalah adik kelasnya. Aku tidak menyangka, ternyata laki-laki tadi adalah dia. Butir keringat masih mengalir di dadanya dan juga potongan rambutnya. Kusalami dia dan kuucapkan selamat, melalui temanku aku menyampaikan niatku untuk melihat naskahnya. Dia membalas untuk kapan-kapan main ke tempatnya dan kurasa aku akan.

Malam beranjak lelap, kami kembali setelah sebelumnya mampir makan di suatu warung pinggir jalan sambil masih membicarakan pertunjukan tadi. Kepalaku sungguh terasa benar-benar penuh, seperti ingin meledak, ingin melepaskan sesuatu.

Tetapi dimana dirimu?

Maka malam pun kusisakan bersama kawan-kawan dengan batangan rokok, percakapan dan juga beberapa botol minuman. Kepalaku terasa cukup ringan setelahnya, aku sedikit heran, aku yang jarang minum malah tidak mabuk. Sedangkan beberapa kawan mulai berjatuhan. Rasa kantukku mulai terasa sewaktu jarum jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, kuambil satu potong bantal berwarna merah muda pucat dan kumal. Tetap saja bantal itu empuk, bantal memang terkadang menjadi suatu kemewahan sendiri dalam tidur. Terlentang aku sementara di atas karpet dengan kepala di atas bantal. Aku merasakan ada kepala lain tidur dengan posisi terbalik dan berbagi bantal denganku walau cuma sebentar.

Sepertinya itu adalah kepalanya, dia yang baru saja kehilangan dompetnya. Kami sepertinya bernasib sama, setidak-tidaknya aku bernasib sama, kurang lebih dua minggu yang lalu. Dan satu hal lagi, dia baru saja kehilangan adiknya, aku terkadang kehilanganmu, tetapi tidak seperti itu. Kau masih beberapa puluh kilometer horizontal dari letak geografisku, sedangkan adiknya entah berapa kilometer ke arah vertikal mungkin atau ke arah semua mata angin. Kematian masih menjadi misteri yang tidak terjawabkan. Aku terkadang berpikir akhir-akhir ini dia menjadi cukup dekat denganku, apakah karena ada kemiripanku dengan adik perempuannya itu. Kupikir aku pun sering merasa nyaman di dekatnya. Malam kemarin aku menyentuh peta punggung kulitnya yang nyaris coklat kehitaman, nyaris seperti kegelapan kulitmu tetapi sepertinya masih kalah gelap. Terkadang dalam keremangan cahaya aku hanya bisa merasai semua lekukan tubuh dan deru nafasmu yang juga terlalu sunyi jika terlelap tidur, tapi cukuplah aku mengetahui adanya dirimu tanpa mengetahui di arah lorong-lorong gelap yang mana. Dengan nyala dian di tatapan matamu, semua akan menjadi sangat terasa.

Nyala dianmu, dianku, Dian aku.

15 Juni 2002, Sengkan, sore menjelang malam

Ada sesuatu pada punggungnya itu, sesuatu itu bukan pada sebutir jerawat kecil dari kelebihan hormonal yang wajar pada punggung seseorang yang menginjak masa muda. Hanya ada sesuatu yang terkadang menganggu mataku jika melihatnya. Daya tariknya yang seperti perempuan, punggung itu, yang coklat kehitaman nyaris seperti warna punggungmu. Sedikit lembut sewaktu tersentuh namun dapat tiba-tiba berubah menjadi sekeras tanah, gumpalan otot seorang laki-laki. Mungkin disitulah terletak semua pesona. Ada yang terpatri, terukir ketika sebuah koin menggores kulit punggungnya. Semuanya berubah menjadi merah ungu, ia baru saja masuk angin dan minta dikerok.

Masih pada punggung itu yang kukira nyaris sebidang lebar bahuku, tetapi semua itu runtuh ketika ia memakai kemejaku yang dengan segera sebagian bagian lengannya sedikit terangkat. Ada sesuatu juga pada bahu itu, yang suatu waktu pernah ia tawarkan padaku sewaktu kepalaku terantuk mengantuk. Bahu itu membuatku tenang dan perkataannya yang selalu kuingat adalah ketika ia berkata “Tidurlah di bahuku walaupun ia keras, sekeras hidupku…”. Terkadang aku ingin tersenyum ketika ia mengatakannya dengan wajah yang lugu dan sepotong ekspresi yang lucu. Memang jenaka jadinya, aku sedikit tersadar terbangun untuk menikmati keluguan yang sederhana itu.

