Menyepi

Di tengah keriuhan kota

Aku menyepi di antara kerindangan pepohonan

Menatap sawah-sawah yang melenyap bersama senja

Bernafas pada ruang-ruang kekosongan

Berbicara di inti kehidupan

yang jauh dari suara-suara

 

Lelaki,

sudah tak henti-hentinya kau berlari

dari dirimu sendiri

dari dunia yang mencoba merangkulmu

tanpa henti

 

Apakah kedamaian dalam rengkuhan

Tak pernah cukup

Apakah kepulangan adalah kekalahan bagimu

Sebagaimana begitu dekatnya

Kau yang mengejar kunci kata kematian

 

Hati yang terbuka

memang mudah terluka

Namun hati yang mengenal cahaya

juga kegelapan

selalu kubawa bersamaku

tinggal dan pergi

 

Tapak perjalanan masih membekas

yang terberat selalu

sekian perjalanan yang ke dalam

Ingatan

Beginilah panjangnya ingatan

Dalam kesadaran yang diasah

Dengan segenap perasaan

Karena hidup bukanlah hanya

akan sesuatu yang pasti dan bahagia

 

Dalamnya ingatan

Bagaikan sumur yang terlihat duka dan tua

Pada pertemuan yang sekelebat

dan kecup perpisahan yang meninggalkan pahitnya

kelokan perjalanan

 

Tapi di Saigon

aku tak merasa meninggalkanmu di jalan yang renta

di pucuk Gunung Putri, aku hanya menutup ruang heningku

sementara

 

Karena yang semu adalah perpisahan

dan usaha kita ingin memisahkan diri dari segala sesuatu

 

Ingatanku saat ini

Bagaikan potongan gulungan film
dari sekian kehidupan

mengulang-ulang perjalanan kita bersama

 

Karena apalah yang sementara

ketika kesadaran ingatanmu

menunjukkan peta perjalanan yang sama

 

Aku tak lagi dapat lari dari ingatan

Juga sosokmu yang mewarnai jalan

 

Ini adalah setapak

Yang kupilih ketika diriku dilahirkan

Gurun Kegelapan

Jika ini adalah gurun

Maka perjalanan setapak ini seolah menapaki serakan beling

Yang mana pecahan itu berupa perasaan-perasaanmu

Berulang di sekian masa

 

Jika ini adalah gurun

Cuaca berubah seperti datangnya kemarau

Dan kacaunya sebuah badai pasir

Nafasku serupa sesuatu yang tertutup di balik selendang

 

Meraup nafas sebanyak menelan pasir

Yang sekat di tenggorokan

 

Namun ingatanku terhadap gurun

dan perjalanan kita

Hanya tergambar dalam sosok sepasang musafir

Yang dengan tenang tak tersesat di tengah arus

 

Ketika yang fisik, tak lagi terasa terpisahkan

Hati ini tak lagi berkelindan pada hal yang tak pasti

dan ketika keterpisahan semua mahkluk adalah ilusi

Maka setajam apapun kata

Tak secuilpun itu menusuk ke dalam hati

 

Karena hatiku, masih dibawa dalam genggamanmu

Yang lagi tak kau pahami

Karena hatimu, masih tersimpan rapi dalam bilik dadaku

Di sekian masa, yang aku akan selalu menemukanmu

Sebagaimanapun tersesatnya dirimu

Dalam gurun kegelapan akanmu

 

Lalu serupa terang

Bintang di utara

Kau akan menemukan jalanmu

Seyakin aku pada segala kepulangan

Sederas Pagi

Derasnya cuaca

Membuat sekian pagi terasa nelangsa di dalam selimut

Renyahnya bebunyian dapur mulai hidup di subuh yang masih surup

Hanya untuk sekedar menyapa hidup

Sepeminuman teh dan wangi kopi yang menyeruak

Ke seluruh rumah

 

Wangi dupa di empat penjuru

Adalah bentuk kerinduan pada yang abadi

Dalam memori

Di pojok rumah banyak yang menghilang dan pergi

Nostalgia muncul dalam sekian kotak

Yang belum lagi dipilah

Pada lengketnya foto lama

Pada tulisan tangan di atas kertas surat yang mulai memburam

 

Namun kesedihan yangΒ datang bagai

Satuan barak tentara

Menyerang segalaΒ penjuru hati yang melemah

Dan tak ada tujuan kemenangan

Selain mengingatkan kita akan kemampuan untuk berduka

 

Di malam sebelumnya yang pekat

Dengan pembicaraan-pembicaraan samar

Tidak selalu membuka pagi dengan seksama

Bau hujan telah menguyur tanah semalaman

Segala yang tumbuh seolah tak hilang-hilang

 

