Kisah Perompak dan Sepasang Liontin Naga

: rahung, atas dongengnya malam-malam

Di buritan kapal aku sendirian. Mengagahi laut lepas dan mengenangmu yang tenggelam lima tahun yang lalu. Aku selalu memohon kepada dewa laut agar hiu-hiu akan membiarkanmu, membuat darahmu tidak amis dan mengundang penciuman mereka yang demikian tajam. Aku tak kuasa membayangkanmu tercabik-cabik. Seingatku darahmu teramat manis sehingga mengundang nyamuk-nyamuk malaria mengigitimu yang hampir membuatmu mati ketika kita singgah di sebuah pulau di Selatan. Aku tidak pernah sepanik itu seumur hidupku, membabat hutan dan mencari buah penawarnya. Mengerahkan semua anak buahku yang melongo. Itu dua belas tahun yang lalu dan kau masih seorang gadis kecil. Kau selamat dan kantong sisa buah kina yang kering itu masih menggantung di sabukku hingga kini. Karena aku tahu malaria masih dapat kambuh di waktu-waktu yang tak terduga. Ah, ya, sejujurnya aku selalu menjagamu. Lin kecilku. Lin-ku yang paling berharga.

Aku masih ingat malam tiga belas tahun yang lalu dimana aku pertama kali menatap matamu. Matamu bergejolak, macam macan kecil yang terluka. Aku bahkan sampai lupa bahwa dirimu hanya seorang anak perempuan. Kau memakai baju merah dengan sulaman benang emas berbentuk naga dan macan. Rambutmu basah, acak-acakan tertiup angin laut. Memegang tombak yang hampir dua kali lebih besar dari dirimu dengan mantap. Kau tidak takut. Bahkan ketika kau menyadari bahwa seluruh awak di kapalmu sudah mati terbunuh kecuali dirimu. Untuk seorang bocah berumur delapan tahun, kau sangat berani. Kau memegang tombak dan bertahan sendirian. Aku melarang semua awakku untuk menganggumu dan mengeluarkan pedangku sendiri. Dalam bahasamu waktu itu, kau bilang bahwa kau tidak butuh dikasihani. Sialnya bagimu aku tidak hanya jatuh kasihan. Bagaimanapun kenyataannya adalah kau seorang bocah kecil dan sangat mudah aku memukul tengkukmu dengan ujung pedang yang tumpul hingga kau tak sadarkan diri selama dua hari. Statusmu selanjutnya adalah budakku. Budak Cina kecil yang garang.

Aku seperti menemukan mainan baru di tengah-tengah kebosanan berlayar di lautan. Kau terbangun dan menendang makanan serta minuman yang dibawakan untukmu. Mengamuk sedemikian rupa sehingga aku perlu sampai turun tangan dan memukul tengkukmu sekali lagi dengan tangan. Kau menghabiskan satu hari lagi dalam kondisi tidak sadar. Hingga ketika kau bangun, aku sendiri yang membawakanmu bubur hangat yang kau makan dengan lahap. Namun matamu tetap mendelik, sedikit berkurang kegarangannya. Setelah selesai makan, kau memegang lehermu dan menyadari kalungmu telah hilang. Kau bertanya kepadaku dan aku dengan perlahan menunjukkannya terjuntai di leherku. Mukamu berubah merah padam dan langsung menerjangku. Aku tertawa keras sambil menahanmu. Sepertinya kau perlu diikat. Dan aku tidak bercanda, dua orang awakku mengikatmu di kabinku. Selama tiga hari, hingga dirimu yang lemas sendiri dan terdiam.

Di hari ketiga aku melepaskan ikatanmu, kau masih terdiam. Matamu tetap nyalang namun mulai tenang. Aku bertanya namamu. Kau mengerti maksudku. Kau menjawab pendek: Lin. Aku menyuruhmu membantu di dapur dan kau menurutinya sambil sebelumnya memegang pedangku. Matamu memohon untuk juga diajari cara bertarung. Kau paham bahwa lautan itu ganas, dan mengerti mungkin saat ini saja aku berbaik-baik padamu, entah esok hari. Bagaimanapun kau tahu kehidupan perompak itu keras. Aku mengerti maksudmu. Aku mengangguk. Lalu kau mencari jalanmu sendiri ke dapur.

Dalam waktu tiga tahun, kami melupakan bahwa kau adalah budak kecil Cina yang kami tangkap suatu malam. Kau menjadi bagian tak terpisahkan dari kami. Begitu cepat mahir menguasai ilmu bertarung, pelayaran, perbintangan, perdagangan, bahasa, dan masakanmu menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu semua orang satu kapal. Seluruh awak kapal menghormatimu, karena semuanya pernah kau kalahkan. Kau hanya belum dapat mengalahkanku. Nafsu membunuhmu kau perlihatkan di usia dua belas tahun. Tenang dan tanpa ekspresi seolah-olah darah adalah hal yang biasa bagimu. Kau begitu giat belajar dan di tahun keenam, kau sudah seperti tangan kananku. Macan kecilku telah beranjak dewasa. Aku tersenyum puas.

Pada suatu malam kau mengetuk pelan pintu kabinku, wajahmu seperti wajah gadis yang malu-malu. Aku terkesiap, saat itu aku seperti baru ingat jika dirimu adalah perempuan. Karena selama ini kita semua sama dekilnya. Kau mengatakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Kapten, sepertinya aku akan mati, darah terus menerus keluar dari tubuhku,” sambil memperlihatkan celana panjang hitammu yang basah oleh darah.

Aku semakin terkesiap. Aku tidak tahu menahu bagaimana menangani menstruasi perempuan. Aku berpikir keras. Pulau tujuan selanjutnya masih satu hari perjalanan. Aku membongkar kotak penyimpananku, menemukan kain putih yang cukup bersih dan kau menemukan baju merah kecilmu di antara tumpukan-tumpukan benda. Memintanya untuk kau simpan walaupun sudah sobek sana sini. Aku mengiyakan dan menyuruhmu untuk sementara tidur di kabinku. Sedikit jengah aku menyerahkan kain putih itu dan menyuruhmu untuk menyumbat sementara darahmu yang mengalir dengan itu. Kau bingung memerah. Kita berdua jadi serba salah. Lalu aku keluar ke buritan dan tertidur disana. Hingga kita akhirnya sampai di pulau yang kita tuju.

Aku segera menyeretmu ke rumah bordil langganan, sebuah tempat terlarang untukmu sebelumnya, menyuruh salah seorang dari mereka yang kukenal untuk mengurusmu. Mereka bahkan memandikanmu, mengajarimu macam-macam dan bahkan mendandanimu. Walaupun terlihat sedikit menor ala pelacur, itu adalah saat pertama kalinya aku melihatmu memakai gaun.

“Lihat kapten, ia cukup cantik bukan? Mengapa tidak tinggalkan dia saja disini, ia pasti segera menjadi primadona,” rayu germo pemilik rumah bordil itu.

Kau sudah menjadi primadonaku saat itu. Dan aku tidak segila itu meninggalkan dirimu disana serta membagi dirimu bersama orang lain. Belum sempat kau menikmati bagaimana rasanya memakai gaun itu, aku sudah menyuruhmu segera ganti baju dan menyeretmu ke bar untuk menemani aku minum. Sial, Lin, sepertinya aku memang jatuh cinta padamu, rutukku dalam hati. Aku merasa demam dan curiga terkena malaria. Berbotol-botol minuman kutenggak malam itu, hingga kau harus mengendongku untuk kembali ke kapal.

“Lin, aku tiba-tiba ingin mengajakmu ke Mandalay.”

“Dimana itu, Kapten?”

Aku tak menjawab pertanyaanmu, Lin. Karena aku terlampau mabuk dan mungkin sedikit ngelindur.

Aku terbangun di kabin, kepalaku seperti dihantam godam besi. Dirimu datang membawakan minuman hangat yang kau racik sendiri. Segelas teh Cina dan sepertinya kau masukkan sedikit ramuan obat ke dalamnya. Sungguh pahit namun kau memaksaku untuk menghabiskannya.

“Kapten Aru, aku seperti pernah mendengar Mandalai entah dimana dulu. Nama dan tempat itu terdengar indah. Lin jadi teringat masa sebelum bertemu kapten dan kawan-kawan. Lin bermimpi mengenai seorang laki-laki yang katanya akan menjadi pengantin Lin. Tapi Lin sudah lupakan itu semua. Bagi Lin sekarang Kapten dan kawan-kawan jauh lebih penting. Kalian adalah hidup Lin. Yang sudah lalu biarkanlah berlalu”

Lin, akulah pengantinmu. Pengantinmu yang kurang ajar. Melarikan diri dari perkawinan politik yang tengah diatur di Mandalay dengan pihak Cina. Bahkan aku berniat membunuh calon mempelaiku. Yang ternyata adalah dirimu, bocah kecil berumur delapan tahun. Mereka benar-benar keterlaluan telah mengirimmu sendirian dan aku tak sanggup membunuhmu, Lin.

“Lupakanlah Mandalay, sepertinya semalam aku mabuk berat.”

Yah, lupakanlah. Karena lebih baik kita begini saja. Karena kau semakin hari semakin terlihat indah dan hidup ini sudah cukup indah. Tidak rumit, lepas dan bebas. Bagaimanapun takdirku Lin, aku harus mengarungi lautan. Namaku Arung, putra Mandalay yang hilang di laut lepas.

