cerita kelima untuk qq

dua minggu bukan tanpa air mata dan suatu penggoresan bilah-bilah pisau kayu pada hati. dua minggu juga bukan untuk sebuah pemukiman yang dituntut raga, tetapi pengembaraan yang tiada henti, tiada pulang, tiada pergi, hanya perjalanan itu sendiri. kita pun teronggok mati, dengan kepala tengadah dan mulut yang berbusa di suatu pagi buta. melewati kabel-kabel dan kecepatan suara, malaikat-malaikat itu mengantarkan kita. bukan pada maut, karena bukan pada waktu kita terhadapkan. tetapi pada cinta yang mempunyai jeda dan membutuhkan celah untuk bernafas sekali lagi.

dan pada nagari yang bukan negeri, tuan yang bukan tuan kita berdua berdiri. terkaget-kaget melihat instantnya revolusi pada pantulan dua gelas yang dipecahkan angin malam di meja makan. lagi-lagi jeda, lagi-lagi celah, tetapi mengapa dunia sejenak begitu kosong dan sepi untuk dua manusia.

aku kehilangan kuasku
dan kanvas-kanvasku jatuh ke tanah
begitu saja

malam enggan dilukis
pagi enggan digores
maka tanganku pun mengais air dari kali-kali kotor

melukis lukisan begitu coklat
begitu padat
begitu merah

begitu berdarah…

sepertinya sekarang aku bisa mengerti
karena hujan datang begitu rintik dan begitu petik
berdawai-dawai
beramai-ramai

karena sampai matiku
dadaku bergemuruh
semata dengan ruh
dan kau

semuanya abadiku!

sepiring nasi putih di atas sebuah monitor, sarapan pagi di kota yang selalu hujan, sarapan untuk satu tenggorokan yang nyaris hilang suara karena keringnya batuk-batuk. aku rindu pada sebuah kota yang menawarkan senjanya, begitu lembut, begitu lemah, dan mengundang rancu. sulap menyulap seorang penulis prosa yang nyaris berkata-kata dengan segala bentuk puisi, satu rim tumpukan novel gila yang seakan-akan mengonggongi nusantara dengan judulnya sampai pada penjuru dunia, penerbit sekaligus penerjemah yang nyaris putus asa, lalu pada buku-buku yang ditahan percetakan, buku-bukuku yang tertinggal dan satu diantaranya di tangan seorang penyair, masih pada kota senja, masih pada kerinduan itu. semuanya terhenti pada dia, ketika malam yang terakhir kuberbaring di sisinya. pukul lima pagi waktu itu, segelas kopi dan sebuah kunci. kunci kamarnya dan ciuman rasa kopi, dia pergi menuju sebuah kota di utara hanya untuk sementara, kepulangannya mungkin sebelum kereta api malam berderit menjemput ransel merah itu.

ransel merah itu aku.
terkunci pada pintu semalam itu.

wahai, serigalaku yang kesepian
kadang aku tak mengerti apakah aku menyukaimu
membencimu
ingin membelaimu lembut
ataukah aku ingin menamparmu sekeras-kerasnya

serigalaku yang kesepian
yang menemaniku sewaktu kota senja
memasuki malamnya
pada subuh kau selalu menghilang lagi
tetapi aku tahu kau tak kan pulang ke sarangmu
karena jalanan adalah hidupmu

serigalaku yang kesepian
yang entah bagaimana kau pandang diriku
perempuan yang juga kesepian
ataukah hanya seseorang yang memberi belas kasihan
teman?
musuh?
atau suatu kekasih malam?

serigalaku yang kesepian
yang sering menampar batinku
dengan amarahnya yang meluap-luap
emosinya yang kadang kekanak-kanakkan
lalu kata-katanya yang menyakitkan
pernahkah kau terpikir
aku juga seringkali kesepian
tertidur bersebelahan dengan kecintaanku

serigalaku yang kesepian
aku tahu kita pernah juga tidur bersisian
juga pernah merasakan lugunya suatu permainan percintaan
tetapi kita hanya berbagi demikian
lalu lantas jadikah kau seorang gigolo jalanan
atau aku pelacur murahan?

melolonglah untukku sekali lagi
walau itu untuk salam perpisahan
serigalaku
yang masih saja kesepian

segelas kopi di atas karpet, panas mengepul, asapnya membayangi wajah itu dan segelas coklat masih di tangan yang satu. lalu sendok, lalu garpu pada bungkusan makanan, sepotong tempe dan tahu bacem, nasi dan pengisian perut yang lapar. kasur berseprai garis-garis, kaca pada dinding dan tembok yang merah terakota, ada dua bawah bantal, dua buah guling dan sebuah pelukan, masih di malam penghujan. ada yang tidur bersisian dan subuh memisahkan kemudian.

melewati empat kota dalam tiga hari
dan kereta-kereta malam masih berdesingan
lampu-lampu kota bersapa
pada mendung yang menutupi setiap kota
pada hujan yang merintikkan airnya pada setiap bata

dan mata-mata masih pada rel
pada jalan
lalu orang mati
berjejeran terseret arus banjir