Purnama Elogprogo

Jika kita mendamba sesuatu yang begitu gelap

Seumpama perasaan, hatiku sepekat bau-bau memori yang melekat

Seperti sisa percikan cat yang bertahan dengan waktu

Di pintu-pintu setua mata nenek dari nenekmu

Umur dari memori adalah kesinambungan

 

Keningku menghadap tanah Jawa

di antara batu-batu stupa

Setua para nenek moyangku

yang bukan hanya pelaut namun juga orang-orang yang mencipta

Bangunan-bangunan yang mengincar keabadian

yang berkali-kali coba dihancurkan oleh anak-anaknya yang tidak mengerti

Kutukan naik dan turunnya peradaban

Betapa perubahan adalah nilai-nilai yang sementara

 

Akhir-akhir ini aku tidak paham

Mengapa manusia meledakkan anak-anaknya sendiri

Ketika seorang ibu harimau yang kelaparan tak akan tega memakan anaknya sendiri

Manusia selalu adalah mahkluk dengan potensi yang mengerikan

Aku menengok ke atas

Pada purnama di atas kepala

Dan melantunkan doa-doa yang sudah terlalu tua

Kesedihan dan melakoli yang sudah luntur dalam udara

Setelah Empat Belas Tahun

:T.O.

 

Aku menemukan diriku di Bangkok

Bagian-bagian diriku di Sungai Chao Phraya

Martabak Karim yang ramai

sepulang kuliah yang selalu kusantap

berganti dengan sepeminuman teh di toko teh tua di sebelahnya

yang sepi dan membuatku tenang menulis

begitu banyak

di halaman-halaman jurnal

 

Pasar-pasar mewarnai perjalanan kita

yang terus menerus bersinggungan

Setiap satu bulan setengah

Apakah aku tetap harus bertanya dengan bagaimana jalannya karma?

Berkali-kali kubilang

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan

Pertemuan-pertemuan selalu menemukan alasannya tersendiri

 

Bibit-bibit

Berserakan di meja dan semalaman kita memilahnya

Kita menemukan diri kita di tanah

dan di dapur

lalu di meja makan

Sambil mencari dan mengenali rasa di lidah

di pelosok-pelosok meja makan kota Bangkok

 

Aku mengingat sekelebatan sosok

yang berteduh di balik rimbunnya hutan bakau

dalam kota yang kita lalui dengan sepeda

kuil-kuil yang membuatku berhenti dan bernafas

Brahma bertangan empat

di tengah bisingnya Siam

 

Bau bunga anting putri

mewarnai semua perjalanan tujuh hari itu

Malam terakhir aku menemukanmu

Menjahit sepotong kain di meja hostel

di tengah udara yang masih begitu panas

 

Kita berpisah lagi

hanya untuk mengetahui

kita akan bertemu kembali

Kora

:K. T. D.

 

Bau pagi itu pekat

Nafas-nafas yang kita keluarkan selagi terbalut jaket musim dingin

Membekas di udara

Jejak pohon Bodhi terlihat samar dalam kabut pagi hari

Dalam perjalanan

Mala dan mantra terus menerus dilantunkan

Berbondong-bondong manusia-manusia dari seluruh penjuru

Himalaya

Berkumpul di kota suci ini

 

Ah,

Sudah berapa langkah dan perjalanan kulalui

Untuk bersinggungan berkali-kali lagi dalam jalan dharma ini

Juga karma

 

Aku menemukan keningku

Menyembah

Di lantai-lantai kuil Bodhgaya

Setiap pagi kulantunkan mantra dan doa

Untuk keselamatanmu

Untuk hidup yang sebentar

dan proses yang masih panjang

 

Selalu dan selalu ada rindu

Selalu pelukan kehangatan itu

membuatku merasakan aliran haru yang hangat

membekas di pipiku

 

Sarapan dibagikan ke barisan para biksu dan peziarah

Di tangga kita menonton hidup berjalan

Apa adanya

Perjalanan ini, Guru, selalu kulalui bersamamu

 

Bodhgaya, Januari 2018

Kematian yang Pertama

:Afriana Dewi & Made Indra

 

Malam pecah berantakan

Kaca-kaca mobil berserakan

Juga tawa-tawa di tahun baru yang berlalu

di konser-konser musik yang pengang

Kawan atau lawan

Sering tak terbedakan

Yang setia

Yang terlupakan

dan melupakan

 

Hidup itu hanya sebentar

Begitulah kuingat dua sosok manusia yang muncul

Di pagi hari

Warungkita

Yang mana warna dapur belum lagi digores

Bau wajan belum lagi dibalur

Wangi minyak kelapa

 

Tawa-tawa itu riuh

Namun kepergian selalu penuh dengan airmata

Rindu itu sekejap

Melupakan selalu mengandung

Selamanya

 

Aku hanya mengingat bunga-bunga yang ditaburkan

Ibumu yang menangis pelan

Dalam gerak emosi yang kencang

Pandangan mata anakmu yang polos

Namun hanya tawa renyah kalian berdua yang kuingat

Membekas di sekian malam

 

