Sederas Pagi

Derasnya cuaca

Membuat sekian pagi terasa nelangsa di dalam selimut

Renyahnya bebunyian dapur mulai hidup di subuh yang masih surup

Hanya untuk sekedar menyapa hidup

Sepeminuman teh dan wangi kopi yang menyeruak

Ke seluruh rumah

 

Wangi dupa di empat penjuru

Adalah bentuk kerinduan pada yang abadi

Dalam memori

Di pojok rumah banyak yang menghilang dan pergi

Nostalgia muncul dalam sekian kotak

Yang belum lagi dipilah

Pada lengketnya foto lama

Pada tulisan tangan di atas kertas surat yang mulai memburam

 

Namun kesedihan yang datang bagai

Satuan barak tentara

Menyerang segala penjuru hati yang melemah

Dan tak ada tujuan kemenangan

Selain mengingatkan kita akan kemampuan untuk berduka

 

Di malam sebelumnya yang pekat

Dengan pembicaraan-pembicaraan samar

Tidak selalu membuka pagi dengan seksama

Bau hujan telah menguyur tanah semalaman

Segala yang tumbuh seolah tak hilang-hilang

 

Di cuaca yang sederas pagi ini

Harapan seolah hendak disingkapkan

Semudah menyingkap tirai rumah

Di tengah abu-abu kegelapan

Mencatat Phnom Penh

Luka rahim itu diturunkan

Sekian generasi kemudian

Kesunyian di antara rawa-rawa

Melingkupi awan gelap yang tak sudah-sudah

 

Seolah cuaca akan selalu mendung

dan masa depan selalu muram

 

Pada monumen batu dan tengkorak

Beginilah dunia pernah kita biarkan terjadi

Pembunuhan demi pembunuhan yang menjadi ladang

Gelap dan pekat udara

 

Luka pada rahim itu diturunkan

Begitu juga semua emosi sakral kita yang terdalam

Seolah tak ada yang selamat dari semua bencana kemanusiaan

 

Bagaimanakah caranya menyalakan hati

Pada roh-roh yang menghilang di dinding gedung sekolah

Bagaimana cahaya menemukan jalannya

Dalam kawat penjara yang dibiarkan masih disana

 

Mungkin bukan hari ini diriku akan paham akan semua

Karena di negeri kami

Luka dalam rahim kami pun diturunkan dari sekian lama

 

Dalam lingkaran sakral semua perempuan sekian hari ke depan

Diriku akan menenggelamkan diri

Mungkin dari kegelapanlah

Seluruh teratai satu negeri akan bermunculan

Dan tak hanya menjadi hiasan dalam kuil-kuil semu jiwa

Karena Perempuan

Karena perempuan

tak lagi tumbuh di antara bunga

namun dalam bau darah yang tersimpan

dari rahim-rahim kesunyian

 

Aku menggedor mimpi-mimpi mereka

yang kerap antara bertahan hidup

ataukah antara kesementaraan sesaat yang diaborsi tanpa henti

oleh tangan siapapun atas nama kuasa

atas kaum kami

 

Tak ada lagi kepalsuan dalam kata-kata yang keluar

dari rahim setiap perempuan

segala yang tidak benar sedang mengalir tercuci ke lautan

yang telah tercampur sampah plastik modernitas

mengapung tiada henti

 

Namun es di muka bumi telah mencair

juga di seluruh hati kami, oh perempuan-perempuan yang tersebar

di segala penjuru bumi,

dalam peluhmu, hati senantiasa merundung

menanti duka hancur menjadi serpihan debu dan airmata leleh di tanah-tanah merah

yang kita jejak bersama, dulu

dan selalu

 

Bumi ini adalah kami

Yang kau pijak, juga dikoyak injak

Berapa lamakah, hai manusia, kaum dengki yang bodoh akan ketidaktahuan

Akan kami biarkan dirimu masih berdiri di atas kami

 

