aku masih tidak mengerti dengan apa-apa yang tiba-tiba terlontar malam itu. apa-apa yang selalu saja belum selesai. seperti angka ketigabelas yang dianggap sial itu. dirimu adalah sebuah titik hitam ketigabelas yang mengjungkirbalikkan segalanya lagi, ketika semuanya baru saja berjalan kembali. anjing!!

Kau tiba-tiba lupa dengan semua peristiwa setelah malam itu dan yang terpikir dalam benakmu adalah cara untuk menghadirkannya kembali seperti malam yang sudah lalu. Sosoknya yang berada di atasmu atau di bawahmu, yang samar, yang menyenangkan. Kenapa kau bisa tiba-tiba lupa, bahkan dengan namanya. Berapa botol vodka yang kau habiskan malam itu? Lalu dia yang mengantarmu pulang dan sepanjang perjalanan, kau masih saja menggodanya. Tiba-tiba dia hadir di sebelahmu pagi itu, dengan kepala yang masih sama berat, kali ini dia terbangun dan kali ini dia yang menggodamu sampai semua pori-pori keringatmu menjatuhkan cairan lagi. Hanya satu hal yang kau ingat tentang malam itu. Jangan nyalakan lampu! Kenapa? Karena sosok laki-laki yang merokok dalam kegelapan adalah sesuatu yang menghanyutkan. Kau menurutinya dan merasakan senyumnya di balik kegelapan.

Kau masih saja lupa, bahkan dengan namanya. Dia pun dengan kurang ajar tidak meninggalkan apa-apa, selain bau matahari di tubuhmu. Kau yang masih saja lupa sewaktu dia benar-benar meninggalkanmu di hari berikutnya, sejenak merasa kehilangan pasir dalam genggamanmu. Tapi kau mengerti, serupa pasir dia benar-benar tidak bisa dipegang.

Namun kau tetap mencarinya di semua phonebook address teman-temanmu. Kau tidak ingin bertanya kepada siapa-siapa dan sungguh pencarianmu akhirnya tidak sia-sia. Kau menemukannya di antara hamparan ribuan nomor. Sekian digit itu membuatmu lupa dengan apa yang sebenarnya akan kau lakukan. Kau begitu yakin bahwa nomor-nomor itu adalah dia, bahkan kau tidak lagi peduli akan nama.

Kau mematahkan janji yang tidak pernah ingin kau pegang, kau melupakan janji bahwa kau tidak akan pernah mencarinya. Tapi memang karena ingatanmu malam itu mengkhianatimu sedemikian rupa, sehingga satu-satunya kunci yang kau pegang adalah sebelas digit menuju dirinya.

***

Kau menerima sms aneh dari nomor yang tiba-tiba saja membuatmu berdebar-debar. Kau pikir, kau sudah lupa dengan malam itu. Kata demi kata mengingatkanmu kembali akan aroma tubuhnya, vodka, dan sosok yang kau tinggalkan di hari berikutnya itu. Sosok yang seperti anak anjing hilang, yang tidak pernah akan bisa kau tinggalkan sendirian. Karena kau tidak tega, bahkan jika kau sudah mengucapkan selamat tinggal.

Maka kau memunggut remah-remahan ingatan yang menuju ke tempatnya. Seperti rumah kue nenek sihir yang mengundang selera, sosoknya di depan pintu langsung mengundang selera satu jengkal di bawah perutmu.

Tiba-tiba dia membuatmu ingin meledak. Kau begitu menyukai gerak lidahnya sehingga kau seperti ingin memakannya. Menelan dan menyimpannya di dalam tubuhmu selalu. Kau tiba-tiba hampir mencintainya, namun seketika kau tersadar karena kau akan selalu membangun batas yang panjang ketika kata hampir itu datang.

Kali ini kau yang menghabiskan waktu merokok dalam kegelapan setelah bercinta. Kau merasa dia tiba-tiba hanyut dan tersenyum dalam kegelapan. Rupanya sosok apapun yang merokok dalam kegelapan memang akan selalu menimbulkan rasa yang sama. Setengah puntungan rokok yang terbakar, kau bangkit menuju dapur, menyalakan kompor dan memanaskan air. Membuat kopi dengan tubuhmu yang masih juga telanjang.

***
Kau masih mencium bau matahari di tubuhnya, bau matahari di tubuhnya begitu kuat mengalahkan bau wangi-wangian manapun. Namun kau tetap saja suka dan tiba-tiba hampir mencintainya. Kau tersentak pada kenyataan bahwa kau hampir mencintainya. Kau yang tidak pernah memikirkan kata cinta sebelumnya. Kau yang dalam hitungan minggu dapat berganti-ganti sekian perempuan. Nafasmu terhenti ketika kau tiba-tiba kembali mencium bau matahari dan kopi hangat yang dibawanya ke dalam kamar. Kau berhenti pada kata hampir dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

Dia mulai memungguti baju yang tercecer dan sepintas kau melihat kulit tubuhnya yang sudah kering dari keringat, melembab serta memaksamu untuk menariknya kembali ke sisimu. Kau tidak mengijinkannya pulang sampai pagi berikutnya. Maka malam itu pun kau kembali tidur dengan semerbak bau matahari di sekitarmu.

