Kerumunan itu Datang Seperti Laut

Yang menyapu segalanya seperti air bah tumpah dari mana-mana. Langit menjadi Laut dan Laut menjadi Langit. Semua petak jalanan basah, tak ada yang celah kering di atas tanah. Hujan menjadi-jadi dimana-mana. Merusak dan menyeruak sampai ke hati. Menjadikannya terlindas depresi berhari-hari.

Melakukan perjalanan menjadi sesuatu yang dilakukan dengan bersijingkat. Penyakit mewarnai udara walau pandemi sudah lewat. Kali ini nyaris tak melewati siapa pun. Tidak ada yang tidak dikeluhkan, setelah matahari lenyap tidak mewarnai apapun di muka bumi yang serupa dengan kiamat.

Aku seperti tak mencari apa pun dalam jejakku sendiri di pagi hari. Sepatu basah tergantung di jemuran berhari-hari. Memilih berteman dan berbicara hanya pada sekian lembaran kertas yang menunggu diurus. Segala hal yang harus dibereskan hingga semua benar-benar jemu. Hingga semua hilang tujuan.

Terkadang sebuah kata bisa mengaduk semua pusara yang tertidur dalam pikiran. Membawa kalut hingga menyelimuti dunia dan jalan untuk kembali seolah tertutup gelap yang tak terselamatkan lagi. Di sini, diriku selalu berjuang menyelamatkan diriku sendiri berkali-kali, dalam jurang kegelapan yang dengan mudahnya mendorongku jatuh seperti tanpa pijakan lagi.

Bulan Kepiting nan Gelap

Hati bergerak senyap, dalam labirin-labirinnya yang semakin gelap. Menggali semua jenis perasaan yang tertinggal berkerak. Sisa dari letusan dan reruntuhan peristiwa masa lalu. Dari peperangan diri yang berkali-kali melewati waktu, melewati kalah dan melewati kecewa.

Ada kemarahan purba tumbuh dari dalam jiwaku. Ada sekian perempuan yang berputar bergerak. Sekian ibu, ibu demi ibu. Sekian kehamilan. Sekian kelahiran. Sekian kematian. Sekian kehidupan. Segalanya berputar. Segala yang menakutkan dan mengerikan. Kemarahan purba itu merayap, memenuhi seluruh permukaan bumi.

Di semua memori perjalanan itu, aku melihat semuanya terbakar. Semua jembatan yang berjatuhan. Semua kiamat yang terlewati. Hanya untuk demi selamat. Dalam tubuh ini, semua memori itu tersimpan dan bergelimpangan.

Aku melihat, perempuan tua itu, perempuan muda itu. Pagi tadi, dalam waktu yang lain, mendaki area pegunungan tempat leluhurku dibesarkan. Mengandung anaknya, melarikan diri dari kejaran, bersama sekian rombongan. Mereka menembak suaminya yang baru bersamanya selama dua minggu. Di hari berikutnya mereka melarikan dirinya dan kemudian ia melahirkan anaknya. Dari pulau yang jauh di Timur ia hadir. Kisahnya merayapi tegukan kopiku di pagi hari. Entah berapa kali ia telah harus berlari, demi hidup, demi hidup. Aku tengah berhitung, untuk hidup di kota dimana ia pernah hidup di Utara.

Seandainya semua yang kukerjakan tidak kuhidupi kembali, seandainya semua cerita-cerita tidak meminjam lidahku untuk menceritakannya kembali. Semua ibuku. Semua anakku. Bagai laut, perasaan ini mengalir tak henti-hentinya, membanjiri bumi hingga kering di dalam hati.

Di tengah segala yang tenggelam, dalam mimpi, aku melihat kekasihku pergi. Mungkin semua laki-laki yang pergi. Semua laki-laki yang meninggalkan. Semua yang tanpa penjelasan dan berakhir dalam ketiadaan. Tangan ini berulang-ulang tak kuasa meraih kembali, apa yang hilang juga berkali-kali.

Jika saja dalam jalan keabadian, kehilangan itu tak membekas dan tak menyakitkan.

Semua yang perempuan di dalamku menangis, marah dan sedih.

Batara Kala di Teras Rumah

Bayangan itu datang dan teras rumahku terasa dingin dalam semalam. Konstelasi terbelah. Dunia yang pecah dan berjatuhan dimana-mana. Sementara orang-orang masih ramai melepas rindu yang belum tuntas. Memasrahkan diri dengan ketakutan demi ketakutan. Melemparkannya bagaikan bom waktu ke segala penjuru.

