Sembilan Matahari Menguasai Kota

Sembilan matahari turut terbangun subuh tadi, menerangi kota hingga seluruh penduduknya silau akan cahaya. Tidak sampai tengah hari, awan gelap menaungi dan menjatuhkan segenap lautan hingga membilas seluruh permukaan kota.

Aliran airnya membasuh hingga ke desa-desa. Dan laut. Dan laut. Larut bergemuruh dengan doa. Melarikan karma pada asal muasalnya.

Sejenak hening merayapi goa, dimana masa lalu berdengung hadir dalam jejak cerita yang meninggalkan petunjuk-petunjuknya untuk dipahami.

Sekian orbit planet telah bergeser. Aku meratapi langit dan bintang utara. Melihat kabar yang berjatuhan dari ketinggian dan menangkapinya bagaikan kehujanan akan cerita.

Yogyakarta, 18 Oktober 2021

Kutitipkan Kegelapan

Aku menitipkan kegelapan dalam dunia kata-kata. Ketika seringkali aku mencoba membeli beberapa cangkir atau piring yang sepasang-sepasang, aku kerap menahan diriku akan harapan. Aku terbiasa menahan nafas sebelum memutuskan segala sesuatu. Dunia di dalamku berombak tajam akhir-akhir ini. Tsunami-tsunami kecil yang tak tertahan, mendobrak tembok-tembok perasaaanku. Kecemasan yang tak berujung. Kekhawatiran yang tak ada alasan. Aku terbiasa bernafas dalam tenggelam, hingga insang tumbuh pada leherku. Namun seperti bisa ular, terkadang bisa penuh racun itu naik sampai ujung lidahku yang kucoba tutup erat-erat.

Sudah nyaris tiga bulan penuh, di sekian pagi aku mencoba menatap ke arah gunung berapi. Terkadang ia meletus, meluapkan asapnya. Sudah beberapa kali sekian bulan terakhir. Kadang aku bersepakat seharusnya mereka menamai gunung-gunung ini dengan nama perempuan. Karena emosi yang terkandung di perutku seperti lahar-lahar yang menunggu dikeluarkan. Emosi itu sungguh perempuan.

Jika aku tengah mencari akar dari kecemasan-kecemasan, aku melihat orang-orang tua berlalu di mataku. Berjatuhan bagai bencana-bencana yang telah berlalu dan telah terlewati sekian tahun belakangan. Ingatan-ingatan itu menyeruak masuk, bau rumah sakit seolah menyekat tenggorokanku hingga tak ada kata keluar dari mulutku. Bau alkohol yang tajam. Darah yang berceceran. Semua jenis kotoran. Semua dan segala kelemahan. Semua rasa sakit. Semua emosi yang tumpah di lorong-lorongnya. Semua ketidakmampuan. Semua ketidakberdayaan.

Aku melalui pagi-pagi di Yogyakarta di atas motorku. Terjerembab menghadapi kemacetan senja. Aku sudah tak terbiasa menghadapi begitu banyak orang. Membayangkan perjalanan panjang tiba-tiba tak lagi terpikir dalam ingatanku. Tidak bergerak dari kota ini seolah menjadi biasa saja. Aku bahkan tak terbayang untuk mengunjungi siapa-siapa. Pergerakanku akhir-akhir ini terlalu banyak ke dalam, menyelusuri lorong-lorong yang gelap akan ingatan. Terbangun dalam mimpi-mimpi bawah sadar yang tak disengaja. Berada dalam tempat-tempat yang tak kuinginkan walau terpaksa, walau semua perjalanan itu kulakukan dari ruang kamarku belaka. Pandemi ini bagai penjara yang membuatmu nyaman melingkar dalam kegelapanmu sendiri. Ruang-ruang menjadi mampat. Virus itu tak hanya bergerak pada ruang udara, namun juga pada ruang gerak hidupmu yang biasa. Merubah kebiasaan dan kebutuhan-kebutuhanmu hingga dirimu membatasi diri untuk hanya berkompromi.

