LUKA

Seperti kawah

darah mengalir serupa lahar

keraknya seolah membusuk di lututku

Di detik di mana aku menyentuh tanah

Aku mengerang mencari Ibu

Walau aku berada terbaring di atasnya

 

Aku memeluk diriku di kala jatuh

Mencari jejakanku bahkan ketika aku terluka

Kesadaran akan tubuh yang kuat

Akan hidup yang tengah berlangsung

Api seperti mengalir dalam darahku

 

Namun akhir-akhir ini api muncul dalam nafasku

Seperti naga aku meminum bergelas-gelas air dalam tempayan tembaga

Bau mawar menyeruak ke segala penjuru

Membuka paksa hatiku untuk terus terbuka

Membiarkan racun-racun mengalir ke tanah dan hilang dibawa arus air

Hingga lautan

Hingga ke Ibu Tua

 

Mataku menua dalam tangis

Mataku lahir kembali dalam darah

Aku memegang rahimku agar tak jatuh ke tanah

Namun darahku berkali-kali mengalir bak persembahan pada bumi

 

Bunyi bel nyaring

Doa mengelegak

Suara burung gagak

Siklus kehidupan dan siklus kematian tengah berputar

Dua ular kulihat meliuk di kaki kiriku

Yang perak dan emas mengelayutiku

Menanamku pada Ibu

 

Di tanah aku melata malam itu

Mencarimu Ibu

yang ada berkali-kali

tumbuh dan mati di dalamku

Rindu

:K.T.D.

Aku merindu-rindu

Telapak dan sembabnya wangi gua-gua

Di sungai-sungai

Doa-doa melantun ke selatan

Doa-doa membanjiri hatiku dari utara

 

Aku merunut tapakku dan juga jejak silaku

Silamu, simpuhmu

Di kakimu aku selalu menemukan rasa haru

Akan selalu kembali kepadamu

Akan selalu kembali pada hal-hal yang lebih besar

Daripada diriku

 

Aku mencium bau semesta doa

dalam segala jejakmu

Bahkan pada batu-batu yang kau sentuh

Semestamu

Menggema hingga relung hatiku

 

Segala hal yang membekas padaku

Adalah segala hal yang menjadi pada diriku

Dan persinggungan kita adalah pertemuan sungai-sungai

yang tidak berkesudahan

Gunung-gunung bersaksi berkali-kali

di sekian kehidupan

dan masih gunung-gunung itu menyimpan

wewangian yang membuatku

terindu-rindu

padamu

Purnama Elogprogo

Jika kita mendamba sesuatu yang begitu gelap

Seumpama perasaan, hatiku sepekat bau-bau memori yang melekat

Seperti sisa percikan cat yang bertahan dengan waktu

Di pintu-pintu setua mata nenek dari nenekmu

Umur dari memori adalah kesinambungan

 

Keningku menghadap tanah Jawa

di antara batu-batu stupa

Setua para nenek moyangku

yang bukan hanya pelaut namun juga orang-orang yang mencipta

Bangunan-bangunan yang mengincar keabadian

yang berkali-kali coba dihancurkan oleh anak-anaknya yang tidak mengerti

Kutukan naik dan turunnya peradaban

Betapa perubahan adalah nilai-nilai yang sementara

 

Akhir-akhir ini aku tidak paham

Mengapa manusia meledakkan anak-anaknya sendiri

Ketika seorang ibu harimau yang kelaparan tak akan tega memakan anaknya sendiri

Manusia selalu adalah mahkluk dengan potensi yang mengerikan

Aku menengok ke atas

Pada purnama di atas kepala

Dan melantunkan doa-doa yang sudah terlalu tua

Kesedihan dan melakoli yang sudah luntur dalam udara

Setelah Empat Belas Tahun

:T.O.

 

Aku menemukan diriku di Bangkok

Bagian-bagian diriku di Sungai Chao Phraya

Martabak Karim yang ramai

sepulang kuliah yang selalu kusantap

berganti dengan sepeminuman teh di toko teh tua di sebelahnya

yang sepi dan membuatku tenang menulis

begitu banyak

di halaman-halaman jurnal

 

Pasar-pasar mewarnai perjalanan kita

yang terus menerus bersinggungan

Setiap satu bulan setengah

Apakah aku tetap harus bertanya dengan bagaimana jalannya karma?

Berkali-kali kubilang

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan

Pertemuan-pertemuan selalu menemukan alasannya tersendiri

 

Bibit-bibit

Berserakan di meja dan semalaman kita memilahnya

Kita menemukan diri kita di tanah

dan di dapur

lalu di meja makan

Sambil mencari dan mengenali rasa di lidah

di pelosok-pelosok meja makan kota Bangkok

 

Aku mengingat sekelebatan sosok

yang berteduh di balik rimbunnya hutan bakau

dalam kota yang kita lalui dengan sepeda

kuil-kuil yang membuatku berhenti dan bernafas

Brahma bertangan empat

di tengah bisingnya Siam

 

Bau bunga anting putri

mewarnai semua perjalanan tujuh hari itu

Malam terakhir aku menemukanmu

Menjahit sepotong kain di meja hostel

di tengah udara yang masih begitu panas

 

Kita berpisah lagi

hanya untuk mengetahui

kita akan bertemu kembali

Kora

:K. T. D.