“Ini baju pengantin Lin dulu, sekarang akan Lin jadikan ikat kepala karena sekarang Lin seorang perompak,” kau menyobeknya tanpa perasaan dan memakai kain sutera merah itu untuk mengikat rambutmu yang lembab dan indah. Ah, Lin. Menjauhlah sebelum perasaanku padamu berubah menjadi racun dan kau rusak karenanya. Kau masih tak mengerti apa-apa.

“Lin, keluarlah. Katakan kita akan segera berangkat.”

Semenjak kau mengikat kepalamu dengan kain merah itu, kau semakin mengganas. Semakin menggila. Menebasi orang seperti menebasi bambu. Bahkan kawan-kawan sesama perompak pun semakin ngeri melihatmu. Kau seperti setan merah yang berjaya di lautan. Namun kau semakin cantik Lin, sepertinya orang lain pun semakin menyadarinya. Bahkan ketika dirimu berlumuran darah. Katakanlah aku sakit, tapi aku suka melihatmu seperti itu. Terkadang darahku mengelegak menahan gairah yang memuncak sampai ubun-ubun dan tidak ada rumah bordil di tengah-tengah lautan. Sial,sial, sial.

Kau semakin terkenal di kalangan perompak. Karena kecantikan dan keganasanmu Bahkan tak sedikit orang mengincarmu. Seringkali ketika kami mendarat di pulau-pulau, mati-matian awak kapal kami menjagamu. Semua orang sepertinya sedang bertaruh untuk keperawanan Lin. Telingaku semakin panas mendengarnya. Ingin kubunuh mereka semua satu per satu dan kupersembahkan kepalanya untukmu. Kau tetap santai menanggapi gencaran dan serangan-serangan yang beredar. Kau terlalu lincah dan terlalu kuat untuk ditaklukkan. Namun bagi kami yang membesarkannya sejak kecil, kami berubah menjadi kawanan ayah-kakak yang protektif kepadamu dan terkadang hal ini membuat dirimu seringkali kesal dengan kami.

Suatu hari Lin menghilang, pergi sendirian berkeliling pulau. Kami panik dan mencari dirimu ke seluruh penjuru pulau yang sedang kami singgahi. Kecemasanku sudah sampai ke ubun-ubun dan rasa putus asa sudah mendera sedemikian rupa. Kau muncul dengan wajah yang tak bersalah. Aku tercengang sejenak, tak sanggup berkata apa pun. Namun amarah sudah menguasai tubuhku. Tak peduli dengan wajahmu yang ketakutan karena mengerti aku tidak pernah semarah itu, kuseret paksa dirimu ke kabin.

“Kau itu budak. Kau tidak boleh pergi sendirian. Mengerti?! Budakku! Kau milikku!”

Gantian Lin yang terkaget, sudah lama aku tidak menggunakan kata-kata itu sejak ia kecil. Aku merasa dirimu berkecil hati. Merasa dirimu tidak lagi menjadi bagian dari kami. Aku telah menyakiti perasaanmukah, Lin?

“Maaf, Lin, kami hanya mencemaskanmu, aku mencemaskanmu” aku berkata pelan sambil merengkuhnya.

“Aku tak apa-apa, Kapten. Tidak ada yang berani mengangguku,” jawabnya sedikit bingung dan merasa bersalah. Menatapmu seperti ini, Lin, membuat nafasku berat dan badanku panas.

Lin, maafkan aku. Aku tak kuasa menahan.

“Kapten apa yang kau lakukan…, tidak, Kapten…, jangan…”

Aku tak mendengarmu. Tak mendengar teriakanmu, walaupun seluruh awak kapal mendengarnya dan tidak bisa menghentikan apa yang sedang kuperbuat padamu. Aku kesetanan. Sekuat apapun kau memberontak, satu-satunya orang yang tak bisa kau kalahkan selama ini adalah diriku.

Kau menyerah, mengetahui tak ada gunanya kau memberontak dan berteriak. Pasrah dan pertama kalinya kau menangis tanpa suara. Wajahmu begitu sedih dan kecewa. Aku seperti tersadar setelah kulihat airmata mengalir dari pipimu yang ranum. Aku tergeragap, hilang nafas.

Apa yang sudah kulakukan, Lin? Apa yang kutakutkan terjadi padamu telah kulakukan dengan tanganku sendiri. Lin, …

Kau masih terkapar di meja makan, masih dengan ekspresi yang sama. Lin, jangan menyiksa diriku dengan wajahmu yang seperti itu.

“Lin, aku tak bermaksud. Maafkan aku. Hey, Lin… tatap mataku,”

Kau menatapku dengan penuh rasa marah dan kecewa. Kau macan dewasa yang benar-benar terluka. Tiba-tiba kau menyabet kalung naga di leherku. Mengenggamnya, meremasnya seperti menghancurkan segala impianmu untuk kesekian kali. Meremas hatiku yang sudah tidak tahu harus berbuat apa.

Kau membenahi pakaianmu dan membuat mataku semakin miris menatapmu. Kau menemukan pisaumu dan mencabutnya.

“Kenapa, Kapten? Kenapa?” sahutmu lirih sambil mengarahkan pisaumu ke dadaku. Aku ingin memelukmu namun tak bisa. Menenangkanmu namun tak bisa. Terlambat sudah segalanya. Kau terlalu kecewa bahkan untuk menatap wajahku lagi.

Lin, aku ingin kau membunuhku saat itu juga. Aku memejamkan mata. Menunggumu menancapkan pisau itu ke dadaku.

Aku membuka mataku lagi, karena aku tetap ingin melihatmu terakhir kalinya. Kau tengah mengiris nadi tangan kananmu dengan wajah teramat kecewa. Aku tak pernah menyadari bahwa kau begitu rapuh. Begitu terluka.

“Aku ingin membunuhmu, Kapten. Tapi tidak bisa. Jika tidak kau yang mati, lebih baik aku yang mati.”

Kau berlari keluar kabin. Tak seorangpun dapat menghentikanmu, yang meloncat langsung ke lautan dalam. Aku meloncat diikuti yang lain, mencarimu namun tidak seorangpun menemukanmu. Badai hendak datang, seolah-olah para naga laut telah menelanmu dan memaksa kami semua kembali ke kapal.

Kau hilang. Kau tenggelam. Dalam ingatanku yang mendalam. Aku menangisimu hingga mataku menjadi tua dalam semalam.

Lin, aku menerima kabar lewat burung camar, tiga hari yang lalu ketika aku tengah mengenangmu yang tenggelam lima tahun yang lalu. Kabarnya di Mandalay, seorang perempuan Cina membawa anak laki-laki berumur empat tahun mencariku. Katanya ia memakai liontin naga di lehernya. Dadaku nyaris pecah membaca kabar itu.

Lin, apakah itu dirimu? Dan sadarkah kau bahwa liontin itu dibuat sepasang? Sebelum kedatanganmu ke Mandalay, liontin naga yang dipersembahkan itu kubawa serta untuk memastikan dirimu benar-benar putri yang dikirim dari pihak Cina. Yang kau rebut saat itu adalah milikku dan milikmu saat ini masih saja kupakai untuk mengenangmu.

Lin, apakah benar itu dirimu? Daratan Mandalay sudah terlihat. Lin, apakah kau sudah memaafkanku atau muncul untuk membunuhku? Adakah dirimu menungguku di Mandalay, ah jantung hatiku?

Adhyaksa, 19 April 2007, 2.27 AM

Kalamarica,
sebuah dongeng antah berantah

:kuswidiantoro

Kalamarica, aku telah mencarimu sekian lama. Entah ribuan bukit telah kudaki dan dua per tiga bagian tanah Jawa telah kutapaki. Aku mencarimu kemana-mana. Semula aku mencari jejak ayahku, yang telah pergi dengan tiba-tiba. Memijat dan memilin keris-keris dengan jempol dan jari telunjukku sebagaimana ayahku telah mengajariku. Membagikannya pada orang-orang yang telah membantuku di perjalanan. Menusukkannya pada orang-orang yang mengancam di perjalananku. Sudah empat puluh dua buah, dua puluh di antaranya bersimbah darah, semenjak kita bertemu. Kurasa diriku sudah di penghujung pencarianku.

Seandainya malam itu kau tidak pergi. Aku tidak akan berteriak-teriak sampai begini di dalam hati, sepanjang perjalananku. Sudah berapa kali rasanya aku ingin menusukkan keris yang selesai kubuat ke dalam dadaku sendiri. Begitu perih, sayang. Mencarimu seperti ini, setelah malam itu kau lipat kain subangku dan kau selipkan kerismu di antaranya, untukku. Bunga melati yang semula di sanggulku pun tersebar di peraduan. Aku terbangun pagi itu dengan aroma melati dan tidak menemukanmu. Mengapa padepokan kau tinggalkan hanya karena diriku dan dirimu telah bersatu padu?

Apakah aku salah, telah mencintaimu sehingga kau harus pergi dan tidak kembali?

Kalamarica, aku telah mencarimu sekian lama. Hingga kainku nyaris compang camping dan jariku nyaris kebal dari rasa ketika memilin keris untuk membunuh waktu. Airmataku telah kering dan dadaku hampa. Mengapa dewa tidak segera saja membunuhku, karena deraku melebihi dera api Siwa. Duniaku telah hancur jauh-jauh hari dan tidak kembali.