17 Juni 2002, Pogung Lor, malam

Aku mulai melayangkan sedikit dari ingatanku kepada sebuah pantai di selatan pulau Jawa, Parangtritis. Sebuah tangan mengoncangkan tubuhku sekitar jam lima pagi, membangunkanku dari lelap. Lalu kami bergegas pergi untuk mengejar lagi matahari yang terbit di hari yang memang bertanda pagi, dari aroma embun dan kapas-kapas dedaunan, ada juga kedinginan merasuk dalam udara. Sempat terhenti pada semangkuk indomie goreng telur dan segelas teh hangat yang mengisi perut ala kadarnya.

Matahari mulai kelihatan telak di sebuah pinggiran jalan dan pematang sawah. Beberapa sosok manusia terlihat sedang memacul, sosok itu lalu tercetak pada suatu frame-frame dari rol film Konica Gold ASA 100. Masih ada kabut, pagi yang masih ngelangut.

Ada bunyi gitar.

Ada sesuatu yang tak tersangka di antara perburuan dan kamera-kamera. Ada sebuah perayaan dan juga ada sebuah ritual. Di lautan Selatan Jawa, tepat jam delapan pagi, awan seketika menutup langit. Lilin-lilin merah dinyalakan, buah-buahan dan bungkusan nasi bacang digelar di atas piring, lalu kertas-kertas kuning dengan aksara Cina.

Ada juga suaramu.

Kerterasingan menyeruak seketika, dalam satu potongan pandangan yang seperti pengambilan sudut sebuah film yang terputar. Orang-orang Cina, penduduk sekitar dan tiga orang wisatawan asing terlihat melintas. Seorang wanita berdoa, membakar hio yang berbau menyengat dan ember-ember merah terisikan dengan air bunga-bunga. Kenanga, melati, dan entah apa, warna-warna yang mengingatkanku pada ritual upacara Hindu.

Tetapi semua itu memang menjadi sangat asing dan sangat jauh. Mata begitu dekat tetapi akar sudah tercerabut kapan entah. Hati hanya bisa liris dan merasa jengah. Tidak ada kepemilikan pada ras, pada kepercayaan dan juga mungkin bangsa. Yang ada hanya perasaan manusia yang seketika merasa kesepian di antara birunya cakrawala laut.

Dan masih beberapa petikan gitarmu, siapamu, siapa kamu, kamu siapa?

Awan masih ada di atas kepala, sewaktu langit seharusnya sangat terang. Mistis ada di antara udara menjelang siang itu, lalu ada wanita tua yang kesurupan, matanya memeram dan tubuhnya jatuh tepat di pinggiran pantai selatan itu. Ia digotong oleh beberapa orang, entah sadar atau setengah sadar ia terduduk dan menyentuh beberapa orang di dekatnya. Kerumunan orang datang dan semuanya menjadi tidak kelihatan, hanya kumpulan-kumpulan manusia di antara air yang seharusnya asin khas angin pesisir pantai. Asin, bau asin itu semenjak pagi tidak terasa, aku semakin tidak mengerti. Beberapa hal di depanku ini meminta penjelasan yang ambigu.

Kau menoleh dan membaca sebagian, aku mengalihkan ketikan dan pembicaraan. Aku sedikit enggan. Kututup semuanya sementara.

19 Juni, Sengkan, pagi…

Karena dosa bukanlah berasal dari bibir juga revolusi tidak tersedia di meja makan pagi ini, sama sekali tidak hadir, bahkan tiada rasa kementahannya. Yang ada pagi ini hanya rasa lintingan tembakau, asinnya garam pada sambal yang takarannya sedikit kebanyakan, dan juga rasa bibirmu.

Aku seperti teringatkan pada satu scene dalam drama Shakespeare – Romeo and Juliet, ketika mereka bicara akan bibir.

Tetapi ini ciuman pertamamu…

Dan memang akupun tak mengerti apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, ketika tanganku menyentuh tanganmu, lalu jari-jariku mengenggam jari-jarimu, kakiku bersinggungan dengan kakimu, lenganku mendekapmu dan begitu juga sebaliknya. Tetapi kemudian apa yang memicu bibirku berciuman dengan bibirmu?

