Keintiman Yang Universal

pass me. pass me slowly if you can
for, unlike memory, i don’t stay long

lewati aku. lewati aku pelahan kalau kau bisa
sebab, tak seperti ingatan, aku tak tinggal lama

(“atas YANG HANCUR” Dina Oktaviani, Juni 2011)

Kota-kota kesepian. Gema suara penyair yang lirih. Antara warna warni dan hitam putih. Kata-kata menyengat. Kenangan. Rekaman masa lalu dan para hantu. Kedekatan yang tak lagi membutuhkan bahasa. Keabadian yang membeku dalam dua belas foto dan dua belas puisi.

Berada di tengah-tengah ruangan pameran Sangam House malam itu, dalam cahaya hangatnya, samarnya suara penyair Dina Oktaviani dan melihat dari kacamata seorang Dalih Sembiring, getar keintiman karya mereka berdua menyeruak ke dada para pengunjung. Ruangan pameran seolah berubah menjadi mesin waktu yang sesaat, mengingatkan kita pada hal-hal yang familiar, hal-hal yang ingin dikenang sekaligus ingin dilupakan.

Intimacy: Homage to Hometown and Untitled Memory (Kepada Kampung Halaman dan Ingatan Tak Bernama) adalah gabungan pameran foto dan puisi kolaborasi dari Dalih Sembiring dan Dina Oktaviani. Foto-foto Dalih adalah refleksi keintiman yang dirasakannya pada kota-kota dimana ia tumbuh: Binjai, Dili dan Yogyakarta. Puisi-puisi Dina adalah respons eksperimental yang dilakukannya terhadap foto-foto Dalih. Ide awal pembacaan puisi di pameran berubah menjadi puisi yang turut menyertai foto-foto yang dipamerkan.

Foto-foto Dalih mengandung kualitas sudut pandang personal yang kuat memikat. Baginya memotret ulang ingatannya akan kota-kota dimana ia dibesarkan merupakan bagian dari pendewasaan dirinya. Bagian dari dirinya untuk berdamai dengan masa lalu. Bahwa realitas kekinian dalam setiap kota bukan lagi menjadi momok, seperti dalam fotonya “Till Death Do Us Together” (Sampai Maut Menyatukan Kita) yang diambilnya di pemakaman Santa Cruz. Foto ini menampilkan warna-warna ceria, kontras dengan imaji mengenai kematian dan sejarah kekerasan di balik tempat tersebut. Foto-fotonya tentang Dili cenderung mengandung mekarnya harapan dan tawa seperti dalam “Shy Girls” (Dua Gadis Pemalu), yang diambilnya di Bairro Pite, desa dimana ia pernah tinggal. Perubahan persepsinya tentang Dili di masa lalu dan masa sekarang berubah ketika orang-orang di Dili menyambutnya dengan sangat baik dalam kunjungannya yang terakhir. Perubahan ini tertangkap sepenuhnya dengan rasa penuh harapan dari balik kameranya.

Lain lagi dengan potretnya mengenai Binjai, kota kelahirannya. Disini Dalih mengenangnya dalam pilihan yang pekat akan masa lalu, semuanya hitam putih. Baginya kota Binjai masih memiliki jejak yang serupa mimpi dan ingatannya mengenai masa kecil. Foto-foto Binjai menampilkan refleksi kota yang terperangkap di masa lalu. Cenderung sepi dan diam. Seolah menangkap hantu masa lalu yang tak menakutkan malah cenderung melankolik.

Yogyakarta adalah kota dimana akhirnya Dalih bermukim. Atmosfir dalam foto-foto cenderung sangat kontemporer sekaligus sangat intim. Orang-orang yang menjadi objek fotonya adalah orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Persingunggan-persinggungan ini telah mengajarkannya keintiman yang lebih rumit dan mendalam di antara persahabatan juga percintaan. Warna Yogyakarta yang amat personal baginya.