Aku telah memamah hatiku hingga tiada tersisa, Kalamarica, hidupku saat ini tersisa hanya untuk bertemu denganmu. Sekali lagi saja. Biarlah setelah itu aku terlahir kembali dan karmaku di kehidupan ini selesai sudah. Dirimu, Kalamarica adalah karma yang terlahir untuk kupanggul dan membuatku harus berjalan sepanjang hidupku hanya untuk menemukanmu kemudian mencarimu kembali. Sungguh sia-sia. Namun ini adalah jalan yang telah kupilih dan kujalani. Jika tidak sudah jauh-jauh hari keempat puluh dua kerisku menancap di tubuhku, walaupun semuanya telah menancapi hatiku sedemikian rupa.

Ah, Kalamarica, rasaku telah hampir padam namun cinta telah membuatku terbakar begitu lama. Karena cinta begini, entah apa yang tersisa dari diriku selain hatiku yang sudah serupa pasir rapuh terinjak-injak. Aku bertemu dirimu, terasa baru kemarin, terasa sudah berabad-abad lamanya, ketika usiaku baru menginjak delapan belas tahun dan baru dua tahun sejak ayahku pergi meninggalkanku sehingga aku memulai perjalananku. Aku bahkan belum berani untuk benar-benar membuat keris, karena ayah berpesan sebelum ia benar-benar pergi:

“Putriku tersayang, kenalilah cinta sebelum kau membuat sesuatu. Rasakanlah dan jatuhlah ke dalamnya, hingga kau merasakan apa yang namanya benar-benar hidup dan benar-benar mati.”

Di padepokan itu, aku diperkenankan menumpang. Beristirahat dan melepas lelah. Kau menyambutku dengan satu perempuan di kanan dan yang lain di kiri. Sambil tertawa kau mempersilakanku bertemu tuanmu, yang telah memperbolehkan aku menumpang sementara waktu. Adalah suatu kehormatan katamu untuk menyambutku, putri seorang resi. Ketika makan malam tiba, aku memandangimu yang tertawa mesum dan bertingkah laku tak kalah mesum, kata-kata yang keluar dari mulutmu nyaris cabul. Aku hanya diam ketika tuanmu menjelaskan bahwa itulah dirimu. Aku tidak begitu peduli saat itu dengan sosokmu. Ketika malam semakin larut, aku mohon diri.

Semakin lama aku tinggal di padepokan, aku memperhatikanmu. Bahwa dirimu selalu mengumbar cinta kemana-mana. Diriku pun tak luput. Aku tetap tidak begitu peduli, karena itulah dirimu, Kalamarica, kala itu. Entah mengapa aku mulai memijat dan memilin keris pertamaku dengan sungguh-sungguh. Hari demi hari, kau mulai memperhatikan keris yang sedang kubuat. Mengamatiku dan bertanya kesana-kemari.

Aku membuatnya empat puluh hari dan empat puluh malam. Kau menunggunya jadi hingga empat puluh hari dan empat puluh malam. Malam yang keempat puluh, hanya tinggal kita berdua malam itu yang tidak terlelap di padepokan. Malam nyaris tengah malam. Aku menggarit bagian tengah keris itu dengan kuku lalu membasuh keris yang baru saja jadi itu dengan air melati. Kau menyodorkan seutas kain putih untuk melapnya. Karena kau telah menunggunya, aku memperkenankanmu untuk menjadi pemegangnya yang pertama.

Sejenak, Kalamarica, raut wajahmu berubah serius dan mengamati keris buatanku yang pertama dengan penuh kesungguhan. Kau berkata keris ini begitu perempuan, karena ukurannya terlampau kecil dari biasanya dan lihat lekuknya yang begitu lembut. Aku berkata kemudian, karena keris itu adalah hatiku untukmu. Kau terkesiap, tidak siap, Kalamarica. Aku mohon diri, karena malam sudah terlampau gelap. Di pelataran kau menatapku undur diri sambil tetap memegang keris itu. Keris itu tidak kau terima juga tidak kau tolak.

Kalamarica, aku telah mencarimu sekian lama. Begitulah adanya cintaku pun tidak jua kau terima dan juga tiada kau tolak. Hari-hariku kemudian di padepokan terasa begitu lama. Aku seperti menunggu sesuatu yang aku tahu tidak akan datang. Namun aku tetap menunggumu, Kalamarica. Entah untuk apa. Aku mulai membuat kerisku yang kedua, ketiga dan keempat. Hampir semuanya sepasang-sepasang. Di malam-malam dimana aku bekerja di pelataran aku mendengar tawamu yang terkadang terdengar karena terlalu keras dan begitu khas. Atau desahanmu. Eranganmu. Di antara perempuan-perempuan itu. Aku semakin keras menekan dan membentuk lekuk-lekuk keris. Hingga jejak sidik jemariku membekas begitu dalam di setiap tekanan.

Sudah tiga pasang keris kuselesaikan dan aku melap keringatku. Dan kulihat dirimu baru saja keluar dari peraduan, meminum air dari kendi dekat pelataran. Kau menatapku dan aku menatapmu sambil tetap membungkusi semua peralatanku. Keris-keris yang baru jadi kubungkus kain sutera, satu per satu. Satu pasang pertama kubungkus kain sutera ungu, yang kedua kain sutera kuning dan yang terakhir kain sutera jingga. Lalu Kalamarica, dadaku berdegup karena kau berjalan menuju arahku. Malam sudah lewat tengah malam, dan kau bergegas mengecup bibirku seketika itu. Aku terkesiap, nyaris ambruk di atas bumi. Kau hanya berbisik “Akan kuterima kerismu jika kau buatkan pasangannya. Kutunggu kapanpun.” Kali ini kau yang mohon diri tanpa meminta maaf karena sudah lancang. Menyisakan diriku yang tidak bergerak di pelataran, sendirian.

Kalamarica, setelah malam itu aku tidak kuasa terlelap barang sekejap pun. Aku mulai membuatkan pasangan keris pertama itu, untukmu. Namun selalu gagal, aku selalu merasa ada sesuatu yang tidak sempurna. Entah mengapa. Aku selalu mengulangnya dari awal berkali-kali. Aku kembali menghabiskan empat puluh hari dan empat puluh malam untuk membuatnya. Aku merasa seperti kembali lagi pada saat aku membuat keris pertamaku. Penuh kecemasan dan kali ini aku membuatnya tanpa istirahat sedikit pun. Kalamarica, karena kali ini aku tidak hanya mengungkapkan isi hatiku saja, namun mematri dirimu sepenuhnya dalam bayangan keris yang tengah kubuat.

Malam keempat puluh, aku sudah berhari-hari tidak keluar karena keris untukmu hampir selesai kubuat. Kau mengetuk pintu kamar dan masuk. Mengamatiku bekerja di detik-detik terakhir penyelesaian keris itu. Setelah selesai, dengan kedua tanganku kupersembahkan keris itu untukmu. Kau membawakan kain sutera putih, mengamatinya dan membungkusnya, serta menyelipkannya di pinggang. Aku tak menyadari bahwa penampakanku sungguh berantakan dan aku seketika malu. Diam-diam malam itu, Kalamarica kau membawaku ke pemandian tak jauh dari padepokan. Menungguiku dan menjagaku. Selesai aku mandi, kau meminta ijin untuk menyisiri rambutku lalu kau memetik bunga melati dan menyematkannya di sanggulku. Kau membawaku kembali ke padepokan dan di sepanjang jalan kau memegang tanganku. Untung hari sudah sedemikian larut sehingga hanya aku dan dirimu yang melihat kita berdua bergandengan tangan. Kau mengantarku sampai kamarku dan mohon diri. Subuh tiba dan di sahut ayam jago pertama aku pertama kalinya terlelap begitu nyenyak.

Aku terbangun ketika matahari sudah sedemikian tinggi. Kau meminta seseorang mengantarkanku makan siang dan semangkuk bunga melati untuk mengganti yang semalam. Aku menyematkan di sanggulku tepat sebelum sore hari dan kau mengetuk pintuku. Kau masuk dengan diam-diam dan perlahan. Aku hanya duduk bersila di hadapanmu dan kau membelai pipiku. Mengecup keningku dan sebelum memagut bibirku kau berkata:

“Ah, Pramesti, karena dirimu aku telah gila.”

Ah, Kalamarica, karena dirimulah aku telah gila. Matahari telah terbenam dan dirimu terbenam dalam diriku. Hingga dirimu telah nyaman berada dalam kegelapanku sebagaimana hari pun telah gelap. Dan malam telah lewat ketika aku berada di penghujung semesta raya yang kulihat berdentam berkali-kali dalam tatapan matamu ke dalam mataku. Hingga dentuman terakhir dan aku terlelap. Di antara dada dan lenganmu.

Hari belum lagi subuh dan aku kehilanganmu. Kau telah diam-diam pergi, melipat kain subangku dan menyelipkan keris yang kubuat untukmu di antaranya. Pergi tanpa pesan dan bekas. Yang kutau dirimu hanya membawa keris pasangan itu, keris yang berupa hatiku itu. Sepasang keris itu belum lagi kunamai, hingga akhirnya kutemukan namanya suatu ketika. Nama itu adalah Sumbro, karena ia telah kehilangan pasangannya entah dimana dan kelak orang-orang akan mengenangku dengan nama itu.