Pijakanmu akan hancur dan tak ada kerajaan yang akan kau bangun dari atas kehampaan

langit

 

Karena memori pertama setiap manusia

Hanya akan dicoreng oleh hangat pelukan ibu

dan bau susu mengalir dari puting payudara

 

Dan karena kerinduan itu tidak akan habis

Tidak akan lekang

Walau permukaan bumi akan terjungkir balikkan

Dalam badai yang tak sebentar

 

Ingatlah, ingatlah

Akan semua rahim dimana kau mengeluarkan tangis pertamamu

 

Ingatlah dan hentikanlah sekian kebodohan massal yang tak perlu

Wangi Gunung di Eloprogo

: Sherab Dorji


Air mengalun dari kejauhan

Membawa wangi gunung

Menjadi Elo

Dan Progo

 

Orang suci itu bertapa di bantaran sungai ini

Seribu tahun

Ingatanmu menggema hingga relung hati

Berapa kehidupan yang lalukah kita semua pernah disini

Percakapan yang pernah terjadi

Dan jejak sekian memori di Jawadwipa

 

Sebelas purnama telah berlalu

Hingga bau Dewi Kali menyeruak di gerhana bulan yang semalam

Sisi gelap sekian dewi muncul ke permukaan, menggenapi segala ramalan Shiva Shakti

Pintu kehancuran telah lama menggedor bumi

Pembersihan demi pembersihan telah datang bertebaran

Juga dalam hati kita masing-masing

 

Di ruang meditasi

Mantram mengalir serupa sungai setelah hujan deras membasahi tanah Borobudur

Dengan drum dan lonceng vajra, kau memanggil segala roh agung yang telah berlalu

Siang itu burung pipit dan kupu-kupu bersemilir di sekitarmu

Seperti sekian kehidupan, aku tetap menangkap sosokmu

Yang mengabadi dalam segenap memoriku

Eloprogo, 17 September 2016

Alam Adalah Air Susu Ibu Kami

“Oel nam nes on na, nasi nam nes on nak nafu, naijan nam nes on sisi, fatu nam nes on nuif.”
“Air adalah darah, hutan adalah rambut, tanah adalah daging, batu adalah tulang.”
-Falsafah Molo

“Jika mau merusak hutan, lebih baik keluar dan mati saja.”

Kalimat tegas itu merangkum sikap Aleta Ba’un dalam menghadapi para pengeksploitasi sumber daya alam di Molo, Kabupaten Timor Tengah, yang merupakan jantung Pulau Timor. Berkali-kali mantan pembantu rumah tangga yang baru saja lulus menjadi sarjana hukum perdata ini menjadi penggerak utama masyarakat adat di Molo menghadapi perusahaan-perusahaan tambang, dan menang.

Tumbuh dalam keluarga petani dan terbiasa tinggal di pinggir hutan, Mama Aleta, sebagaimana ia sering dipanggil, menjelaskan motivasi perjuangannya dengan kalimat sederhana bahwa ia sangat mencintai hutan. Maka dari itu, ketika segala kecintaannya terancam, ia maju menjadi orang terdepan yang menentang perusakan alam di daerahnya. Ketika tambang marmer beroperasi, debit air berkurang, mata air menghilang, binatang dan tumbuhan menghilang, dan air mereka tercemar. Bahkan batu Anjaf yang disucikan dan dianggap batu yang menyimpan nama-nama leluhurnya dibelah. Mama Aleta tahu ia harus berbuat sesuatu.

Ia mulai terlibat kerja-kerja advokasi pada tahun 1999 dengan mendirikan Yayasan Oat atau Organisasi Attaemamus yang artinya “mengayomi, melindungi, memperbaiki, merangkul, dan mempertahankan”. Bersama Yohance Lase, Yeheskiel Nune, dan Lambert Kase, ia diam-diam melakukan pertemuan-pertemuan di malam hari untuk mulai mengorganisir masyarakat. Seringkali ia harus meminjam motor diam-diam — Aleta menyebutnya “curi motor” — untuk bergerilya dalam pertemuan-pertemuan pengorganisiran. Rapat-rapat gelap ini seringkali dikamuflasekan sebagai pelaksanaan ritual adat sehingga tidak dicurigai oleh aparat.

