pembicaraan dalam selintasan gelas teh

:orang-orang yang dianggap purba dan tidak laku

kita seperti sedang menghidupkan mumi yang sudah lama mendekam iseng sendiri di sebuah makam yang sudah teramat tua dan purba. jangan pernah bertanya kenapa dan kapan kita kehilangan arah? kita sedang menyelusuri semua jejak yang masih terekam dan tercecer di antara sejarah bangsa kita. seseorang pernah bilang kita akan menjadi bangsa yang besar, tetapi nasionalisme saat ini serupa nasi yang kemudian menjadi tai*

mengapa masih ragu ketika melihat piramida yang sudah kuno dan mapan membusuk itu. ayo hancurkan, hancurkan!!

-kantinbonbinsastraugm

*dikutip dari salah satu puisi Wiji Thukul

sisa tour theatre de java…

ada sesuatu dalam perjalanan, rasa lelah, kegilaan, kekesalan, pertemuan, tawa, tangis dan sesuatu yang tidak tergantikan: persahabatan. ada beberapa hal yang saya kagumi dalam diri teman-teman saya dan juga tentang apa yang mereka percaya. betapa perkataan-perkataan semacam demikian pun bisa begitu menggetarkan:
“aku hanya percaya dengan seseorang yang punya kawan bukan anak buah”
“aku ingin suatu saat nanti akan tercipta satu barisan penulis, bukan satu dua, yang akan mengguncang dunia”
“kamu sudah makan? makan dulu, nanti sakit”

lalu saya teringat akan mimpi-mimpi saya, mimpi-mimpi mereka. tentang dunia yang lebih baik, kondisi yang lebih baik atas hal-hal yang kita percaya. begitu banyak hal sedang terjadi dan berlangsung terkadang saya merasa seakan-akan nyaris meledak di tengah dinamikanya. tetapi kemudian mereka mengingatkan saya, untuk sejenak melihat kembali, istirahat dan menghimpun tenaga.

di malang saya ketemu zam dan dyah. sepasang pasangan muda yang sekilas terlihat ringkih namun bergetar nyala api di mata mereka. nyala api kehidupan. sudah sekian tahun saya mengenal zam, akhirnya bertemu juga. datang menonton pertunjukan teater malam itu, saya di balik panggung…berdebar. zam semakin kurus, dyah begitu sahaja. jauh dari sosok-sosok yang tercermin dari tulisan mereka. tetapi dari mata mereka dan tatapan mereka, saya merasakan keliaran dan gairah. saya gembira, rasa sakit di leher saya hilang, sejenak saya terlepas dari demam yang tengah mengerogoti saya di perjalanan. satu malam memang tidak cukup. harus sampai suntuk kita saling berbicara.

di bandung ada nenie yang membelikan saya sunrise dan berbicara menjelang matahari terbit, di sebuah toko buku milik teman-teman. saya sempat menunggu imam, kau datang ga sih mam?:P saya ingin bertemu dengan banyak kawan, yang selalu akan mengingatkan saya pada hal-hal yang belum selesai, pembicaraan-pembicaraan yang harus diteruskan dan dijalani.

saya baru saja mendapatkan sms dari kawan-kawan di surabaya. selamat ulang tahun katanya. iya, saya semakin tua, dua puluh satu tahun sekarang umur saya. saya jadi ingat wajah-wajah ceria mereka juga wajah-wajah lelah…saya kangen dan sepertinya waktu semakin sedikit dan sempit jika kita sedang berkunjung.

di solo, saya kembali bertemu nurul. melihat toko bukunya dan berbicara panjang. saya sempat membeli menunggu godotnya beckett pesanan salah satu laki-laki yang menggetarkan selalu hati saya. malam di solo gelap, tetapi hangat seperti sebuah teh poci hangat.

jam dua pagi saya tiba di yogya, langsung terdampar di salah satu bangku aky bersama kawan-kawan lainnya. lelah dan mengantuk. jam delapan pagi kekasih saya menjemput. saya kangen dengan orang-orang di rumah kontrakan kami. ingin melepas lelah di antara tembok-tembok ruangan. saya senang menghirup udara yogya lagi, sedang tidak mau peduli dengan asap kendaraan yang juga turut berseliweran. saya sudah pulang dan benar-benar sedang ingin iseng sendiri di sebuah pojokan kota.