Sepasang Naga

Dalam riap dalamnya air malam itu, alur sisik naga membentang, hijau bagai bukit di tengah kota. Bunyi gong menggema, tetabuhan mengiringi, segala macam bebunyian dan doa berpadu, merajut air dari segala penjuru. Pesan-pesan bermunculan. Air-air suci ditebarkan. Berkah merajut dalam asap dupa. Namun malam, malam tak jua selesai membersihkan bumi. Butiran beras ditebar, mengulang berkah akan hal-hal yang naas di atas bumi manusia. Akan tragedi. Akan tangis. Akan kemarahan. Yang tak henti-henti. Beginilah ritual itu dimulai. Aku menatap geliat naga itu, memutari seluruh bukit di mana kita semua berpijak.

 

Dan di atas gunung, begitu suara lonceng bergema. Seekor yang lain bermunculan di angkasa. Putih selayaknya mutiara. Ayu selayaknya kesucian alam dewata. Disinilah mereka bertemu. Dalam doa dan penyatuan. Melepas apa-apa yang harus selesai. Berkelindan dan saling bergeliat. Menyatukan yang bumi dan yang angkasa.

 

Di tengah-tengah itu semua, segala hal bergerak. Tarian-tarian di muka bumi mulai berderap. Segenap kaki, segenap jejak, segenap jari, segenap selendang. Ngibing. Semua hal bergerak menjadi satu kesatuan. Semua pecah dalam segenap doa.

Dalam keheningan udara, dalam ruang senyap semuanya berhenti.

Pada bumi, segenap segala bersujud syukur.

*catatan awal Ngertakeun Bumi Lamba kesebelas, 23 Juni 2019

Mengenai Surat demi Surat

Beginilah adanya, akan surat-surat yang akan kita kirimkan kepada mantan kekasih, kepada kekasih dan kepada calon kekasih-kekasih di masa depan. Beginilah awalnya, bagaimana isi hati akan mulai tercurah dan banjir bandang perasaan akan datang, satu demi satu. Kata demi kata, dan surat-surat baik yang akan dikirimkan, genap dikirimkan dan terbuang terjadi begitu saja.

Kepada laki-laki yang selalu akan mengingat mengenai hujan. Dan kepada perempuan yang selalu akan dirundung hujan. Inilah bagaimana surat-surat itu akan terkirim dalam keadaan basah akan perasaan. Akan bagaimana rasanya tenggelam. Akan bagaimana kata-kata terasa bagai tsunami yang tercekat gagal naik hingga tenggorokan.

Ingatanku terlempar pada kerasnya dinding di goa-goa pada punggung seorang laki-laki. Seberapa lamanya dingin pada batu membekam di sana. Bagaimana pada akhirnya seorang laki-laki yang lain melepas jubahnya secara simbolis di kompleks rumah bordil terbesar di tengah kota Delhi. Bagaimana seorang yang lain melepas dinginnya perasaan pada seorang perempuan yang tengah melompat dari lantai dua, memakai jeans dan sekian puluh tahun kemudian ia bertanya padaku yang hendak memakai celana jeansku: kau tahu kan alasanku tak pernah memakai celana jeans?

Ingatan akan trauma kerap berbenturan dalam arus waktu yang tidak linier. Ingatan adalah sesuatu yang terkadang datang tiba-tiba, bagai tamu yang tak diundang dan tak bisa disuruh pulang.

Namun bercerita adalah pertolongan, menulis surat adalah kegiatan yang direstui oleh malaikat. Bercerita membuatmu merunut mengingat. Bercerita adalah mengosongkan. Bercerita adalah keberanian berbagi. Bercerita adalah mencintai diri sendiri dan orang lain. Dan menulis surat adalah usaha-usaha untuk berkomunikasi pada yang dicintai, pada diri dan pada cinta itu sendiri.

Begitu banyak surat cinta mengabadi, menjadi kumpulan-kumpulan harta tak ternilai bagi sebagian orang dan peradaban. Karena dalam surat cinta, begitu banyak bukti akan usaha-usaha manusia untuk belajar dan berusaha mencintai. Karena kata-kata meninggalkan jejak di muka bumi dan getarannya mengisi tanah ini dengan energi kasih sebegitu rupa.

Lalu beginilah, usaha mencintai itu dimulai. Dalam terang perasaan, rintik hujan yang sementara dan sunyi subuh yang masih gelap.