Tawa anakku yang polos

Menaiki sosok punggung yang kokoh itu di suatu waktu

Masa sekarang, masa lalu dan hari ini

Adalah gabungan kenyataan-kenyataan yang berbeda

Kematian selalu membawa kepastian

Penutup perjalanan yang mungkin sudah setepatnya demikian

 

Kesedihan dan kematian

Mewarnai musim bagai bunga pohon kamboja yang berserakan

Di musim-musim mendatang yang ingin dilupakan

Mandala

Jeruji jendela kuil Jepang membentuk mandala

Ke arah luar

Di mana gelas-gelas chai dinikmati dengan terbangnya debu ke segala arah

Klakson segala jenis kendaraan

dan sekian jenis lagu di latar belakang

 

Masih jam sembilan pagi

Tubuh dan mataku semakin berat tak tertahankan

Musim dingin telah tiba dan aku tak memakai apa-apa

Selain pinjaman dan pemberian

 

Ziarahku jauh dari bayangan

akan rumah dan kenyamanan

Ziarahku selalu sunyi

bukan dari bunyi

Namun mengosongkan hati

dari apa yang akan mengisi ke depan

Dari diriku yang akan mulai mengisinya kembali

 

Bunyi kompor di kuil ini belum berdesis

Masih menunggu nyala air di pukul sepuluh pagi

Mantra dan puja sudah berlalu di pukul lima

di pukul enam pagi

Aku masih berlalu dalam sekat ranjang kayu

Mengatasi kematian-kematian di dalam mimpi

akan orang-orang yang berlalu

akan kata-kata yang tak tersampaikan

akan maaf yang hanya bisa disampaikan oleh niatan

 

Tak ada yang abadi

Aku tahu

 

Manusia dan penderitaan

Di bawah pohon bodhi, seperti sekian ribuan tahun lalu

Kita sama-sama pernah bertanya

Hal yang masih sama

Membuka mata di Bodhgaya, di luar kuil

Diriku menghadapinya dalam setiap pojokan mata

 

Pada dharma dan karma

Di India

Hanya ini yang kupegang dan kupercaya

Dalam tiap langkah yang terseok

Di setiap kelokan, di setiap perjalanan

yang membawaku pulang

di bawah atap semesta

 

Bodhgaya, 21 Desember 2017

Ganga Ma (Ibu Ganga)

: kota suci, Varanasi

 

I.

Ganga Ma

di subuh pagi

kemilau air sakral

muncul dalam setiap tarikan dayung perahu kayu

 

Aku membasuh kerinduanku terhadap ibu

di sungai Ganga

Ibuku,

oh segala ibu

Kutenggelamkan kepalaku sebelas kali

pada dewi yang tertinggi

 

Dan mengalirlah duka

kematian yang terkandung di bulir-bulir penjuru tubuhku

 

Rasa kabungku

mengalirlah

dalam tangis tertahan yang tak sempat kulepaskan

 

Dalam satu masa disini

aku berkabung untuk diriku di masa lampau

pada aku yang kemarin

pada kematian-kematianku

 

Di Ganga

kutenggelamkan diriku bersama senja

dan hidup kuhirup dalam setiap terbitnya matahari

yang bersinar di Benares

menyingkap kabut dan suara air Ganga yang tenang

tak pernah takabur

membasuh segalanya

 

Oh, duka

suka

bagi manusia yang datang dan pergi

di tempat ini jiwa-jiwa datang untuk pergi

berpulang dalam gelungan rambut Siwa yang panjangnya

tak berkesudahan

 

Bulan Siwa menyaksikan kedatanganku malam itu

kepulanganku pada diriku

pada India

dan pada Ibu Ganga

yang merangkulku

menandai dahiku dengan abu

 

Yang mati biarlah beristirahat

Yang berakhir biarlah berlalu

 

Tangisanku masih tak terdengar

Namun lepas

Mewarnai kemilau pagi

yang tak sebentar

 

Dasar pasir Ganga masih terasa

dalam sela jemari kakiku

Dalam ruang antara

aku berada

sungai yang menyucikan segala

Asal segala sesuatu

Ganga Ma

 

II.

Oh, laki-laki yang mendayung

kita hanya terhubung dalam karma

yang bersifat hanya untuk dua puluh empat jam

ketika lebih

karma menguji diri akan apa yang berlebih

 

Biarkanlah yang selesai

telah selesai

tanpa paksaan

dan juga dorongan dalam lorong-lorong kota suci

Varanasi

yang kadang sepi

penuh senyap misteri

 

Jangan kau ucap nama-nama dewa di depanku

hanya untuk kepentingan menahanku lebih lama

Dalam hukum alam raya

tiada keabadian dalam waktu yang dipaksakan

 

Hanya ada dua pilihan malam itu yang kuajukan

Dalam remangnya malam di Varanasi

Mengenai yang sementara dan yang abadi

 

Sebagaimana yang manusia

Dan laki-laki di masa lalu

Kau memilih yang sementara

 

Diriku menghilang dalam kabut

Bersama kelamnya ingatan

akan dua malam yang telah berlalu

di pinggiran sungai Ganga

 

Bergelas-gelas chai

Makan malam di atas apungan perahu

dan anjing-anjing liar yang turut berbagi

 

Segala yang sementara

Dan segala yang sebentar

 

Mungkin suatu pagi

Kau hanya akan mengenangku dalam balutan batik Jawa

yang kusam

dan remangnya silau matahari

di kabut yang membawaku pergi

 

Segalanya sesenyap pagi itu

Pada sosok perempuan yang menenggelamkan kepalanya

sebelas kali

pada Ganga

 

Ma, ma, ma

Betapa lidah kita setua para ibu

Betapa tuanya rasa kehilangan

 

III.