Aku menenggelamkan diriku di mata air di Utara. Hanya demi secercah pagi yang mulai jarang oleh terang yang benar-benar genap. Tidak ada yang benar-benar melaju di saat-saat yang penuh ketidakpastian. Nuansa Kala seolah dan seakan-akan telah menelan matahari, dan bumi hanya menawarkan hujan demi hujan.

Di teras rumah, ia melewati kami. Ketika anakku bermeditasi di pagi hari, aku tak melihat tanda-tandanya pada diri kami. Dalam lingkup ruang suci di tengah rumah, kami terlindung di tengah semua gempita. Batara Kala menyapu di teras kami. Melewati malam yang tanpa rembulan.

Dari dadaku, aku mengeluarkan mentari dan kekasihku memelukku memberikan api. Hingga Kala pergi dan hanya menyapu teras kami.

Nyepi, 3 Maret 2022

Sembilan Matahari Menguasai Kota

Sembilan matahari turut terbangun subuh tadi, menerangi kota hingga seluruh penduduknya silau akan cahaya. Tidak sampai tengah hari, awan gelap menaungi dan menjatuhkan segenap lautan hingga membilas seluruh permukaan kota.

Aliran airnya membasuh hingga ke desa-desa. Dan laut. Dan laut. Larut bergemuruh dengan doa. Melarikan karma pada asal muasalnya.

Sejenak hening merayapi goa, dimana masa lalu berdengung hadir dalam jejak cerita yang meninggalkan petunjuk-petunjuknya untuk dipahami.

Sekian orbit planet telah bergeser. Aku meratapi langit dan bintang utara. Melihat kabar yang berjatuhan dari ketinggian dan menangkapinya bagaikan kehujanan akan cerita.

Yogyakarta, 18 Oktober 2021

Kutitipkan Kegelapan

Aku menitipkan kegelapan dalam dunia kata-kata. Ketika seringkali aku mencoba membeli beberapa cangkir atau piring yang sepasang-sepasang, aku kerap menahan diriku akan harapan. Aku terbiasa menahan nafas sebelum memutuskan segala sesuatu. Dunia di dalamku berombak tajam akhir-akhir ini. Tsunami-tsunami kecil yang tak tertahan, mendobrak tembok-tembok perasaaanku. Kecemasan yang tak berujung. Kekhawatiran yang tak ada alasan. Aku terbiasa bernafas dalam tenggelam, hingga insang tumbuh pada leherku. Namun seperti bisa ular, terkadang bisa penuh racun itu naik sampai ujung lidahku yang kucoba tutup erat-erat.

Sudah nyaris tiga bulan penuh, di sekian pagi aku mencoba menatap ke arah gunung berapi. Terkadang ia meletus, meluapkan asapnya. Sudah beberapa kali sekian bulan terakhir. Kadang aku bersepakat seharusnya mereka menamai gunung-gunung ini dengan nama perempuan. Karena emosi yang terkandung di perutku seperti lahar-lahar yang menunggu dikeluarkan. Emosi itu sungguh perempuan.

Jika aku tengah mencari akar dari kecemasan-kecemasan, aku melihat orang-orang tua berlalu di mataku. Berjatuhan bagai bencana-bencana yang telah berlalu dan telah terlewati sekian tahun belakangan. Ingatan-ingatan itu menyeruak masuk, bau rumah sakit seolah menyekat tenggorokanku hingga tak ada kata keluar dari mulutku. Bau alkohol yang tajam. Darah yang berceceran. Semua jenis kotoran. Semua dan segala kelemahan. Semua rasa sakit. Semua emosi yang tumpah di lorong-lorongnya. Semua ketidakmampuan. Semua ketidakberdayaan.