Setelah Dua Belas Tahun

Malam Purnama Libra, Yang Kedua

: surat kecil untuk a.s.r., setelah sekian lama

Berapa lama sebenarnya sebuah siklus itu berjalan? Sebuah lingkaran yang genap berputar. Memutari takdir dan membawaku ke depanmu. Menurut para leluhurku yang menjelajah sekian gunung dan lautan: dua belas tahun lamanya. Menurut realitasku setelah mendaki sekian gunung dan menenggelamkan kepalaku di sekian lautan dan sungai: dua belas tahun lamanya. Bilangan yang nyaris tiga belas, yang tak kuasa kusebut sebagai kesialan atau peruntungan. Aku menengok bulan purnama di atas kepala, mencari dimana letak Jupiter saat ini. Jika ilmu perbintangan disebut ilmu nujum, di mataku sekarang, letak dunia setua letak semesta.

Anakku akan genap sebelas tahun di bulan ketujuh. Ketika ada yang mati, ada juga yang lahir. Takdir merunut jeda yang pendek antara anakku dan ibuku, keduanya lahir di bawah pengaruh bulan dan rasi Cancer. Sudah hampir tiga belas tahun aku memperjuangkan akan apa yang hidup, ketika sebagian diriku mati bersama ibuku. Berapa banyak sebenarnya yang sudah kukubur, ketika jasad ibuku genap menyatu dengan tanah? Apakah dirimu berdiri disana, memegang bahuku? Berapa banyak sudah sebenarnya air mataku di dadamu kala itu? Aku tak kuasa lagi mengingat, kata-kata yang kuingat hanyalah: tegarlah! Aku bak seekor laba-laba yang kehilangan pusat sarang dan kehilangan cara memintal benang. Dalam kekacauan sarangku, aku tak berkeinginan untuk menjeratmu. Aku yang tanpa benang.  Namun aku mengingatmu dalam lintasan percakapan rumah duka, berseliweran bersama orang yang datang dan pergi. Bahkan ada keributan dan kecelakaan. Aku tak mengingat bagaimana perasaanku. Ada sesuatu dalam ingatanku yang sedang kugali kembali. Hanya kali ini, penggali kubur itu adalah diriku sendiri.

Dimanakah kita berakhir dan dimanakah kita bermula? Ada jejak-jejak tulisan yang tercatat, ada puisi-puisi yang tercetak dan tercecer di dalam boks plastik berdebu di rumahku. Waktu menjadi relatif dalam ingatanku. Apakah genap perasaanku padamu terkubur bersama kesedihan yang tak terungkapkan akan ibuku? Akan anakku yang lain? Apakah genap perasaanku padamu kukubur di menit aku tak lagi kuasa mengungkapkan yang tersisa padaku? Jika waktu itu memang ada yang tersisa padaku.

Berapa banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab kala itu:

Apakah aku akan sanggup untuk tetap mencintaimu ketika makna cinta yang tak terucap adalah kehilangan dan demi kehilangan yang tak tertanggulangi dari dalamku?

Apakah segala beban di pundakku waktu itu sengaja kupanggul sendirian dan sengaja membiarkanmu pergi?

Apakah aku sengaja menyakitimu hingga tak lagi ada jalan pulang di antara kita?

Apakah aku sengaja membakar jembatan itu agar jurang di dalam diri kita semakin dalam? Hingga kau tak kubiarkan menengok ke belakang dan tak kubiarkan diriku mengingat apa yang menjadi dasar cinta kita waktu itu: kepolosan.

Waktu adalah kecelakaan yang tak berujung. Waktu adalah yang seringkali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi terlontarkan di antara kita. Setelah dua belas tahun. Namun dalam jeda kata, tarikan nafas dan gerak tubuhmu, sesuatu dari dalamku tiba-tiba berduka. Membuka luka yang tak perlu.

Tangisku datang tak diundang pagi itu, di bawah gelimangan air Jakarta. Seperti bah dan badai yang tiba-tiba, menyeruak entah dari mana. Aku menarikan jiwaku bersama sekian perempuan hari itu,  namun sudah lama kutarikan gelombang ini yang mengantar semua perasaanku kepadamu. Aku menangisimu sepanjang Jakarta sampai Bandung, menangisi duka-duka yang tak selesai pada waktu itu.

