Wangi Gunung di Eloprogo

: Sherab Dorji


Air mengalun dari kejauhan

Membawa wangi gunung

Menjadi Elo

Dan Progo

 

Orang suci itu bertapa di bantaran sungai ini

Seribu tahun

Ingatanmu menggema hingga relung hati

Berapa kehidupan yang lalukah kita semua pernah disini

Percakapan yang pernah terjadi

Dan jejak sekian memori di Jawadwipa

 

Sebelas purnama telah berlalu

Hingga bau Dewi Kali menyeruak di gerhana bulan yang semalam

Sisi gelap sekian dewi muncul ke permukaan, menggenapi segala ramalan Shiva Shakti

Pintu kehancuran telah lama menggedor bumi

Pembersihan demi pembersihan telah datang bertebaran

Juga dalam hati kita masing-masing

 

Di ruang meditasi

Mantram mengalir serupa sungai setelah hujan deras membasahi tanah Borobudur

Dengan drum dan lonceng vajra, kau memanggil segala roh agung yang telah berlalu

Siang itu burung pipit dan kupu-kupu bersemilir di sekitarmu

Seperti sekian kehidupan, aku tetap menangkap sosokmu

Yang mengabadi dalam segenap memoriku

Eloprogo, 17 September 2016

Alam Adalah Air Susu Ibu Kami

“Oel nam nes on na, nasi nam nes on nak nafu, naijan nam nes on sisi, fatu nam nes on nuif.”
“Air adalah darah, hutan adalah rambut, tanah adalah daging, batu adalah tulang.”
-Falsafah Molo

“Jika mau merusak hutan, lebih baik keluar dan mati saja.”

Kalimat tegas itu merangkum sikap Aleta Ba’un dalam menghadapi para pengeksploitasi sumber daya alam di Molo, Kabupaten Timor Tengah, yang merupakan jantung Pulau Timor. Berkali-kali mantan pembantu rumah tangga yang baru saja lulus menjadi sarjana hukum perdata ini menjadi penggerak utama masyarakat adat di Molo menghadapi perusahaan-perusahaan tambang, dan menang.

Tumbuh dalam keluarga petani dan terbiasa tinggal di pinggir hutan, Mama Aleta, sebagaimana ia sering dipanggil, menjelaskan motivasi perjuangannya dengan kalimat sederhana bahwa ia sangat mencintai hutan. Maka dari itu, ketika segala kecintaannya terancam, ia maju menjadi orang terdepan yang menentang perusakan alam di daerahnya. Ketika tambang marmer beroperasi, debit air berkurang, mata air menghilang, binatang dan tumbuhan menghilang, dan air mereka tercemar. Bahkan batu Anjaf yang disucikan dan dianggap batu yang menyimpan nama-nama leluhurnya dibelah. Mama Aleta tahu ia harus berbuat sesuatu.

Ia mulai terlibat kerja-kerja advokasi pada tahun 1999 dengan mendirikan Yayasan Oat atau Organisasi Attaemamus yang artinya “mengayomi, melindungi, memperbaiki, merangkul, dan mempertahankan”. Bersama Yohance Lase, Yeheskiel Nune, dan Lambert Kase, ia diam-diam melakukan pertemuan-pertemuan di malam hari untuk mulai mengorganisir masyarakat. Seringkali ia harus meminjam motor diam-diam — Aleta menyebutnya “curi motor” — untuk bergerilya dalam pertemuan-pertemuan pengorganisiran. Rapat-rapat gelap ini seringkali dikamuflasekan sebagai pelaksanaan ritual adat sehingga tidak dicurigai oleh aparat.

Tahun 2001, Mama Aleta mengaku bahwa dia belum pernah berdemo sebelumnya. Pada waktu itu, mereka membawa orang-orang dari desa berjalan sejauh tiga kilometer untuk mengusir tambang marmer dari tanah mereka. Karena belum berpengalaman, mereka tidak mempersiapkan apa-apa. Jumlah mereka sekitar 300 orang. Ketika mereka mulai kelaparan dan mau mencari makan, mereka dihadang oleh tentara. “Kami mau cari makan, atau kita baku bunuh saja di sini,” kata Mama Aleta menghadapi para tentara yang menghalangi mereka untuk keluar dari tempat itu. Ketika para anggota DPR datang, mereka diperbolehkan mencari makan.