Aku tak ingat lagi bagaimana melawan dan ini berbahaya. Sedangkan di bagian-bagian dunia yang lain tengah bergejolak. Orang-orang mati ditembak di jalan-jalan. Semua tatanan sosial berubah panjang dan terekam dalam layar-layar. Cerita-cerita gelap, film-film yang bagai mimpi buruk, mengalir begitu saja dalam sekian tombol akses. Begitu mudahnya melarikan diri dari kenyataan akhir-akhir ini. Seringkali semua film sains fiksi itu berubah menjadi kenyataan di dunia yang sekarang. Aku merasa membelah diriku menjadi sekian kepribadian. Berada di ruang yang berbeda-beda dalam sepersekian detik dari terlalu banyak pilihan. Namun lagi, aku tak ingat lagi bagaimana melawan dan ini berbahaya.

Jika kegelapan mewujud bagai kata-kata, kegelapan merawatku di kota ini bagai malam yang tak berbintang. Aku mencari sekian kerlip di angkasa dan tak jua menemukannya. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat mencoba menenggelamkanku kembali ke dalam lumpur ingatan. Kegelapan tak hanya berhenti di sana, ia juga melahap janji demi janji. Yang semakin jauh untuk digapai. Seolah selalu ada satu tarikan nafas panjang yang harus kuhembuskan untuk mencapainya dan seperti Sisifus, hal-hal itu tak juga tiba. Bola-bola kesabaran yang disarankan semakin besar, bergulir entah di jurang yang mana.

Aku tak tahu apakah jika kegelapan kutitipkan, aku akan menemukan harapan.

Kematian Seorang Diktator

Saya membayangkan bulan Mei 1998. Pekat hitam di jalanan. Asap hitam. Kekerasan. Perkosaan. Pembakaran. Penjarahan. Teriakan-teriakan. Suara-suara tembakan. Semua dan segala jenis kekacauan.

Saya membayangkan bulan ini, Oktober 2011. Diktator yang tertangkap di gorong-gorong. Diseret paksa. Ditangkap massa. Dipukuli. Ditembaki. Disodomi. Tangisannya tak didengar. Pembunuhannya disiarkan dengan gempita kepada dunia melalui layar ponsel. Mayatnya menjadi latar belakang foto bersama. Dipertontonkan di kulkas pendingin bersama bekunya daging dan bau pasar. Membiru, busuk dan gelap.

Pandangan saya menggelap. Mungkin inilah yang dinamakan karma. Semuanya mendadak terlalu sureal.

Saya membayangkan lagi, seandainya tiga belas tahun yang lalu, kita semua menggantung Suharto. Memburu semua anak-anaknya dan memberondong semua yang membelanya. Mempertontonkan mayatnya dan berfoto bersama di depan mayat-mayat mereka.

Saya tidak tahu apakah kebencian yang mendalam membutuhkan piala kemenangan. Apakah kebencian yang teramat sangat menjadikan kita kumpulan binatang yang perlu memamerkan semua piala mayat-mayat para musuh kita. Memperlakukan mereka bagai sampah dan menyorakinya dengan girang.

Saya teringat lagi 1965, kita pernah menjejerkan kepala-kepala orang-orang yang dianggap komunis di jalan-jalan. Memacung dan membiarkannya sebagai peringatan. Menghilangkan dan membuang paksa mereka semua ke dalam ingatan kelam sejarah bangsa ini. Sungguh celaka ketika saya tidak meragukan kapabilitas kita sebagai manusia untuk melakukan kekejaman yang sama.

Saya bertanya-tanya apakah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan seseorang menjadi begitu besar dan kejahatan yang sama layak diperlakukan kepadanya? Apakah keadilan ketika seorang diktator mati tua tanpa diadili ataukah lebih adil ketika kita merayah dirinya bersama-sama? Apakah dendam selalu menjadi pembenaran dalam sejarah kemanusiaan kita? Bahwa kekerasan adalah jalan. Bahwa kekerasan adalah penyelesaian. Saya mencoba mengerti, apakah daya seseorang ketika pilihan atasnya adalah hanya membunuh atau dibunuh? Apakah ribuan tahun peradaban kita tidak pernah menghasilkan pilihan-pilihan yang lebih bijak? Saya mendengar Darwin tertawa di benak saya.

