Jejak Saffron

Segelas teh di pojokan dipan kayu. Uapnya menghiasi udara ruang tamu. Rambutmu basah oleh minyak kelapa. Minyak kelapa yang sama yang kugunakan untuk membuat sambal matah. Semalam kita membuatnya dalam porsi kecil-kecil, karena di udara dingin, minyaknya akan mengendap kental dan meninggalkan tempelan lemak di langit-langit lidah kita.

Bau pegunungan mewarnai nafasmu. Aku seperti tengah mengecap salju yang tiada rasa. Sejenak terasa jejak saffron yang bercampur tembakau. Kau bercerita mengenai ladang-ladang saffron di tanahmu, sementara rasa itu mengendap menuju dadaku.

Aku tak pernah lagi bertanya apalagi yang abadi, selain detik-detik percakapan yang menggenangi ingatan.

Halmahera (1)

teriakan bajak laut itu menggema di mana-mana
oh, wahai anak kepulauan
bersatulah
dan ingatlah para leluhur
sebagaimana sekian pesan telah menghampirimu bertahun-tahun lamanya

air, tanah, udara dan darah
juga rasa
dari segala penjuru mata angin

dalam pelukanmu, tobelo
ibu-ibu kami menangisi anak-anaknya yang pergi

semua tetes air mata itu
akan kami ingat dalam setiap keringat kerja kami

karena masih jauh kami akan berjalan
melangkah
menuju satu tujuan