Di cuaca yang sederas pagi ini

Harapan seolah hendak disingkapkan

Semudah menyingkap tirai rumah

Di tengah abu-abu kegelapan

Mencatat Phnom Penh

Luka rahim itu diturunkan

Sekian generasi kemudian

Kesunyian di antara rawa-rawa

Melingkupi awan gelap yang tak sudah-sudah

 

Seolah cuaca akan selalu mendung

dan masa depan selalu muram

 

Pada monumen batu dan tengkorak

Beginilah dunia pernah kita biarkan terjadi

Pembunuhan demi pembunuhan yang menjadi ladang

Gelap dan pekat udara

 

Luka pada rahim itu diturunkan

Begitu juga semua emosi sakral kita yang terdalam

Seolah tak ada yang selamat dari semua bencana kemanusiaan

 

Bagaimanakah caranya menyalakan hati

Pada roh-roh yang menghilang di dinding gedung sekolah

Bagaimana cahaya menemukan jalannya

Dalam kawat penjara yang dibiarkan masih disana

 

Mungkin bukan hari ini diriku akan paham akan semua

Karena di negeri kami

Luka dalam rahim kami pun diturunkan dari sekian lama

 

Dalam lingkaran sakral semua perempuan sekian hari ke depan

Diriku akan menenggelamkan diri

Mungkin dari kegelapanlah

Seluruh teratai satu negeri akan bermunculan

Dan tak hanya menjadi hiasan dalam kuil-kuil semu jiwa

Karena Perempuan

Karena perempuan

tak lagi tumbuh di antara bunga

namun dalam bau darah yang tersimpan

dari rahim-rahim kesunyian

 

Aku menggedor mimpi-mimpi mereka

yang kerap antara bertahan hidup

ataukah antara kesementaraan sesaat yang diaborsi tanpa henti

oleh tangan siapapun atas nama kuasa

atas kaum kami

 

Tak ada lagi kepalsuan dalam kata-kata yang keluar

dari rahim setiap perempuan

segala yang tidak benar sedang mengalir tercuci ke lautan

yang telah tercampur sampah plastik modernitas

mengapung tiada henti

 

Namun es di muka bumi telah mencair

juga di seluruh hati kami, oh perempuan-perempuan yang tersebar

di segala penjuru bumi,

dalam peluhmu, hati senantiasa merundung

menanti duka hancur menjadi serpihan debu dan airmata leleh di tanah-tanah merah

yang kita jejak bersama, dulu

dan selalu

 

Bumi ini adalah kami

Yang kau pijak, juga dikoyak injak

Berapa lamakah, hai manusia, kaum dengki yang bodoh akan ketidaktahuan

Akan kami biarkan dirimu masih berdiri di atas kami

 

Pijakanmu akan hancur dan tak ada kerajaan yang akan kau bangun dari atas kehampaan

langit

 

Karena memori pertama setiap manusia

Hanya akan dicoreng oleh hangat pelukan ibu

dan bau susu mengalir dari puting payudara

 

Dan karena kerinduan itu tidak akan habis

Tidak akan lekang

Walau permukaan bumi akan terjungkir balikkan

Dalam badai yang tak sebentar

 

Ingatlah, ingatlah

Akan semua rahim dimana kau mengeluarkan tangis pertamamu

 

Ingatlah dan hentikanlah sekian kebodohan massal yang tak perlu

Wangi Gunung di Eloprogo

: Sherab Dorji


Air mengalun dari kejauhan

Membawa wangi gunung

Menjadi Elo

Dan Progo

 

Orang suci itu bertapa di bantaran sungai ini

Seribu tahun

Ingatanmu menggema hingga relung hati

Berapa kehidupan yang lalukah kita semua pernah disini

Percakapan yang pernah terjadi

Dan jejak sekian memori di Jawadwipa

 

Sebelas purnama telah berlalu

Hingga bau Dewi Kali menyeruak di gerhana bulan yang semalam

Sisi gelap sekian dewi muncul ke permukaan, menggenapi segala ramalan Shiva Shakti

Pintu kehancuran telah lama menggedor bumi

Pembersihan demi pembersihan telah datang bertebaran

Juga dalam hati kita masing-masing

 

Di ruang meditasi

Mantram mengalir serupa sungai setelah hujan deras membasahi tanah Borobudur

Dengan drum dan lonceng vajra, kau memanggil segala roh agung yang telah berlalu

Siang itu burung pipit dan kupu-kupu bersemilir di sekitarmu

Seperti sekian kehidupan, aku tetap menangkap sosokmu

Yang mengabadi dalam segenap memoriku

Eloprogo, 17 September 2016