Mengenai Surat demi Surat

Beginilah adanya, akan surat-surat yang akan kita kirimkan kepada mantan kekasih, kepada kekasih dan kepada calon kekasih-kekasih di masa depan. Beginilah awalnya, bagaimana isi hati akan mulai tercurah dan banjir bandang perasaan akan datang, satu demi satu. Kata demi kata, dan surat-surat baik yang akan dikirimkan, genap dikirimkan dan terbuang terjadi begitu saja.

Kepada laki-laki yang selalu akan mengingat mengenai hujan. Dan kepada perempuan yang selalu akan dirundung hujan. Inilah bagaimana surat-surat itu akan terkirim dalam keadaan basah akan perasaan. Akan bagaimana rasanya tenggelam. Akan bagaimana kata-kata terasa bagai tsunami yang tercekat gagal naik hingga tenggorokan.

Ingatanku terlempar pada kerasnya dinding di goa-goa pada punggung seorang laki-laki. Seberapa lamanya dingin pada batu membekam di sana. Bagaimana pada akhirnya seorang laki-laki yang lain melepas jubahnya secara simbolis di kompleks rumah bordil terbesar di tengah kota Delhi. Bagaimana seorang yang lain melepas dinginnya perasaan pada seorang perempuan yang tengah melompat dari lantai dua, memakai jeans dan sekian puluh tahun kemudian ia bertanya padaku yang hendak memakai celana jeansku: kau tahu kan alasanku tak pernah memakai celana jeans?

Ingatan akan trauma kerap berbenturan dalam arus waktu yang tidak linier. Ingatan adalah sesuatu yang terkadang datang tiba-tiba, bagai tamu yang tak diundang dan tak bisa disuruh pulang.

Namun bercerita adalah pertolongan, menulis surat adalah kegiatan yang direstui oleh malaikat. Bercerita membuatmu merunut mengingat. Bercerita adalah mengosongkan. Bercerita adalah keberanian berbagi. Bercerita adalah mencintai diri sendiri dan orang lain. Dan menulis surat adalah usaha-usaha untuk berkomunikasi pada yang dicintai, pada diri dan pada cinta itu sendiri.

Begitu banyak surat cinta mengabadi, menjadi kumpulan-kumpulan harta tak ternilai bagi sebagian orang dan peradaban. Karena dalam surat cinta, begitu banyak bukti akan usaha-usaha manusia untuk belajar dan berusaha mencintai. Karena kata-kata meninggalkan jejak di muka bumi dan getarannya mengisi tanah ini dengan energi kasih sebegitu rupa.

Lalu beginilah, usaha mencintai itu dimulai. Dalam terang perasaan, rintik hujan yang sementara dan sunyi subuh yang masih gelap.

LUKA

Seperti kawah

darah mengalir serupa lahar

keraknya seolah membusuk di lututku

Di detik di mana aku menyentuh tanah

Aku mengerang mencari Ibu

Walau aku berada terbaring di atasnya

 

Aku memeluk diriku di kala jatuh

Mencari jejakanku bahkan ketika aku terluka

Kesadaran akan tubuh yang kuat

Akan hidup yang tengah berlangsung

Api seperti mengalir dalam darahku

 

Namun akhir-akhir ini api muncul dalam nafasku

Seperti naga aku meminum bergelas-gelas air dalam tempayan tembaga

Bau mawar menyeruak ke segala penjuru

Membuka paksa hatiku untuk terus terbuka

Membiarkan racun-racun mengalir ke tanah dan hilang dibawa arus air

Hingga lautan

Hingga ke Ibu Tua

 

Mataku menua dalam tangis

Mataku lahir kembali dalam darah

Aku memegang rahimku agar tak jatuh ke tanah

Namun darahku berkali-kali mengalir bak persembahan pada bumi

 

Bunyi bel nyaring

Doa mengelegak

Suara burung gagak

Siklus kehidupan dan siklus kematian tengah berputar

Dua ular kulihat meliuk di kaki kiriku

Yang perak dan emas mengelayutiku

Menanamku pada Ibu

 

Di tanah aku melata malam itu

Mencarimu Ibu

yang ada berkali-kali

tumbuh dan mati di dalamku

Rindu

:K.T.D.