“Saya hutang beras di warung-warung kecil, dapat tiga periuk. Satu periuk mie instan, dua periuk nasi. Tiap orang mendapatkan kurang lebih satu sendok makan. Tetapi itu cukup,” paparnya mengenai pengalaman pertama kali mereka mendemonstrasi tambang. “Saya tidak boleh lemah. Mungkin dalam hati nurani ada sedikit rasa takut. Tetapi kami sudah banyak, kami hidup untuk mati,” lanjutnya. Baginya keberanian adalah sesuatu yang menular.

Mama Aleta menghabiskan waktunya mengorganisir pada jam-jam yang tidak bisa ditentukan. “Seringkali saya pulang dan masuk rumah lewat jendela,” katanya setengah tertawa. Terkadang ia harus meninggalkan suami dan ketiga anaknya. Pada awalnya suaminya sempat marah dan cemburu karena Aleta seringkali pulang malam, tetapi seiring waktu, Liftus suaminya mendukung penuh apa yang dikerjakan Aleta. Ia sepenuhnya menggantikan Aleta di rumah dan menjadi ayah-ibu bagi anak-anak mereka.

“Sebenarnya dalam adat kami, kami sudah paham gender dan saya mempraktikkannya dalam hidup keseharian saya,” tegas Mama Aleta ketika sedang menceritakan kehidupan keluarganya.

Bahaya yang dihadapi Aleta pun tak luput menimpa keluarganya, beberapa kali mereka harus hidup berpindah untuk menghindari teror dari aparat dan preman-preman yang disewa oleh perusahaan tambang. Rumahnya dilempari batu, kakinya dibacok, dan berkali-kali dirinya menjadi target pembunuhan.

Pada tahun 2006, ketika sedang menghadapi perusahaan tambang, Mama Aleta dan penduduk kampung harus tidur selama setahun di hutan. Waktu itu, anak bungsunya Ainina yang berusia dua bulan ia bawa mengungsi ke dalam hutan. Mereka harus terpisah dengan keluarga yang lain. Mama Aleta menyusui Ainina di hutan, namun karena makanan mereka terbatas, Ainina menjadi kurang gizi dan terancam hampir mati. “Anak itu jadi kurus sekali, saya sudah hampir merelakannya waktu itu. Tetapi akhirnya ia selamat dan sehat sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi Mama Aleta perempuan adalah sosok yang sangat dekat dengan sumber alam.

“Perempuan seperti kami bisa dalam sehari bolak-balik ke kebun, mengambil air, kayu, dan kebutuhan lainnya. Kamilah yang mengetahui isi hutan dan bagaimana memanfaatkannya. Kami jual apa yang bisa kami buat. Kami tidak jual apa yang kami tidak bisa buat,” paparnya.

Dalam sebuah demonstrasi besar dimana 200 orang perempuan menduduki tambang, Mama Aleta meminta para perempuan membuka bajunya dan memperlihatkan payudara mereka lalu berseru: “Jika ingin mengambil tanah kami, belah saja dada kami.”

“Semua orang punya ibu. Kami menggunakan bahasa yang akan mereka mengerti. Alam ini adalah ibu yang menyusui. Mereka tidak berani berlaku kasar kepada perempuan. Akhirnya mereka pergi terkencing-kencing,” cerita Mama Aleta. Ketika sedang menduduki tambang, mereka membawa serta alat tenun bersama mereka, dan mereka menenun di situs tambang hingga pihak perusahaan tambang menyerah.

Ancaman-ancaman pencaplokan sumber daya alam di Pulau Timor belum berhenti, namun hal ini tidak membuat Mama Aleta gentar. Saat ini ia telah berhasil mempersatukan tiga suku di wilayah Molo yaitu suku Molo, Amanuban, dan Amanatun. Sejak tahun 2010, mereka membuat Festival Ningkam Haumeni. Ningkam Haumeni berarti “lilin dan cendana.” Hasil bumi inilah yang membuat Belanda tertarik dengan bumi Timor, hingga cendana pun hilang ketika pemutihan diberlakukan oleh Dinas Kehutanan. Padahal cendana termasuk pohon yang digunakan dalam ritual adat mereka dan ketika dipotong harus dilakukan dengan diam-diam. Festival Ningkam Haumeni diselenggarakan untuk menyatukan ketiga masyarakat adat menjadi satu kekuatan.

Mama Aleta yang masih keturunan raja — di mana ayahnya adalah salah satu tetua adat yang berwenang untuk menentukan dan memberhentikan seorang raja — percaya bahwa mekanisme adat mereka memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi alam dan kehidupan mereka. Ia melihat kerja-kerjanya melawan tambang sejalan dengan mekanisme masyarakat adat dalam mempertahankan wilayah dan hak adat mereka.

