Sepasang Naga

Dalam riap dalamnya air malam itu, alur sisik naga membentang, hijau bagai bukit di tengah kota. Bunyi gong menggema, tetabuhan mengiringi, segala macam bebunyian dan doa berpadu, merajut air dari segala penjuru. Pesan-pesan bermunculan. Air-air suci ditebarkan. Berkah merajut dalam asap dupa. Namun malam, malam tak jua selesai membersihkan bumi. Butiran beras ditebar, mengulang berkah akan hal-hal yang naas di atas bumi manusia. Akan tragedi. Akan tangis. Akan kemarahan. Yang tak henti-henti. Beginilah ritual itu dimulai. Aku menatap geliat naga itu, memutari seluruh bukit di mana kita semua berpijak.

 

Dan di atas gunung, begitu suara lonceng bergema. Seekor yang lain bermunculan di angkasa. Putih selayaknya mutiara. Ayu selayaknya kesucian alam dewata. Disinilah mereka bertemu. Dalam doa dan penyatuan. Melepas apa-apa yang harus selesai. Berkelindan dan saling bergeliat. Menyatukan yang bumi dan yang angkasa.

 

Di tengah-tengah itu semua, segala hal bergerak. Tarian-tarian di muka bumi mulai berderap. Segenap kaki, segenap jejak, segenap jari, segenap selendang. Ngibing. Semua hal bergerak menjadi satu kesatuan. Semua pecah dalam segenap doa.

Dalam keheningan udara, dalam ruang senyap semuanya berhenti.

Pada bumi, segenap segala bersujud syukur.

*catatan awal Ngertakeun Bumi Lamba kesebelas, 23 Juni 2019

Mengenai Surat demi Surat

Beginilah adanya, akan surat-surat yang akan kita kirimkan kepada mantan kekasih, kepada kekasih dan kepada calon kekasih-kekasih di masa depan. Beginilah awalnya, bagaimana isi hati akan mulai tercurah dan banjir bandang perasaan akan datang, satu demi satu. Kata demi kata, dan surat-surat baik yang akan dikirimkan, genap dikirimkan dan terbuang terjadi begitu saja.

Kepada laki-laki yang selalu akan mengingat mengenai hujan. Dan kepada perempuan yang selalu akan dirundung hujan. Inilah bagaimana surat-surat itu akan terkirim dalam keadaan basah akan perasaan. Akan bagaimana rasanya tenggelam. Akan bagaimana kata-kata terasa bagai tsunami yang tercekat gagal naik hingga tenggorokan.

Ingatanku terlempar pada kerasnya dinding di goa-goa pada punggung seorang laki-laki. Seberapa lamanya dingin pada batu membekam di sana. Bagaimana pada akhirnya seorang laki-laki yang lain melepas jubahnya secara simbolis di kompleks rumah bordil terbesar di tengah kota Delhi. Bagaimana seorang yang lain melepas dinginnya perasaan pada seorang perempuan yang tengah melompat dari lantai dua, memakai jeans dan sekian puluh tahun kemudian ia bertanya padaku yang hendak memakai celana jeansku: kau tahu kan alasanku tak pernah memakai celana jeans?

Ingatan akan trauma kerap berbenturan dalam arus waktu yang tidak linier. Ingatan adalah sesuatu yang terkadang datang tiba-tiba, bagai tamu yang tak diundang dan tak bisa disuruh pulang.

Namun bercerita adalah pertolongan, menulis surat adalah kegiatan yang direstui oleh malaikat. Bercerita membuatmu merunut mengingat. Bercerita adalah mengosongkan. Bercerita adalah keberanian berbagi. Bercerita adalah mencintai diri sendiri dan orang lain. Dan menulis surat adalah usaha-usaha untuk berkomunikasi pada yang dicintai, pada diri dan pada cinta itu sendiri.

Begitu banyak surat cinta mengabadi, menjadi kumpulan-kumpulan harta tak ternilai bagi sebagian orang dan peradaban. Karena dalam surat cinta, begitu banyak bukti akan usaha-usaha manusia untuk belajar dan berusaha mencintai. Karena kata-kata meninggalkan jejak di muka bumi dan getarannya mengisi tanah ini dengan energi kasih sebegitu rupa.

Lalu beginilah, usaha mencintai itu dimulai. Dalam terang perasaan, rintik hujan yang sementara dan sunyi subuh yang masih gelap.