Aku merindu-rindu

Telapak dan sembabnya wangi gua-gua

Di sungai-sungai

Doa-doa melantun ke selatan

Doa-doa membanjiri hatiku dari utara

 

Aku merunut tapakku dan juga jejak silaku

Silamu, simpuhmu

Di kakimu aku selalu menemukan rasa haru

Akan selalu kembali kepadamu

Akan selalu kembali pada hal-hal yang lebih besar

Daripada diriku

 

Aku mencium bau semesta doa

dalam segala jejakmu

Bahkan pada batu-batu yang kau sentuh

Semestamu

Menggema hingga relung hatiku

 

Segala hal yang membekas padaku

Adalah segala hal yang menjadi pada diriku

Dan persinggungan kita adalah pertemuan sungai-sungai

yang tidak berkesudahan

Gunung-gunung bersaksi berkali-kali

di sekian kehidupan

dan masih gunung-gunung itu menyimpan

wewangian yang membuatku

terindu-rindu

padamu

Purnama Elogprogo

Jika kita mendamba sesuatu yang begitu gelap

Seumpama perasaan, hatiku sepekat bau-bau memori yang melekat

Seperti sisa percikan cat yang bertahan dengan waktu

Di pintu-pintu setua mata nenek dari nenekmu

Umur dari memori adalah kesinambungan

 

Keningku menghadap tanah Jawa

di antara batu-batu stupa

Setua para nenek moyangku

yang bukan hanya pelaut namun juga orang-orang yang mencipta

Bangunan-bangunan yang mengincar keabadian

yang berkali-kali coba dihancurkan oleh anak-anaknya yang tidak mengerti

Kutukan naik dan turunnya peradaban

Betapa perubahan adalah nilai-nilai yang sementara

 

Akhir-akhir ini aku tidak paham

Mengapa manusia meledakkan anak-anaknya sendiri

Ketika seorang ibu harimau yang kelaparan tak akan tega memakan anaknya sendiri

Manusia selalu adalah mahkluk dengan potensi yang mengerikan

Aku menengok ke atas

Pada purnama di atas kepala

Dan melantunkan doa-doa yang sudah terlalu tua

Kesedihan dan melakoli yang sudah luntur dalam udara

Setelah Empat Belas Tahun

:T.O.

 

Aku menemukan diriku di Bangkok

Bagian-bagian diriku di Sungai Chao Phraya

Martabak Karim yang ramai

sepulang kuliah yang selalu kusantap

berganti dengan sepeminuman teh di toko teh tua di sebelahnya

yang sepi dan membuatku tenang menulis

begitu banyak

di halaman-halaman jurnal

 

Pasar-pasar mewarnai perjalanan kita

yang terus menerus bersinggungan

Setiap satu bulan setengah

Apakah aku tetap harus bertanya dengan bagaimana jalannya karma?

Berkali-kali kubilang

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan

Pertemuan-pertemuan selalu menemukan alasannya tersendiri

 

Bibit-bibit

Berserakan di meja dan semalaman kita memilahnya

Kita menemukan diri kita di tanah

dan di dapur

lalu di meja makan

Sambil mencari dan mengenali rasa di lidah

di pelosok-pelosok meja makan kota Bangkok

 

Aku mengingat sekelebatan sosok

yang berteduh di balik rimbunnya hutan bakau

dalam kota yang kita lalui dengan sepeda

kuil-kuil yang membuatku berhenti dan bernafas

Brahma bertangan empat

di tengah bisingnya Siam

 

Bau bunga anting putri

mewarnai semua perjalanan tujuh hari itu

Malam terakhir aku menemukanmu

Menjahit sepotong kain di meja hostel

di tengah udara yang masih begitu panas

 

Kita berpisah lagi

hanya untuk mengetahui

kita akan bertemu kembali

Kora

:K. T. D.

 

Bau pagi itu pekat

Nafas-nafas yang kita keluarkan selagi terbalut jaket musim dingin

Membekas di udara

Jejak pohon Bodhi terlihat samar dalam kabut pagi hari

Dalam perjalanan

Mala dan mantra terus menerus dilantunkan

Berbondong-bondong manusia-manusia dari seluruh penjuru

Himalaya

Berkumpul di kota suci ini

 

Ah,

Sudah berapa langkah dan perjalanan kulalui

Untuk bersinggungan berkali-kali lagi dalam jalan dharma ini

Juga karma

 

Aku menemukan keningku

Menyembah

Di lantai-lantai kuil Bodhgaya

Setiap pagi kulantunkan mantra dan doa

Untuk keselamatanmu

Untuk hidup yang sebentar

dan proses yang masih panjang

 

Selalu dan selalu ada rindu

Selalu pelukan kehangatan itu

membuatku merasakan aliran haru yang hangat

membekas di pipiku

 

Sarapan dibagikan ke barisan para biksu dan peziarah

Di tangga kita menonton hidup berjalan

Apa adanya

Perjalanan ini, Guru, selalu kulalui bersamamu

 

Bodhgaya, Januari 2018