“Sejak jaman Belanda, perusakan alam telah terjadi di tanah kami. Adat kami dipecah-pecah. Sudah saatnya kita meraih kembali apa yang menjadi bagian dari sejarah kita dan mempertahankan kelangsungan adat dalam kehidupan,” tegasnya.

 

 

Tulisan ini diterbitkan untuk media internal AMAN (Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara). Tulisan ini dibuat setelah wawancara personal dengan Mama Aleta selama di Tobelo, Halmahera Utara, 2013. 

Setahun Kemudian

Setahun kemudian aku tak lagi sayang

Menyayangkan namun tak pernah menyesali segala sesuatu

Roda kehidupan selalu berputar

Seperti gunung-gunung, kubiarkan kau pergi mencari jejak diri

Dan aku tetap di bawah sisi Himalaya yang lain

 

Seorang brahmin pernah membaca garis tangan kita berdua

Betapa jalan itu begitu berbeda

Namun aku tetap percaya bahwa nasib tetaplah dalam genggaman

Dan pilihan yang kita ambil tetaplah pilihan kita sendiri

 

Mungkin kebenaran kata-kataku sekarang

Mengandung sendunya butiran es yang menerpa

Di turunnya hujan salju yang pertama di Kathmandu

Sekian hal datang dan pergi

Hanya pada kedalaman diri kita akan mengolah sekian peristiwa

 

Dan akan kubiarkan airmatamu mengaliri Sanamberi

Luka diri yang terus menerus menganga ketika kau memilih untuk bergantung pada kesemuan dan ilusi

Bagai revolusi yang mengoyak tanah lahirmu suatu ketika

Dan entah kapan kau akan memilih rekonsiliasi pada dirimu sendiri

 

Sagarmatha tak pernah kemana

Hanya puncak-puncak diri dan ego yang kita taklukkan dalam perjalanan menuju ke puncak-puncak Himalaya

Saat ini Sagarmatha masih bercokol dalam dirimu

Yang pada akhirnya kau menyadari bahwa tak ada jalan lain selain turun ke bawah

 

Ini sudah setahun kemudian

Diri ini akan terus menerus berjalan

Karena yang pasti adalah selalu dan selalu

Akhir dari segala

Kematian yang menanti kita di ujung jalan

Maka itu aku tak pernah membuang waktu

Dalam gundah gulana sedalam lautan

 

Kesedihan bagiku adalah mata air di tanah Jawa

Dimana diriku mumbul

Ke permukaan segara

Dan perasaanku mengalir ke Laut Selatan

Keintiman Yang Universal

pass me. pass me slowly if you can
for, unlike memory, i don’t stay long

lewati aku. lewati aku pelahan kalau kau bisa
sebab, tak seperti ingatan, aku tak tinggal lama

(“atas YANG HANCUR” Dina Oktaviani, Juni 2011)

Kota-kota kesepian. Gema suara penyair yang lirih. Antara warna warni dan hitam putih. Kata-kata menyengat. Kenangan. Rekaman masa lalu dan para hantu. Kedekatan yang tak lagi membutuhkan bahasa. Keabadian yang membeku dalam dua belas foto dan dua belas puisi.

Berada di tengah-tengah ruangan pameran Sangam House malam itu, dalam cahaya hangatnya, samarnya suara penyair Dina Oktaviani dan melihat dari kacamata seorang Dalih Sembiring, getar keintiman karya mereka berdua menyeruak ke dada para pengunjung. Ruangan pameran seolah berubah menjadi mesin waktu yang sesaat, mengingatkan kita pada hal-hal yang familiar, hal-hal yang ingin dikenang sekaligus ingin dilupakan.

Intimacy: Homage to Hometown and Untitled Memory (Kepada Kampung Halaman dan Ingatan Tak Bernama) adalah gabungan pameran foto dan puisi kolaborasi dari Dalih Sembiring dan Dina Oktaviani. Foto-foto Dalih adalah refleksi keintiman yang dirasakannya pada kota-kota dimana ia tumbuh: Binjai, Dili dan Yogyakarta. Puisi-puisi Dina adalah respons eksperimental yang dilakukannya terhadap foto-foto Dalih. Ide awal pembacaan puisi di pameran berubah menjadi puisi yang turut menyertai foto-foto yang dipamerkan.

