purnama biru ungu
:i kadek dedy sumantra yasa

dini hari pukul satu
sekelopak teratai
terkembang di langit biru ungu
berubah menjadi phoenix
menggenapi hitungan abadi siklus rembulan

terang purnama
menerpa wajah anak kita
yang bagai kilau mutiara
sungguh putih
sungguh bersih

dari arah istana
angin berhembus
membawa gema suara kodok
dan igau para kucing
yang samar terdengar seperti ngorok macan-macan jinak
di latar hutan yang lampau

aku melihat seekor siput dengan lambat mengitari batu
dan dua ekor semut merah menjelajahi lantai malam
alangkah hebat nuansa alam
pada gerak nafasnya
yang tak lekang waktu

oh, kekasih
di dalam
di tengah kembaramu
kita berhadapan pada batu-batu
yang selalu menjadi penanda akan sesuatu
oleh orang-orang di masa lalu

bendera merah terkibar di sebrang pelataran
menandakan hidup
yang kita tahu
adalah perjuangan yang tanpa henti

demi bhumy
demi atisha,
yang belum sampai pada rahimku
tapi sudah menunggu di depan pintu
aku masih akan tetap mendampingimu,
selalu

batutulis, 11 maret 2009

aku melihat ibuku

aku melihat ibuku menjelma dalam buah-buah plum kering
di bawah hujan bunga sakura berwarna pink
dalam wajah pramuniaga sebuah department store jepang di ibukota
yang selalu mengira kami wisatawan jepang di negeri sendiri

aku mencium ibuku dalam wewangian
bunga melati, krisan, mawar dan sedap malam
semuanya seputih pagi
juga pada parfum
channel number five
dalam balutan botol warna hitam dan garis keemasan

aku melihat lagi ibuku dalam daftar belanja harian
dalam sepinya mall-mall yang riuh
dan suara-suara bising jalanan
pada kedap jendela mobil yang tengah berjalan menembus hujan lebat

aku mencium lagi ibuku
pada ingatan akan keningnya ketika ia menutup mata untuk selamanya
hangat masih
dan pada ingatan akan keningnya ketika peti matinya akan ditutup untuk selamanya
sedingin es
membuat bibirku kaku juga untuk selamanya

dan ia masih menjelma dalam warna sofa kekuningan
dalam lantai-lantai berceceran darah di ruangan rumah sakit
dalam kursi-kursi roda yang berjejer di depan ruangan radioterapi
dalam peta-peta kota yang tak bisa lagi kuingat
dalam gemuruh hujan yang membasahi kota yang semakin menghujam

oh, dalam nama bapa
dalam salam maria
dan juga yesus anaknya
pada nyala api lilin yang selamanya kunyalakan di gereja-gereja
atau ruang-ruang sunyi milikku sendiri
pada rosario miliknya
dia menjelma

bahkan pada kulit anakku
yang selicin porselin cina
yang tak dilihatnya
yang dilihat dan dijaganya

pada asap dupa
di kelenteng cina di kota kelahirannya
yang kukunjungi setelah ia tiada
dan tidak pernah ketika ia ada
ia masih menjelma seharum dupa dan bunga

pada jejak luka
yang mengurat semua keluarga
pada jejak luka caesar
yang mengurat perutnya
ketika aku lahir
sehingga ia menjadi ibuku
dan aku menjadi ibu atas anakku

aku melihat ibuku menjelma pada hujan rintik yang menyentuh kulitku
dan bau tanah basah yang meruapi ruang hidupku

bogor, 4 maret 2008