Ada guratan ristleting tas abu-abu pada kulit muka seseorang yang tertidur di sebelahmu dan juga sisa bekas luka di kepalanya ketika nyaris dibacok preman jalanan. Lalu sekali waktu terlihat bagian belakang lekukan punggungmu dan juga ritsleting jaketmu yang rusak membelahnya menjadi dua bagian yang sama-sama terbuka.

Pertanyaanmu terlalu lugu jika kau bicara tentang kehangatan yang terjadi pada tubuh, karena semalam memang dingin bangsat luar biasa.

Apakah karena kita memang butuh kehangatan? Aku butuh kehangatan?

Sungguh kali ini aku membutuhkan logika, hari ini, detik ini juga. Aku membutuhkan logika dalam suatu perasaan di hadapan jendela berwarna kuning dan hijau, juga di pojokan tembok sekat bambu. Sungguh sebenarnya aku masih menunggu-mu, bukan dirimu tetapi –mu yang lain yang tak tergantikan selama nyaris tiga tahun terakhir. Disinikah monolog-monolog tunggal akan berakhir hari ini?

Sepertinya akan ada sesuatu yang berubah di matamu kali ini, entah apa sebaiknya aku bisa melihatnya dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi. Kau masih terlelap, lelah dan juga sedikit sakit. Aku baru tidur beberapa jam sedangkan rol film di kameraku menunjukkan angka ke duapuluh tiga, sudah sarapan gorengan tahu serta nasi dan belum juga mandi selama nyaris dua hari lamanya.

Kulihat sepertinya ada yang berubah di antara guratan garis bibirmu, guratan bibirku yang tersisa disana, guratan bibirku yang kesekian…

Benar, aku melihat guratan itu yang mungkin akan tercetak di atas salah satu kertas film yang akan kucuci, bersama foto-foto yang lainnya. Bersama pintu yang berdiam sewaktu pagi sudah mulai meninggi dan juga beberapa ekor ayam yang bertengger di atas jendela bambu. Atau sosok seorang ibu yang mencari potongan-potongan kayu bakar karena memang lagi-lagi semalam tadi udara memang dingin bangsat sekali. Ada yang perlu dibakar, ada yang saling membakar, tapi apakah itu? Perlukah ada yang menjawab atau mentari yang tersirat di kamar itu pun sudah tahu…

+++

Catatan yang belum lagi selesai
Yogyakarta, 13 Juni 2002, masih terhitung pagi hari…

Bukankah sebuah catatan pun akan banyak bercerita setelah sekian lama tidak terketikkan atau tertuliskan selain menumpuk di suatu selaput otak? Tetapi untunglah karena sel otakku baru saja mengalami pencerahan semalam tadi dengan dua buah botol vodka tercampur dengan dua kaleng green sand, terhitung tujuh buah sloki di dalam takaran yang kira-kira satu per enam bagian gelas aqua plastik. Kepalaku terasa lebih ringan setelah kelelahan yang tak terkira seminggu-dua minggu terakhir ini, yang masih saja kupaksakan menonton pertunjukan teater bersama seorang kawan. Sepulangnya kepalaku semakin penuh rasanya, pertunjukan teater yang begitu dahsyat.

“THEKmU THUKNO THEKKU” yang di pentaskan teater Gradanalla, yang nama teaternya konon diambil dari nama salah satu kakak tiri Cinderella, memang membuatku sangat terkesan. Satu jam setengah sebelum pertunjukan berjalan, seorang kawan datang tiba-tiba menembus suatu percakapan yang dimuat oleh kelelahan dan rasa ngantuk. Ia mengajakku menonton teater dan segera menunggu keputusanku, lima menit terakhir sebelum berangkat menuju gedung LIP, aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Dan aku tidak menyesal, tidak sama sekali, mungkin aku pun akan sangat ingin menontonnya berulang kali, tetapi sayang, semalam adalah pertunjukan penutupan, yang terakhir.

Awal pertunjukan diwarnai dengan kericuhan kecil, dua orang anak-anak tidak diperbolehkan menonton, lalu muncullah seruan “Ini pelanggaran hak anak-anak untuk menonton pertunjukan teater!”. Tetapi mereka tetap keluar. Lalu lampu dimatikan, semuanya gelap. Cahaya biru masuk lalu merah, dalam biru ada percintaan antara laki-laki dan perempuan dan dalam merah laki-laki dengan laki-laki. Di tengah-tengah ada tarian dan di atas panggung ada lukisan yang nyaris terselesaikan. Bunyi kuas cat yang berpadu dengan kanvas dan lagu yang mendentam-dentam, disana ada birahi, disana ada persetubuhan.

