Dalam Diam

Kurasa dalam diam

Kita jauh lebih banyak berbicara

Dalam yang meresap

Melewati retakan tembok

dan akar pepohonan

 

Jika lingkaran adalah pertemuan jiwa

Di satu titik itu aku hanya akan menemukanmu

Di keningmu

dan ujung jarimu yang kuhormati

dalam dadamu,

aku masih selalu

berpulang

 

Aku tahu,

kamu hanya akan mentertawakan

kematian-kematianku

kulit-kulitku yang berganti

demi masa dan demi masa

namun di sisi yang lain

kau akan memegang tanganku

dan mendengar tangisan-tangisanku

 

Kau akan membiarkanku merasakan

dan melewati kesedihan-kesedihanku

Di ujung perjalananku

Kau akan menunggu untuk memelukku

Menyentuh keningku dengan keningmu

Menaungi rasa lelah yang tak berkesudahan

 

Dalam pelukanmu

Dadamu seperti gemuruh laut yang menetap

Abadi

dan tak kemana-mana

Ombak di hatiku akan menepi

Mengalir sebagaimana hidup

 

Dalam diammu, kau selalu mengada

Dadaku sedang dan selalu penuh syukur

Haru

Akan dirimu yang laksana gunung

Dimana aku menuju

Bernafas pada julangan rindu

Pulang

Apa yang terjadi dengan rumah?

Jika makna rumah sekarang tersimpan dalam tatapan seorang laki-laki

Nun jauh disana

Yang jika kau menatapnya dalam-dalam, bening coklat retinanya akan menceritakan padamu sekian kisah

Sekian kehidupan lamanya

Sekian gunung, lembah dan gurun waktu

Kadang matanya seolah basah, menyimpan kesedihan dan kesepian dari sekian masa

Mata yang telah terkatup, tersimpan dalam gua-gua pertapaan di sepanjang Himalaya

Yang menyala ketika bertemu dengan Guru-guru tertinggi

Yang menyala ketika mencintai dan menebarkan sekian kasih sayang kepada semesta

Tapi perjalanan adalah misteri, dan bagi kita tak ada rumah yang kita papah

Pelukan adalah pilar yang tengah kita bangun dan genggaman adalah janji

Untuk selalu pulang dalam kedalaman tatapan masing-masing, karena bangunan bagi kita adalah kesementaraan

Karena yang fisik, tidak menyimpan memori, nostalgia maupun karma

Karena dalam tatapan, mata menyimpan segalanya

Bulan Mati Dua Tahun Lalu

Dua tahun lalu malam yang gelap

Serupa kiamat dari jeruji teralis kecil itu

Kau hanya mengingat senyum hangat yang lepas itu di jalanan kota Kathmandu

Satu-satunya nyala lilin yang bertahan sampai dua tahun kemudian

Hingga bulan lalu, senyum itu bergeser dari dalam dirimu dan kau mencoba baik-baik saja

Kau lupa, ia pun serupa angin dan pelabuhan baginya dapat berubah kapan waktu, ketika waktu telah habis dan arah kompasnya menunjukkan pertanda untuk mengangkat sauh

Kau lupa dan berharap ia akan menantimu sekian lama
Ia selalu butuh diyakinkan, sebagaimana ia selalu meyakinkanmu bahwa segalanya akan baik-baik saja

Sekarang Himalaya telah merengkuhnya dan ia terasa begitu jauh

Dirimu berpikir ulang akan matahari tropis dan pantai-pantai beraroma biru, pasir hitam dari letusan gunung berapi tengah menghiasi malam ini

Nyaris segelap malam dua tahun yang lalu

Memori akan senyumnya itu seolah tak akan lepas dan di ujung sekian kata, ia tetap tersenyum lepas dan kau tak tega

Mala

Pertama kali aku melihat untaian merah koral itu

Di genggamanmu

Di sebuah toko kecil di pojokan kota yang tak kalah kecil, dekat pohon sebelah kuil