Setelah Dua Belas Tahun

Malam Purnama Libra, Yang Kedua

: surat kecil untuk a.s.r., setelah sekian lama

Berapa lama sebenarnya sebuah siklus itu berjalan? Sebuah lingkaran yang genap berputar. Memutari takdir dan membawaku ke depanmu. Menurut para leluhurku yang menjelajah sekian gunung dan lautan: dua belas tahun lamanya. Menurut realitasku setelah mendaki sekian gunung dan menenggelamkan kepalaku di sekian lautan dan sungai: dua belas tahun lamanya. Bilangan yang nyaris tiga belas, yang tak kuasa kusebut sebagai kesialan atau peruntungan. Aku menengok bulan purnama di atas kepala, mencari dimana letak Jupiter saat ini. Jika ilmu perbintangan disebut ilmu nujum, di mataku sekarang, letak dunia setua letak semesta.

Anakku akan genap sebelas tahun di bulan ketujuh. Ketika ada yang mati, ada juga yang lahir. Takdir merunut jeda yang pendek antara anakku dan ibuku, keduanya lahir di bawah pengaruh bulan dan rasi Cancer. Sudah hampir tiga belas tahun aku memperjuangkan akan apa yang hidup, ketika sebagian diriku mati bersama ibuku. Berapa banyak sebenarnya yang sudah kukubur, ketika jasad ibuku genap menyatu dengan tanah? Apakah dirimu berdiri disana, memegang bahuku? Berapa banyak sudah sebenarnya air mataku di dadamu kala itu? Aku tak kuasa lagi mengingat, kata-kata yang kuingat hanyalah: tegarlah! Aku bak seekor laba-laba yang kehilangan pusat sarang dan kehilangan cara memintal benang. Dalam kekacauan sarangku, aku tak berkeinginan untuk menjeratmu. Aku yang tanpa benang.  Namun aku mengingatmu dalam lintasan percakapan rumah duka, berseliweran bersama orang yang datang dan pergi. Bahkan ada keributan dan kecelakaan. Aku tak mengingat bagaimana perasaanku. Ada sesuatu dalam ingatanku yang sedang kugali kembali. Hanya kali ini, penggali kubur itu adalah diriku sendiri.

Dimanakah kita berakhir dan dimanakah kita bermula? Ada jejak-jejak tulisan yang tercatat, ada puisi-puisi yang tercetak dan tercecer di dalam boks plastik berdebu di rumahku. Waktu menjadi relatif dalam ingatanku. Apakah genap perasaanku padamu terkubur bersama kesedihan yang tak terungkapkan akan ibuku? Akan anakku yang lain? Apakah genap perasaanku padamu kukubur di menit aku tak lagi kuasa mengungkapkan yang tersisa padaku? Jika waktu itu memang ada yang tersisa padaku.

Berapa banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab kala itu:

Apakah aku akan sanggup untuk tetap mencintaimu ketika makna cinta yang tak terucap adalah kehilangan dan demi kehilangan yang tak tertanggulangi dari dalamku?

Apakah segala beban di pundakku waktu itu sengaja kupanggul sendirian dan sengaja membiarkanmu pergi?

Apakah aku sengaja menyakitimu hingga tak lagi ada jalan pulang di antara kita?

Apakah aku sengaja membakar jembatan itu agar jurang di dalam diri kita semakin dalam? Hingga kau tak kubiarkan menengok ke belakang dan tak kubiarkan diriku mengingat apa yang menjadi dasar cinta kita waktu itu: kepolosan.

Waktu adalah kecelakaan yang tak berujung. Waktu adalah yang seringkali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi terlontarkan di antara kita. Setelah dua belas tahun. Namun dalam jeda kata, tarikan nafas dan gerak tubuhmu, sesuatu dari dalamku tiba-tiba berduka. Membuka luka yang tak perlu.

Tangisku datang tak diundang pagi itu, di bawah gelimangan air Jakarta. Seperti bah dan badai yang tiba-tiba, menyeruak entah dari mana. Aku menarikan jiwaku bersama sekian perempuan hari itu,  namun sudah lama kutarikan gelombang ini yang mengantar semua perasaanku kepadamu. Aku menangisimu sepanjang Jakarta sampai Bandung, menangisi duka-duka yang tak selesai pada waktu itu.

