Rancangkapti
: atas kembalinya cebolang

seutas pertemuan kembali
dirajutnya segala dosa
atas diri
atas tubuh

apa ada yang salah dengan noda? dengan dosa?

seyogyanya, cintaku
dimana hanya aku
dan dirimu
yang lain adalah tiada

karena bagaimanapun
diriku
akan selalu kembali
padamu

dan aku selalu menunggumu
apapun yang telah terjadi selama ini
sebagaimana akupun telah pergi
telah kembali
dan sudah tidak berlari

hari-hari itu
penuh cahaya
di penghujung umur-umur kita yang menua
sebagaimana kulihat
dua anak kita
dan anjing-anjing kita
disana

ah, telah lama
rancangkapti
kutemukan cintaku

dalam dirimu
aku telah berpulang

lagi-lagi tigabelas

:dan bukan angka yang sial

sudah berapa lama
sosok itu kian menunggu
tertanam dalam diri
hingga nyaris beku

karena sejujurnya
aku mencintai
sosok ketigabelas itu

hingga tidak terasa sial
namun seperti kejatuhan bintang
yang mulai terang

bertubi-tubi

dan
aku senang

πŸ™‚

untuk hujan yang mulai jarang

:e.e.

aku melihatmu
menapaki jalan-jalan
basah

segala yang dilihatmu
membuatku miris

oh, dadaku…
biarkan yang harus mengalir
tetap mengalir

walau darah
walau duka
semata…

di tengah-tengah gurun itu aku masih menunggumu
selamanya

pukul lima pagi

:frederico, e.e., dan g

mengapa raga ini selalu penuh kesedihan,
kediaman yang beribu,
dan rindu-rindu yang tak tersampaikan.

semuanya telah membuncah dan menusuk
hingga tiada lagi yang terasa

mati raga

ah sukma jiwa hingga biar tiada
hilang ditelan semesta

aku lelah untuk selalu memungguti bagian-bagian jiwaku yang lain
seperti selalu menunggu yang tak pernah datang
dan mungkin saja tak pernah ada saja

ah,
hatiku sampai kapan?
sampai kapan kau sanggup memutar roda waktu dan kehidupan…

reffrain

:atas pembacaan centhini

oh raja pati,
telah kutembangkan cerita seribu malam

kukitari semesta hingga delapan kali putaran
mengapa yang kesembilan membuatku begitu renta?
hingga kutanggalkan segala yang tiada berarti

oh raga,
hambamu lelah menunggu pagi

kala telah menelan rembulan
jauh-jauh hari

biarlah uma,
aku
telah melihat semua
rasaku telah di penghujung segala doa

episode kedua: uma yang memanggil kala

:tambangraras

setelah seribu malam
aku pun menunggu malam tiba dan senja jatuh
hingga seolah subuh sudah tidak ada disini

ketika peluhku menjadi peluhmu
perempuan mana yang mau pagi tiba
hingga sisanya hanya tercium di ranjang semata

telah delapan kali kukitari bumi
dari malam jumat kemarin
betapa susahnya
mencapai bilangan kesembilan

jika hamba jua haus
apalah arti raga
oh pati
jiwa-jiwaku yang lain
mengapa berulang kali hamba harus memunguti kalian
begitu rupa
setiap kali kita bersua

apakah takdir dan karma sedemikian maha
tidak kuasanya hamba
pada diri
raga

oh cintaku,
oh anak-anakku
hingga dasar liang bumi
aku masih membelamu
mencintaimu

ganesha
sakyamuni
awal dari segala awal
om dari segala om

maka takdirku dimulai
dipisahkan untuk terbelah
dan tak terbendung
oleh siapapun
oh, rasa ini

koyak moyak telah segala
kesedihanmu
bagai uma yang memanggil kala

apakah takdirmu menjadi ibu
bagi anak-anakmu
sedemikian berat?

dalam deraman derak bumi
yang penuh angkara
kau selalu menangisi segala yang telah terjadi
hingga telah kering airmata
hingga rasa dalam dirimu
berubah menjadi gurun-gurun
padang-padang pasir yang tiada berujung

kau tiada lagi mencium wangi melati
dari sanggulnya
sanggulmu
subangnya telah pergi entah kemana

cintaku,
mengapa penyesalan demi penyesalan
selalu datang ketika kau tlah tiada?

belum lagi salatku
belum genap
apakah doa-doaku yang lain akan terdengar di pucuk telingamu?
aku sudah tiada sanggup memilah
dalam bahasa apa aku berbicara kepadamu
dalam jenis doa apa
aku selalu memelukmu
sampai pagi tiba
dan dadaku hampa
tertusuk pagi yang menggigil tanpamu…

episode sepasang gajah

: ganesha

setelah tiga tahun lamanya
yang ungu
yang hitam
bertemu kembali
untuk menjaga gunung-gunung tinggi
menjaga wisnu
menjaga diri
satu dengan yang lain

dipeluknya aku
dan dijejakkan aku ke bumi
ia seolah-olah berkata
jangan kemana-mana
tetaplah dimana kamu berada
tetap di atas bumi
berdiri tegak
dengan sesungguh-sungguhnya

aku tengah mencarimu, ganesh
dalam sepasang liontion perak
yang mematri wujudmu
mematri refleksimu yang ungu
di lengan kananku
membawamu kemana-mana
namun dirimu membuat diriku
tidak bergerak

seolah-olah dipegangnya kala di salah satu lengannya
waktu terus berhenti
setelah tiga tahun berlalu

aku melihat awal semesta
melihat akhir semesta
putaran dan ledakan
alpha dan omega
yin dan yang
sepanjang malam
denganmu, ganeshaku

terimakasih, telah masih berada di sisiku, setelah sekian lama:)