Pertunjukkan berjalan, dengan ekspresi tarian dan juga suatu kenikmatan. Satu nada ponsel tiba-tiba berdering nyaring, kurasakan ada ketergangguan tetapi ternyata itu adalah juga bagian dari pertunjukan.

Selanjutnya aku merasa terseret pada akting seorang laki-laki, yang menjadi seorang homosexual, lalu menjadi seorang bayi, seorang anak-anak dan seorang banci. Ah, pada akhir pertunjukan ternyata dialah sang sutradara, Juned. Dia begitu berbakat. Ekspresi mukanya yang begitu teaterikal, sebuah wajah yang mampu menjadi siapa saja. Monolog dan dialog yang begitu cerdas. Aku ingin membaca naskahnya atau menontonnya lagi seribu kali sampai melekat semua di otakku ini. Lalu tariannya, tangan itu, pinggul itu, bahu dan ekspresi mata itu, suatu ide yang mungkin mengingatkanmu pada siaran “Putri Malam” di televisi pada tengah malam nyaris hari minggu. Melihat sosok seorang laki-laki dengan kain yang dibebatkan menjadi sebuah rok panjang dan di atasnya sebuah korset hitam perempuan, seorang banci yang pertama kali dilihatmu mungkin mengundang tawa di mulutmu. Tetapi tarian itu, gerakan itu begitu indah, dari sebuah kejenakaan beralih menjadi sebuah ironi, suatu kesatiran yang pedas. Tarian itu bisa berubah-ubah dalam suasana dan berakhir dengan sebuah kegilaan.

Ada dua orang bertopeng masuk, mengingatku dengan para penjaga moral yang munafik itu, selalu petantang petenteng membawa-membawa parang dan bendera-bendera agama. Kali ini pun ada parang dan juga nama-nama agama yang mengutuk si banci, memaksanya bertobat.

Aku memang berTuhan, tetapi aku memilih untuk tidak beragama. Tidak ada yang menerimaku. Aku pernah mengenal Isa, dia mengajarkan cinta kasih, tetapi apakah ada tempat untuk seorang banci? Tuhan menghukum Sodom dan Gomora, tetapi adakah mereka menjelaskan atau bertanya karena apa?

Mereka menyeretnya ke arah penonton, dan dia meraung-raung, menangis, terlalu banyak tangis yang pilu. Diseretnya lagi kembali ke pentas, dipotongnya rambutnya dengan kasar, dengan parang dan dalam suatu humor kegelapan akan dibakarnya dengan korek api tetapi seseorang dari mereka mengeluarkan gunting. Mereka benar-benar memotong rambutnya. Mereka pergi dan meninggalkan sendiri di atas panggung. Gelap.

Ia mencari-cari ibu, mencari orangtuanya. Karena sebab apakah dia harus dilahirkan dalam keadaan yang tak punya pilihan dan merasa terkutuk.

Ibu biarkanlah aku kembali masuk ke dalam rahimmu.

Ia mengiba.

Biarkanlah aku masuk ke dalam rahimmu, atau pada masa mudamu.

Ia menangis.

Apakah aku harus membunuh ayahku?

Ada keris panjang dan juga cambuk. Ada tarian kegilaan, ada perputaran dan ia menari dengan mata yang mendhem, seperti kesurupan. Tariannya terlalu liris, terlalu mengiris dan ironis. Sosok ayah yang terhantam keris, dengan sendiri dan juga olehnya.

Lagi-lagi gelap. Lukisan yang menyala.

Bau melati semerbak dalam kegelapan dan satu sosok manusia menyala dari arah penonton. Bau kubur, sesuatu dari aroma kematian. Sosok yang berjalan dan menempel pada lukisan, goresan kuas yang terakhir pada liang selangkangan. Semua gelap. Semua ditutup.

Tepuk tangan begemuruh panjang dan aku terhempas, terlepas dari semua sandaran dan juga tempat dudukku sedari tadi.

tapi sekali lagi, memang tak ada, tak ada selain dirimu dalam keremangan cahaya lampu, jumat subuh itu. tak ada memang tak ada selain dirimu. kecuali aku dan pojokan ranjangmu itu.