Tahun 2001, Mama Aleta mengaku bahwa dia belum pernah berdemo sebelumnya. Pada waktu itu, mereka membawa orang-orang dari desa berjalan sejauh tiga kilometer untuk mengusir tambang marmer dari tanah mereka. Karena belum berpengalaman, mereka tidak mempersiapkan apa-apa. Jumlah mereka sekitar 300 orang. Ketika mereka mulai kelaparan dan mau mencari makan, mereka dihadang oleh tentara. “Kami mau cari makan, atau kita baku bunuh saja di sini,” kata Mama Aleta menghadapi para tentara yang menghalangi mereka untuk keluar dari tempat itu. Ketika para anggota DPR datang, mereka diperbolehkan mencari makan.

“Saya hutang beras di warung-warung kecil, dapat tiga periuk. Satu periuk mie instan, dua periuk nasi. Tiap orang mendapatkan kurang lebih satu sendok makan. Tetapi itu cukup,” paparnya mengenai pengalaman pertama kali mereka mendemonstrasi tambang. “Saya tidak boleh lemah. Mungkin dalam hati nurani ada sedikit rasa takut. Tetapi kami sudah banyak, kami hidup untuk mati,” lanjutnya. Baginya keberanian adalah sesuatu yang menular.

Mama Aleta menghabiskan waktunya mengorganisir pada jam-jam yang tidak bisa ditentukan. “Seringkali saya pulang dan masuk rumah lewat jendela,” katanya setengah tertawa. Terkadang ia harus meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Pada awalnya suaminya sempat marah dan cemburu karena Aleta seringkali pulang malam, tetapi seiring waktu, Liftus suaminya mendukung penuh apa yang dikerjakan Aleta. Ia sepenuhnya menggantikan Aleta di rumah dan menjadi ayah-ibu bagi anak-anak mereka.

“Sebenarnya dalam adat kami, kami sudah paham gender dan saya mempraktikkannya dalam hidup keseharian saya,” tegas Mama Aleta ketika sedang menceritakan kehidupan keluarganya.

Bahaya yang dihadapi Aleta pun tak luput menimpa keluarganya, beberapa kali mereka harus hidup berpindah untuk menghindari teror dari aparat dan preman-preman yang disewa oleh perusahaan tambang. Rumahnya dilempari batu, kakinya dibacok, dan berkali-kali dirinya menjadi target pembunuhan.

Pada tahun 2006, ketika sedang menghadapi perusahaan tambang, Mama Aleta dan penduduk kampung harus tidur selama setahun di hutan. Waktu itu, anak bungsunya Ainina yang berusia dua bulan ia bawa mengungsi ke dalam hutan. Mereka harus terpisah dengan keluarga yang lain. Mama Aleta menyusui Ainina di hutan, namun karena makanan mereka terbatas, Ainina menjadi kurang gizi dan terancam hampir mati. “Anak itu jadi kurus sekali, saya sudah hampir merelakannya waktu itu. Tetapi akhirnya ia selamat dan sehat sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi Mama Aleta perempuan adalah sosok yang sangat dekat dengan sumber alam.

“Perempuan seperti kami bisa dalam sehari bolak-balik ke kebun, mengambil air, kayu, dan kebutuhan lainnya. Kamilah yang mengetahui isi hutan dan bagaimana memanfaatkannya. Kami jual apa yang bisa kami buat. Kami tidak jual apa yang kami tidak bisa buat,” paparnya.