Tiba-tiba saya tidak tahu lagi harus menaruh rasa sesak yang membuncah di dada saya. Tidak. Saya tidak menangisi Qaddafi. Saya juga tidak menangisi Suharto. Saya menangisi pertanyaan-pertanyaan yang menusuk mengenai keadilan ketika kekerasan menjadi jalan. Dan saya lebih menangisi dunia yang membiarkan itu semua terjadi.

Ditulis 9 tahun yang lalu. Didokumentasikan hari ini.

Segalanya Hujan

Aku merasakan segala dalam diriku terasa hujan

Penuh akan air

Sesak akan udara

Di laut yang menjadi tubuhku

Aku megap-megap

Kedua tanganku mencoba meraih sesuatu untuk berpegangan

Agar tidak tenggelam dalam kesenyapan yang tanpa suara

Di dalam gelap,

Aku melihat guruku menyalakan agni

Di kuburan-kuburan yang nun jauh di sana

Di gua-gua yang sesunyi dasar laut

Aku mendengar sekian lantunan doa

Dalam riuhnya busa ombak

Tanganku meraih sesuatu

Berpegangan pada sulur-sulur rambut Ibu

Sepasang ular emas mengendarai cuping telingaku

Tidak ada yang membisikku

Ketika aku mengambil buah kuldi yang kesekian

Dalam lingkaran kehidupan yang ini

Pintu segala yang gelap itu sudah terbuka

Arus perpindahan semua cahaya sudah terlihat

Betapa tipisnya segala sesuatu

Semua dupa sudah dinyalakan

Butir-butir beras sudah diterbangkan

Sepasang naga tengah kawin di langit tanahku

Semua leluhurku menungguku memulai upacara

Di hutan yang penuh air hidup

Dalam tenggelam

Aku meraih sesuatu

Belku, pisau kartikaku dan memulai berdoa

Yang penuh dengan bunga

Memotong semua klesha

Mengandung Bara

Hari ini api seperti tumbuh dan berkembang di perutku

Membakar rahimku sampai ke dalam,

sampai ke segalanya

Menuntaskan segala emosi dan luka yang tersimpan

Semua hal yang tak pernah kuijinkan terjadi padaku

Atau masuk padaku

Api itu membakar habis semuanya

Semua lapisan dan aku melihat semua peristiwa kebakaran itu sampai tak berkedip

Mengatasi luka adalah dengan menyaksikannya secara penuh

Menamainya

Menyebutkan para pelakunya

Menceritakan semua peristiwa

Merasakan betapa gelapnya dunia

Betapa kelam

Di rahimku aku menyaksikan betapa kelamnya dunia

Sehingga cahaya api kunyalakan untuk menghanguskan kegelapan

Hingga aku melahirkan bara.

Cinta di Kala Corona

: pacarmerah, Sam, setelah dua puluh tahun

Ciuman-ciuman kedatangan dan perpisahan dibalut oleh lapisan masker yang meraih rindu dengan gemas. Namun cinta muncul ketika segala pertanyaan-pertanyaan kerinduan dalam hidup dihadapkan oleh pandemi kematian.

Cinta yang baik adalah yang tanpa penyesalan. Cinta yang baik adalah cinta yang tersampaikan. Cinta yang baik adalah yang tak patah arang dalam segala aral melintang.

Cinta yang baik itu akhirnya hadir dalam hidupku. Kau hadir lagi dalam hidupku. Dalam satu telpon jarak jauh setelah dua puluh tahun lamanya. Dalam suara serak yang tidak basah, namun banjir akan rindu yang tak terkatakan. Dalam jawaban perasaanku yang tersapu oleh segenap badai peristiwa. Di titik itu aku mencoba tenang-tenang saja, walau aku tak baik-baik saja.

Aku membutuhkan sekian bulan untuk mencerna segala sesuatu. Hingga di satu titik balik sebuah peristiwa, aku memutuskan untuk menelponmu malam-malam. Di saat itu, aku tahu diriku membutuhkanmu untuk mengisi ruang kehadiran yang semakin membesar kian hari. Bahwa jauh di dalam diriku, segala benih yang tersimpan itu sedang menyeruak tumbuh kembali.