Dina merespon jiwa-jiwa yang lahir dalam foto Dalih. Proses ini turut menstimulasi lahirnya dua belas puisi Dina. Semuanya ditulis tangan dan terbingkai menyertai setiap foto. Baginya tema-tema dalam foto-foto Dalih sejalan dengan apa yang selama ini dieksplorasinya. Tema-tema yang belum selesai: jejak kampung halaman, masa kecil, masa lalu. Kedekatan mereka sebagai sahabat membuat Dina tidak sepenuhnya menjadi orang asing dalam menanggapi foto-foto Dalih. Dina pun terlibat menjadi salah satu jejak perjalanan Dalih ketika mereka berdua melakukan perjalanan ke Dili.

Dalam proses penulisan puisinya, Dina merasa menjadi lebih sadar dan lebih utuh ketika mengekplorasi kembali tema-tema yang juga dekat dengannya. Foto-foto Dalih dijadikannya kawan sekaligus lawan dalam proses kreatif penciptaannya. Proses evolutif yang terjadi di antara keduanya dalam proses pameran ini menjadikan pameran ini terasa unik dan menyegarkan dari sekian jenis pameran yang selalu mewarnai belantara kota Yogyakarta.

Puisi-puisi Dina seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris. Rekaman puisinya dijadikan latar suara yang menggetarkan dalam pameran ini. Reni, seorang pengunjung di hari pembukaan pameran, mengomentari dengan takjub efek dari puisi yang terlibat dalam pameran. Baginya yang terbiasa mendatangi berbagai jenis pameran di Yogyakarta, ia menemukan kebaruan dalam kolaborasi pameran ini. Kekuatan, kejujuran dan kedekatan yang ditampilkan baik dalam foto dan puisi membangun ruang keintimannya sendiri dengan para pengunjung.

Toni Tack seorang arkeolog senior dari Inggris dan pemilik Sangam House Jean-Pascal Elbaz, yang turut membuka pameran ini, sama-sama menegaskan betapa menggembirakan dan menyegarkannya melihat kolaborasi menarik dari generasi muda dimana mereka bisa merelasikan rasa keintiman yang menembus batas dan sekat-sekat budaya, etnis, negara dan bahkan waktu.

Dalih Sembiring yang juga berlatar belakang sebagai penulis bersama penyair Dina Oktaviani menampilkan kualitas karya yang mewakili sikap generasi mereka. Generasi kelahiran 80-an yang tak lagi terbebani dengan masa lalu melainkan mencoba menyikapi persoalan kehidupan dengan lebih enteng tanpa kehilangan kualitas kedalaman di saat yang sama. Mereka pun bergerak bebas menembus batas-batas kultural dan menjadi bagian dari dunia kreatif global. Mereka tetap dengan sadar mewakili dari mana mereka berasal dan menggali inspirasi dari ‘kampung halaman’, membungkusnya dan menampilkannya dengan memukau kepada dunia. Dalam prosesnya Intimacy berhasil menyampaikan rasa keintiman yang universal dan menyentuh siapapun yang datang ke dalam pameran ini.

Pameran foto dan puisi Intimacy berlangsung dari tanggal 30 Juni 2011 hingga 16 Juli 2011, di Sangam House (Restoran India, Butik, Ruang Seni dan Studio Yoga), Yogyakarta.

Dimuat di Suara Merdeka, Edisi Minggu, 10 Juli 2011

Ia yang Dapat Memanggil Ikan

Anda akan segera dapat mengenali Eliza Kissya, dengan baju hitam-hitamnya dan aksen warna merah yang selalu dipakainya sehari-hari. Anda juga dapat langsung mengenali tas ukulele yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia selalu memakai topi untuk menutupi kepalanya yang sudah tak berambut. Semua orang memanggilnya Om Eli.

Ia menjadi malu ketika ditanya untuk menuliskan namanya karena pengejaan yang seharusnya Elia menjadi Eliza.

“Orang-orang selalu berpikir saya ini perempuan sebelum bertemu saya.”

Eliza Kissya adalah Kewang (polisi adat) Haruku di Maluku Tengah. Ia adalah generasi keenam dari Kewang Haruku. Ia juga dikenal sebagai sang pemanggil ikan.