Aku mencari sukacita dalam memori-memori yang tercatat. Aku mencatat semua itu di suatu waktu, kotak pandora itu masih tersimpan. Aku tahu di sana ada bahagia. Di tahun-tahun genting dan penuh bencana itu. Ada tsunami di dalam kamarmu. Ada gempa di langit kamar kita waktu itu. Apakah cinta datang bersama bencana? Ataukah bencana waktu itu memupuk cinta kita untuk tumbuh? Selang dua tahun dari bencana dimana kita tumbuh, bencana di hatiku memaksaku bertingkah seperti malaikat pencabut nyawa. Mencabutmu jauh-jauh dari hidupku.  Menguburmu bersama catatan kehilangan demi kehilangan. Menambahnya ke dalam daftar luka. Menyimpannya jauh-jauh di pojokan yang tak juga kusentuh. Hingga malam-malam belakangan.

Sekarang aku mengingatmu, di dalam bencana, cinta kita tumbuh dengan perlahan. Ada persahabatan di sana. Begitu banyak malam yang penuh cerita. Begitu banyak malam yang mesra. Dan yang mengebu. Juga malam-malam yang pelan seperti lagu-lagu jazz Norah Jones yang selalu kau putar sebelum kita tertidur berdua. Kita memang saling menyukai. Kita tak selalu sependapat. Aku yang selalu memiliki api yang memberontak. Dirimu yang rasional namun selalu ingin melindungi. Mungkin kau memang mencium sekian marabahaya selalu mendekati hidupku. Mengendap perlahan dan penuh luka. Mungkin aku memang mencium sekian peristiwa akan datang dan diam-diam aku bersepakat untuk menjalaninya sendirian. Tidak ingin melibatkanmu dalam kekacauan.

Di akhir itu semua, diriku dua puluh tiga tahun dan dirimu dua puluh enam tahun. Kita bisa apa, ketika tsunami besarku tak kunjung lewat. Tak ada pelampung di masa genting itu. Selain kau yang harus berjalan menuju daratan. Selain aku yang harus belajar berenang dalam tenggelam, ombak demi ombak, hingga insang-insang tumbuh di leherku.

Sekarang perasaanku datang seperti lautan. Semua cinta yang kupendam seolah datang lagi dalam sekian tsunami perasaan-perasaan yang sedang kuolah sendiri. Aku ingat kita selalu sering bertukar kata. Aku selalu personal. Dan dirimu selalu rasional. Tidak mengapa sekarang. Hati dan pikiran sudah seharusnya sejalan. Yang feminin dan yang maskulin, saling membutuhkan di dalam dunia yang sekacau sekarang. Sekian perjalanan mengajarkanku demikian. Sekian kematian membuatku mencari peganganku sendiri. Membangun pulau dari tanah-tanah yang kurekatkan sendiri, menanamkan pohon kelapa dan menumbuhkan buah-buahnya bak Dewi Sri. Seperti legenda Nyai Pohaci, yang kutemukan dalam jejak tanah leluhur sekian bulan kemarin.

Selama dua belas tahun aku mencari akar demi akar akan diri, satu akar kutemukan lagi. Di suatu waktu aku percaya, di sana ada suka cita. Di tengah gempa dan sekian tsunami. Di dadamu yang ringkih, aku berpulang. Di keruh matamu kini, aku pernah mengecap rumah. Di mataku kini, kubiarkan apa yang harus mengalir untuk teurai, mengalir. Mungkin menujumu, mungkin menuju hidup yang tak kunjung selesai, selain perasaan-perasaan yang sejalan dengan kata hati yang terbuka.

Yogyakarta, 19 April 2019

LUKA

Seperti kawah

darah mengalir serupa lahar

keraknya seolah membusuk di lututku

Di detik di mana aku menyentuh tanah

Aku mengerang mencari Ibu

Walau aku berada terbaring di atasnya

 

Aku memeluk diriku di kala jatuh

Mencari jejakanku bahkan ketika aku terluka

Kesadaran akan tubuh yang kuat

Akan hidup yang tengah berlangsung

Api seperti mengalir dalam darahku

 

Namun akhir-akhir ini api muncul dalam nafasku

Seperti naga aku meminum bergelas-gelas air dalam tempayan tembaga

Bau mawar menyeruak ke segala penjuru

Membuka paksa hatiku untuk terus terbuka

Membiarkan racun-racun mengalir ke tanah dan hilang dibawa arus air

Hingga lautan

Hingga ke Ibu Tua

 

Mataku menua dalam tangis

Mataku lahir kembali dalam darah

Aku memegang rahimku agar tak jatuh ke tanah

Namun darahku berkali-kali mengalir bak persembahan pada bumi

 

Bunyi bel nyaring

Doa mengelegak

Suara burung gagak

Siklus kehidupan dan siklus kematian tengah berputar

Dua ular kulihat meliuk di kaki kiriku

Yang perak dan emas mengelayutiku

Menanamku pada Ibu

 

Di tanah aku melata malam itu

Mencarimu Ibu

yang ada berkali-kali

tumbuh dan mati di dalamku

Rindu

:K.T.D.