Kita selalu menghendaki ini. Walau waktu telah berjalan dua puluh tahun. Walau segalanya melewati jalan yang memutar. Walau aku telah pergi jauh, jauh sekali untuk menemukan jalan pulang menujumu. Kita yang saling bertujuan pada satu sama lain. Dalam cerita cinta yang baik, kita berhak mengisinya dengan kebahagiaan.

Mencintaimu di kala corona mengajarkanku bahwa rindu ini tak akan habis dengan mencuci tangan.

20 Tahun Lamanya Perjalanan

: pacarmerah, untuk Sam yang tersayang

Aku seperti mengingat pertemuan pertama kita, hampir dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya mengingat kita yang saling berpelukan. Kecupan. Sama-sama tersenyum sedikit malu-malu.

Aku mengingat genggaman tanganmu. Ciuman di atas bis kota yang kucuri-curi di kala senja. Tatapanmu di kala itu. Kenakalan-kenakalan kecilku yang kau suka. Kenakalan-kenakalanmu yang jenaka yang kusuka. Bersamamu aku mengingat semua perjalanan itu. Entah berapa banyak semua perjalanan itu telah kita tempuh. Dari satu bis ke bis yang lain, mengitari pelosok ibukota dan juga sampai di kota lahir ibuku.

Aku tak mengerti sekarang. Apa yang kupikirkan saat itu? Mengapa ingatan kerap mengkhianatiku, di kala aku mengkhianati apa yang sebenarnya baik-baik saja di antara kita. Mengapa aku tak memilih jalan bersamamu di kala itu, yang juga baik-baik saja? Dirimu yang bersetia. Aku yang memilih pergi, memilih luka demi luka.

Kau bertanya padaku beberapa hari terakhir belakangan: Apakah kamu menyukai luka? Aku menatapmu lekat akhir-akhir ini setiap kali aku mencoba menjawab pertanyaan itu. Di kepalaku, aku tahu bahwa cinta bukanlah luka. Bahwa cinta bukan lagi sebuah kesakitan. Siklus ini telah berjalan terlalu panjang. Kerikil demi kerikil telah berubah menjadi duri. Menghujam bagai jarum.

Hari itu di Gambir, sosokku pergi untuk mematikan rasa. Sosokmu tertinggal dan berduka. Kita menangisinya dua puluh tahun kemudian. Begitu lama dan jauhnya jalan menuju kepulangan. Begitu peliknya waktu menyimpan kenangan.

Duka dan luka ingin kuselesaikan disini. Sejam sebelum ulang tahun bapakku. Apapun yang berputar selama ini sudah harus kuhentikan dan selesai di titik ini. Selesai dan menjadi kompos di dadaku. Janjiku padamu sekarang: di atas semua ini cinta akan tumbuh dengan sehat dan baik-baik saja. Yang akan kurayakan sekarang adalah menemukanmu, menemukan diri yang utuh, cinta yang saling melengkapi dan bukan lagi kehilangan demi kehilangan.

Jika diriku mau jujur padamu, yang kutangisi sepagi itu adalah memori tubuhku, rahimku dan memori rasa yang kau masuki dan tidak pernah pergi dariku. Sesuatu yang penuh hingga membekas terlalu dalam. Begitu dalamnya, kunci ingatan itu kulempar entah kemana dan tak pernah kubiarkan seorangpun untuk memasukinya lagi. Aku merasa sepotong bagian dari jiwaku yang kau simpan akhirnya membongkar itu semua. Bahwa selama itu aku menyimpan ingatan rasa sedalam itu. Dan bahwa kaulah yang menyimpan itu semua dengan baik, memeliharanya dan merawatnya sampai suatu hari ini semua menemukan titik tumbuh bersamanya yang tepat.

Kurasa aku akan terisak bahagia melihatmu dalam sekian jam ke depan. Kalau ini adalah bentuk rindu, ini adalah sesuatu yang sudah melampauinya.

Sampai lumat.

Sampai semua terlahir baru.