Aku mencari sukacita dalam memori-memori yang tercatat. Aku mencatat semua itu di suatu waktu, kotak pandora itu masih tersimpan. Aku tahu di sana ada bahagia. Di tahun-tahun genting dan penuh bencana itu. Ada tsunami di dalam kamarmu. Ada gempa di langit kamar kita waktu itu. Apakah cinta datang bersama bencana? Ataukah bencana waktu itu memupuk cinta kita untuk tumbuh? Selang dua tahun dari bencana dimana kita tumbuh, bencana di hatiku memaksaku bertingkah seperti malaikat pencabut nyawa. Mencabutmu jauh-jauh dari hidupku.  Menguburmu bersama catatan kehilangan demi kehilangan. Menambahnya ke dalam daftar luka. Menyimpannya jauh-jauh di pojokan yang tak juga kusentuh. Hingga malam-malam belakangan.

Sekarang aku mengingatmu, di dalam bencana, cinta kita tumbuh dengan perlahan. Ada persahabatan di sana. Begitu banyak malam yang penuh cerita. Begitu banyak malam yang mesra. Dan yang mengebu. Juga malam-malam yang pelan seperti lagu-lagu jazz Norah Jones yang selalu kau putar sebelum kita tertidur berdua. Kita memang saling menyukai. Kita tak selalu sependapat. Aku yang selalu memiliki api yang memberontak. Dirimu yang rasional namun selalu ingin melindungi. Mungkin kau memang mencium sekian marabahaya selalu mendekati hidupku. Mengendap perlahan dan penuh luka. Mungkin aku memang mencium sekian peristiwa akan datang dan diam-diam aku bersepakat untuk menjalaninya sendirian. Tidak ingin melibatkanmu dalam kekacauan.

Di akhir itu semua, diriku dua puluh tiga tahun dan dirimu dua puluh enam tahun. Kita bisa apa, ketika tsunami besarku tak kunjung lewat. Tak ada pelampung di masa genting itu. Selain kau yang harus berjalan menuju daratan. Selain aku yang harus belajar berenang dalam tenggelam, ombak demi ombak, hingga insang-insang tumbuh di leherku.

Sekarang perasaanku datang seperti lautan. Semua cinta yang kupendam seolah datang lagi dalam sekian tsunami perasaan-perasaan yang sedang kuolah sendiri. Aku ingat kita selalu sering bertukar kata. Aku selalu personal. Dan dirimu selalu rasional. Tidak mengapa sekarang. Hati dan pikiran sudah seharusnya sejalan. Yang feminin dan yang maskulin, saling membutuhkan di dalam dunia yang sekacau sekarang. Sekian perjalanan mengajarkanku demikian. Sekian kematian membuatku mencari peganganku sendiri. Membangun pulau dari tanah-tanah yang kurekatkan sendiri, menanamkan pohon kelapa dan menumbuhkan buah-buahnya bak Dewi Sri. Seperti legenda Nyai Pohaci, yang kutemukan dalam jejak tanah leluhur sekian bulan kemarin.

Selama dua belas tahun aku mencari akar demi akar akan diri, satu akar kutemukan lagi. Di suatu waktu aku percaya, di sana ada suka cita. Di tengah gempa dan sekian tsunami. Di dadamu yang ringkih, aku berpulang. Di keruh matamu kini, aku pernah mengecap rumah. Di mataku kini, kubiarkan apa yang harus mengalir untuk teurai, mengalir. Mungkin menujumu, mungkin menuju hidup yang tak kunjung selesai, selain perasaan-perasaan yang sejalan dengan kata hati yang terbuka.

Yogyakarta, 19 April 2019

LUKA

Seperti kawah

darah mengalir serupa lahar

keraknya seolah membusuk di lututku

Di detik di mana aku menyentuh tanah

Aku mengerang mencari Ibu

Walau aku berada terbaring di atasnya

 

Aku memeluk diriku di kala jatuh

Mencari jejakanku bahkan ketika aku terluka

Kesadaran akan tubuh yang kuat

Akan hidup yang tengah berlangsung

Api seperti mengalir dalam darahku

 

Namun akhir-akhir ini api muncul dalam nafasku

Seperti naga aku meminum bergelas-gelas air dalam tempayan tembaga

Bau mawar menyeruak ke segala penjuru

Membuka paksa hatiku untuk terus terbuka

Membiarkan racun-racun mengalir ke tanah dan hilang dibawa arus air

Hingga lautan

Hingga ke Ibu Tua

 

Mataku menua dalam tangis

Mataku lahir kembali dalam darah

Aku memegang rahimku agar tak jatuh ke tanah

Namun darahku berkali-kali mengalir bak persembahan pada bumi

 

Bunyi bel nyaring

Doa mengelegak

Suara burung gagak

Siklus kehidupan dan siklus kematian tengah berputar

Dua ular kulihat meliuk di kaki kiriku

Yang perak dan emas mengelayutiku

Menanamku pada Ibu

 

Di tanah aku melata malam itu

Mencarimu Ibu

yang ada berkali-kali

tumbuh dan mati di dalamku

Rindu

:K.T.D.