Foto-foto Dalih mengandung kualitas sudut pandang personal yang kuat memikat. Baginya memotret ulang ingatannya akan kota-kota dimana ia dibesarkan merupakan bagian dari pendewasaan dirinya. Bagian dari dirinya untuk berdamai dengan masa lalu. Bahwa realitas kekinian dalam setiap kota bukan lagi menjadi momok, seperti dalam fotonya “Till Death Do Us Together” (Sampai Maut Menyatukan Kita) yang diambilnya di pemakaman Santa Cruz. Foto ini menampilkan warna-warna ceria, kontras dengan imaji mengenai kematian dan sejarah kekerasan di balik tempat tersebut. Foto-fotonya tentang Dili cenderung mengandung mekarnya harapan dan tawa seperti dalam “Shy Girls” (Dua Gadis Pemalu), yang diambilnya di Bairro Pite, desa dimana ia pernah tinggal. Perubahan persepsinya tentang Dili di masa lalu dan masa sekarang berubah ketika orang-orang di Dili menyambutnya dengan sangat baik dalam kunjungannya yang terakhir. Perubahan ini tertangkap sepenuhnya dengan rasa penuh harapan dari balik kameranya.

Lain lagi dengan potretnya mengenai Binjai, kota kelahirannya. Disini Dalih mengenangnya dalam pilihan yang pekat akan masa lalu, semuanya hitam putih. Baginya kota Binjai masih memiliki jejak yang serupa mimpi dan ingatannya mengenai masa kecil. Foto-foto Binjai menampilkan refleksi kota yang terperangkap di masa lalu. Cenderung sepi dan diam. Seolah menangkap hantu masa lalu yang tak menakutkan malah cenderung melankolik.

Yogyakarta adalah kota dimana akhirnya Dalih bermukim. Atmosfir dalam foto-foto cenderung sangat kontemporer sekaligus sangat intim. Orang-orang yang menjadi objek fotonya adalah orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Persingunggan-persinggungan ini telah mengajarkannya keintiman yang lebih rumit dan mendalam di antara persahabatan juga percintaan. Warna Yogyakarta yang amat personal baginya.

Dina merespon jiwa-jiwa yang lahir dalam foto Dalih. Proses ini turut menstimulasi lahirnya dua belas puisi Dina. Semuanya ditulis tangan dan terbingkai menyertai setiap foto. Baginya tema-tema dalam foto-foto Dalih sejalan dengan apa yang selama ini dieksplorasinya. Tema-tema yang belum selesai: jejak kampung halaman, masa kecil, masa lalu. Kedekatan mereka sebagai sahabat membuat Dina tidak sepenuhnya menjadi orang asing dalam menanggapi foto-foto Dalih. Dina pun terlibat menjadi salah satu jejak perjalanan Dalih ketika mereka berdua melakukan perjalanan ke Dili.

Dalam proses penulisan puisinya, Dina merasa menjadi lebih sadar dan lebih utuh ketika mengekplorasi kembali tema-tema yang juga dekat dengannya. Foto-foto Dalih dijadikannya kawan sekaligus lawan dalam proses kreatif penciptaannya. Proses evolutif yang terjadi di antara keduanya dalam proses pameran ini menjadikan pameran ini terasa unik dan menyegarkan dari sekian jenis pameran yang selalu mewarnai belantara kota Yogyakarta.

Puisi-puisi Dina seluruhnya ditulis dalam bahasa Inggris. Rekaman puisinya dijadikan latar suara yang menggetarkan dalam pameran ini. Reni, seorang pengunjung di hari pembukaan pameran, mengomentari dengan takjub efek dari puisi yang terlibat dalam pameran. Baginya yang terbiasa mendatangi berbagai jenis pameran di Yogyakarta, ia menemukan kebaruan dalam kolaborasi pameran ini. Kekuatan, kejujuran dan kedekatan yang ditampilkan baik dalam foto dan puisi membangun ruang keintimannya sendiri dengan para pengunjung.

Toni Tack seorang arkeolog senior dari Inggris dan pemilik Sangam House Jean-Pascal Elbaz, yang turut membuka pameran ini, sama-sama menegaskan betapa menggembirakan dan menyegarkannya melihat kolaborasi menarik dari generasi muda dimana mereka bisa merelasikan rasa keintiman yang menembus batas dan sekat-sekat budaya, etnis, negara dan bahkan waktu.

Dalih Sembiring yang juga berlatar belakang sebagai penulis bersama penyair Dina Oktaviani menampilkan kualitas karya yang mewakili sikap generasi mereka. Generasi kelahiran 80-an yang tak lagi terbebani dengan masa lalu melainkan mencoba menyikapi persoalan kehidupan dengan lebih enteng tanpa kehilangan kualitas kedalaman di saat yang sama. Mereka pun bergerak bebas menembus batas-batas kultural dan menjadi bagian dari dunia kreatif global. Mereka tetap dengan sadar mewakili dari mana mereka berasal dan menggali inspirasi dari ‘kampung halaman’, membungkusnya dan menampilkannya dengan memukau kepada dunia. Dalam prosesnya Intimacy berhasil menyampaikan rasa keintiman yang universal dan menyentuh siapapun yang datang ke dalam pameran ini.