Dalam sebuah demonstrasi besar dimana 200 orang perempuan menduduki tambang, Mama Aleta meminta para perempuan membuka bajunya dan memperlihatkan payudara mereka lalu berseru: “Jika ingin mengambil tanah kami, belah saja dada kami.”

“Semua orang punya ibu. Kami menggunakan bahasa yang akan mereka mengerti. Alam ini adalah ibu yang menyusui. Mereka tidak berani berlaku kasar kepada perempuan. Akhirnya mereka pergi terkencing-kencing,” cerita Mama Aleta. Ketika sedang menduduki tambang, mereka membawa serta alat tenun bersama mereka, dan mereka menenun di situs tambang hingga pihak perusahaan tambang menyerah.

Ancaman-ancaman pencaplokan sumber daya alam di Pulau Timor belum berhenti, namun hal ini tidak membuat Mama Aleta gentar. Saat ini ia telah berhasil mempersatukan tiga suku di wilayah Molo yaitu suku Molo, Amanuban, dan Amanatun. Sejak tahun 2010, mereka membuat Festival Ningkam Haumeni. Ningkam Haumeni berarti “lilin dan cendana.” Hasil bumi inilah yang membuat Belanda tertarik dengan bumi Timor, hingga cendana pun hilang ketika pemutihan diberlakukan oleh Dinas Kehutanan. Padahal cendana termasuk pohon yang digunakan dalam ritual adat mereka dan ketika dipotong harus dilakukan dengan diam-diam. Festival Ningkam Haumeni diselenggarakan untuk menyatukan ketiga masyarakat adat menjadi satu kekuatan.

Mama Aleta yang masih keturunan raja — di mana ayahnya adalah salah satu tetua adat yang berwenang untuk menentukan dan memberhentikan seorang raja — percaya bahwa mekanisme adat mereka memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi alam dan kehidupan mereka. Ia melihat kerja-kerjanya melawan tambang sejalan dengan mekanisme masyarakat adat dalam mempertahankan wilayah dan hak adat mereka.

“Sejak jaman Belanda, perusakan alam telah terjadi di tanah kami. Adat kami dipecah-pecah. Sudah saatnya kita meraih kembali apa yang menjadi bagian dari sejarah kita dan mempertahankan kelangsungan adat dalam kehidupan,” tegasnya.

 

 

Tulisan ini diterbitkan untuk media internal AMAN (Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara). Tulisan ini dibuat setelah wawancara personal dengan Mama Aleta selama di Tobelo, Halmahera Utara, 2013. 

Setahun Kemudian

Setahun kemudian aku tak lagi sayang

Menyayangkan namun tak pernah menyesali segala sesuatu

Roda kehidupan selalu berputar

Seperti gunung-gunung, kubiarkan kau pergi mencari jejak diri

Dan aku tetap di bawah sisi Himalaya yang lain

 

Seorang brahmin pernah membaca garis tangan kita berdua

Betapa jalan itu begitu berbeda

Namun aku tetap percaya bahwa nasib tetaplah dalam genggaman

Dan pilihan yang kita ambil tetaplah pilihan kita sendiri

 

Mungkin kebenaran kata-kataku sekarang

Mengandung sendunya butiran es yang menerpa

Di turunnya hujan salju yang pertama di Kathmandu

Sekian hal datang dan pergi

Hanya pada kedalaman diri kita akan mengolah sekian peristiwa

 

Dan akan kubiarkan airmatamu mengaliri Sanamberi

Luka diri yang terus menerus menganga ketika kau memilih untuk bergantung pada kesemuan dan ilusi

Bagai revolusi yang mengoyak tanah lahirmu suatu ketika

Dan entah kapan kau akan memilih rekonsiliasi pada dirimu sendiri

 

Sagarmatha tak pernah kemana

Hanya puncak-puncak diri dan ego yang kita taklukkan dalam perjalanan menuju ke puncak-puncak Himalaya

Saat ini Sagarmatha masih bercokol dalam dirimu

Yang pada akhirnya kau menyadari bahwa tak ada jalan lain selain turun ke bawah

 