Aku merindu-rindu

Telapak dan sembabnya wangi gua-gua

Di sungai-sungai

Doa-doa melantun ke selatan

Doa-doa membanjiri hatiku dari utara

 

Aku merunut tapakku dan juga jejak silaku

Silamu, simpuhmu

Di kakimu aku selalu menemukan rasa haru

Akan selalu kembali kepadamu

Akan selalu kembali pada hal-hal yang lebih besar

Daripada diriku

 

Aku mencium bau semesta doa

dalam segala jejakmu

Bahkan pada batu-batu yang kau sentuh

Semestamu

Menggema hingga relung hatiku

 

Segala hal yang membekas padaku

Adalah segala hal yang menjadi pada diriku

Dan persinggungan kita adalah pertemuan sungai-sungai

yang tidak berkesudahan

Gunung-gunung bersaksi berkali-kali

di sekian kehidupan

dan masih gunung-gunung itu menyimpan

wewangian yang membuatku

terindu-rindu

padamu

Dalam Diam

Kurasa dalam diam

Kita jauh lebih banyak berbicara

Dalam yang meresap

Melewati retakan tembok

dan akar pepohonan

 

Jika lingkaran adalah pertemuan jiwa

Di satu titik itu aku hanya akan menemukanmu

Di keningmu

dan ujung jarimu yang kuhormati

dalam dadamu,

aku masih selalu

berpulang

 

Aku tahu,

kamu hanya akan mentertawakan

kematian-kematianku

kulit-kulitku yang berganti

demi masa dan demi masa

namun di sisi yang lain

kau akan memegang tanganku

dan mendengar tangisan-tangisanku

 

Kau akan membiarkanku merasakan

dan melewati kesedihan-kesedihanku

Di ujung perjalananku

Kau akan menunggu untuk memelukku

Menyentuh keningku dengan keningmu

Menaungi rasa lelah yang tak berkesudahan

 

Dalam pelukanmu

Dadamu seperti gemuruh laut yang menetap

Abadi

dan tak kemana-mana

Ombak di hatiku akan menepi

Mengalir sebagaimana hidup

 

Dalam diammu, kau selalu mengada

Dadaku sedang dan selalu penuh syukur

Haru

Akan dirimu yang laksana gunung

Dimana aku menuju

Bernafas pada julangan rindu

Tentang Keberanian

Beberapa hari lalu ketika saya melihat posting Inna Hudaya soal tagar #metoo atau #sayajuga, saya otomatis menggerakkan diri untuk menuliskan cerita saya. Namun efek dari apa yang saya bagikan pada publik, berbalik seperti ombak besar pada diri saya.

Skala persoalan ini begitu besarnya, saya merasa diterjang tsunami atau gempa-gempa besar yang pernah saya rasakan di hidup saya. Dan gilanya, gempa ini saya rasakan datang dalam diri saya.

Saya memutuskan untuk hari ini berbicara dengan lebih jernih dan dalam bahasa ibu saya. Bahasa Indonesia. Saya mengetahui dengan benar apa yang saya ceritakan akan membuat yang membacanya merasa sungguh tidak nyaman. Tulisan ini dibuat bukan untuk membuat pembacanya nyaman. Namun saya merasa, dunia ini sudah tidak punya waktu untuk merasa nyaman akan hal-hal yang begitu merusak kehidupan kita.

Saya merasa, dengan membicarakan ini, saya membicarakan apa yang selama ini tabu di masyarakat kita. Saya bicara untuk ibu saya, nenek saya dan semua perempuan sebelum saya. Juga untuk perempuan-perempuan masa depan, anak cucu saya di masa mendatang. Untuk mereka saya berbicara dan untuk mereka, saya ingin mengatakan bahwa keberanian itu menular.

Pada usia enam tahun, sepupu laki-laki saya melakukan pelecehan seksual terhadap saya selama dua tahun lamanya. Saya selalu diam dan merahasiakan ini, tidak membicarakannya kepada siapapun di keluarga saya. Dia adalah sosok kakak laki-laki pertama saya yang saya kenal dalam hidup saya yang masih polos. Dan bukan menjaga saya, dia mematahkan apapun yang saya percaya mengenai laki-laki di umur yang begitu belia.