Pameran foto dan puisi Intimacy berlangsung dari tanggal 30 Juni 2011 hingga 16 Juli 2011, di Sangam House (Restoran India, Butik, Ruang Seni dan Studio Yoga), Yogyakarta.

Dimuat di Suara Merdeka, Edisi Minggu, 10 Juli 2011

Ia yang Dapat Memanggil Ikan

Anda akan segera dapat mengenali Eliza Kissya, dengan baju hitam-hitamnya dan aksen warna merah yang selalu dipakainya sehari-hari. Anda juga dapat langsung mengenali tas ukulele yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia selalu memakai topi untuk menutupi kepalanya yang sudah tak berambut. Semua orang memanggilnya Om Eli.

Ia menjadi malu ketika ditanya untuk menuliskan namanya karena pengejaan yang seharusnya Elia menjadi Eliza.

“Orang-orang selalu berpikir saya ini perempuan sebelum bertemu saya.”

Eliza Kissya adalah Kewang (polisi adat) Haruku di Maluku Tengah. Ia adalah generasi keenam dari Kewang Haruku. Ia juga dikenal sebagai sang pemanggil ikan.

Tradisi Haruku dibagi menjadi Sasi Laut, Sasi Kali, Sasi Hutan, Sasi Dalam Negeri. Ada Sasi khusus yang bernama Sasi Lompa (ikan sejenis sarden kecil yang hanya ditemukan di Haruku). Sasi adalah larangan untuk mengambil sumber daya alam agar terjaga kualitas dan populasinya (binatang atau tanaman) bagi orang-orang Haruku. Sasi juga mengatur relasi manusia dengan alam dan di antara manusia di wilayah dimana Sasi dipraktikkan. Sasi adalah sebuah usaha untuk membagi dengan adil sumber daya kepada semua orang.

Sasi Lompa adalah larangan tradisional untuk mengatur keberlangsungan ikan Lompa. Hanya seorang Kewang seperti Om Eli yang dapat memanggil ikan Lompa dari laut untuk memasuki sungai mereka, Sungai Learisa Kayeli. Biasanya mereka panen satu atau dua kali dalam setahun, melalui ritual dan berbagai larangan untuk menjaga populasi ikan Lompa. Panen terakhir mereka dilakukan di tahun 2009. Saat ini dikarenakan oleh perubahan iklim dan pemboman ikan, muara menjadi tertutup. Terlalu tinggi untuk ikan Lompa dapat masuk ke sungai.

Selama bertahun-tahun, Om Eli telah berjuang melawan pengrusakan alam di wilayahnya. Ia telah menjaga dan menjadi penjaga lingkungan hidup di Haruku. Berdasarkan kerja-kerja yang dilakukannya Haruku meraih penghargaan Kalpataru untuk Lingkungan Hidup di tahun 1985, desanya meraih Satya Lencana untuk Pembangunan Berkelanjutan di tahun 1999 dan dedikasi personalnya meraih Coastal Award 2010.

Eliza Kissya dilahirkan di Haruku pada tanggal 12 Maret 1949, ayahnya adalah pegawai negeri sipil di Sukabumi, Jawa Barat. Ketika ayahnya meninggal, ibunya berjanji untuk membawa anak-anaknya kembali ke Haruku. Seharusnya kakaknyalah yang menjadi kewang, namun karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa maka warga desanya memilihnya untuk melanjutkan tradisi menjadi kewang. Ia menjadi kewang di usia dua puluh satu tahun.

Adalah masa-masa yang sulit baginya untuk mempelajari segalanya dari para tetua adat, namun hal ini tidak menghentikannya untuk terus belajar dan mengembangkan metodenya sendiri dalam menjaga lingkungan Haruku. Hal terberat dalam tugasnya menjadi kewang adalah bahwa tidak adanya pengakuan dari negara mengenai hukum adat di wilayahnya. Ketika UU Desa No. 5 – 1979 diperkenalkan oleh Orde Baru, norma dari sistem masyarakat adat diabaikan dan mulai lenyap. Generasi muda tidak peduli lagi mengenai hukum adat. Sulit baginya untuk membayangkan siapa yang akan meneruskan tradisi Haruku jika ia tidak lagi ada.

