Tara

Tak akan ada yang menggantikannya, Tara. Kau hanya membuat ruang pada semesta agar berjanji untuk menemukan dirinya kepadamu lagi. Warna kesedihan masih memenuhi relung kameranya. Kau selalu hampir mati dibuatnya. Tak ada pernikahan yang membantu kalian kecuali keterkaitan ingatan dan usaha-usaha pelupaan. Bahkan jejak jiwanya melekat pada anakmu kini. Keajaiban muncul dimana-mana. Bekasnya masih selalu tengah kuat di pojokan kota yang sama. Tak ada yang bergerak, Tara. Saat itu.

Apa yang membuat hatimu tak kunjung bergerak? Tak pernah benar-benar membuka kecuali hanya kepadanya. Kenapa momen yang ditangkapnya seperti kata-kata yang tak pernah sampai kepadamu. Seorang fotografer yang lain mengingatkanmu lagi akan janji itu tiga hari yang lalu. Kau tak pernah lupa, mimpi kepulangan bersama itu. Ia yang menangkap dan kau yang mencatat, di tengah-tengah bau teh mentega yak.

Suatu hari, kau yakin, kepulangan itu akan lengkap dan udara akan ikut memadat. Tak lagi sesak dadamu di hadapanmu. Kau janji, tak lagi sesak. Seperti angin, dia menyertaimu setiap saat bahkan ketika kalian tak lagi bertemu atau menyapa. Jiwa yang berkelindan padamu. Jiwa yang pernah menjadi cahaya penunjuk terang menuju keabadian bersama.

Dalam mimpimu, kelopak teratai bermekaran. Dalam mimpimu, di senja itu kau meraih tangannya dan tak ada yang lagi lepas. Dan gelap pun akan lewat menunggu pagi tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s