Kalamarica, aku mencarimu kemana-mana dan aku telah gila. Aku berhenti di sebuah candi dan ingin beristirahat selamanya disana. Aku ingin terlahir kembali menjadi batu sehingga aku tidak akan tersiksa untuk mencarimu ataupun menunggumu hadir kembali. Kalamarica, aku masih terkenang akanmu dan jika seperti ini aku tidak akan mati. Tubuhku sudah renta dan lelah. Rohku sudah di penghujung segala doa. Demi segala dewa dewi, apakah aku masih akan bertemu denganmu di kehidupan yang sekarang?

Jawablah, Kalamarica!

Apakah kau sudah tiada dan aku hanya sia-sia?

Keris Sumbro itu nyaris sudah kuhujamkan di dadaku ketika kau muncul di pelataran candi dan hari sudah nyaris senja. Di senja itu, Kalamarica, aku tersenyum bahagia dan berubah menjadi batu.

Karena cintaku padamu ternyata tidak lagi sia-sia walaupun sudah membatu sebagaimana ragaku. Kala dirimu hadir dan hanya memelukku sampai segalanya hilang dari dunia.

Rumah Adhyaksa, 28 Februari 2007

Ada Bianca di Wonderland


:hadiah ulang tahun keduapuluh untuk Bianca Timmerman

Gadis kecil Cina itu seperti kelinci. Putih. Senang kawin dan tentu saja dia lucu sekali. Namanya Bianca dan dia bukan siapa-siapa di Wonderland. Tetapi dia muncul disana, mari kita bergeser dari Alice yang masih minum teh dengan cangkir porselen, adegan yang sama dan membosankan. Mari kita melihat apa yang sedang Bianca lakukan. Dengan baju yang sama dengan Alice, namun gaunnya berwarna ungu janda, celemeknya berwarna putih bersih, stokingnya berwarna hitam transparan dan sepatunya hitam mengkilat. Lalu tentu saja dengan bando telinga kelinci putih menghiasi rambutnya, bukan bando hitam membosankan seperti Alice. Ah, dia lucu bukan?

Bianca sedang berada di taman bunga Wonderland. Memetiki bunga-bunga aster berwarna kuning. Sambil bernyanyi-nyanyi riang gembira. Lirik-lirik lagu “Gang Kelinci” oleh Lilis Suryani mengalir dari mulutnya. Dari bibirnya yang berwarna pink. Basah, lezat dan menggoda banyak orang. Laki-laki dan juga perempuan.

Bianca melirik pada para lelaki yang telah mengelilinginya. Memilih satu di antara mereka, memberikan mereka satu buket bunga aster kuning. Lalu melompat ke atas laki-laki itu. Scene berikutnya hanya dipenuhi dengan hujan bunga aster di udara. Di tempat dimana mereka berdua bergumul, rumput-rumput liar yang mengitarinya menundukkan kepala karena malu. Tanah dimana mereka terbaring membentuk kepala kelinci jika dilihat dari atas helikopter. Dasar, Bianca si Kelinci Cabul!

Setelah kenyang dengan lelaki itu, ia kabur melompat-lompat mengelilingi Wonderland. Sambil membawa boxer laki-laki berwarna pink najis itu untuk dibuangnya ke sungai terdekat. Lelaki yang malang itu hanya tercekat, pasrah akan nasibnya dan pulang ke rumah untuk menangis habis-habisan karena perlakuan Bianca, sambil memakai rok rumput ala Hawai yang bisa dirajutnya di taman bunga sebagai pengganti celananya yang telah hanyut. Bianca hanya tertawa nakal dan pergi melompat-lompat.

Dilompatinya meja dimana Alice sedang minum teh bersama mahkluk-mahkluk yang menganggap dirinya penting di Wonderland. Alice sampai tersedak cangkir karena kaget. Bianca tertawa nakal untuk kedua kalinya. “Makan tuh cangkir porselin Cina murahan!” katanya. Cangkir-cangkir porselin Cina milik ibunya jelas jauh mahal daripada yang mereka gunakan. Ratu Hati langsung berdiri, mencak-mencak memerintahkan semua pengawalnya untuk menangkap Bianca dan memenggalnya disitu. Bianca melompati kepala semua pengawal sampai mereka semua terpental terbawa angin. Dan terakhir tentu saja melompat di atas kepala Ratu sombong itu, mengacak-acak rambut sasaknya yang tidak berselera itu. Lalu kabur tidak terkejar. Bianca terbahak. Sukses berat merusak acara minum teh mereka yang membosankan.

Sebenarnya Bianca tidak nakal-nakal amat. Bianca ‘kan hanya cabul saja dan tentu saja cita-cita Bianca cuma satu: mencari perempuan senakal Bianca dan secantik Tante Fiona Apple. Bianca sekarang kabur sambil nyanyi lagu-lagu Fiona Apple. Oh, Tante Fiona yang menggiurkan, teriak Bianca dalam hati. Tiada bisa saya melupakan Tante, katanya lagi.

Bianca terus melompat-lompat sampai jauh sehingga ditemukannya tiga pintu warna ungu janda di tengah-tengah hutan Wonderland. Bianca tidak memiliki kuncinya. Alice memiliki kuncinya. Tapi, aha, dikeluarkannya linggis dari kantong celemek ajaibnya. Dibongkarnya setiap pintu dengan paksa, hingga rusak semua engselnya. Bianca tidak menemukan apa-apa di ketiga pintu itu. Padahal sedikit banyak Bianca telah berharap minimal ia akan menemukan Tante Fiona di baliknya.

Seekor kucing berwarna oranye menegurnya dan menanyakan Bianca, ia hendak kemana. Bianca benci kucing, apalagi yang tersenyum tak henti-henti seperti kucing gendut dan jelek itu. Dikeluarkannya peralatan menjahit dari kantong celemek ajaibnya. Dijahitnya mulut kucing itu sehingga tidak pernah terbuka lagi. “Kucing najis!” maki Bianca sebelum kembali pergi melompat. Tak lupa, digantungnya kucing najis itu di atas pohon dengan terbalik. Dibuatkannya simpul mati pada ekornya di atas sebuah dahan yang tinggi. Kucing itu ditinggalkannya dalam teror yang berkepanjangan.

Bianca ingin ganti baju. Digantinya baju ungu jandanya dengan warna kuning gonjreng dengan sabuk hitam dan kuping kelinci hitam. Stocking dan sepatunya masih hitam. Celemek ajaibnya ia lipat menjadi tas putih kecil nan lucu. Bianca melompat-lompat dengan menyilaukan seisi Wonderland. Seisi Wonderland jadi demam penyakit kuning gara-gara Bianca.

Sungai pun berubah warna menjadi segonjreng baju Bianca. Kaya di Cina, pikir Bianca. Seperti di Cina pun, sungai itu membelah Wonderland dan sering banjir kemana-mana. Bianca jadi pingin jalan-jalan ke Tembok Cina. Bukan untuk berwisata, tapi meruntuhkannya pake palu godam. Bianca tidak suka tembok-tembok. Apalagi tembok sepanjang itu. Bianca berpikir untuk menyewa pasukan untuk meruntuhkan tembok itu. Membiarkan suku-suku nomad menyerbu Cina. Pasti menyenangkan. Bianca tertawa jahat. Hahaha. Si Putri Cina berwujud kelinci cabul.

“Siapa suruh raja gila yang suka bata murahan itu menjual saya ke suku nomad seperti barang rampasan?” maki Bianca. Untung orang-orang nomad itu baik. Mereka memperlakukan Bianca selayaknya putri beneran, bukan seperti orang-orang di kekaisaran yang penuh polesan. Ah, ingin dia bakar itu kekaisaran Cina. Biar saja hancur. Biar saja lebur jadi abu. Karena Bianca sudah lari dari sana. Dari neraka yang penuh kebohongan dan kemewahan semu yang serba tanggung.

Di Wonderland, Bianca hanya numpang, menendang Alice dari peran utama dan mengobrak-abrik alur cerita. Boro-boro minta ijin sama yang bikin cerita. Si penulis Alice dari Wonderland sudah ia bius pake klorofom dan diikatnya di pojokan kamarnya di Jakarta. Dijejalkan dalam peti rotan yang penuh guntingan baju-bajunya yang belum selesai. Bianca lupa memberinya makan dan minum. Ups. Ya, sudahlah penulis malang itu akan bertahan. Toh, Bianca cuma main-main di Wonderland sehari saja.

Bianca telah sampai ke lingkungan istana Ratu Hati. Dikeluarkannya gunting rumput dari kantung putihnya. Dikelilinginya kebun Ratu Hati. Diguntinginya setiap pohon kesayangan di kebun itu hingga berbentuk kelinci. Lalu dicatnya semua dedaunan dengan warna-warna paling gonjreng sedunia. Bianca serasa berada di tahun 60an. Tahun yang penuh warna-warna. Kebun Ratu Hati yang segonjreng perasaan di hatinya. Ia memulai sesi pemotretan paling narsis yang pernah dilakukannya di kebun gonjreng itu. Setelah selesai, Bianca tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan membuat Ratu Hati depresi hingga nyaris ingin bunuh diri ketika ia jalan-jalan sore di kebunnya sore itu.

Bianca kembali ke taman bunga. Dikeluarkannya meja taman berwarna putih dan satu set porselin Cina milik ibunya dari kantung putihnya. Bianca mengatur pesta minum tehnya sendiri. Bianca bingung mencari teh rasa apa di kantung putihnya. Ngga ada yah teh beralkohol? Dengan putus asa dikeluarkannya teh melati. Dijerangkannya air panas. Oh, iya Bianca punya akal. Dibelinya satu botol anggur merah cap Orang Tua di warung terdekat. Dibuatnya teh melati super kental. Lalu dengan ciamik, ditakarnya satu sloki anggur merah dan tiga perempat teh melati kental. Tiada usah pakai gula, ntar diabetes lho. Disruputnya pelan-pelan. Aduh nikmat sekali!