Om Eli tidak menyerah, ia mendirikan “Kewang Cilik” di desanya. Mengumpulkan anak-anak kampung termasuk cucu-cucunya sendiri. Membuat sebuah pusat pembelajaran kecil-kecilan dimana mereka dapat bermain sambil belajar bagaimana menjaga lingkungan dan mengapa adalah penting bagi mereka untuk mengerti kearifan lokal mereka sendiri.

Di tahun 2006 ketika penambangan emas mengancam daerah mereka untuk kesekian kalinya dan ketika para pejabat datang untuk menegosiasikan perihal ini, anak-anak SD menulis di poster mereka sendiri berkata:

Kami Ingin Mati Di Tanah Kami. Tolak Tambang Emas!

“Saya mencintai anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya rela untuk mati demi mereka. Ini adalah mengapa saya tetap terus memperjuangkan kelestarian tanah dan adat kami,” tegas Om Eli.

“Anak-anak kita dan generasi ke depan adalah harapan dan masa depan, adalah penting bagi mereka untuk memiliki kesadaran akan alam dan sejarah mereka sendiri,” ia menambahkan.

Alasan inilah yang menjadi motivasinya pada waktu-waktu tergenting ketika ia berjuang di pengadilan atau menghadapi kasus-kasus yang mendorong pada keterbatasan dirinya. Seringkali bahaya mengancamnya karena ia menghadapi persoalan-persoalan ini secara langsung.

Kasus seperti pemboman ikan membuatnya bingung untuk mengambil keputusan dan tindakan. Ketika ia menangkap seorang pembom ikan dan membawanya ke pengadilan, hal ini dapat menyebabkan konflik antar desa, apalagi pasca konflik Maluku ketika segalanya menjadi sangat sensitif. Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan pembom ikan pergi begitu saja, ia menjadi serba salah. Namun pada akhirnya Om Eli berhasil menemukan sebuah jalan dengan memberi ternak kepada keluarga pembom ikan sehingga mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri tanpa membom ikan lagi. Bagi Om Eli menjaga keseimbangan di antara manusia sama pentingnya dengan menjaga keseimbangan alam. Isu-isu lingkungan seharusnya memasukkan faktor-faktor manusia sebagai bagian dari kesatuan alam.

Pasca konflik Maluku, Om Eli menjadi relawan dalam proses rekonsiliasi. Desanya dibakar sampai rata dengan tanah. Ia mengumpulkan semua orang yang tersisa dan berkata bahwa menyimpan dendam adalah sia-sia, lebih baik berdamai saja. Ia membuat kaus-kaus dan tas-tas yang bertuliskan:

“Ale Rasa, Beta Rasa. Semua Orang Bersaudara.”

Ia menyebarkan kampanye perdamaian di wilayahnya, mengumpulkan komunitas-komunitas di Haruku untuk membangun hidup bersama kembali. Ia menulis lagu-lagu perdamaian dan bernyanyi bersama dengan semua orang:

Satu kandung
Satu hati, satu jantung
Hidup adik, hidup kakak
Ale rasa beta rasa
Satu dua satu kandung
Kandunge siyo kandunge
Mari beta gendong
Beta gendong adek jua
Kitong orang bersaudara

(Eliza Kissya)

Pada usia enam puluh tiga tahun, dengan ukulele buatannya sendiri yang dibuat dari kayu Pule, ia mulai menulis pantun dan menyanyikannya. Ia menyimpan ratusan pantunnya di sebuah buku catatan. Seringkali ia berpantun dalam pembicaraannya. “Saya terberkati dalam usia begini masih bisa belajar sesuatu seperti menulis pantun,” kata Om Eli. Ia bermimpi suatu hari dapat menerbitkan buku kumpulan pantunnya sendiri.

Dedikasi seorang Eliza Kissya tidak dapat diukur, sehari setelah infusnya dicabut sekeluarnya dari rumah sakit, ia menghadiri Kongres Masyarakat Adat IV di Tobelo, Halmahera Utara.

“Saya mungkin hanya seorang cangkul kebun, tetapi saya punya prinsip hidup. Dan karena itu saya telah berjuang sepanjang hidup saya.”

 

 

*tulisan ini diterbitkan atas wawancara personal saya dengan Eliza Kissya untuk publikasi media AMAN, saya suka memanggilnya Om Eli. Versi Bahasa Inggris pernah diterbitkan di Jakarta Globe dengan judul: Eliza Kissya, The Man Who Can Summon The Fish, edited by Dalih Sembiring.

PRIBUMI SIPIT

Saya ingat benar kata-kata Ayah saya sewaktu saya masih kecil,

“Mata kamu kaya cendol.”