Tradisi Haruku dibagi menjadi Sasi Laut, Sasi Kali, Sasi Hutan, Sasi Dalam Negeri. Ada Sasi khusus yang bernama Sasi Lompa (ikan sejenis sarden kecil yang hanya ditemukan di Haruku). Sasi adalah larangan untuk mengambil sumber daya alam agar terjaga kualitas dan populasinya (binatang atau tanaman) bagi orang-orang Haruku. Sasi juga mengatur relasi manusia dengan alam dan di antara manusia di wilayah dimana Sasi dipraktikkan. Sasi adalah sebuah usaha untuk membagi dengan adil sumber daya kepada semua orang.

Sasi Lompa adalah larangan tradisional untuk mengatur keberlangsungan ikan Lompa. Hanya seorang Kewang seperti Om Eli yang dapat memanggil ikan Lompa dari laut untuk memasuki sungai mereka, Sungai Learisa Kayeli. Biasanya mereka panen satu atau dua kali dalam setahun, melalui ritual dan berbagai larangan untuk menjaga populasi ikan Lompa. Panen terakhir mereka dilakukan di tahun 2009. Saat ini dikarenakan oleh perubahan iklim dan pemboman ikan, muara menjadi tertutup. Terlalu tinggi untuk ikan Lompa dapat masuk ke sungai.

Selama bertahun-tahun, Om Eli telah berjuang melawan pengrusakan alam di wilayahnya. Ia telah menjaga dan menjadi penjaga lingkungan hidup di Haruku. Berdasarkan kerja-kerja yang dilakukannya Haruku meraih penghargaan Kalpataru untuk Lingkungan Hidup di tahun 1985, desanya meraih Satya Lencana untuk Pembangunan Berkelanjutan di tahun 1999 dan dedikasi personalnya meraih Coastal Award 2010.

Eliza Kissya dilahirkan di Haruku pada tanggal 12 Maret 1949, ayahnya adalah pegawai negeri sipil di Sukabumi, Jawa Barat. Ketika ayahnya meninggal, ibunya berjanji untuk membawa anak-anaknya kembali ke Haruku. Seharusnya kakaknyalah yang menjadi kewang, namun karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa maka warga desanya memilihnya untuk melanjutkan tradisi menjadi kewang. Ia menjadi kewang di usia dua puluh satu tahun.

Adalah masa-masa yang sulit baginya untuk mempelajari segalanya dari para tetua adat, namun hal ini tidak menghentikannya untuk terus belajar dan mengembangkan metodenya sendiri dalam menjaga lingkungan Haruku. Hal terberat dalam tugasnya menjadi kewang adalah bahwa tidak adanya pengakuan dari negara mengenai hukum adat di wilayahnya. Ketika UU Desa No. 5 – 1979 diperkenalkan oleh Orde Baru, norma dari sistem masyarakat adat diabaikan dan mulai lenyap. Generasi muda tidak peduli lagi mengenai hukum adat. Sulit baginya untuk membayangkan siapa yang akan meneruskan tradisi Haruku jika ia tidak lagi ada.

Om Eli tidak menyerah, ia mendirikan “Kewang Cilik” di desanya. Mengumpulkan anak-anak kampung termasuk cucu-cucunya sendiri. Membuat sebuah pusat pembelajaran kecil-kecilan dimana mereka dapat bermain sambil belajar bagaimana menjaga lingkungan dan mengapa adalah penting bagi mereka untuk mengerti kearifan lokal mereka sendiri.

Di tahun 2006 ketika penambangan emas mengancam daerah mereka untuk kesekian kalinya dan ketika para pejabat datang untuk menegosiasikan perihal ini, anak-anak SD menulis di poster mereka sendiri berkata:

Kami Ingin Mati Di Tanah Kami. Tolak Tambang Emas!

“Saya mencintai anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya rela untuk mati demi mereka. Ini adalah mengapa saya tetap terus memperjuangkan kelestarian tanah dan adat kami,” tegas Om Eli.

“Anak-anak kita dan generasi ke depan adalah harapan dan masa depan, adalah penting bagi mereka untuk memiliki kesadaran akan alam dan sejarah mereka sendiri,” ia menambahkan.