Bianca memetik bunga lily dari dekat danau Wonderland. Ditaruhnya di atas vas bunga kaca yang agak tinggi di tengah-tengah meja taman itu. Disiapkannya sepasang kursi. Ya, Bianca menunggu seseorang datang. Siapa itu ya?

Dari kejauhan ada sosok yang muncul diterangi warna senja yang mulai oranye. Disruputnya teh melati anggur itu sedikit lebih cepat sehingga habis setengah cangkir. Sosok perempuan itu memakai baju merah menyala. Wajahnya belum terlihat karena Bianca merasa silau sehingga diambilnya kacamata hitam capung dari kantung putihnya. Masih tidak kelihatan. Sialan, kata Bianca. Siapa sih?

Perempuan itu menyanyikan lagu yang sangat dikenalnya. Omigod! Haleluya! Puji Tuhan! Ternyata itu Tante Fiona. Aduh, aduh, cantiknya. Bianca langsung ingin menelanjanginya. Air liurnya sampai menetes di atas cangkir, sampai cangkir itu jadi penuh lagi. Ih, dasar Bianca cabul!

Bianca taruh cangkirnya itu di atas meja taman. Bianca segera berlari ke arah Tante Fiona. Berlari dan berlari sekencang-kencangnya. Tante Fiona masih nyanyi-nyanyi. Seluruh taman bunga mekar dengan bunga mawar merah merona. Semerona pipi Bianca. Semerona baju Tante Fiona.

Ah, Bianca melompat ke arah Tante Fiona. Bianca loncat-loncat tak karuan. Tante Fiona tetap tenang,walau sampai jatuh terduduk. Di bawah senja. Bianca dan Tante Fiona bercinta. Selama. Lamanya.

Wonderland sudah tamat ceritanya gara-gara Bianca dan Tante Fiona. Ah, sutralah. Secara Bianca dan Tante Fiona hidup bahagia selamanya di Wonderland.

Hidup Kelinci Cabul! Hidup Fiona Apple!

~Fin~

Yogyakarta, 16 Desember 2006, 8.36 AM

Laki-laki di Tengah Hujan Besar

: sebuah cerita pendek untuk paul f. agusta

Hujan besar menerpa ibukota. Laki-laki yang juga berbadan besar itu menatapnya. Dari jendela apartemen yang tenggelam di tengah-tengah kota yang juga nyaris tenggelam. Ia merasa hampa. Ia ingin banjir turut menyeretnya hingga ia mati.

Lampu-lampu kota menjelang senja dengan temaram menghiasi pemandangan dari kaca apartemennya di lantai tujuh. Suasana sekitarnya menjadi tambah muram. Warna langit yang mendekati ungu membuatnya ingin terbang sampai langit ketujuh. Ia begitu terobsesi mengenai kematian, hingga merasa begitu dekat, begitu lekat.

Lima belas menit kemudian, tiga puntung rokoknya telah menghiasi asbak. Ia tengah bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya bagaimana ia akan mati? Namun ia tidak mengetahuinya. Tetapi ia telah meninggalkan pesan jauh-jauh hari, “Jika aku mati, bakarlah aku, masukkanlah sisa abuku ke dalam kantong-kantong kecil berwarna merah jambu. Bagikanlah di antara teman-temanku yang setia. Tebarlah abuku di tanah-tanah baru yang belum mereka kenal, tanah-tanah baru yang belum aku kenal.” Semua orang memahaminya, semua teman-temannya dengan rela akan membawanya dalam kantong kecil merah jambu, menebarkannya ke seluruh dunia. Sejenak ia tersenyum gembira. Ia merasa tidak akan mati sia-sia.

Sesungguhnya ia hanya merasa berat pada satu hal. Ia akan menikah bulan depan dan ia masih sedikit tidak rela meninggalkan tunangannya sendirian. Jika ia akan mati malam ini. Jika ia mau menjadi malaikat pencabut nyawa atas dirinya sendiri malam ini. Sosok yang feminim itu begitu lekat, caranya membawa dirinya dengan luwes dan cantik. Sosok itu telah membuatnya bahagia, walaupun hanya sementara. Ah, cinta, ia merasa telah menemukannya hingga ia rela mati saat itu juga. Agar abadi. Agar terhindar dari masalah-masalah, kenangan-kenangan baru yang buruk dan terutama perpisahan yang menyedihkan. Ia mempunyai pengalaman buruk dengan perpisahan. Ia tidak mau berpisah dalam keadaan buruk dengan kekasihnya itu, yang merupakan akhir dari segala-galanya baginya. Ia lebih baik mati dengan membawa cinta mereka yang abadi. Ah, dihelanya nafas tiga kali. Puntung rokoknya bertambah tiga batang di dalam asbak. Menjadi enam puntung yang terserak.

Ia merasa telah mati sebanyak limapuluh dua kali. Sebuah bilangan yang menakjubkan. Maka dari itu, ia tidak takut mati. Ia suka merasa heran mengapa manusia begitu takut mati. Bukankah kematian merupakan bagian dari kehidupan? Bukankah kematian hanyalah satu sisi lain dari sebuah koin yang memiliki dua sisi? Ia masih heran. Ditatapnya langit kelabu yang mendekati warna hitam, senja sudah mulai hilang, hari telah menjelang malam. Apakah ia siap untuk mati malam-malam? Tengah malam nanti pastinya. Karena dia sudah tidak mau lagi melihat hari yang baru. Dia hanya mau mempertahankan apa yang sudah didapatnya siang tadi.

Siang tadi, kekasihnya datang ke rumah. Tidak melakukan apa-apa, karena kekasihnya sedang sibuk sendiri mengurus pernak-pernik untuk pernikahan mereka bulan depan. Kekasihnya selalu tersenyum bahagia setiap kali melihatnya, ia pun demikian, mengembangkan senyum sedemikian rupa. Ia tidak pernah tersenyum seperti itu seumur hidupnya, mungkin tidak akan jika ia tidak bertemu dengan kekasihnya itu. Ia ingin tetap diingat dengan senyum yang demikian. Senyum yang mirip marmut, kata kekasihnya, yang membuat dirinya digilai demikian gila oleh kekasihnya. Ah, kekasihnya yang begitu lucu, begitu cantik. Ia ingin merekam waktu dalam matanya, menghentikannya dan berhenti di saat itu. Saat tadi siang, jika saja ia tidak lupa membawa kamera, entah berapa rol telah ia habiskan untuk ingatannya mengenai tadi siang. Ciuman mereka yang khusyuk, semanis permen lollypop rasa stroberi yang digilainya waktu kecil. Seolah tak habis-habis. Seolah tak habis-habis. Andai saja waktu….

Andai saja waktu bisa berhenti saat itu. Saat mereka ciuman tadi siang. Hanya sekecup bibir. Nyaris tidak basah oleh ludah masing-masing. Tapi ia merasa seperti telah melihat cahaya surga, walau hanya sekejap, walau ia tidak percaya Tuhan sekalipun apalagi agama-agama. Tapi surga itu ada, sedetik, dalam kecupan antara dia dan kekasihnya, siang tadi yang cerah oleh mentari. Seolah ruang kamar apartemennya didatangi malaikat-malaikat, sama seperti waktu Maria didatangi Gabriel. Seperti kabar gembira yang jatuh dari langit. Kabar bahwa ia akan mati bahagia dan tidak sia-sia. Oh, tidak ada ekstase yang sedemikian rupa. Ia tidak tahu sampai kapan ia dapat bertahan dengan rasa semacam ini, kekasihnya membuat dirinya tidak dapat menahan perasaan apa-apa. Terlalu indah sehingga rasanya ingin mati saja. Keindahan yang tidak boleh dinodai. Keindahan yang terlalu indah di dunia ini sehingga tidak seharusnya ada. Dan ia rela menebus itu semua dengan nyawanya saat ini.

Setelah ciuman itu, kekasihnya pergi untuk mengambil gaun pengantin berwarna lavender, yang sudah dipesan dan juga sudah dilihatnya tiga hari yang lalu sampai rasanya matanya silau. Dia terlalu cantik. Laki-laki itu tidak kuasa menahannya, sampai matanya terasa pedas. Tidak terasa ketika kekasihnya kembali ke ruang ganti untuk ganti baju, setetes air mata mengalir dari matanya. Penuh haru dan rasanya begitu pedas seperti baru saja memotong bawang bombay berbaskom-baskom. Air mata itu menetes tepat di atas cincin tunangan mereka. Cincin perak buram yang terasa terang karena ada berlian kecil di tengah-tengah. Seterang kedua mata kekasihnya yang jernih dengan terlalu.

Sebenarnya, ia hanya merasa lelah dengan hidup. Pingin istirahat untuk waktu lama, itu saja. Sambil mengenang kekasihnya. Hanya kekasihnya. Namun tidak bisa, hidup telah menyisakan banyak luka buruk, bekasnya tidak mau hilang walaupun sebagai seorang laki-laki ia suka luluran. Memori tentang kekasihnya yang sekarang inilah yang mungkin adalah terbaik dari semua itu. Sebelum mati sebenarnya ia ingin menatap wajahnya, namun hal itu tidak bisa dilakukannya hari ini. Karena bagaimanapun ia ditakdirkan untuk mati sendirian. Dan ia tahu itu.