Di usia dua puluh enam tahun, mantan suami saya melakukan perkosaan terhadap saya. Karena dia pikir dengan melakukan hal tersebut sebagai usaha membuat saya hamil lagi dengan anak kedua, pernikahan kami akan bertahan. Alasan dimana pernikahan kami berakhir adalah ketika saya mengetahui bahwa ia telah melecehkan 7 teman dekat perempuan saya selama saya dalam kondisi hamil dan menyusui anak laki-laki saya. Tujuh perempuan bayangkan! Ini sakit jiwa. Saya tidak membutuhkan seorang bapak yang tidak bisa menghormati perempuan untuk anak laki-laki saya. Keputusan untuk bercerai sepenuhnya saya lakukan atas dasar ini.

Saya bisa bilang sekarang bahwa, selama proses saya hamil dan menikah dengannya selama hampir dua tahun. Saya membiarkan diri saya diperkosa berkali-kali. Karena saya tidak menginginkannya dan saya bahkan berada di titik muak dengan seks. Dan laki-laki yang harusnya menjaga saya, menghormati saya, bahkan tidak menghormati ketika saya berkata tidak. Saya harus menendangnya, mengatakan tidak berkali-kali, dan dia tetap tidak mendengarkan saya. Saya tidak tahu bagaimana mengatakan atau bercerita kepada orang lain ketika saya mengalami kekerasan di dalam rumah dan kamar saya sendiri. Ketika anak saya lahir perlahan saya membangun keberanian saya, karena anak saya adalah masa depan.

Dan mantan suami saya melakukannya karena dia pikir dengan saya menjadi istrinya, saya adalah objek. Mainan yang bisa diperlakukan seenaknya dan sudah menjadi kewajiban saya untuk menurutinya. Jika pernikahan adalah sesuatu yang didasarkan dengan hal ini, saya memilih untuk tidak menikah lagi. Buat saya cukup sekali saya diperlakukan sebagai objek seksual belaka. Barang dan properti orang lain.

Dua insiden ini begitu membekas dan merusak saya dari dalam. Yang lebih parah semua ini didukung oleh sistem. Ketika sistem tenaga kesehatan seperti dokter yang seharusnya menangani saya ketika mengalami trauma paska perkosaan. Malah mengatakan dan menyalahkan saya, bahkan mentertawakan saya, melecehkan saya secara mental. Saya berbalik kepadanya, mana ada orang yang mau diperkosa, bahkan oleh suami sendiri?! Maaf, tapi persepsi di Indonesia ini gila. Mereka tidak percaya bahwa ada perkosaan dalam pernikahan, ada perkosaan dalam pacaran, ada begitu banyak pelecehan. Dan kemarin malam saya harus membaca posting Dhyta Caturani bahkan Kapolri negara ini menyalahkan korban perkosaan.

Ini gila. Saya harus bicara.

Ketika bahkan saya sudah tidak percaya dengan kepala polisi pimpinan nasional negara ini yang seharusnya menjaga dan mempertahankan hak setiap warganya untuk mendapatkan rasa aman. Pimpinan macam apa yang membiarkan kami para perempuan dirusak sedemikian rupa. Negara sudah melakukan kekerasan terhadap kami, tidak menghargai dan menghina kami sebagai perempuan. Tidak ada perlindungan yang bisa kami harapkan dari mereka.

Siang ini saya bertanya, apalagi yang harus saya percaya?

Rasa sakit di dada ini terasa bertubi-tubi. Teman-teman yang berbagi kisahnya sekian hari ke belakang di postingan saya dan juga yang mengirim pesan personal mereka kepada saya. Kami seperti saling memeluk dan menangis sambil berpegangan tangan. Kami hanya bisa menjaga diri kami masing-masing dengan kekuatan kami masing-masing. Jika kami bisa membasuh luka kami dengan air mata, kami sedang melakukannya. Kami membasuh diri kami sambil tetap berdiri tegak. Biar lelah kami diserap oleh tanah, ibu sejati kami dan kami memiliki kekuatan untuk meneruskan hidup kami. Merawat dan menjahit luka di rahim kami, menyembuhkannya, agar kelak kami tidak melahirkan lagi generasi yang penuh luka-luka kekerasan.