Aku melalui pagi-pagi di Yogyakarta di atas motorku. Terjerembab menghadapi kemacetan senja. Aku sudah tak terbiasa menghadapi begitu banyak orang. Membayangkan perjalanan panjang tiba-tiba tak lagi terpikir dalam ingatanku. Tidak bergerak dari kota ini seolah menjadi biasa saja. Aku bahkan tak terbayang untuk mengunjungi siapa-siapa. Pergerakanku akhir-akhir ini terlalu banyak ke dalam, menyelusuri lorong-lorong yang gelap akan ingatan. Terbangun dalam mimpi-mimpi bawah sadar yang tak disengaja. Berada dalam tempat-tempat yang tak kuinginkan walau terpaksa, walau semua perjalanan itu kulakukan dari ruang kamarku belaka. Pandemi ini bagai penjara yang membuatmu nyaman melingkar dalam kegelapanmu sendiri. Ruang-ruang menjadi mampat. Virus itu tak hanya bergerak pada ruang udara, namun juga pada ruang gerak hidupmu yang biasa. Merubah kebiasaan dan kebutuhan-kebutuhanmu hingga dirimu membatasi diri untuk hanya berkompromi.

Aku tak ingat lagi bagaimana melawan dan ini berbahaya. Sedangkan di bagian-bagian dunia yang lain tengah bergejolak. Orang-orang mati ditembak di jalan-jalan. Semua tatanan sosial berubah panjang dan terekam dalam layar-layar. Cerita-cerita gelap, film-film yang bagai mimpi buruk, mengalir begitu saja dalam sekian tombol akses. Begitu mudahnya melarikan diri dari kenyataan akhir-akhir ini. Seringkali semua film sains fiksi itu berubah menjadi kenyataan di dunia yang sekarang. Aku merasa membelah diriku menjadi sekian kepribadian. Berada di ruang yang berbeda-beda dalam sepersekian detik dari terlalu banyak pilihan. Namun lagi, aku tak ingat lagi bagaimana melawan dan ini berbahaya.

Jika kegelapan mewujud bagai kata-kata, kegelapan merawatku di kota ini bagai malam yang tak berbintang. Aku mencari sekian kerlip di angkasa dan tak jua menemukannya. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat mencoba menenggelamkanku kembali ke dalam lumpur ingatan. Kegelapan tak hanya berhenti di sana, ia juga melahap janji demi janji. Yang semakin jauh untuk digapai. Seolah selalu ada satu tarikan nafas panjang yang harus kuhembuskan untuk mencapainya dan seperti Sisifus, hal-hal itu tak juga tiba. Bola-bola kesabaran yang disarankan semakin besar, bergulir entah di jurang yang mana.

Aku tak tahu apakah jika kegelapan kutitipkan, aku akan menemukan harapan.

Kematian Seorang Diktator

Saya membayangkan bulan Mei 1998. Pekat hitam di jalanan. Asap hitam. Kekerasan. Perkosaan. Pembakaran. Penjarahan. Teriakan-teriakan. Suara-suara tembakan. Semua dan segala jenis kekacauan.

Saya membayangkan bulan ini, Oktober 2011. Diktator yang tertangkap di gorong-gorong. Diseret paksa. Ditangkap massa. Dipukuli. Ditembaki. Disodomi. Tangisannya tak didengar. Pembunuhannya disiarkan dengan gempita kepada dunia melalui layar ponsel. Mayatnya menjadi latar belakang foto bersama. Dipertontonkan di kulkas pendingin bersama bekunya daging dan bau pasar. Membiru, busuk dan gelap.

Pandangan saya menggelap. Mungkin inilah yang dinamakan karma. Semuanya mendadak terlalu sureal.

Saya membayangkan lagi, seandainya tiga belas tahun yang lalu, kita semua menggantung Suharto. Memburu semua anak-anaknya dan memberondong semua yang membelanya. Mempertontonkan mayatnya dan berfoto bersama di depan mayat-mayat mereka.

Saya tidak tahu apakah kebencian yang mendalam membutuhkan piala kemenangan. Apakah kebencian yang teramat sangat menjadikan kita kumpulan binatang yang perlu memamerkan semua piala mayat-mayat para musuh kita. Memperlakukan mereka bagai sampah dan menyorakinya dengan girang.

Saya teringat lagi 1965, kita pernah menjejerkan kepala-kepala orang-orang yang dianggap komunis di jalan-jalan. Memacung dan membiarkannya sebagai peringatan. Menghilangkan dan membuang paksa mereka semua ke dalam ingatan kelam sejarah bangsa ini. Sungguh celaka ketika saya tidak meragukan kapabilitas kita sebagai manusia untuk melakukan kekejaman yang sama.

