nn

:e.e.

kemanapun kita akan lari

kemanapun kita pergi

kita sama-sama tahu bagaimana kesedihan membekas

dalam jejak tapak diri masing-masing

 

bagaimana aku mengetahui

bahwa aku selalu

dan selalu akan mencintaimu

selamanya

dan selalu dalam ingatan senja

yang tak hilang-hilang

oleh masa

 

dalam foto-fotomu

aku masih merasakan kesedihan itu

dan aku dalam susunan kata-kataku

 

seberapa banyakkah perjalanan

dan seberapa jauhkah rasa

yang pernah kita sama-sama buang

di sekian tempat

hanya karena tidak ada kata

yang tak pernah menyiapkan kita

pada apa-apa

 

aku tak pernah akan menghentikan langkahku

juga hidupku

namun di satu pagi, jika ada cekat sedih seperti ini

di dadaku

aku tahu aku sedang mengingatmu

 

dan waktu berhenti

selalu tanpa judul

tanpa nama

seperti dirimu

Advertisements

Retret

:hari pertama, purnama aquarius

Purnama menghantamku

Merah

Bagai darah

 

Tak ada garam di halaman

Sesaji bunga terlupa dalam tas

dan air hangat tak jadi dituangkan di dalam gelas-gelas teh

 

Aku menemukan punggungku remuk semalam

Ingatanku menggelap

Kain batikku terbuka

Dan hawa dingin menyelinap

 

Di malam-malam seperti ini

Aku ingin memelukmu lagi

Memasuki hari-hari retret ini

Jiwa-jiwa kita seperti masuk ke dalam gua yang dalam

Dekat dengan kematian

Dan jauh dari semilir bisikan

 

Aku memeluk kristal hitamku pagi ini

Memeluk pepohonan

Menjejak tanah-tanah di kejauhan

 

Dan tetiba angin-angin dari Utara

Menerpa wajahku hingga kering

Tangisku hingga kering

Jadi garam sampai ke lidahku

Punggungku masih meremuk

Dan tak ada yang redam

Dalam semalam

 

Kau melihatku dalam mimpimu

Menceracau dan menggila

 

Aku melihat diriku

Memanen tanaman di atas bukit-bukit yang tak kalah jauh

Di atas lanskap yang selalu ingin membuatku pulang

 

Kau tak lagi menjanjikan lanskap salju

Namun pesisir laut

Yang lebih dekat pada rumahku

 

Walau jiwaku gunung

Lidahku adalah laut

 

Dan punggungku adalah dunia

Yang tengah remuk dan pecah

Sehingga bibit-bibit merekah untuk tumbuh

Melewati rahim demi rahim

Mengalir merah

Purnama darah

Anting Mutiara

:ibu segala ibu

 

Aku mencoba sepasang anting mutiara

Milik ibuku yang kutemukan di laci kayu

 

Sambil kuingat-ingat pesannya untuk tetap memakai

batu berlian lahirku setiap waktu

Aku belajar dengan mahal ketika aku harus menebusnya sendiri

Di suatu waktu

 

Sekarang anting milikku tak pernah kulepas

Namun saat ini kulepas untuk mengingat ibuku

Sambil terlempar dalam masa lalu

 

Sebenarnya hal-hal apakah yang kita wariskan

dari ibu-ibu kita, selain ingatan

lalu luka-luka

juga semua bentuk cinta mereka

 

Masih kuingat tatapan laki-laki yang kucintai

dan mencintaiku tadi malam

Sosok mereka yang seolah tak diinginkan ibunya

Yang merasa tak dicintai ibunya

 

Aku mengerti perasaan-perasaan itu

Sungguh tipis perasaan diinginkan dan menginginkan

Antara syarat dan isyarat yang terlanjur tak terkatakan

Dalam banyak waktu

 

Namun sesungguhnya, kita memaafkan ketidaksempurnaan

ibu kita

kemarahan-kemarahan mereka

emosi-emosi terpendam mereka yang meluap

dari dalam

 

Kesakitan kuno

kolektif yang terpendam

Oh, perempuan

betapa tua benci dan cintamu

dengan segala hal di bumi ini

 

Pada tanah pertiwi yang kupijak

dan banyak diinjak

Kemampuanmu merubah segala yang busuk

menjadi nutrisi segala mahkluk

menghidupi segalanya hingga titik penghabisan

 

Kau yang mengerti segalanya

juga menerima segalanya

 

Kematianmu adalah kiamat kami

 

Jogjakarta, 1 Agustus 2017

Rintik Hujan di Kegelapan Dakshinkali

Malam itu berwarna

Yang membuncah dalam kegelapan

Rintik hujan menandai semua perasaan

Juga nafas kita bersama

 