Alasan inilah yang menjadi motivasinya pada waktu-waktu tergenting ketika ia berjuang di pengadilan atau menghadapi kasus-kasus yang mendorong pada keterbatasan dirinya. Seringkali bahaya mengancamnya karena ia menghadapi persoalan-persoalan ini secara langsung.

Kasus seperti pemboman ikan membuatnya bingung untuk mengambil keputusan dan tindakan. Ketika ia menangkap seorang pembom ikan dan membawanya ke pengadilan, hal ini dapat menyebabkan konflik antar desa, apalagi pasca konflik Maluku ketika segalanya menjadi sangat sensitif. Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan pembom ikan pergi begitu saja, ia menjadi serba salah. Namun pada akhirnya Om Eli berhasil menemukan sebuah jalan dengan memberi ternak kepada keluarga pembom ikan sehingga mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri tanpa membom ikan lagi. Bagi Om Eli menjaga keseimbangan di antara manusia sama pentingnya dengan menjaga keseimbangan alam. Isu-isu lingkungan seharusnya memasukkan faktor-faktor manusia sebagai bagian dari kesatuan alam.

Pasca konflik Maluku, Om Eli menjadi relawan dalam proses rekonsiliasi. Desanya dibakar sampai rata dengan tanah. Ia mengumpulkan semua orang yang tersisa dan berkata bahwa menyimpan dendam adalah sia-sia, lebih baik berdamai saja. Ia membuat kaus-kaus dan tas-tas yang bertuliskan:

“Ale Rasa, Beta Rasa. Semua Orang Bersaudara.”

Ia menyebarkan kampanye perdamaian di wilayahnya, mengumpulkan komunitas-komunitas di Haruku untuk membangun hidup bersama kembali. Ia menulis lagu-lagu perdamaian dan bernyanyi bersama dengan semua orang:

Satu kandung
Satu hati, satu jantung
Hidup adik, hidup kakak
Ale rasa beta rasa
Satu dua satu kandung
Kandunge siyo kandunge
Mari beta gendong
Beta gendong adek jua
Kitong orang bersaudara

(Eliza Kissya)

Pada usia enam puluh tiga tahun, dengan ukulele buatannya sendiri yang dibuat dari kayu Pule, ia mulai menulis pantun dan menyanyikannya. Ia menyimpan ratusan pantunnya di sebuah buku catatan. Seringkali ia berpantun dalam pembicaraannya. “Saya terberkati dalam usia begini masih bisa belajar sesuatu seperti menulis pantun,” kata Om Eli. Ia bermimpi suatu hari dapat menerbitkan buku kumpulan pantunnya sendiri.

Dedikasi seorang Eliza Kissya tidak dapat diukur, sehari setelah infusnya dicabut sekeluarnya dari rumah sakit, ia menghadiri Kongres Masyarakat Adat IV di Tobelo, Halmahera Utara.

“Saya mungkin hanya seorang cangkul kebun, tetapi saya punya prinsip hidup. Dan karena itu saya telah berjuang sepanjang hidup saya.”

 

 

*tulisan ini diterbitkan atas wawancara personal saya dengan Eliza Kissya untuk publikasi media AMAN, saya suka memanggilnya Om Eli. Versi Bahasa Inggris pernah diterbitkan di Jakarta Globe dengan judul: Eliza Kissya, The Man Who Can Summon The Fish, edited by Dalih Sembiring.

PRIBUMI SIPIT

Saya ingat benar kata-kata Ayah saya sewaktu saya masih kecil,

“Mata kamu kaya cendol.”

Ayah saya benar, mata saya lucu kaya cendol, ia berbinar mengatakannya karena saya adalah putri kesayangannya.

Ayah saya kulitnya hitam seperti buah manggis, rambutnya keriting, di tahun 70-an foto-fotonya menunjukkan jejak tren rambut Afro dan tak lupa celana cutbray. Kadang orang menyangka dia berasal dari Indonesia bagian Timur. Orang yang menilai hanya pada permukaan saja sering berpikir ia adalah supir saya ketika ia mengambil rapot saya di sekolah. Mereka tidak sepenuhnya salah, dia memang sering menyupiri saya ke sekolah, tapi ia adalah ayah saya. Saya adalah darah dagingnya.