Saya bertanya-tanya apakah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan seseorang menjadi begitu besar dan kejahatan yang sama layak diperlakukan kepadanya? Apakah keadilan ketika seorang diktator mati tua tanpa diadili ataukah lebih adil ketika kita merayah dirinya bersama-sama? Apakah dendam selalu menjadi pembenaran dalam sejarah kemanusiaan kita? Bahwa kekerasan adalah jalan. Bahwa kekerasan adalah penyelesaian. Saya mencoba mengerti, apakah daya seseorang ketika pilihan atasnya adalah hanya membunuh atau dibunuh? Apakah ribuan tahun peradaban kita tidak pernah menghasilkan pilihan-pilihan yang lebih bijak? Saya mendengar Darwin tertawa di benak saya.

Tiba-tiba saya tidak tahu lagi harus menaruh rasa sesak yang membuncah di dada saya. Tidak. Saya tidak menangisi Qaddafi. Saya juga tidak menangisi Suharto. Saya menangisi pertanyaan-pertanyaan yang menusuk mengenai keadilan ketika kekerasan menjadi jalan. Dan saya lebih menangisi dunia yang membiarkan itu semua terjadi.

Ditulis 9 tahun yang lalu. Didokumentasikan hari ini.

Segalanya Hujan

Aku merasakan segala dalam diriku terasa hujan

Penuh akan air

Sesak akan udara

Di laut yang menjadi tubuhku

Aku megap-megap

Kedua tanganku mencoba meraih sesuatu untuk berpegangan

Agar tidak tenggelam dalam kesenyapan yang tanpa suara

Di dalam gelap,

Aku melihat guruku menyalakan agni

Di kuburan-kuburan yang nun jauh di sana

Di gua-gua yang sesunyi dasar laut

Aku mendengar sekian lantunan doa

Dalam riuhnya busa ombak

Tanganku meraih sesuatu

Berpegangan pada sulur-sulur rambut Ibu

Sepasang ular emas mengendarai cuping telingaku

Tidak ada yang membisikku

Ketika aku mengambil buah kuldi yang kesekian

Dalam lingkaran kehidupan yang ini

Pintu segala yang gelap itu sudah terbuka

Arus perpindahan semua cahaya sudah terlihat

Betapa tipisnya segala sesuatu

Semua dupa sudah dinyalakan

Butir-butir beras sudah diterbangkan

Sepasang naga tengah kawin di langit tanahku

Semua leluhurku menungguku memulai upacara

Di hutan yang penuh air hidup

Dalam tenggelam

Aku meraih sesuatu

Belku, pisau kartikaku dan memulai berdoa

Yang penuh dengan bunga

Memotong semua klesha

Mengandung Bara

Hari ini api seperti tumbuh dan berkembang di perutku

Membakar rahimku sampai ke dalam,

sampai ke segalanya

Menuntaskan segala emosi dan luka yang tersimpan

Semua hal yang tak pernah kuijinkan terjadi padaku

Atau masuk padaku

Api itu membakar habis semuanya

Semua lapisan dan aku melihat semua peristiwa kebakaran itu sampai tak berkedip

Mengatasi luka adalah dengan menyaksikannya secara penuh

Menamainya

Menyebutkan para pelakunya

Menceritakan semua peristiwa

Merasakan betapa gelapnya dunia

Betapa kelam

Di rahimku aku menyaksikan betapa kelamnya dunia

Sehingga cahaya api kunyalakan untuk menghanguskan kegelapan

Hingga aku melahirkan bara.

Cinta di Kala Corona

: pacarmerah, Sam, setelah dua puluh tahun

Ciuman-ciuman kedatangan dan perpisahan dibalut oleh lapisan masker yang meraih rindu dengan gemas. Namun cinta muncul ketika segala pertanyaan-pertanyaan kerinduan dalam hidup dihadapkan oleh pandemi kematian.

Cinta yang baik adalah yang tanpa penyesalan. Cinta yang baik adalah cinta yang tersampaikan. Cinta yang baik adalah yang tak patah arang dalam segala aral melintang.

Cinta yang baik itu akhirnya hadir dalam hidupku. Kau hadir lagi dalam hidupku. Dalam satu telpon jarak jauh setelah dua puluh tahun lamanya. Dalam suara serak yang tidak basah, namun banjir akan rindu yang tak terkatakan. Dalam jawaban perasaanku yang tersapu oleh segenap badai peristiwa. Di titik itu aku mencoba tenang-tenang saja, walau aku tak baik-baik saja.