Ini sudah setahun kemudian

Diri ini akan terus menerus berjalan

Karena yang pasti adalah selalu dan selalu

Akhir dari segala

Kematian yang menanti kita di ujung jalan

Maka itu aku tak pernah membuang waktu

Dalam gundah gulana sedalam lautan

 

Kesedihan bagiku adalah mata air di tanah Jawa

Dimana diriku mumbul

Ke permukaan segara

Dan perasaanku mengalir ke Laut Selatan

Keintiman Yang Universal

pass me. pass me slowly if you can
for, unlike memory, i don’t stay long

lewati aku. lewati aku pelahan kalau kau bisa
sebab, tak seperti ingatan, aku tak tinggal lama

(“atas YANG HANCUR” Dina Oktaviani, Juni 2011)

Kota-kota kesepian. Gema suara penyair yang lirih. Antara warna warni dan hitam putih. Kata-kata menyengat. Kenangan. Rekaman masa lalu dan para hantu. Kedekatan yang tak lagi membutuhkan bahasa. Keabadian yang membeku dalam dua belas foto dan dua belas puisi.

Berada di tengah-tengah ruangan pameran Sangam House malam itu, dalam cahaya hangatnya, samarnya suara penyair Dina Oktaviani dan melihat dari kacamata seorang Dalih Sembiring, getar keintiman karya mereka berdua menyeruak ke dada para pengunjung. Ruangan pameran seolah berubah menjadi mesin waktu yang sesaat, mengingatkan kita pada hal-hal yang familiar, hal-hal yang ingin dikenang sekaligus ingin dilupakan.

Intimacy: Homage to Hometown and Untitled Memory (Kepada Kampung Halaman dan Ingatan Tak Bernama) adalah gabungan pameran foto dan puisi kolaborasi dari Dalih Sembiring dan Dina Oktaviani. Foto-foto Dalih adalah refleksi keintiman yang dirasakannya pada kota-kota dimana ia tumbuh: Binjai, Dili dan Yogyakarta. Puisi-puisi Dina adalah respons eksperimental yang dilakukannya terhadap foto-foto Dalih. Ide awal pembacaan puisi di pameran berubah menjadi puisi yang turut menyertai foto-foto yang dipamerkan.

Foto-foto Dalih mengandung kualitas sudut pandang personal yang kuat memikat. Baginya memotret ulang ingatannya akan kota-kota dimana ia dibesarkan merupakan bagian dari pendewasaan dirinya. Bagian dari dirinya untuk berdamai dengan masa lalu. Bahwa realitas kekinian dalam setiap kota bukan lagi menjadi momok, seperti dalam fotonya “Till Death Do Us Together” (Sampai Maut Menyatukan Kita) yang diambilnya di pemakaman Santa Cruz. Foto ini menampilkan warna-warna ceria, kontras dengan imaji mengenai kematian dan sejarah kekerasan di balik tempat tersebut. Foto-fotonya tentang Dili cenderung mengandung mekarnya harapan dan tawa seperti dalam “Shy Girls” (Dua Gadis Pemalu), yang diambilnya di Bairro Pite, desa dimana ia pernah tinggal. Perubahan persepsinya tentang Dili di masa lalu dan masa sekarang berubah ketika orang-orang di Dili menyambutnya dengan sangat baik dalam kunjungannya yang terakhir. Perubahan ini tertangkap sepenuhnya dengan rasa penuh harapan dari balik kameranya.

Lain lagi dengan potretnya mengenai Binjai, kota kelahirannya. Disini Dalih mengenangnya dalam pilihan yang pekat akan masa lalu, semuanya hitam putih. Baginya kota Binjai masih memiliki jejak yang serupa mimpi dan ingatannya mengenai masa kecil. Foto-foto Binjai menampilkan refleksi kota yang terperangkap di masa lalu. Cenderung sepi dan diam. Seolah menangkap hantu masa lalu yang tak menakutkan malah cenderung melankolik.