Ayah saya terlahir sebagai Ong Thwan Sing, di Sragen, Jawa Tengah di paruh akhir masa-masa kolonial Belanda. Panggilan kesayangannya adalah Wimpi, karena Eyang putri saya didikan Belanda. Ayahnya separuh Jawa dan separuh peranakan Hokkian, marga Ong, diaspora Cina di seluruh dunia menyebutnya marga Wang. Kami berasal dari garis istri Jawa. Kami tidak tahu kami generasi keberapa. Eyang saya dikenal sebagai Onggosutrisno, keturunannya memanggil dia Eyang Cinta.

Saya cuma pernah dapat satu lembaran garis pohon keluarga Eyang saya, yang semuanya cuma mencantumkan nama laki-laki, dan usaha saya mencari pohon keluarga putus di situ. Mereka berhenti di pesisir Surabaya. Entah tahun berapa, entah kapal yang mana. Entah dari pesisir Fujian atau Fukien yang mana, atau terhempas lalu dari Laut Cina Selatan untuk mencapai Pulau Jawa. Entah karena apa, yang pasti jelas adalah untuk melanjutkan hidup atau bertahan hidup.

Pendidikan akademis saya adalah sejarah. Saya ingat kata-kata sebelum saya masuk UGM, betapa sinisnya keluarga bapak saya yang dominan lebih mengaku Tionghoa daripada Jawa.

“Mau apa belajar batu?”, walaupun saya tahu itu adalah jurusan arkeologi atau jurusan yang dekat dengan fantasi masa kecil saya ketika ingin menjadi Indiana Jones, saya memilih diam.

Atau yang kasar seperti, “Memang Cina bisa masuk negeri?”

Saya menelan komentar itu sambil mengerjakan soal UMPTN. Saya tahu mereka masih trauma atas kerusuhan terhadap Tionghoa di Solo juga Jakarta pada tahun 1998. Tapi saya adalah generasi peranakan yang lain. Dan saya lolos baik UGM dan ISI di tahun 2002.

Keluarga kami memang aneh, memasuki jaman Orde Baru, ibu saya mungkin salah satu dari sedikit orang peranakan Tionghoa yang mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi negeri. Ayah saya pun. Kami bertahan hidup dengan gaji pegawai negeri selama bertahun-tahun dan harus tambal sulam sana sini.

Ibu saya berasal dari keluarga Tan keturunan Cina Belanda dan juga Sunda dari Oma saya yang asli Sukabumi. Di keluarga kami tak ada yang bisa bicara Mandarin. Semuanya ngomong Belanda. Baru sekian tahun ini saya tahu istilah siapa kami, Hollandspreken Chinese. Kebanyakan keluarga kami tidak pernah terjun di bisnis. Kebanyakan adalah profesional seperti dokter gigi, administratur, akuntan, guru dan lain-lain. Istilah kasarnya Cina Gak Punya Toko.

Saya sering dibilang Cina Murtad oleh kawan-kawan baik saya, karena saya sama sekali tidak paham budaya Cina. Casing doang Cina, begitulah adanya guyonan mereka yang pekat akan kebenaran. Saya ingat betapa terbengong-bengongnya saya melihat pertunjukan barongsai pasca Gus Dur mendeklarasikan bahwa sekarang boleh merayakan Tahun Baru Cina. Saya baru menyadari saya punya darah Cina ketika Mei 1998 terjadi. Saya selalu mengisi formulir sekolah dengan mencentang kolom pribumi, saya tidak tahu apa bedanya. Saya begitu naif, ketika menyadari betapa signifikannya hal itu dan posisi saya dalam situasi perpolitikan sosial Indonesia.

Ketika saya mencapai daratan Cina pun, mereka berpikir saya terlalu hitam untuk orang Cina. Mereka pikir saya berasal dari Tibet. Cina pun terlalu luas dan juga terlampau beragam. Ini yang orang tidak pernah paham dan selalu menyamaratakan semua orang yang bermata sipit.