***

Sudah hampir genap seratus hari ketika mereka bertemu di sebuah kafe. Saat itu ia sedang berada dalam pojokan termuram di sebuah kafe malam. Musik jazz mengalun pelan di latar suasana. Kedatangan calon kekasihnya itu membuat aura malam menjadi lembut dan cahaya lilin menjadi jauh lebih temaram. Ia berubah jadi tenang ketika melihat calon kekasihnya duduk di meja seberang. Calon kekasihnya memakai baju warna biru laut yang kalem. Isapan rokoknya menjadi pelan dan teratur. Tiga kali jauh lebih lambat. Dan hanya sekali itu dalam seumur hidupnya, ia mulai hanya menghabiskan satu pak rokok mild. Biasanya bisa tiga sampai empat pak. Dan ia berhenti memesan alkohol dan mengganti pesanannya dengan jus jeruk. Ia ingin lebih sadar ketika memandangi sosok calon kekasihya dari seberang mejanya itu.

Calon kekasihnya itu juga memandanginya. Mereka secara norak saling memandangi satu dengan lainnya sambil sama-sama minum jus jeruk. Menyedotnya pelan-pelan hingga melewati saluran tenggorokan mereka dengan sama pelan. Mereka seolah-olah berada dalam semesta yang sama. Tidak satu pun dari mereka beranjak dari tempat duduk masing-masing. Mereka hanya saling diam, ketika semua orang di meja mereka masing-masing berbicara dengan bingar. Ia merasa sedikit trance, namun pelan. Ia merasa mabuk tanpa alkohol dan rasanya enak. Jus jeruk terasa sangat nikmat. Hisapan demi hisapannya. Semua orang di kafe itu seolah menghilang atau tepatnya membiarkan mereka seperti itu.

Tidak ada yang beranjak sampai tengah malam. Ia menuntaskan rokok terakhirnya, mematikannya di asbak. Mengambil potlot hitamnya, menuliskan tujuh digit nomor di atas kertas tissue. Pergi dengan elegan sekaligus enggan setelah sebelumnya menitipkan secarik kertas tissue itu kepada waiter untuk memberikannya kepada calon kekasihnya.

Sesampainya ia di depan pintu apartemennya, tepat sebelum ia memasukkan kunci ke lubang pintu. Sebuah sms masuk, telepon genggamnya berdenyit. Ia membukanya dengan berdebar dan semakin keras debaran jantungnya ketika membaca pesan yang masuk, “Aku mencintaimu, bahkan sebelum aku mengenalmu. Bagaimana kalau kita bertemu besok, tempat sama, jam yang sama. Pukul sembilan lebih tiga puluh tiga menit, seperti tadi?”. Dari calon kekasihnya yang ia tahu bahwa besok ia akan menjadi kekasihnya yang sebenar-benarnya. Ia tersentak. Ia nyaris melompat. Mereka bahkan belum berkenalan. Belum mengenal atau menyebutkan nama masing-masing. Untuk kali ini ia percaya dengan takdir, dengan nasib baik. Hanya untuk kali ini, seumur hidupnya. Ia sungguh ingin percaya. Sekali saja dan itu cukup.

***

Hujan belum berhenti dan sepertinya hidupnya akan berhenti di malam ini. Tepat tengah malam. Ia belum memutuskan bagaimana ia akan mati. Ia tidak terlalu peduli. Baik atau buruk. Menenggak obat tidur berlebihan atau melemparkan dirinya dari lantai tujuh hingga otaknya terburai di tanah merah. Semuanya sama saja. Mungkin yang terakhir hanya akan lebih merepotkan dan sensasional saja. Sepertinya ia akan memilih yang pertama jika ia boleh memilih. Ia tidak ingin kekasihnya tercekat ketika menemukannya mati. Apalagi teriak-teriak histeris hingga pingsan. Ia tidak suka drama. Kematian harusnya disambut dengan tenang. Karena saat ini ia telah merasa siap, ia tahu orang-orang di sekitarnya tidak akan siap, tapi tidak mengapa toh yang akan mati hanyalah dia. Setidaknya untuk malam ini. Ketika hujan masih deras dan tanah masih bau hujan.

Ia ingin mencium bau melati, ia ingin mencium wangi jeruk, ia ingin mencium bau rambut kekasihnya. Sebelum mati. Sebelum ia menenggak satu botol obat tidur dengan segelas air putih. Ia membuka pintu kaca kamarnya, berjalan keluar menuju pelataran. Keluar ke tengah-tengah hujan yang mengguntur itu. Yang petirnya berkilatan menghiasi langit ibukota. Seperti sesuatu yang besar tengah akan terjadi. Di bawah siraman hujan ia merasa terharu hingga tersedan. Alam seolah-olah tengah mempersiapkan ritualnya sendiri, untuk menghormati kematiannya dalam hitungan jam. Ini pukul delapan malam. Masih ada empat jam sebelum ia benar-benar mati. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit. Berterimakasih atas kehidupan yang telah diberikan padanya, berterimakasih atas kekasihnya yang diberikan untuknya. Ia memetik semua bunga mawar putih dan melati yang bermekaran di pot-pot bunga pelatarannya. Ditaruhya semua bunga itu di mangkuk kaca yang diisi air. Bunga-bunga itu mengambang dengan cantik. Ditulisnya ucapan “Selamat tinggal untuk sekarang, aku mencintaimu. Selalu. Selamanya.” Kartu berwarna ungu tua itu ditaruhnya di sebelah mangkuk kaca. Diukir serapi mungkin dengan bolpoin bertinta perak. Ah, dia akan merindukan kekasihnya.

Ia lalu mandi sebersih mungkin. Mencukur jambangnya yang telah lebat. Menyikat giginya satu per satu. Semuanya dengan adegan lambat. Karena ini yang terakhir. Ini yang terakhir. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih besar. Ia memandang tubuh telanjangnya di depan kaca. Mengambil pakaian terbaiknya, yang seharusnya dipakainya untuk menikah bulan depan. Jas putih gading itu. Sewarna dengan kulitnya. Ia terlihat tampan dan ia tersenyum sendirian. Sayang kekasihnya tidak akan melihatnya dalam jas itu, setidaknya tidak dalam keadaan hidup.

Ditenggaknya obat tidur dengan sekali jalan. Dilihatnya jam di dinding. Pukul sembilan malam dan masih hujan deras. Obat itu akan bereaksi dalam tiga jam. Ia lalu berbaring dengan tenang di tengah-tengah hamparan seprai putih ranjangnya. Seprainya baru diganti kekasihnya semalam. Benar-benar putih bersih. Seolah-olah dipersiapkan untuk menjadi ranjang kematiannya.

Ia merasa tenang. Semuanya menggelap. Ruangan. Matanya. Bahkan nafasnya. Tapi ia tenang. Setenang hujan yang mulai gerimis.

Gelap total.

***

Lalu terang. Dilihatnya warna putih yang kabur. Dilihatnya wajah kekasihnya, setengah menangis gembira. Tengah memeluknya sampai ia tidak bisa bergerak.

Jika ini surga, ia tidak akan bangun.

Yogyakarta, 13 Desember 2006, 8.24 PM

Hujan di Bulan Juni
some rough draft

Di bulan Juni, hujan terlihat sedih sekaligus hangat. Rintikannya membawa pergi cuaca panas dari darat. Seolah membawa segala kesedihan yang begitu berat tenggelam ke arah Barat. Ia selaku mantel hujan yang kita benci di cuaca panas, namun menjadi teramat penting ketika hujan datang menerpa dengan sungguh tiba-tiba. Dan pada bulan Juni sepanas inilah, aku harus membawa mantel hujanku kemana-mana.

Sama seperti di sore yang lain di bulan Juni ini, aku meratapi aliran air yang bergerak di jendela kafe. Aku masih memesan es kopi Vietnam dengan memori cuaca musim panas yang terserap di dalam tubuhku sebelum memasuki kafe ini. Lalu hujan sialan datang, mencegahku untuk pergi lebih jauh, beranjak jauh dari memori di jendela kafe yang sama di enam bulan yang lalu, ketika musim benar-benar hujan.

Enam bulan yang lalu, di kafe yang sama dan curah hujan yang sama ada seseorang di depanku yang berkata dengan nada tidak menentu. Kubiarkan begitu saja. Di nada terakhirnya yang menekan, aku masih tidak mendengarnya. Ia pergi dengan curahan air melingkupi wajahnya sehingga aku tidak dapat membedakan yang mana air hujan dan air mata dari kedua matanya yang tajam. Seperti es yang mencair di kopi Vietnamku yang hangat. Sebuah fragmen peristiwa yang tidak pernah benar-benar kuingat. Tidak pernah. Selama enam bulan terakhir.

Pengkhianatan dimulai dari memori-memori yang rapuh, serapuh diriku. Di tengah-tengah hujan bulan Juni yang kentara, aku tidak pernah mengingat siapa seseorang yang didepanku berkata tidak menentu dan meninggalkan ingatanku dengan sepenggal pasang mata yang tajam.

“Ada pesanan tambahan, Tuan?”