Jogjakarta, 20 menit menuju 5 Oktober 2020

Hujan Pertama di Kalingga

Pagi itu aku membenamkan kepalaku di air kolam dalam-dalam

Membasuh kenangan, semua tangis air mata, semua kedukaan yang telah menemukan ujung jalan

Sekali lagi

Semua cahaya tersibak dari hamparan hutan jati menuju pantai di Utara, menyibakkan sekian kebenaran:

Cinta bukanlah luka

Cinta bukanlah rasa sakit yang menusuk dada

Cinta bukanlah mematikan rasa

Cinta bukanlah yang tanpa kesadaran dan buta

Cinta bukanlah yang memabukkan dan membuat lupa akan diri

Jika ada kolam dimana aku lebih layak terbenam, kurasa senja di Kalingga sore itu menunjukkan sekian arah angin yang terhembus

Bahwa waktu masih memberi kesempatan untuk kenangan-kenangan baru

Bahwa: cinta adalah sesuatu yang bersetia dan selalu mengada

Dan pada akhirnya kutemukan semua itu di dalam dadaku sendiri

Seluas samudra

Sepanjang horizon dan lautan

Tak habis-habis. Tidak pernah menghilang dari genggaman. Juga tak juga kalah dari ketakutan dan cobaan.

Walau Kalingga membasuhku dengan badai petirnya yang pertama, seperti sepucuk bambu, aku pulang dengan hati yang teguh dan tak terbantahkan oleh badai yang menderu di luar sana.

Tiamat di Selatan

Di Selatan, walau terhapus angin, memori bertebaran di udara. Duka-duka ditinggalkan pada ombak.

Dititipkan pada Ibu yang tertua. Tiamat. Yang darinya semua lahir. Yang darinya semua berpulang.

Jarak perjalanan sekarang merekat. Namun memori berjalan begitu jauh. Akan penglihatan laut yang pertama. Akan sececap air asin yang mengundang tawa. Bahagia. Tarian di atas karang pada suatu waktu. Di senja yang mengarah tenggelam. Terekam pada sebuah masa.

Yang terakhir adalah sekian sosok yang berdoa menjelang bulan menuju purnama. Tepat sebelum semua pintu ditutup, perbatasan digariskan kembali. Kita yang pernah begitu terbuka. Dan sekarang pada nafas kita tercekat.

Suara nyaring genta doa begitu pekat. Damaru bertalu. Mantram mengalir dari sekian puncak Himalaya sampai ke pesisir Jawa. Jodoh seringkali adalah segalanya. Seribu tahun berlalu. Seribu tahun kita saling berpulang. Perjalanan jiwa yang telah mengarat. Kristal pada iman.

Di Selatan, laut masih setua yang dulu. Kedukaan telah berubah menjadi sekian kerinduan yang diikhlaskan.

Aku memanggil-manggil namamu. Oh semua yang tersayang. Sampai namaku dibisikkan. Sri Ningsih. Energi hidup yang penuh kasih.

Dalam semua nama kau yang disucikan. Di Selatan, aku bersimpuh padamu dengan haru. Dan selalu, riak-riakmu mencapai kedua kakiku dengan perlahan. Membasuhku hingga biru.

Saidjah dan Adinda

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Aku melihat samudera luas di Pantai Selatan ketika datang
Ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam ;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam,
Ikan hiu berebutan datang ;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : “siapa di antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air ?”-
Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena
ia mata gelap ;

Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan
kayu berpijar jatuh menimpa mayatku ;
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api ; –
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu dimana aku kan mati
Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik
kelapa untuk ibunya ;
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,
di dalam semak, seperti Si Unah ;

Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi
orang lain akan berseru : “Lihat Saidjah di sana !”
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya
sudah putih ;

Bila aku mati karena tua, berambut putih, para perempuan meratap
sekeliling mayatku ;
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu ; dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali ; –
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang mati kulihat di badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah ;
Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi ;

Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput, ……

Aku akan mendengarnya…

(dikutip dari sajak Saidjah untuk Adinda, salah satu novel klasik favorit, Max Havelaar, Multatuli)