Jika saya harus memilih siapa leluhur saya, saya punya terlalu banyak pilihan. Saya adalah Indonesia. Saya kira saya adalah Indonesia sebelum Mei 1998 terjadi. Namun inilah usaha saya memahami sejarah saya dan darimana saya berasal. Saya adalah bagian dari sejarah Indonesia dan tetap Indonesia. Orang picik dan berpikiran sempit dimanapun ada, dari etnis manapun ada dan saya memaafkan ketidaktahuan mereka.

Persoalan terbesar sebenarnya ketika saya menghadapi mereka adalah saya hanya mengemukakan fakta bahwa perbedaan sekian keturunan pribumi di wilayah Nusantara ini, hanyalah masalah kapan migrasi nenek moyangmu terjadi, kapan kapal kami dan kapal kalian mendarat. Semua nyaris dari daratan yang sama dan semua ini ada di Mbah Google.

Jadi pelajarilah sejarah darimana kamu berasal dengan benar dan jangan langsung menafikan bahwa sejarah hanya milik sang pemenang. Ini penting!

Karena menjadi tetap bodoh dan bebal adalah sebuah pilihan.

Sudah sekian ratus tahun darah tercampur aduk di panci bernama Nusantara yang kemudian menjadi sebuah entitas sebuah bangsa Indonesia. Saya hanya akan tertawa akan komentar rasis seseorang terhadap saya. Atau hanya karena saya punya darah Tionghoa saya ga boleh jatuh miskin (ini pernah dilontarkan oleh seorang pengemis yang masih sehat bugar dan saya sedang bertahan hidup menghidupi anak saya dengan kasbon di warung tetangga terdekat, saya beneran ga punya receh di siang yang naas itu, saldo rekening di bank nyaris nol dan kalaupun ada receh saya tabung untuk beli beras di masa krusial itu).

Sekarang saya sudah lebih bisa memeluk identitas saya, kesipitan mata cendol saya dan bangga akannya. Saya bangga akan semua keberanian dan cara bertahan hidup semua nenek moyang saya untuk sampai ke Nusantara. Dan bagaimana kami mencintai tempat dimana kami semua dibesarkan dan pada akhirnya berakhir, menjadi bagian dari debu di tanah ini.

Saya tengah mengajari anak saya yang separuh Bali, sekian keragaman ini dan membawa dia ke kelenteng sejak dia berumur 2 tahun. Bukan seperti saya yang baru masuk kelenteng ketika ibu saya sudah meninggal. Dan mempelajari semuanya sendirian. Saya pun sedang mengenal lagi leluhur Tionghoa saya. Dan kami sedang sama-sama belajar sejarah keluarga kami.

Ya, saya masih Indonesia, masih manusia dan warga dunia.

 

Salam Pribumi Sipit ✌️❤️

Kala (Waktu)

Waktu adalah suatu ruang yang gila dan sementara
Namun ia juga menyimpan misteri kehidupan dan kesabaran akan penantian

Batara Kala diciptakan dalam ketidaksengajaan
Sampai ia melahap bulan di suatu waktu

Sehingga Nirwana gonjang ganjing dan Batara Siwa pun harus turun tangan dari kahyangan

Pada waktunya, di detik di mana aku menemukanmu kembali
Tanpa harus meraih seluruh keberadaanmu di balik jeruji yang tak tersentuh
Pekatnya biru matamu
Yang membuat detak jantungku seolah berhenti di suatu waktu
Lalu jarak lautan yang membentang
Seolah menjadi alasan untuk terus menerus mengulur waktu

Apakah, apakah di waktu yang telah terlewati
Di sekian langkah yang kujalani di tanah Himalaya
Masih menjadi jejak di hatimu?

Aku tahu bahwa hal-hal inilah yang akan menjadi pertanyaan-pertanyaan besarmu
Namun aku pada saat ini lebih terpaku pada pertanyaan-pertanyaan yang kecil

Seperti waktu, aku butuh mengada
Berada dalam kekinianku
Yang tak lagi muluk
Namun menjejak di tanah di mana bumiku berpijak

Bahkan ketika Batara Kala melahap bulan
Aku tak lagi kehilangan waktu
Baik di Jawa
Baik di Himalaya
Jejakku adalah jalan setapak yang terlihat di bawah cahaya rembulan
Dalam kegelapan aku selalu menemukan jalan pulang

Karena sekian cahaya lilin di hatiku telah menerangi
Jalanku sendiri

Aku tak tahu lagi apakah jalanmu saat ini menuju Jawa
Akan menjadi terang yang sama

Pulang

Apa yang terjadi dengan rumah?