Sekerjap aku seperti terbangun di hadapan meja kayu hitam kafe ini, aku menggelengkan kepala dan berkata terimakasih. Aku mengambil sebuah buku dari rak kayu di belakangku, judulnya membuatku terjaga “Peziarah-peziarah Aneh”, serupa aku. Seseorang yang terjebak di dalam dunia modern dan berziarah dari kafe ke kafe, untuk mencoba tetap mengingat sebuah fragmen peristiwa yang tidak pernah benar-benar kuingat.

Aku terbangun pagi ini di tengah-tengah cuaca pagi yang panas, menemukan seprai kasurku yang basah oleh keringat dan wajahku yang semakin menua di depan cermin. Aku tidak pernah bisa menjelaskan apa-apa yang dilakukan waktu pada tubuhku. Aku mengambil segelas air di dapur, meminumnya dan melihat pada sekeliling kamarku yang lenggang hilang akan sesuatu. Aku mencoba menghitung memori yang terkais dari hari sebelumnya, menambahkannya dalam kepalaku.

Seperti ritual pagiku yang biasa, aku segera mengambil handukku dan menyalakan pancuran air. Di tengah-tengah timbunan air yang jatuh di atas tubuhku, aku mengejang, merasakan urat-urat di kepalaku memberontak serupa jalinan sekumpulan ular liar yang hendak keluar dari otakku. Aku berdegup kencang, mencoba menenangkan diri dengan tidak melibatkan bagian kepalaku di bawah hujaman air. Hal itu membuatku merasa lebih baik dan melanjutkan ritual mandiku seperti biasanya.

Hari sudah siang ketika aku keluar melangkahkan kakiku ke jalan. Perutku memprotesku sepanjang jalan yang kulalui. Aliran darahku membutuhkan kaffein. Kafe dengan atap biru dan jendela besar di tepi jalan, serta siang yang panas terlihat seperti ruang berteduh yang indah. Dari panas dan juga dari hujan di lima belas menit berikutnya.

Sandwich tuna yang kupesan datang menyusul segelas es kopi Vietnam kesukaanku. Aku makan dengan diam, membalikkan lembaran-lembaran buku berjudul “Peziarah-peziarah Aneh” tanpa benar-benar membacanya. Di jam-jam seperti ini aku seperti menunggu sesuatu untuk terjadi.

Aku kehilangan kepercayaan diriku sejak enam bulan yang lalu. Aku mengira aku adalah seorang penulis yang berbakat sejak karya novel pertamaku diterbitkan oleh penerbit terbesar di negara ini dan laku teramat keras. Aku pun tidak pernah menyangka, bahwa sampai detik ini, di surat yang kutemukan di kotak posku hari ini, penerbit menyebutkan angka mendekati 40.000 eksemplar. Mereka melayangkan cek untuk aku uangkan, yang masih terselip rapat di dompetku. Namun selama enam bulan terakhir, aku kehilangan kepercayaan diriku bahkan untuk mengangkat pena. Atas satu fragmen peristiwa yang membuatku selalu gelisah, yang membuatku tidak pernah benar-benar mengingatnya. Aku adalah seseorang yang begitu mempercayai ingatanku sendiri dan saat ini aku begitu kecewa dengan memori yang mengkhianatiku begitu rupa.

Di hujan bulan Juni yang laknat ini, seolah-olah rintikan hujan mentertawaiku. Mentertawai ingatanku yang melemah dan kemampuanku yang menghilang untuk menuliskan yang kuingat. Roti sandwich tuna di tanganku sudah hampir habis, aku memesan segelas air untuk menghilangkan rasa amis ikan di mulutku. Segelas air datang ke mejaku diiringi deru hujan yang semakin deras di luar jendela. Aku sejenak mengigil sambil menyeruput es kopi Vietnamku yang tidak lagi dingin.

Bel dari pintu kafe yang terbuka berbunyi manis, mengantarkan seseorang perempuan dengan jaket ungunya masuk ke dalam. Rambutnya yang sebahu terlihat basah, jaket ungunya ia keringkan di sandaran kursi kayu. Ia meminta menu, sambil mengelap wajahnya dengan tissue. Aku mengalami semacam de javu. Perempuan yang kebasahan oleh hujan, melepas jaketnya dan duduk di situ. Di meja seberangku.

Aku mengamati detail perempuan itu dengan tatapanku yang nyaris tidak sopan. Aku terpana akan detail gerakannya ketika mencoba mengeringkan dirinya atas hujan yang membasahi dirinya. Letak rambutnya, letak kemeja dan celana panjangnya, juga sepasang sandal yang juga ungu dilepaskannya untuk kering, menaruh kedua kakinya di sela-sela kayu penyangga meja bagian bawah. Lalu letak duduk posisinya yang berubah setiap lima menit, menunjukkan suatu kegelisahan yang mirip denganku. Menunggu akan sesuatu. Mungkin dariku.

Namun dugaanku salah, tepat pada menit ketika aku hendak menghampirinya setelah ia berganti posisi duduknya selama tiga kali, pintu kafe kembali terbuka. Seorang laki-laki dengan jaket coklat tua masuk ke kafe, menoleh ke arah si Jaket Ungu dengan ramah. Si Jaket Ungu tersenyum menyambutnya. Terlihat cukup jelas dari pandangan kedua orang itu bahwa mereka sepasang kekasih. Aku menarik nafasku, mencoba melanjutkan bacaanku tanpa benar-benar membacanya dan sesekali mencuri dengar pembicaraan sepasang kekasih itu.

Sudah lima belas menit lagi terlewati sejak mereka berdua duduk diseberangku, halaman yang kulewati sudah mencapai angka delapan puluhan. Aku sejenak menatap lagi hujan di luar jendela, ada sesuatu dari detail pemandangan itu yang menganggu. Lalu aku mendengar suara serak dari meja seberang, lirih dan aku tidak dapat menangkapnya. Kulihat wajah si Jaket Ungu sedikit memerah dan matanya berkaca-kaca, aku kehilangan alur pembicaraan mereka bahkan lupa akan segala yang mereka bicarakan sebelumnya. Aku merasakan bahwa aku tengah menunggu mengulang sesuatu. Namun yang datang hanya kediaman sepasang kekasih itu untuk yang waktu yang lama. Membuatku merasa setidak nyaman mereka.

Si Jaket Coklat Tua tiba-tiba berdiri dari kursinya, seolah-olah membereskan segala sesuatu dan mencari dompetnya yang seketika juga membuyarkan penantianku. Si Jaket Ungu terlihat gelisah, dengan tergesa memakai sandal ungunya yang masih setengah basah. Si Jaket Coklat Tua meminta tagihan pada pelayan dan si Jaket Ungu mengigit bibir atasnya seperti sedang menahan sesuatu.

“Baiklah, biar aku yang pergi jauh dari sini.” si Jaket Ungu mengeluarkan sesuatu yang dipendamnya itu dengan nada menekan dan membuatku tertegun. Membuat si Jaket Coklat Tua tertegun.

Aku melihat si Jaket Ungu berdiri tepat di luar jendela di hadapanku. Di tengah-tengah hujan, tidak ada yang lebih indah dan cantik daripada seorang perempuan yang kebasahan. Aku masih tertegun, setelah dua menit aku tergeragap. Si Jaket Ungu dengan nekatnya menerobos kendaraan yang lalu lalang di tengah-tengah hujan itu. Aku ingat, aku pernah melihatnya. Pernah melihat ini semua, enam bulan yang lalu.

Aku segera beranjak dari kursiku, segera keluar dari kafe, menerobos hujan dan lalu lalang kendaraan. Kutarik tangan si Jaket Ungu dan dengan paksa menyeretnya kembali ke trotoar. Aku melupakan si Jaket Coklat Tua yang muncul dengan tiba-tiba di luar pintu kafe. Si Jaket Ungu lari ke arah pelukannya dan terisak tidak lama setelah mengumpatku:

“Apa urusanmu?”

Apa urusanku? Ingatankulah yang berurusan denganku. Enam bulan yang lalu, bukan si Jaket Ungu yang berdiri disitu, namun perempuan dengan jaket oranye yang menyolok. Berjalan dengan kenekatan yang sama menerobos lalu lalang kendaraan di saat hujan yang seperti ini. Dan dia mati, tertabrak mobil berwarna gelap. Aku hanya bisa berdiri melihatnya dibatasi jendela kafe. Dia, mereka, kekasihku dan bakal anakku di perutnya.

***

“Ada pesanan tambahan, Tuan?”

Sekerjap aku seperti terbangun di hadapan meja kayu hitam kafe ini, aku menggelengkan kepala dan berkata terimakasih. Aku mengambil sebuah buku dari rak kayu di belakangku, judulnya membuatku terjaga “Peziarah-peziarah Aneh”, serupa aku. Seseorang yang terjebak di dalam dunia modern dan berziarah dari kafe ke kafe, untuk mencoba tetap mengingat sebuah fragmen peristiwa yang masih tidak pernah benar-benar kuingat.

Rumah Banteng – Jakarta – Bogor
Juni 2005

Kau tiba-tiba lupa dengan semua peristiwa setelah malam itu dan yang terpikir dalam benakmu adalah cara untuk menghadirkannya kembali seperti malam yang sudah lalu. Sosoknya yang berada di atasmu atau di bawahmu, yang samar, yang menyenangkan. Kenapa kau bisa tiba-tiba lupa, bahkan dengan namanya. Berapa botol vodka yang kau habiskan malam itu? Lalu dia yang mengantarmu pulang dan sepanjang perjalanan, kau masih saja menggodanya. Tiba-tiba dia hadir di sebelahmu pagi itu, dengan kepala yang masih sama berat, kali ini dia terbangun dan kali ini dia yang menggodamu sampai semua pori-pori keringatmu menjatuhkan cairan lagi. Hanya satu hal yang kau ingat tentang malam itu. Jangan nyalakan lampu! Kenapa? Karena sosok laki-laki yang merokok dalam kegelapan adalah sesuatu yang menghanyutkan. Kau menurutinya dan merasakan senyumnya di balik kegelapan.

