:bill

aku merasa mengenalmu sebelum ini, merasa pernah bercinta denganmu sebelum ini, pernah merasa membangun rumah denganmu sebelum ini, pernah merasa mengandungmu sebelum ini. seperti pada sekian naskah drama dan pada karma-karma yang belum tuntas. aku merasa pernah bertemu denganmu jauh sebelum ini dan masih mencintaimu hingga kini.

ini keterlaluan…

:ks dan pada semua luka

perang adalah suatu karma yang melingkar dalam garis tanganku. namun tadi malam aku lelah dan maafkan jika aku menyatakan cinta padamu di jam lima pagi yang buta dan tidak masuk akal. aku hanya takut jika hari ini aku bangun tidur dan harus berbohong pada dunia, saat itu aku ingin jujur di kali terakhir, di hadapanmu. itu saja. memang bodoh tetapi tidak ada yang perlu disesali.

Di Antara Sebuah Angkringan dan Lekukan Boulevard

:sasongko

Ketika ribuan tahun sudah berlanjut, pada sejarah yang hilang, punggungku terbakar. Tangan-tanganku mencoba menggapai yang pernah ada di sana. Ada yang bangkit dan mengalir tidak berhenti.

Malam itu, atas nama dewa-dewi dalam jejak sejarah perjalanan hidupku, kau melihat luka perang yang menua. Merah nyaris mendekati darah. Marun merona.

Kundalini, kundalini, naga tidur yang menyala di punggungku.

Aku tetap tak paham akan sosok segala hal, hanya kilatan cahaya melewati mataku berkali-kali malam itu. Lalu pada batu aku bergema, diam dan tak ingin kemana-mana.

Terberkatilah, atas nama dewi berjubah putih, katamu menjelang subuh.

Kundalini, kundalini, naga tidur yang masih menyala di punggungku.

Pada api yang meriap tiada henti pagi itu. Tiada henti.

: untuk malam ini

pada anak-anak anjing yang tercecer malam ini. sekian bau maskulinitas yang tersisa di tubuh ini, semuanya melebur pada obrolan dan suara kretek rokok yang terbakar. pada semuanya yang selalu kurindukan, aku ingin kalian cepat pulang, agar malam-malam berikutnya dapat kita nikmati bersama lagi. ketika hidup ini begitu berarti dalam kacamata biru kotak yang nyaris tertekuk lutut ini.