Jika makna rumah sekarang tersimpan dalam tatapan seorang laki-laki

Nun jauh disana

Yang jika kau menatapnya dalam-dalam, bening coklat retinanya akan menceritakan padamu sekian kisah

Sekian kehidupan lamanya

Sekian gunung, lembah dan gurun waktu

Kadang matanya seolah basah, menyimpan kesedihan dan kesepian dari sekian masa

Mata yang telah terkatup, tersimpan dalam gua-gua pertapaan di sepanjang Himalaya

Yang menyala ketika bertemu dengan Guru-guru tertinggi

Yang menyala ketika mencintai dan menebarkan sekian kasih sayang kepada semesta

Tapi perjalanan adalah misteri, dan bagi kita tak ada rumah yang kita papah

Pelukan adalah pilar yang tengah kita bangun dan genggaman adalah janji

Untuk selalu pulang dalam kedalaman tatapan masing-masing, karena bangunan bagi kita adalah kesementaraan

Karena yang fisik, tidak menyimpan memori, nostalgia maupun karma

Karena dalam tatapan, mata menyimpan segalanya

Bulan Mati Dua Tahun Lalu

Dua tahun lalu malam yang gelap

Serupa kiamat dari jeruji teralis kecil itu

Kau hanya mengingat senyum hangat yang lepas itu di jalanan kota Kathmandu

Satu-satunya nyala lilin yang bertahan sampai dua tahun kemudian

Hingga bulan lalu, senyum itu bergeser dari dalam dirimu dan kau mencoba baik-baik saja

Kau lupa, ia pun serupa angin dan pelabuhan baginya dapat berubah kapan waktu, ketika waktu telah habis dan arah kompasnya menunjukkan pertanda untuk mengangkat sauh

Kau lupa dan berharap ia akan menantimu sekian lama
Ia selalu butuh diyakinkan, sebagaimana ia selalu meyakinkanmu bahwa segalanya akan baik-baik saja

Sekarang Himalaya telah merengkuhnya dan ia terasa begitu jauh

Dirimu berpikir ulang akan matahari tropis dan pantai-pantai beraroma biru, pasir hitam dari letusan gunung berapi tengah menghiasi malam ini

Nyaris segelap malam dua tahun yang lalu

Memori akan senyumnya itu seolah tak akan lepas dan di ujung sekian kata, ia tetap tersenyum lepas dan kau tak tega

Mala

Pertama kali aku melihat untaian merah koral itu

Di genggamanmu

Di sebuah toko kecil di pojokan kota yang tak kalah kecil, dekat pohon sebelah kuil

Kau mengisinya perlahan dengan doa, butir demi butir

Di dapur kita yang ketiga, butir demi butir beras basmati kutuang dalam panci, biasanya sambil mengobrol atau memotong sayur kita menunggu siulan ketiga dan siapapun yang terdekat akan mematikan api kompor

Suatu sore sepasang naga biru dan kepak api sepasang phoenix mengisi kamar kita, mereka berkibaran dalam lingkaran, kataku pendek, meraih bahumu dekat pintu

Tidak ada kata perpisahan ketika semua barang telah rapi kau masukkan ke tasku, aku ke belakang sebentar untuk mengecek apa yang tertinggal

Kau tertinggal di kamar, mengambil mala koral merah itu, dalam satu untaian mengisinya dengan doa dan mantra

Henyak aku menemukanmu, melindungiku dan lantunan mantra Buddha tergiang di telingaku sepanjang perjalanan

Dalam pijakanku di Ibu India, aku menghitung menit dimana doaku tercampur sekian rinduku padamu menetesi tanah basah

Di 3.33

New Delhi, 29 April 2016