***
Dia pernah membaca tulisanmu di suatu waktu dan hari itu kau memutuskan untuk mengiriminya sekian puisi. Kau begitu tahu bahwa puisi itu tidak akan pernah disimpannya dan akan selalu dihapusnya dari inbox hp-nya. Kau tetap saja mengirimnya sekian puisi dan dia selalu saja membaca puisi-puisi itu lalu menghapusnya.

Kemudian kau bertemu lagi di tempatnya yang masih saja tidak berubah. Kau mengamati hp-nya berubah dengan fitur kamera. Lima menit, sepuluh menit berikutnya berubah menjadi photoshoot untuk majalah Playboy ingatan pribadi. Kau sebenarnya ingin menyimpan foto-foto itu namun hp-mu tidak bisa menerima mms. Segalanya bersifat sementara, bahkan foto digital sekalipun sehingga semuanya benar-benar untuk koleksi ingatan pribadi. Bersamanya kau menekan delete pada tombol hp.

Malam itu kau ingin dihibur oleh kahlua dan susu.

***
Kau membelikannya kahlua dan susu. Lalu kalian bersama-sama mencampurnya dan mengamati bagaimana kedua warna bercampur di dalam gelas. Sekian jam kemudian bagaikan kahlua dan susu kalian bersama-sama bercampur di atas tempat tidur.

Malam itu kau lupa menggunakan kondom. Kahlua dan susu yang bercampur kemudian mengundang sepuluh hari yang laknat itu. Sepuluh hari yang laknat baginya dan bagimu.

Hari pertama dari sepuluh hari itu merupakan hari yang paling menggelisahkan bagimu. Dia menghubungimu dan mengatakan bahwa mungkin dia telat datang bulan. Kau cukup gelisah dibuatnya, karena kau benar-benar hampir mencintainya.

Lima hari berikutnya kau menemuinya masih dalam keadaan yang sama, matanya terlihat sayu dan setengah kaget melihat dirimu di pojokan. Kau cukup tahu bahwa dia tidak pernah menginginkan seorang anak. Dia cukup percaya bahwa dunia sudah sangat buruk dan untuk melahirkan satu jiwa lagi dalam dunia yang buruk ini bukanlah pilihannya. Setidak-tidaknya untuknya, hal itu sudah cukup untuk meyakinkannya melakukan aborsi.

Namun entah bagimu, ketika kau benar-benar hampir mencintainya. Sejenak mungkin kau sempat berpikir untuk menikahinya, namun untuk sebuah pernikahanpun kau begitu mengerti bahwa kau dan dirinya bukan ditakdirkan untuk sebuah pernikahan. Kalian begitu tidak mempercayai pernikahan.

***
Kau tidak pernah menyukai anak kecil, semua anak kecil bagimu terlihat begitu merepotkan. Jika ada seorang perempuan yang tanpa perasaan keibuan mungkin itulah dirimu. Bagimu keadaan dunia sudah cukup menyesakkan dan pilihan untuk menghadirkan seseorang lagi ke dunia bukanlah pilihanmu. Dan hari ini kau belum juga datang bulan. Ini sudah hari kelima.

Kau bertemu dengannya, sedikit terkaget karena kau memilih untuk tidak melihat wajahnya di saat-saat yang demikian. Kau sedikit menyumpahi dirimu karena apa yang kau lihat hari ini membuktikan bahwa kau pun hampir mencintainya. Tapi kau begitu keras kepala dan hanya berhenti pada hampir untuk kesekian kalinya.

Kemudian hari-hari berjalan begitu menggelisahkan bagimu dan baginya. Sampai sepuluh hari, tubuhmu mempermainkan dirimu sepenuhnya. Juga dirinya.

***
Kau akhirnya harus memutuskan secepat-cepatnya. Kau bertekad akan menemuinya hari ini dan menyelesaikan semuanya. Ini sudah hari yang kesepuluh. Kau hendak menghubunginya, namun hp-mu terlanjur berbunyi. Ternyata dia dan dia menemukan bercak darah di celana dalamnya pagi itu. Kau termenung dan tiba-tiba kau ingin meloncat karena sepuluh hari yang laknat sudah terlewati.

Sepuluh hari sialan yang hampir membuatmu berpikir bahwa kau tidak hanya hampir tapi benar-benar mencintainya.

***
Setengah tidak percaya dengan apa yang dihadapanmu pagi itu di kamar mandi. Ternyata tubuhmu begitu pintar dan begitu lama mempermainkanmu sedemikian rupa. Tidak pernah dalam sejarah hidupmu ia begitu lama menyembunyikan darah menstruasi dalam dirimu. Kau hampir menyumpahi dirimu sendiri, namun kau langsung teringat tentang dirinya karena di menit yang sama kau menyadari bahwa kau benar-benar mencintainya.

Kau berhasil melewati drama kekonyolan di pagi hari itu dan menemukan dirimu menghubungi dirinya via hp. Sepertinya ia sedang meloncat-loncat sendirian dan hal ini membuatmu kembali tertawa.

***
Malam itu kalian kembali merayakan sepuluh hari yang laknat itu dengan kahlua dan susu. Namun kali ini dengan satu pak kondom rasa strawberry di samping tempat tidur.

Yogyakarta, Juni 2004

-wait for revised version uploaded-