 

Bau pagi itu pekat

Nafas-nafas yang kita keluarkan selagi terbalut jaket musim dingin

Membekas di udara

Jejak pohon Bodhi terlihat samar dalam kabut pagi hari

Dalam perjalanan

Mala dan mantra terus menerus dilantunkan

Berbondong-bondong manusia-manusia dari seluruh penjuru

Himalaya

Berkumpul di kota suci ini

 

Ah,

Sudah berapa langkah dan perjalanan kulalui

Untuk bersinggungan berkali-kali lagi dalam jalan dharma ini

Juga karma

 

Aku menemukan keningku

Menyembah

Di lantai-lantai kuil Bodhgaya

Setiap pagi kulantunkan mantra dan doa

Untuk keselamatanmu

Untuk hidup yang sebentar

dan proses yang masih panjang

 

Selalu dan selalu ada rindu

Selalu pelukan kehangatan itu

membuatku merasakan aliran haru yang hangat

membekas di pipiku

 

Sarapan dibagikan ke barisan para biksu dan peziarah

Di tangga kita menonton hidup berjalan

Apa adanya

Perjalanan ini, Guru, selalu kulalui bersamamu

 

Bodhgaya, Januari 2018

Kematian yang Pertama

:Afriana Dewi & Made Indra

 

Malam pecah berantakan

Kaca-kaca mobil berserakan

Juga tawa-tawa di tahun baru yang berlalu

di konser-konser musik yang pengang

Kawan atau lawan

Sering tak terbedakan

Yang setia

Yang terlupakan

dan melupakan

 

Hidup itu hanya sebentar

Begitulah kuingat dua sosok manusia yang muncul

Di pagi hari

Warungkita

Yang mana warna dapur belum lagi digores

Bau wajan belum lagi dibalur

Wangi minyak kelapa

 

Tawa-tawa itu riuh

Namun kepergian selalu penuh dengan airmata

Rindu itu sekejap

Melupakan selalu mengandung

Selamanya

 

Aku hanya mengingat bunga-bunga yang ditaburkan

Ibumu yang menangis pelan

Dalam gerak emosi yang kencang

Pandangan mata anakmu yang polos

Namun hanya tawa renyah kalian berdua yang kuingat

Membekas di sekian malam

 

Tawa anakku yang polos

Menaiki sosok punggung yang kokoh itu di suatu waktu

Masa sekarang, masa lalu dan hari ini

Adalah gabungan kenyataan-kenyataan yang berbeda

Kematian selalu membawa kepastian

Penutup perjalanan yang mungkin sudah setepatnya demikian

 

Kesedihan dan kematian

Mewarnai musim bagai bunga pohon kamboja yang berserakan

Di musim-musim mendatang yang ingin dilupakan

Mandala

Jeruji jendela kuil Jepang membentuk mandala

Ke arah luar

Di mana gelas-gelas chai dinikmati dengan terbangnya debu ke segala arah

Klakson segala jenis kendaraan

dan sekian jenis lagu di latar belakang

 

Masih jam sembilan pagi

Tubuh dan mataku semakin berat tak tertahankan

Musim dingin telah tiba dan aku tak memakai apa-apa

Selain pinjaman dan pemberian

 

Ziarahku jauh dari bayangan

akan rumah dan kenyamanan

Ziarahku selalu sunyi

bukan dari bunyi

Namun mengosongkan hati

dari apa yang akan mengisi ke depan

Dari diriku yang akan mulai mengisinya kembali

 

Bunyi kompor di kuil ini belum berdesis

Masih menunggu nyala air di pukul sepuluh pagi

Mantra dan puja sudah berlalu di pukul lima

di pukul enam pagi

Aku masih berlalu dalam sekat ranjang kayu

Mengatasi kematian-kematian di dalam mimpi

akan orang-orang yang berlalu

akan kata-kata yang tak tersampaikan

akan maaf yang hanya bisa disampaikan oleh niatan

 

Tak ada yang abadi

Aku tahu

 

Manusia dan penderitaan

Di bawah pohon bodhi, seperti sekian ribuan tahun lalu

Kita sama-sama pernah bertanya

Hal yang masih sama

Membuka mata di Bodhgaya, di luar kuil

Diriku menghadapinya dalam setiap pojokan mata

 

Pada dharma dan karma

Di India

Hanya ini yang kupegang dan kupercaya

Dalam tiap langkah yang terseok

Di setiap kelokan, di setiap perjalanan

yang membawaku pulang

di bawah atap semesta

 

Bodhgaya, 21 Desember 2017