Setetes bau minyak frankincense

mengingatkanmu akan kuil Pashupatinath

kuil Siwa di tempat yang lain

di pinggir sungai yang juga lain

dan dirimu mengepak satu botol kecil itu dalam satu klip plastik

 

Aku menemukan dirimu memotong sebuah kalung

malam-malam

Lapiz lazuli

yang kau berikan satu keping untukku

 

Dari negeri matahari terbit

kau memberikanku seikat kepala

 

Tidak ada yang sebentar dalam dua malam

yang kita bagikan dalam mimpi-mimpi yang berkelindan

di satu ruangan yang kita bagi

 

Kata-kata pertamamu ketika kita pertama kali berkenalan

Usiamu tiga puluh tahun

Petani

Dan tengah mencari calon istri

 

Seandainya aku masih memiliki kepolosan yang sama

Di usia tiga puluh tahun

Aku patah hati dengan seorang petani

Dan berhenti bermimpi menjadi seorang istri

 

Aku tertawa

Sejauh itukah perjalanan kau lakukan

Demi empat bulan melihat Ibu India

Kau sudah kehilangan hapemu di Agra

 

Ada sesuatu yang membuatku lelap di malam kau datang

Hawa lelaki yang menenangkan

Selembut aliran sungai Ganga yang membuatku tertidur nyenyak

 

Dan kau sepakat untuk pergi di pukul delapan pagi

Bersamaku ke arah Sarnath

 

Pagi itu kita terlempar berdua di atas oto

berpegangan di jeruji besi

dalam kegilaan jalan di Uttar Pradesh

 

Segalanya berlalu begitu cepat memang

namun satu momen di kuil itu menangkapku

Di Sarnath, roda dharmaku berputar

Walau sebentar, aku menyempatkan mengikatkan

Satu gelang tali doa yang terberkati

Di pergelanganmu

Dan dirimu di pergelanganku

Untuk kebaikan memberi kesempatan

bertemu kembali lagi

 

Dan di Varanasi

aku berbahagia

walau harus meninggalkanmu

pada perjalanan dirimu

 

Aku bertolak pada perjalanan diriku

untuk menuju di satu saat

di perjalanan kita berdua

Goa

di matamu aku seperti melihat kilasan peristiwa

bandar-bandar yang dibakar dalam kedatangan portugis

namun juga di matamu aku melihat kebakaran hati yang lepas dari kendali

 

pantai-pantai yang sepi dari purnama

ramai akan botol bir dan kemabukan-kemabukan duniawi

aku mengingat diriku suatu malam

yang harus lari dari sesuatu

menemukan diriku dengan hanya malaku di bawah rimbunnya semak

 

apalah arti diri ini tanpa doa dan dewa-dewa yang selalu menjagaku?

 

aku melihat segala yang hijau

udara malam yang sekat di tenggorokan

gereja-gereja yang bagai kuil di setiap pojokan

dan bekas pasir di telapak kaki setiap sore hari

 

seorang laki-laki menjual palo santos di pasar kaget pinggir pantai

aku membeli tiga keping hari ini

untuk segala keperluan upacara ke depan

aku menemukan diriku dalam sosok ibu muda dan anak perempuannya

perempuan dari pulau lelaki di ujung utara sana

 

pulau-pulau di eropa seolah memanggilku

sedangkan bandar-bandar di timur adalah tempat hatiku berlabuh

fransiskus asisi menulis surat untuk inkusisi sebelum mati

aku tak jadi menyiarahinya walaupun ia membawa nama bapakku

 

di dalam pesta yang dimulai dengan sunyi

karma dimulai dengan bergulir dan pelan

bunyi lonceng dan terompet memenuhi udara

dan guru yang telah memanggilku lebih cepat

untuk selalu pulang kepadanya

 

namun di dadamu aku menemukan malamku terserak

di dadamu juga, aku hanya mengerti sejatinya diriku

apa yang aku mau

apa yang aku tak mau

lalu apa yang aku perlu

 

di bawah pohon itu aku merindu

dan di pelabuhan ini aku membiarkan jejakku mewarnai jalan-jalannya

yang telah mewarnai segala hal yang tak lagi bisa kuambil foto

 

namun beginilah rumitnya, Goa

laut arabia yang menyambutku di suatu sore

dengan senja yang tak henti-hentinya tenggelam

 

segalanya tetap berlalu

segalanya