Aku merindu-rindu

Telapak dan sembabnya wangi gua-gua

Di sungai-sungai

Doa-doa melantun ke selatan

Doa-doa membanjiri hatiku dari utara

 

Aku merunut tapakku dan juga jejak silaku

Silamu, simpuhmu

Di kakimu aku selalu menemukan rasa haru

Akan selalu kembali kepadamu

Akan selalu kembali pada hal-hal yang lebih besar

Daripada diriku

 

Aku mencium bau semesta doa

dalam segala jejakmu

Bahkan pada batu-batu yang kau sentuh

Semestamu

Menggema hingga relung hatiku

 

Segala hal yang membekas padaku

Adalah segala hal yang menjadi pada diriku

Dan persinggungan kita adalah pertemuan sungai-sungai

yang tidak berkesudahan

Gunung-gunung bersaksi berkali-kali

di sekian kehidupan

dan masih gunung-gunung itu menyimpan

wewangian yang membuatku

terindu-rindu

padamu

Purnama Elogprogo

Jika kita mendamba sesuatu yang begitu gelap

Seumpama perasaan, hatiku sepekat bau-bau memori yang melekat

Seperti sisa percikan cat yang bertahan dengan waktu

Di pintu-pintu setua mata nenek dari nenekmu

Umur dari memori adalah kesinambungan

 

Keningku menghadap tanah Jawa

di antara batu-batu stupa

Setua para nenek moyangku

yang bukan hanya pelaut namun juga orang-orang yang mencipta

Bangunan-bangunan yang mengincar keabadian

yang berkali-kali coba dihancurkan oleh anak-anaknya yang tidak mengerti

Kutukan naik dan turunnya peradaban

Betapa perubahan adalah nilai-nilai yang sementara

 

Akhir-akhir ini aku tidak paham

Mengapa manusia meledakkan anak-anaknya sendiri

Ketika seorang ibu harimau yang kelaparan tak akan tega memakan anaknya sendiri

Manusia selalu adalah mahkluk dengan potensi yang mengerikan

Aku menengok ke atas

Pada purnama di atas kepala

Dan melantunkan doa-doa yang sudah terlalu tua

Kesedihan dan melakoli yang sudah luntur dalam udara

Setelah Empat Belas Tahun

:T.O.

 

Aku menemukan diriku di Bangkok

Bagian-bagian diriku di Sungai Chao Phraya

Martabak Karim yang ramai

sepulang kuliah yang selalu kusantap

berganti dengan sepeminuman teh di toko teh tua di sebelahnya

yang sepi dan membuatku tenang menulis

begitu banyak

di halaman-halaman jurnal

 

Pasar-pasar mewarnai perjalanan kita

yang terus menerus bersinggungan

Setiap satu bulan setengah

Apakah aku tetap harus bertanya dengan bagaimana jalannya karma?

Berkali-kali kubilang

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan

Pertemuan-pertemuan selalu menemukan alasannya tersendiri

 

Bibit-bibit

Berserakan di meja dan semalaman kita memilahnya

Kita menemukan diri kita di tanah

dan di dapur

lalu di meja makan

Sambil mencari dan mengenali rasa di lidah

di pelosok-pelosok meja makan kota Bangkok

 

Aku mengingat sekelebatan sosok

yang berteduh di balik rimbunnya hutan bakau

dalam kota yang kita lalui dengan sepeda

kuil-kuil yang membuatku berhenti dan bernafas

Brahma bertangan empat

di tengah bisingnya Siam

 

Bau bunga anting putri

mewarnai semua perjalanan tujuh hari itu

Malam terakhir aku menemukanmu

Menjahit sepotong kain di meja hostel

di tengah udara yang masih begitu panas

 

Kita berpisah lagi

hanya untuk mengetahui

kita akan bertemu kembali