“Aku melihatnya pergi begitu saja, tanpa mengucapkan apa-apa, apalagi perasaanku. Dua bulan kemudian ada bentrok dengan gerilyawan, desa mereka dibakar dan di antara tiga belas ribu korban perang saudara itu, ia adalah salah satunya,” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rajiv, di tengah malam yang tak seberapa dingin dan pojokan kamar yang sudah gelap karena malam dan listrik lagi-lagi tak menyala malam ini. Seperti semua pembicaraan yang menuju kepada sesuatu, manusia akan membicarakan sekian pengalamannya akan cinta.

Aku memeluk kantung tidurku malam itu. Membayangkan perempuan cinta pertama Rajiv dan bagaimana perang saudara di wilayah yang tengah kulewati, mencabiknya dari hatinya. Aku teringat mendadak oleh cinta pertamaku sendiri. Laki-laki Ambon yang nan jauh dari kampungnya. Kata-katanya yang seolah baru kemarin sore ketika ia tengah bercerita tentang rumah pamannya yang dilempar granat di tengah-tengah kerusuhan Ambon yang penuh gejolak di tahun 1999. Saudara yang membunuh saudara. Manusia demi manusia.

Hingga pagi, aku gelisah akan pertanyaanku mengenai cinta pertama dan bagaimana perang saudara mewarnainya. Di bagian belahan bumi tropis dan di bawah kaki-kaki Himalaya seolah semuanya menjadi tak lagi jauh berbeda. Rajiv telah tertidur sekian jam yang lalu, di tengah kegelapan yang mulai terang oleh remangnya pagi, wangi embun mengusik sekian pertanyaanku akan kedamaian dan segala usaha yang akan kita lewati menujunya.

Di sebuah sore yang tajam oleh rindu, kau mengucapkan kata-kata itu “Berjalan kepadamulah, aku menuju sebuah rumah. Dan perjalanan itu masih panjang…” Ditatapnya sepasang mata itu, oleh sinar matahari yang mengecap kilat coklat muda yang di satu masa telah kau hafal dalam hati. Semalam ketika degup di hatimu tidak berubah dan ketenangan di dalam dadamu mengkhianati segala hal yang telah ditahan setahun yang telah berlalu, hanya karena satu langkah memasuki sebuah rumah di atas bukit itu

Seolah terulang kata-kata di bandara siang itu, lima belas menit sebelum pesawat berangkat “Kau yakin untuk melepasku?” dan ketika kata ya, mengalir dari mulutnya, kau melepaskan dirimu dalam sayap-sayap semesta dan terbang bersama seluruh alur hidup yang dapat mengubah nasib. Kalian berdua.

Namun satu langkah memasuki sebuah rumah, segala gejolak tersedan di dada, tawa dan tangis itu seolah kembali berputar, pada kekinian yang baik-baik saja. Dan kau menghela nafas dengan tenang sepanjang malam. Terbangun pada ingatan akan sekian dansa di malam hari, pada suara pisau di atasΒ talenan dapur serta cangkir-cangkir kopi yang tandas di pagi hari, pada bau tanah dan kemiri di helai rambutnya. Pada jauhnya jarak dan dekatnya degup dada di pagi tahun baru yang kedua. Segala langkah yang telah kau lewati dalam setiap doa yang kau rapal di sekian perjalanan yang kau tempuh. Begitu jauh dan ia kini begitu dekat.

Dan pada momen ketika jarak itu mengada, kenyataan menjadikannya tiada.

Rumah

Entah sejak kapan

Dirimu menjadi tempat berpulang

Tempat menjejak dan berpijak

Bahkan jika belum waktunya berpulang

Masih banyak kelana yang harus kulakukan

Meneruskan perjalanan dengan hanya menenteng segalanya dalam satu tas

Sambil perlahan melepaskan segala beban yang tak perlu

Seperti Bhumy, anakku

Mungkin dirimu yang membuatku mengalirkan airku menuju tanah

Pada tanahlah kita semua akan kembali

dan kepadamulah, suatu hari aku akan kembali

Melewati semua janji, dalam sekian kehidupan

yang tak pernah pasti

Bertemu denganmu adalah menemukan rumah

Dan dengan tetap berjalan, entah berapa jauhnya langkah

Arahku berpulang menujumu

Banphikot, 5 Juni 2014