Yogyakarta adalah kota dimana akhirnya Dalih bermukim. Atmosfir dalam foto-foto cenderung sangat kontemporer sekaligus sangat intim. Orang-orang yang menjadi objek fotonya adalah orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Persingunggan-persinggungan ini telah mengajarkannya keintiman yang lebih rumit dan mendalam di antara persahabatan juga percintaan. Warna Yogyakarta yang amat personal baginya.

Dina merespon jiwa-jiwa yang lahir dalam foto Dalih. Proses ini turut menstimulasi lahirnya dua belas puisi Dina. Semuanya ditulis tangan dan terbingkai menyertai setiap foto. Baginya tema-tema dalam foto-foto Dalih sejalan dengan apa yang selama ini dieksplorasinya. Tema-tema yang belum selesai: jejak kampung halaman, masa kecil, masa lalu. Kedekatan mereka sebagai sahabat membuat Dina tidak sepenuhnya menjadi orang asing dalam menanggapi foto-foto Dalih. Dina pun terlibat menjadi salah satu jejak perjalanan Dalih ketika mereka berdua melakukan perjalanan ke Dili.

Dalam proses penulisan puisinya, Dina merasa menjadi lebih sadar dan lebih utuh ketika mengekplorasi kembali tema-tema yang juga dekat dengannya. Foto-foto Dalih dijadikannya kawan sekaligus lawan dalam proses kreatif penciptaannya. Proses evolutif yang terjadi di antara keduanya dalam proses pameran ini menjadikan pameran ini terasa unik dan menyegarkan dari sekian jenis pameran yang selalu mewarnai belantara kota Yogyakarta.

Puisi-puisi Dina seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris. Rekaman puisinya dijadikan latar suara yang menggetarkan dalam pameran ini. Reni, seorang pengunjung di hari pembukaan pameran, mengomentari dengan takjub efek dari puisi yang terlibat dalam pameran. Baginya yang terbiasa mendatangi berbagai jenis pameran di Yogyakarta, ia menemukan kebaruan dalam kolaborasi pameran ini. Kekuatan, kejujuran dan kedekatan yang ditampilkan baik dalam foto dan puisi membangun ruang keintimannya sendiri dengan para pengunjung.

Toni Tack seorang arkeolog senior dari Inggris dan pemilik Sangam House Jean-Pascal Elbaz, yang turut membuka pameran ini, sama-sama menegaskan betapa menggembirakan dan menyegarkannya melihat kolaborasi menarik dari generasi muda dimana mereka bisa merelasikan rasa keintiman yang menembus batas dan sekat-sekat budaya, etnis, negara dan bahkan waktu.

Dalih Sembiring yang juga berlatar belakang sebagai penulis bersama penyair Dina Oktaviani menampilkan kualitas karya yang mewakili sikap generasi mereka. Generasi kelahiran 80-an yang tak lagi terbebani dengan masa lalu melainkan mencoba menyikapi persoalan kehidupan dengan lebih enteng tanpa kehilangan kualitas kedalaman di saat yang sama. Mereka pun bergerak bebas menembus batas-batas kultural dan menjadi bagian dari dunia kreatif global. Mereka tetap dengan sadar mewakili dari mana mereka berasal dan menggali inspirasi dari ‘kampung halaman’, membungkusnya dan menampilkannya dengan memukau kepada dunia. Dalam prosesnya Intimacy berhasil menyampaikan rasa keintiman yang universal dan menyentuh siapapun yang datang ke dalam pameran ini.

Pameran foto dan puisi Intimacy berlangsung dari tanggal 30 Juni 2011 hingga 16 Juli 2011, di Sangam House (Restoran India, Butik, Ruang Seni dan Studio Yoga), Yogyakarta.

Dimuat di Suara Merdeka, Edisi Minggu, 10 Juli 2011