Kau mengisinya perlahan dengan doa, butir demi butir

Di dapur kita yang ketiga, butir demi butir beras basmati kutuang dalam panci, biasanya sambil mengobrol atau memotong sayur kita menunggu siulan ketiga dan siapapun yang terdekat akan mematikan api kompor

Suatu sore sepasang naga biru dan kepak api sepasang phoenix mengisi kamar kita, mereka berkibaran dalam lingkaran, kataku pendek, meraih bahumu dekat pintu

Tidak ada kata perpisahan ketika semua barang telah rapi kau masukkan ke tasku, aku ke belakang sebentar untuk mengecek apa yang tertinggal

Kau tertinggal di kamar, mengambil mala koral merah itu, dalam satu untaian mengisinya dengan doa dan mantra

Henyak aku menemukanmu, melindungiku dan lantunan mantra Buddha tergiang di telingaku sepanjang perjalanan

Dalam pijakanku di Ibu India, aku menghitung menit dimana doaku tercampur sekian rinduku padamu menetesi tanah basah

Di 3.33

New Delhi, 29 April 2016

Bulan Ketiga

Ada gigil tergigit rindu ketika kau berjalan kaki menuju sebuah lapangan, dimana dirimu mendarat bersamanya dari atas bukit tertinggi. Sore berkabut yang cerah. Lompatan yang memerlukan segenap keberanian. Detik-detik itu kau mengerti, dialah orang yang tepat untukmu meloncat darimana pun. Jika hidup adalah pilihan yang selalu beresiko, kau tahu, perempuan itu adalah resiko yang tepat.

Kau terkaget dalam isak tangisnya di bis malam itu, bersama melepas jejak kepergian. Senyummu mengiringinya namun nanar matamu menyimpan melankoli rindu yang sudah menusuk dalam hingga ke ulu hati. Detik kepergiannya menandakan bahwa kau tak lagi sendirian. Malam-malam berikutnya kau merindukan suara serak akan rindu dan ruang sempit yang disisakannya di balik selimut pada udara pegunungan yang semakin membeku.

Sekian purnama kau lewati dalam doa-doa yang kau kirimkan untuknya, doa-doa yang dikirimkan melalui udara darinya. Dalam keheninganmu, kau selalu menemukan dirinya sekarang. Sekian tumpukan surat, dinding-dinding rapuh hatinya yang runtuh satu per satu di hadapanmu, langkahnya yang kadang tegap kadang terseok, ketidaksempurnaannya, kejujuran hingga caranya menghela nafas. Hidup tidak pernah mudah. Rindu tak pernah ringan.

Di suatu sore, dimana genggaman tangan mengiringi sekian perjalanan, kau berjanji akan melindunginya dan dirinya terisak dalam pelukanmu, ia berlindung. Melepas lelah dunia sejenak dan berserah.

Pada buddha kita semua berlindung. Dalam doa dan mantra yang terlantun setiap saat, setiap kehidupan. Untuk segala kebaikan dan segala pertemuan. Yang sudah dan yang akan datang.

Di balik bulan yang terselip awan, kau menitipkan segala rasa yang sudah terlewati dan dirinya yang bersamamu selalu. Kau tak lagi sendirian.

*penggalan ingatan akan Bir, Himachal Pradesh.

Lafal Purnama dan Tilem

Purnama telah kau habiskan di ibukota, dalam seluk beluk rasa yang tengah membuncah ruah. Ziarah demi ziarah, kuil demi kuil. Jejaknya menapaki jejakmu kembali. Percakapan tengah malam kian sunyi akan lagu-lagu dari suling bambu. Suara suling yang akan membuatmu menangis perlahan di malam penuh bintang, di balik selimut dan pelukan. Selimut merah itu tengah ditentengnya kemana-mana dan juga kain indigo serupa motif obat nyamuk kesayanganmu.