Ayah saya benar, mata saya lucu kaya cendol, ia berbinar mengatakannya karena saya adalah putri kesayangannya.

Ayah saya kulitnya hitam seperti buah manggis, rambutnya keriting, di tahun 70-an foto-fotonya menunjukkan jejak tren rambut Afro dan tak lupa celana cutbray. Kadang orang menyangka dia berasal dari Indonesia bagian Timur. Orang yang menilai hanya pada permukaan saja sering berpikir ia adalah supir saya ketika ia mengambil rapot saya di sekolah. Mereka tidak sepenuhnya salah, dia memang sering menyupiri saya ke sekolah, tapi ia adalah ayah saya. Saya adalah darah dagingnya.

Ayah saya terlahir sebagai Ong Thwan Sing, di Sragen, Jawa Tengah di paruh akhir masa-masa kolonial Belanda. Panggilan kesayangannya adalah Wimpi, karena Eyang putri saya didikan Belanda. Ayahnya separuh Jawa dan separuh peranakan Hokkian, marga Ong, diaspora Cina di seluruh dunia menyebutnya marga Wang. Kami berasal dari garis istri Jawa. Kami tidak tahu kami generasi keberapa. Eyang saya dikenal sebagai Onggosutrisno, keturunannya memanggil dia Eyang Cinta.

Saya cuma pernah dapat satu lembaran garis pohon keluarga Eyang saya, yang semuanya cuma mencantumkan nama laki-laki, dan usaha saya mencari pohon keluarga putus di situ. Mereka berhenti di pesisir Surabaya. Entah tahun berapa, entah kapal yang mana. Entah dari pesisir Fujian atau Fukien yang mana, atau terhempas lalu dari Laut Cina Selatan untuk mencapai Pulau Jawa. Entah karena apa, yang pasti jelas adalah untuk melanjutkan hidup atau bertahan hidup.

Pendidikan akademis saya adalah sejarah. Saya ingat kata-kata sebelum saya masuk UGM, betapa sinisnya keluarga bapak saya yang dominan lebih mengaku Tionghoa daripada Jawa.

“Mau apa belajar batu?”, walaupun saya tahu itu adalah jurusan arkeologi atau jurusan yang dekat dengan fantasi masa kecil saya ketika ingin menjadi Indiana Jones, saya memilih diam.

Atau yang kasar seperti, “Memang Cina bisa masuk negeri?”

Saya menelan komentar itu sambil mengerjakan soal UMPTN. Saya tahu mereka masih trauma atas kerusuhan terhadap Tionghoa di Solo juga Jakarta pada tahun 1998. Tapi saya adalah generasi peranakan yang lain. Dan saya lolos baik UGM dan ISI di tahun 2002.

Keluarga kami memang aneh, memasuki jaman Orde Baru, ibu saya mungkin salah satu dari sedikit orang peranakan Tionghoa yang mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi negeri. Ayah saya pun. Kami bertahan hidup dengan gaji pegawai negeri selama bertahun-tahun dan harus tambal sulam sana sini.

Ibu saya berasal dari keluarga Tan keturunan Cina Belanda dan juga Sunda dari Oma saya yang asli Sukabumi. Di keluarga kami tak ada yang bisa bicara Mandarin. Semuanya ngomong Belanda. Baru sekian tahun ini saya tahu istilah siapa kami, Hollandspreken Chinese. Kebanyakan keluarga kami tidak pernah terjun di bisnis. Kebanyakan adalah profesional seperti dokter gigi, administratur, akuntan, guru dan lain-lain. Istilah kasarnya Cina Gak Punya Toko.

Saya sering dibilang Cina Murtad oleh kawan-kawan baik saya, karena saya sama sekali tidak paham budaya Cina. Casing doang Cina, begitulah adanya guyonan mereka yang pekat akan kebenaran. Saya ingat betapa terbengong-bengongnya saya melihat pertunjukan barongsai pasca Gus Dur mendeklarasikan bahwa sekarang boleh merayakan Tahun Baru Cina. Saya baru menyadari saya punya darah Cina ketika Mei 1998 terjadi. Saya selalu mengisi formulir sekolah dengan mencentang kolom pribumi, saya tidak tahu apa bedanya. Saya begitu naif, ketika menyadari betapa signifikannya hal itu dan posisi saya dalam situasi perpolitikan sosial Indonesia.

Ketika saya mencapai daratan Cina pun, mereka berpikir saya terlalu hitam untuk orang Cina. Mereka pikir saya berasal dari Tibet. Cina pun terlalu luas dan juga terlampau beragam. Ini yang orang tidak pernah paham dan selalu menyamaratakan semua orang yang bermata sipit.