Ciuman yang tak kunjung reda

Doa dan mantra yang tak pernah putus

Pada Guru kita berhenti berkelana

Kucari-cari dirimu hingga sungai airmataku

dan tapak kakiku membekas dalam

108 kali putaran kora di bawah langit Kathmandu

 

Di lembah ini

Kemarahan Dewi Kali menjelma

Menjadi api dan pukulan-pukulan karma

Hingga orang-orang yang harus pergi

mengangkat kaki

dan orang-orang yang datang

tinggal dan menatap udara pagi

Bersama anjing-anjing yang mengonggongi

langit kelam pada hujan yang melembut

Dalam rakshi

di cangkir kepala

 

Tawamu bagai berkah doa

di bawah kaki Guru yang kita puja

 

Putaran roda karma membawaku

Semakin mendekat dan rapat

dalam pelukanmu

juga pelukan Himalaya

 

Namamu yang seumpama berkah

Rintik hujan dalam kegelapan ini seolah ruah

Tumpah

Mendalam di hatiku

 

Juni, Dallu – Pharping, 2017

Menyepi

Di tengah keriuhan kota

Aku menyepi di antara kerindangan pepohonan

Menatap sawah-sawah yang melenyap bersama senja

Bernafas pada ruang-ruang kekosongan

Berbicara di inti kehidupan

yang jauh dari suara-suara

 

Lelaki,

sudah tak henti-hentinya kau berlari

dari dirimu sendiri

dari dunia yang mencoba merangkulmu

tanpa henti

 

Apakah kedamaian dalam rengkuhan

Tak pernah cukup

Apakah kepulangan adalah kekalahan bagimu

Sebagaimana begitu dekatnya

Kau yang mengejar kunci kata kematian

 

Hati yang terbuka

memang mudah terluka

Namun hati yang mengenal cahaya

juga kegelapan

selalu kubawa bersamaku

tinggal dan pergi

 

Tapak perjalanan masih membekas

yang terberat selalu

sekian perjalanan yang ke dalam

Ingatan

Beginilah panjangnya ingatan

Dalam kesadaran yang diasah

Dengan segenap perasaan

Karena hidup bukanlah hanya

akan sesuatu yang pasti dan bahagia

 

Dalamnya ingatan

Bagaikan sumur yang terlihat duka dan tua

Pada pertemuan yang sekelebat

dan kecup perpisahan yang meninggalkan pahitnya

kelokan perjalanan

 

Tapi di Saigon

aku tak merasa meninggalkanmu di jalan yang renta

di pucuk Gunung Putri, aku hanya menutup ruang heningku

sementara

 

Karena yang semu adalah perpisahan

dan usaha kita ingin memisahkan diri dari segala sesuatu

 

Ingatanku saat ini

Bagaikan potongan gulungan film
dari sekian kehidupan

mengulang-ulang perjalanan kita bersama

 

Karena apalah yang sementara

ketika kesadaran ingatanmu

menunjukkan peta perjalanan yang sama

 

Aku tak lagi dapat lari dari ingatan

Juga sosokmu yang mewarnai jalan

 

Ini adalah setapak

Yang kupilih ketika diriku dilahirkan

Gurun Kegelapan

Jika ini adalah gurun

Maka perjalanan setapak ini seolah menapaki serakan beling

Yang mana pecahan itu berupa perasaan-perasaanmu

Berulang di sekian masa

 

Jika ini adalah gurun

Cuaca berubah seperti datangnya kemarau

Dan kacaunya sebuah badai pasir

Nafasku serupa sesuatu yang tertutup di balik selendang

 

Meraup nafas sebanyak menelan pasir

Yang sekat di tenggorokan

 

Namun ingatanku terhadap gurun

dan perjalanan kita

Hanya tergambar dalam sosok sepasang musafir

Yang dengan tenang tak tersesat di tengah arus

 

Ketika yang fisik, tak lagi terasa terpisahkan

Hati ini tak lagi berkelindan pada hal yang tak pasti

dan ketika keterpisahan semua mahkluk adalah ilusi

Maka setajam apapun kata

Tak secuilpun itu menusuk ke dalam hati

 

Karena hatiku, masih dibawa dalam genggamanmu

Yang lagi tak kau pahami

Karena hatimu, masih tersimpan rapi dalam bilik dadaku

Di sekian masa, yang aku akan selalu menemukanmu

Sebagaimanapun tersesatnya dirimu

Dalam gurun kegelapan akanmu

 

Lalu serupa terang

Bintang di utara

Kau akan menemukan jalanmu

Seyakin aku pada segala kepulangan