Ia berkata tidaklah perlu menjadi terlalu filosofis tentang memberi, katanya semalam. Pelajaran terbesar terkadang lebih terletak bagaimana kita bisa menerima. Tembusnya lagi dalam kesunyian Ubud yang menyeruak sukma. Dan pagi ini, seolah nafasmu tertinggal di kabut pegunungan. Di antara bebatuan yang akan menaunginya sekian bulan ke depan.

Dalam kabut modernitas, kau merapal mantra dan tak kau temukan jejakmu lagi disana. Jalan-jalan terasa semakin menyesakkan. Kau menghitung kalender bulan, meramu racikan dan mencelupkan gagang kayu dalam pot-pot di dapur yang tak kalah sunyi.

Apakah kemelekatan? Apakah cinta? Satu teks dharma bergaung dalam kepalamu, selagi kau mengingat susunan Sutra Hati. Kau tengah mengajarkan doa malam hari pada anakmu dan gema rasa itu, menusukmu hingga ke tulang belulang.

Rindu itu mengigilkanmu bahkan dalam balutan kelembaban tropis. Ada yang mengering sekaligus basah.

Ibu India dan semesta

Di Dharamsala, di kuil yang sama, tempat itu lagi-lagi memelukmu. Setelah segalanya kau lepaskan, setelah tepat 108 kali kau membuang ego di papan bersujud dan berdoa. Setelah semua surat dituliskan dan terbakar menjadi abu bertebaran di kaki Himalaya.

Kau ingat ini Ibu India dan di Dharamsala, kau pernah berjanji akan kembali dan di kala menatap Triund, kau ingin menetap. Kau ingat betapa butir salju di Dharamasala menyapa wajahmu kala itu, di balik selimut yang digunakan para biksu Tibet. Betapa merahnya Dharamsala dalam ingatanmu.

Kali kedua ini dalam waktu yang kau pikir akan singkat saja, kali ketiga itu akhirnya datang lagi. Dalam bentuk satu kerjapan tatapan di pojokan kuil itu. Tepat di bawah patung Buddha dan di depan patung Guru Padmashambava. Ada rasa sendu yang mendalam ketika tatapan kalian berpapasan. Ada rasa berterimakasih atas pertemuan. Kembali. Dua menit pendek untuk selamanya.

Ya, kau memutuskan untuk kembali kepadanya. Melewati hijau pepohonan di tengah kemacetan Bangalore, dalam bau laut yang bercampur keringat kecemasan Mumbai serta debu yang pekat dalam udara Delhi. Suaranya mengisi kekosongan yang diciptakan oleh kota-kota dan di tengah lantunan lagu-lagu Maharastra menembus malam yang makin larut akan rasa, serta botol anggur kedua. Lalu sekian pernyataan rindu dan cinta. Api pelan yang tersimpan dalam sekam kesempatan.

Ia menatapmu apa adanya. Segalanya akanmu, bahkan sisi gelapmu yang bahkan seolah teduh di dekatnya. Sisi gelap yang dengan santai ditunjukkannya dan rasa takut akan tanpa jarak memudar begitu saja. Hingga ia menarikmu dalam genggamannya pagi itu, di tengah udara dingin hanya untuk memastikan dirimu berada di sana. Dalam kesementaraan yang baik-baik saja.

Pagi hari ketika ia melafalkan sekian mantra atau ketika ia membaca sutra, membawakan ketenangan tertentu hingga ke dalam jiwamu. Dalam diam, kau mendengarkan suaranya yang jernih dan kemunculannya dalam memorimu bagaikan lautan yang tenang. Gemanya bagaikan gelombang dan rintik hujan, yang membasahi pagi hari yang tenang di pegunungan. Masa yang seolah jauh itu di padang savanna dan juga padang pasir di bawah kesunyian gemerlap bintang di langit. Malam dan perjalanan yang selalu panjang di ingatan para musafir.

Matamu kini mengandung rindu. Yang melampaui segala waktu. Segala masa. Segala rasa.

Semestamu yang tersimpan padanya. Kini.