Jika saya harus memilih siapa leluhur saya, saya punya terlalu banyak pilihan. Saya adalah Indonesia. Saya kira saya adalah Indonesia sebelum Mei 1998 terjadi. Namun inilah usaha saya memahami sejarah saya dan darimana saya berasal. Saya adalah bagian dari sejarah Indonesia dan tetap Indonesia. Orang picik dan berpikiran sempit dimanapun ada, dari etnis manapun ada dan saya memaafkan ketidaktahuan mereka.

Persoalan terbesar sebenarnya ketika saya menghadapi mereka adalah saya hanya mengemukakan fakta bahwa perbedaan sekian keturunan pribumi di wilayah Nusantara ini, hanyalah masalah kapan migrasi nenek moyangmu terjadi, kapan kapal kami dan kapal kalian mendarat. Semua nyaris dari daratan yang sama dan semua ini ada di Mbah Google.

Jadi pelajarilah sejarah darimana kamu berasal dengan benar dan jangan langsung menafikan bahwa sejarah hanya milik sang pemenang. Ini penting!

Karena menjadi tetap bodoh dan bebal adalah sebuah pilihan.

Sudah sekian ratus tahun darah tercampur aduk di panci bernama Nusantara yang kemudian menjadi sebuah entitas sebuah bangsa Indonesia. Saya hanya akan tertawa akan komentar rasis seseorang terhadap saya. Atau hanya karena saya punya darah Tionghoa saya ga boleh jatuh miskin (ini pernah dilontarkan oleh seorang pengemis yang masih sehat bugar dan saya sedang bertahan hidup menghidupi anak saya dengan kasbon di warung tetangga terdekat, saya beneran ga punya receh di siang yang naas itu, saldo rekening di bank nyaris nol dan kalaupun ada receh saya tabung untuk beli beras di masa krusial itu).

Sekarang saya sudah lebih bisa memeluk identitas saya, kesipitan mata cendol saya dan bangga akannya. Saya bangga akan semua keberanian dan cara bertahan hidup semua nenek moyang saya untuk sampai ke Nusantara. Dan bagaimana kami mencintai tempat dimana kami semua dibesarkan dan pada akhirnya berakhir, menjadi bagian dari debu di tanah ini.

Saya tengah mengajari anak saya yang separuh Bali, sekian keragaman ini dan membawa dia ke kelenteng sejak dia berumur 2 tahun. Bukan seperti saya yang baru masuk kelenteng ketika ibu saya sudah meninggal. Dan mempelajari semuanya sendirian. Saya pun sedang mengenal lagi leluhur Tionghoa saya. Dan kami sedang sama-sama belajar sejarah keluarga kami.

Ya, saya masih Indonesia, masih manusia dan warga dunia.

 

Salam Pribumi Sipit ✌️❤️

Kala (Waktu)

Waktu adalah suatu ruang yang gila dan sementara
Namun ia juga menyimpan misteri kehidupan dan kesabaran akan penantian

Batara Kala diciptakan dalam ketidaksengajaan
Sampai ia melahap bulan di suatu waktu

Sehingga Nirwana gonjang ganjing dan Batara Siwa pun harus turun tangan dari kahyangan

Pada waktunya, di detik di mana aku menemukanmu kembali
Tanpa harus meraih seluruh keberadaanmu di balik jeruji yang tak tersentuh
Pekatnya biru matamu
Yang membuat detak jantungku seolah berhenti di suatu waktu
Lalu jarak lautan yang membentang
Seolah menjadi alasan untuk terus menerus mengulur waktu

Apakah, apakah di waktu yang telah terlewati
Di sekian langkah yang kujalani di tanah Himalaya
Masih menjadi jejak di hatimu?

Aku tahu bahwa hal-hal inilah yang akan menjadi pertanyaan-pertanyaan besarmu
Namun aku pada saat ini lebih terpaku pada pertanyaan-pertanyaan yang kecil

Seperti waktu, aku butuh mengada
Berada dalam kekinianku
Yang tak lagi muluk
Namun menjejak di tanah di mana bumiku berpijak

Bahkan ketika Batara Kala melahap bulan
Aku tak lagi kehilangan waktu
Baik di Jawa
Baik di Himalaya
Jejakku adalah jalan setapak yang terlihat di bawah cahaya rembulan
Dalam kegelapan aku selalu menemukan jalan pulang

Karena sekian cahaya lilin di hatiku telah menerangi
Jalanku sendiri

Aku tak tahu lagi apakah jalanmu saat ini menuju Jawa
Akan menjadi terang yang sama