Kau masih saja lupa, bahkan dengan namanya. Dia pun dengan kurang ajar tidak meninggalkan apa-apa, selain bau matahari di tubuhmu. Kau yang masih saja lupa sewaktu dia benar-benar meninggalkanmu di hari berikutnya, sejenak merasa kehilangan pasir dalam genggamanmu. Tapi kau mengerti, serupa pasir dia benar-benar tidak bisa dipegang.

Namun kau tetap mencarinya di semua phonebook address teman-temanmu. Kau tidak ingin bertanya kepada siapa-siapa dan sungguh pencarianmu akhirnya tidak sia-sia. Kau menemukannya di antara hamparan ribuan nomor. Sekian digit itu membuatmu lupa dengan apa yang sebenarnya akan kau lakukan. Kau begitu yakin bahwa nomor-nomor itu adalah dia, bahkan kau tidak lagi peduli akan nama.

Kau mematahkan janji yang tidak pernah ingin kau pegang, kau melupakan janji bahwa kau tidak akan pernah mencarinya. Tapi memang karena ingatanmu malam itu mengkhianatimu sedemikian rupa, sehingga satu-satunya kunci yang kau pegang adalah sebelas digit menuju dirinya.

***

Kau menerima sms aneh dari nomor yang tiba-tiba saja membuatmu berdebar-debar. Kau pikir, kau sudah lupa dengan malam itu. Kata demi kata mengingatkanmu kembali akan aroma tubuhnya, vodka, dan sosok yang kau tinggalkan di hari berikutnya itu. Sosok yang seperti anak anjing hilang, yang tidak pernah akan bisa kau tinggalkan sendirian. Karena kau tidak tega, bahkan jika kau sudah mengucapkan selamat tinggal.

Maka kau memunggut remah-remahan ingatan yang menuju ke tempatnya. Seperti rumah kue nenek sihir yang mengundang selera, sosoknya di depan pintu langsung mengundang selera satu jengkal di bawah perutmu.

Tiba-tiba dia membuatmu ingin meledak. Kau begitu menyukai gerak lidahnya sehingga kau seperti ingin memakannya. Menelan dan menyimpannya di dalam tubuhmu selalu. Kau tiba-tiba hampir mencintainya, namun seketika kau tersadar karena kau akan selalu membangun batas yang panjang ketika kata hampir itu datang.

Kali ini kau yang menghabiskan waktu merokok dalam kegelapan setelah bercinta. Kau merasa dia tiba-tiba hanyut dan tersenyum dalam kegelapan. Rupanya sosok apapun yang merokok dalam kegelapan memang akan selalu menimbulkan rasa yang sama. Setengah puntungan rokok yang terbakar, kau bangkit menuju dapur, menyalakan kompor dan memanaskan air. Membuat kopi dengan tubuhmu yang masih juga telanjang.

***
Kau masih mencium bau matahari di tubuhnya, bau matahari di tubuhnya begitu kuat mengalahkan bau wangi-wangian manapun. Namun kau tetap saja suka dan tiba-tiba hampir mencintainya. Kau tersentak pada kenyataan bahwa kau hampir mencintainya. Kau yang tidak pernah memikirkan kata cinta sebelumnya. Kau yang dalam hitungan minggu dapat berganti-ganti sekian perempuan. Nafasmu terhenti ketika kau tiba-tiba kembali mencium bau matahari dan kopi hangat yang dibawanya ke dalam kamar. Kau berhenti pada kata hampir dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

Dia mulai memungguti baju yang tercecer dan sepintas kau melihat kulit tubuhnya yang sudah kering dari keringat, melembab serta memaksamu untuk menariknya kembali ke sisimu. Kau tidak mengijinkannya pulang sampai pagi berikutnya. Maka malam itu pun kau kembali tidur dengan semerbak bau matahari di sekitarmu.

***
Dia pernah membaca tulisanmu di suatu waktu dan hari itu kau memutuskan untuk mengiriminya sekian puisi. Kau begitu tahu bahwa puisi itu tidak akan pernah disimpannya dan akan selalu dihapusnya dari inbox hp-nya. Kau tetap saja mengirimnya sekian puisi dan dia selalu saja membaca puisi-puisi itu lalu menghapusnya.

Kemudian kau bertemu lagi di tempatnya yang masih saja tidak berubah. Kau mengamati hp-nya berubah dengan fitur kamera. Lima menit, sepuluh menit berikutnya berubah menjadi photoshoot untuk majalah Playboy ingatan pribadi. Kau sebenarnya ingin menyimpan foto-foto itu namun hp-mu tidak bisa menerima mms. Segalanya bersifat sementara, bahkan foto digital sekalipun sehingga semuanya benar-benar untuk koleksi ingatan pribadi. Bersamanya kau menekan delete pada tombol hp.

Malam itu kau ingin dihibur oleh kahlua dan susu.

***
Kau membelikannya kahlua dan susu. Lalu kalian bersama-sama mencampurnya dan mengamati bagaimana kedua warna bercampur di dalam gelas. Sekian jam kemudian bagaikan kahlua dan susu kalian bersama-sama bercampur di atas tempat tidur.

Malam itu kau lupa menggunakan kondom. Kahlua dan susu yang bercampur kemudian mengundang sepuluh hari yang laknat itu. Sepuluh hari yang laknat baginya dan bagimu.

Hari pertama dari sepuluh hari itu merupakan hari yang paling menggelisahkan bagimu. Dia menghubungimu dan mengatakan bahwa mungkin dia telat datang bulan. Kau cukup gelisah dibuatnya, karena kau benar-benar hampir mencintainya.

Lima hari berikutnya kau menemuinya masih dalam keadaan yang sama, matanya terlihat sayu dan setengah kaget melihat dirimu di pojokan. Kau cukup tahu bahwa dia tidak pernah menginginkan seorang anak. Dia cukup percaya bahwa dunia sudah sangat buruk dan untuk melahirkan satu jiwa lagi dalam dunia yang buruk ini bukanlah pilihannya. Setidak-tidaknya untuknya, hal itu sudah cukup untuk meyakinkannya melakukan aborsi.

Namun entah bagimu, ketika kau benar-benar hampir mencintainya. Sejenak mungkin kau sempat berpikir untuk menikahinya, namun untuk sebuah pernikahanpun kau begitu mengerti bahwa kau dan dirinya bukan ditakdirkan untuk sebuah pernikahan. Kalian begitu tidak mempercayai pernikahan.

***
Kau tidak pernah menyukai anak kecil, semua anak kecil bagimu terlihat begitu merepotkan. Jika ada seorang perempuan yang tanpa perasaan keibuan mungkin itulah dirimu. Bagimu keadaan dunia sudah cukup menyesakkan dan pilihan untuk menghadirkan seseorang lagi ke dunia bukanlah pilihanmu. Dan hari ini kau belum juga datang bulan. Ini sudah hari kelima.

Kau bertemu dengannya, sedikit terkaget karena kau memilih untuk tidak melihat wajahnya di saat-saat yang demikian. Kau sedikit menyumpahi dirimu karena apa yang kau lihat hari ini membuktikan bahwa kau pun hampir mencintainya. Tapi kau begitu keras kepala dan hanya berhenti pada hampir untuk kesekian kalinya.

Kemudian hari-hari berjalan begitu menggelisahkan bagimu dan baginya. Sampai sepuluh hari, tubuhmu mempermainkan dirimu sepenuhnya. Juga dirinya.

***
Kau akhirnya harus memutuskan secepat-cepatnya. Kau bertekad akan menemuinya hari ini dan menyelesaikan semuanya. Ini sudah hari yang kesepuluh. Kau hendak menghubunginya, namun hp-mu terlanjur berbunyi. Ternyata dia dan dia menemukan bercak darah di celana dalamnya pagi itu. Kau termenung dan tiba-tiba kau ingin meloncat karena sepuluh hari yang laknat sudah terlewati.

Sepuluh hari sialan yang hampir membuatmu berpikir bahwa kau tidak hanya hampir tapi benar-benar mencintainya.

***
Setengah tidak percaya dengan apa yang dihadapanmu pagi itu di kamar mandi. Ternyata tubuhmu begitu pintar dan begitu lama mempermainkanmu sedemikian rupa. Tidak pernah dalam sejarah hidupmu ia begitu lama menyembunyikan darah menstruasi dalam dirimu. Kau hampir menyumpahi dirimu sendiri, namun kau langsung teringat tentang dirinya karena di menit yang sama kau menyadari bahwa kau benar-benar mencintainya.

Kau berhasil melewati drama kekonyolan di pagi hari itu dan menemukan dirimu menghubungi dirinya via hp. Sepertinya ia sedang meloncat-loncat sendirian dan hal ini membuatmu kembali tertawa.

***
Malam itu kalian kembali merayakan sepuluh hari yang laknat itu dengan kahlua dan susu. Namun kali ini dengan satu pak kondom rasa strawberry di samping tempat tidur.

Yogyakarta, Juni 2004

-wait for revised version uploaded-