cerita kelima untuk qq

dua minggu bukan tanpa air mata dan suatu penggoresan bilah-bilah pisau kayu pada hati. dua minggu juga bukan untuk sebuah pemukiman yang dituntut raga, tetapi pengembaraan yang tiada henti, tiada pulang, tiada pergi, hanya perjalanan itu sendiri. kita pun teronggok mati, dengan kepala tengadah dan mulut yang berbusa di suatu pagi buta. melewati kabel-kabel dan kecepatan suara, malaikat-malaikat itu mengantarkan kita. bukan pada maut, karena bukan pada waktu kita terhadapkan. tetapi pada cinta yang mempunyai jeda dan membutuhkan celah untuk bernafas sekali lagi.

dan pada nagari yang bukan negeri, tuan yang bukan tuan kita berdua berdiri. terkaget-kaget melihat instantnya revolusi pada pantulan dua gelas yang dipecahkan angin malam di meja makan. lagi-lagi jeda, lagi-lagi celah, tetapi mengapa dunia sejenak begitu kosong dan sepi untuk dua manusia.

aku kehilangan kuasku
dan kanvas-kanvasku jatuh ke tanah
begitu saja

malam enggan dilukis
pagi enggan digores
maka tanganku pun mengais air dari kali-kali kotor

melukis lukisan begitu coklat
begitu padat
begitu merah

begitu berdarah…

sepertinya sekarang aku bisa mengerti
karena hujan datang begitu rintik dan begitu petik
berdawai-dawai
beramai-ramai

karena sampai matiku
dadaku bergemuruh
semata dengan ruh
dan kau

semuanya abadiku!

Sepotong Cerita Dalam Kamar
:Qq

Satu minggu sudah terlewati sejak kutinggalkan kamar bertembok merah terakota, ukurannya kurang lebih empat kali enam meter atau empat kali lima meter, entah, setiap kuhabiskan waktu disana aku tidak pernah membawa meteran. Lagu yang terlintas selalu berganti-ganti, kadang-kadang diiringi suara tawa sekumpulan laki-laki dari tembok belakang, suara motor pun kerap terdengar begitu jelas dan telanjang. Aku masih ingat bagaimana kau menari dangdut di depan kaca, di depanku dan diatas lantai yang juga merah bata, dan ijinkanlah aku tertawa lima menit sebelum melanjutkan cerita ini. Satu menit untuk membayangkan, dua menit untuk tersenyum, satu menit untuk tertawa terbahak dan satu menit terakhir untuk menenangkan nafasku yang nyaris tersedak.

Pertama kali kujejakkan kakiku di lantai merah bata itu, seperti menjejakkan lagi diriku dalam kehidupanmu, setelah nyaris, ah, tiga ratus lima puluh enam hari kulewati dengan rindu pada langit-langit kamarmu. Langit itu sudah berubah kini, tidak setinggi yang dulu tetapi juga tidak sekotor yang dulu, lebih bersih tanpa sarang laba-laba dan temboknya baru saja kau cat merah terakota dan pada pintu tergantung tas ranselmu yang juga merah. β€œSejak kapan kau suka merah?”tanyaku. β€œMungkin sejak kita sama-sama berdarah di bulan keenam yang lalu, kau ingat?”. Aku ingat, bulan itu aku jatuh cinta pada merah karena hatiku yang begitu berdarah, bulan itu juga ransel abu-abuku sobek parah dan sebagai gantinya kubeli ransel merah nyaris persis sama dengan yang tergantung pada belakang pintu kamarmu.

Air panas masih kau jerangkan, kau cuci cangkir besi di bawah sindiran, kemudian bubuk coklat, gula dan air panas, serta sendok kecil kau sorongkan. Waktu itu hujan menerjang tirai bambu, cangkir besi kita telan bersama dengan coklat panas, β€œKau lapar?” tanyamu sambil mengunyah sepotong besi, sewaktu melihat sore tiba di kota senja.

Foto-fotomu pernah kau telanjangi sendiri, di depan mataku. Tidak hanya dirimu, orangtua, kakak, adik, kawan-kawanmu tetapi juga perempuan-perempuanmu. Aku hanya tidak melihat diriku, karena yang kutahu tentangku telah kau simpan begitu rapi pada suatu pojokan tumpukan pakaian-pakaianmu. Kuminta segelas air hanya untuk mencegah sesuatu dari dalamku, bodoh, foto warna sephiamu, bertelanjang dada nyaris mengundang nafsu. Mungkin tengah malam akan diam-diam kuselipkan pergi.

Hari yang kedua puluh satu dan malam yang kedua puluh, aku terkunci di depan pintu dan pada teras pintumu aku mengetuk, dan kaus hitammu kujadikan baju tidurku. Satu kasur berdua dan mereka begitu berbahagia, malaikat-malaikat kita, jika mereka pernah ada, dan setan pun tak masalah begitu katamu. Malam telah tiba dan semuanya gelap, hanya siluet-siluet dari lampu jalanan, pada punggung, pada leher, pada dada dan terkadang pada mata yang menyala. Potongan-potongan hitam putih yang mengganggu mataku, seperti buta warna yang tak perlu. Sudah berapa lama kasur ini kita tiduri bersama?

Cermin itu mungkin akan bersaksi nanti atau menuliskan cerita sendiri ketika kau sedang bercukur dan bayanganku berada di punggungmu, pagi-pagi sekali sewaktu kau belum juga mandi. Sejenak dunia begitu jenaka di kamar merah terakota, waktu mati, cinta mati, semua puisi dan segenap tulisan mati kecuali secarik surat yang kubuat pukul delapan pagi setelah perpisahan rasa kopi, hanya satu jam sebelum aku menggantung diri, masih juga di kamar itu yang bertembok merah terakota. Bukankah warna-warna di kamarmu akan semakin semerbak memerah?

Yogyakarta, 6 Febuari 2002

sepiring nasi putih di atas sebuah monitor, sarapan pagi di kota yang selalu hujan, sarapan untuk satu tenggorokan yang nyaris hilang suara karena keringnya batuk-batuk. aku rindu pada sebuah kota yang menawarkan senjanya, begitu lembut, begitu lemah, dan mengundang rancu. sulap menyulap seorang penulis prosa yang nyaris berkata-kata dengan segala bentuk puisi, satu rim tumpukan novel gila yang seakan-akan mengonggongi nusantara dengan judulnya sampai pada penjuru dunia, penerbit sekaligus penerjemah yang nyaris putus asa, lalu pada buku-buku yang ditahan percetakan, buku-bukuku yang tertinggal dan satu diantaranya di tangan seorang penyair, masih pada kota senja, masih pada kerinduan itu. semuanya terhenti pada dia, ketika malam yang terakhir kuberbaring di sisinya. pukul lima pagi waktu itu, segelas kopi dan sebuah kunci. kunci kamarnya dan ciuman rasa kopi, dia pergi menuju sebuah kota di utara hanya untuk sementara, kepulangannya mungkin sebelum kereta api malam berderit menjemput ransel merah itu.

ransel merah itu aku.
terkunci pada pintu semalam itu.