Baru minggu lalu saya memberikan kesaksian dalam rekaman soal kekerasan domestik di Indonesia dan sekian kekerasan yang terjadi pada tubuh saya. Baik oleh pribadi, baik oleh negara, baik oleh sistem. Baru tahun ini juga, saya mengalami kekerasan oleh mantan pasangan saya dimana saya mengalami pemukulan (battering) ketika saya berada di negeri asing. Saya sungguh berterimakasih kepada teman-teman saya dari seluruh dunia, guru dan kawan baik saya di Nepal, yang menjaga saya melewati proses ini. Saya tahu, semua peristiwa ini akan membuat saya jauh lebih kuat sebagai seorang perempuan dan juga manusia.

Saya bahkan mengatakan jika saya adalah jalan dimana semua pengalaman saya bisa berguna bagi semua orang untuk berefleksi. Merasakan apa yang dirasakan setiap perempuan yang mengalami kekerasan. Saya merelakan diri saya. Biarlah apapun yang sudah terjadi sekarang bisa bertransformasi menjadi kekuatan untuk berbicara.

Studi saya dalam sejarah mengajarkan saya, bagaimana bangsa ini, bagaimana peradaban ini memperlakukan para perempuan.

Kita sudah kehilangan semua kehormatan kita terhadap perempuan. Terhadap ibu kita. Semua dan segala bentuk kekerasan bisa terjadi kepada setiap perempuan, tidak peduli siapapun dia. Saya ingin bertanya kepada setiap laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap perempuan, apakah kalian tidak melihat pada mata mereka: ibu kalian, nenek kalian, istri/pasangan, kakak adik kalian dan anak-anak perempuan kalian? Apakah kalian tidak bisa merasakan jika apa yang kalian lakukan itu terjadi pada mereka?

Apakah sudah begitu hilangnya rasa kemanusiaan dan kebaikan dalam diri kita, wahai manusia? Ini adalah pertanyaan besar. Dan dengan pura-pura tidak mau mengakui persoalan ini, tidak peduli dengan isu ini, dengan menafikan ini semua mengatakan persoalan ini tidak ada, dirimu berkontribusi dengan pembiaran untuk melanggengkan terus menerus siklus kekerasan ini di dunia.

Saya melihat dan merasakan, inilah kenapa kita juga begitu mudahnya merusak alam kita, merusak ibu kita, rumah kita bersama. Menambang gunung dan mencemari laut. Merusak ekosistem. Membuang plastik sembarangan. Membakar hutan dan begitu mudahnya menebangi semua pepohonan yang menaungi hidup kita. Untuk keserakahan, kita merusak diri kita dari inti yang paling dalam.

Bagi saya, ibu bumi, adalah bentuk cinta yang terdalam. Cinta yang tak menuntut balas. Cinta yang tanpa pamrih. Cinta yang ikhlas. Ia membiarkan semuanya terjadi bahkan ketika kita, manusia, anak-anaknya, memperkosanya berkali-kali, merusaknya tanpa memikirkan masa depan dan diri sendiri.

Tapi saya tahu dalam cintanya pun ia tidak diam. Kita sebagai manusia harus dengan jeli melihat itu semua. Alam memberikan tanda-tandanya. Dan itu semua karena cinta bukan karena ketakutan.

Manusia hidup dengan rasa ketakutan. Takut lapar, takut tak pernah cukup, takut menyinggung perasaan, takut berbicara, takut hidup, takut mati, dan lain sebagainya. Siklus ketakutan itu tidak pernah berakhir ketika dirimu terus menerus memberinya makan.

Saya merasa sudah waktunya kita berbicara tanpa ketakutan. Sudah waktunya kita menyingkap tabir apa yang selama ini menahan kita membicarakan hal-hal yang menyakitkan untuk mencari solusi. Menyembuhkan luka diri kita masing-masing, perempuan dan laki-laki. Menemukan kembali keseimbangan alam kita masing-masing. Bersama-sama dan tidak sendirian.

Saya berterimakasih saya selalu dikelilingi kebaikan. Saya masih punya rasa percaya dengan manusia setelah apapun yang saya lalui. Saya percaya dengan menumbuhkan anak saya menjadi laki-laki yang baik, saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini ketika kita mau percaya dan menjalani apa yang kita percaya. Saya percaya dengan kebaikan seperti bagaimana saya pun percaya dengan cara kita membicarakan mengenai kegelapan kita.

Kandy, Sri Lanka, 20 Oktober 2017