Aku membutuhkan sekian bulan untuk mencerna segala sesuatu. Hingga di satu titik balik sebuah peristiwa, aku memutuskan untuk menelponmu malam-malam. Di saat itu, aku tahu diriku membutuhkanmu untuk mengisi ruang kehadiran yang semakin membesar kian hari. Bahwa jauh di dalam diriku, segala benih yang tersimpan itu sedang menyeruak tumbuh kembali.

Kita selalu menghendaki ini. Walau waktu telah berjalan dua puluh tahun. Walau segalanya melewati jalan yang memutar. Walau aku telah pergi jauh, jauh sekali untuk menemukan jalan pulang menujumu. Kita yang saling bertujuan pada satu sama lain. Dalam cerita cinta yang baik, kita berhak mengisinya dengan kebahagiaan.

Mencintaimu di kala corona mengajarkanku bahwa rindu ini tak akan habis dengan mencuci tangan.

20 Tahun Lamanya Perjalanan

: pacarmerah, untuk Sam yang tersayang

Aku seperti mengingat pertemuan pertama kita, hampir dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya mengingat kita yang saling berpelukan. Kecupan. Sama-sama tersenyum sedikit malu-malu.

Aku mengingat genggaman tanganmu. Ciuman di atas bis kota yang kucuri-curi di kala senja. Tatapanmu di kala itu. Kenakalan-kenakalan kecilku yang kau suka. Kenakalan-kenakalanmu yang jenaka yang kusuka. Bersamamu aku mengingat semua perjalanan itu. Entah berapa banyak semua perjalanan itu telah kita tempuh. Dari satu bis ke bis yang lain, mengitari pelosok ibukota dan juga sampai di kota lahir ibuku.

Aku tak mengerti sekarang. Apa yang kupikirkan saat itu? Mengapa ingatan kerap mengkhianatiku, di kala aku mengkhianati apa yang sebenarnya baik-baik saja di antara kita. Mengapa aku tak memilih jalan bersamamu di kala itu, yang juga baik-baik saja? Dirimu yang bersetia. Aku yang memilih pergi, memilih luka demi luka.

Kau bertanya padaku beberapa hari terakhir belakangan: Apakah kamu menyukai luka? Aku menatapmu lekat akhir-akhir ini setiap kali aku mencoba menjawab pertanyaan itu. Di kepalaku, aku tahu bahwa cinta bukanlah luka. Bahwa cinta bukan lagi sebuah kesakitan. Siklus ini telah berjalan terlalu panjang. Kerikil demi kerikil telah berubah menjadi duri. Menghujam bagai jarum.

Hari itu di Gambir, sosokku pergi untuk mematikan rasa. Sosokmu tertinggal dan berduka. Kita menangisinya dua puluh tahun kemudian. Begitu lama dan jauhnya jalan menuju kepulangan. Begitu peliknya waktu menyimpan kenangan.

Duka dan luka ingin kuselesaikan disini. Sejam sebelum ulang tahun bapakku. Apapun yang berputar selama ini sudah harus kuhentikan dan selesai di titik ini. Selesai dan menjadi kompos di dadaku. Janjiku padamu sekarang: di atas semua ini cinta akan tumbuh dengan sehat dan baik-baik saja. Yang akan kurayakan sekarang adalah menemukanmu, menemukan diri yang utuh, cinta yang saling melengkapi dan bukan lagi kehilangan demi kehilangan.

Jika diriku mau jujur padamu, yang kutangisi sepagi itu adalah memori tubuhku, rahimku dan memori rasa yang kau masuki dan tidak pernah pergi dariku. Sesuatu yang penuh hingga membekas terlalu dalam. Begitu dalamnya, kunci ingatan itu kulempar entah kemana dan tak pernah kubiarkan seorangpun untuk memasukinya lagi. Aku merasa sepotong bagian dari jiwaku yang kau simpan akhirnya membongkar itu semua. Bahwa selama itu aku menyimpan ingatan rasa sedalam itu. Dan bahwa kaulah yang menyimpan itu semua dengan baik, memeliharanya dan merawatnya sampai suatu hari ini semua menemukan titik tumbuh bersamanya yang tepat.

Kurasa aku akan terisak bahagia melihatmu dalam sekian jam ke depan. Kalau ini adalah bentuk rindu, ini adalah sesuatu yang sudah melampauinya.

Sampai lumat.

Sampai semua terlahir baru.

Jogjakarta, 20 menit menuju 5 Oktober 2020