Mimpi yang Kedua

Ia merangkak di tengah-tengah tanah yang selalu menahanmu pulang. Kau tak lagi mengingat-ngingat sekian percakapan yang terjadi di sana. Hanya di mimpi ini, segalanya menjadi terlalu jelas. Sejelas jalan-jalan dan ramalan yang berkelok untuk membawamu ke sana. Ke tempat yang kau tahu kau akan selalu datang. Kau terbangun dan mungkin saja, hanya menunggu sepasang tangannya untuk menyambutmu penuh. Jika ini semua bukan mimpi yang sejenak dan berulang.

Ingatan Salju

Bau salju menusuk hidungku bermalam-malam. Selimut merah marun lembab oleh sisa salju yang mencair di pagi hari yang cerah. Rumah-rumah berjejer seceria bendera doa. Teh beraroma mawar dan saffron menguap mengisi dapur bawah tanah. Wangi kretek bertebaran di ruang tengah, menandakan diri yang telah terbangun. Kata-kata Rumi menebar di udara.

Aku begitu dekat, hingga aku terlihat seakan-akan jauh
Begitu bercampur denganmu, hingga aku terlihat seakan-akan terpisah
Begitu terbuka, hingga aku terlihat bersembunyi
Begitu terdiam, karena aku terus menerus berbicara kepadamu

Sejauh puncak-puncak salju dan langit hitam berbintang. Begitu dekat nafasmu. Pada nadiku.

Danau Itu

jika di tepi danau itu, aku akan menemukanmu mungkin itulah saat-saat dimana manusia mulai membuat kenangan. jika kita tak saling berbicara kemudian di tempat itu, maka disitulah aku akan berhenti mencari. titik de javu luar biasa yang membuat semesta diam sementara.

aku tak tahu apa yang memicu sebuah ingatan, selain sekian rasa ribu terkenang dan sensasinya yang menenggelamkan. apakah kibasan rambut yang menutupi wajah ketika tertiup angin gunung? atau senja yang menusuk mata? ataukah sosok punggung kokoh yang seolah-olah pergi? aku tak paham, mencari bentuk dalam fisik yang tak lagi milikku ataupun milikmu. rasa kesatuan yang menjadi satu.

maka, sejak itu, tak kuingat lagi wajahmu ataupun bau jejakmu. karena di hidup kita yang sekarang, kita akan selalu bertemu dalam sekian bentuk dan serpihan yang tak lagi sama, tak lagi utuh. tapi rasa itu masih disana. di sebuah danau yang tertutup es di kala musim panas pun.

dan ingin kuhayati janji itu. dan ingin kuberjalan menanjak segera kesana. menemuimu.

Wajah Laki-laki yang Kabur

aku tak tahu apa yang kugapai dalam mimpi semalam. selain rasa ketenangan yang menembus dada hingga haru menjelang subuh. tentang catatan filosofis di sebuah pintu lemari kayu. tulisanku, sekian tahun yang lalu. di pintu itu. pintu yang tak kutemukan dirimu sebelumnya.

aku tak paham kenapa kau memeluk kepalaku. menaruhnya di dadamu dan kehangatan meremang di sore yang seolah-olah jauh dari sesuatu. dada tempat kumenaruh lelahku.

tak nampak wajahmu, di semua episode itu. aku tahu kau belum datang. mimpiku seperti sebuah gulungan rol film akan masa depan.

pada sekarang. aku tak menunggumu. aku hanya menyerahkan diriku pada yang sekarang dan pada yang akan datang.

Ketika Rasa Sedih Menghilang dan Hujan Tak Kunjung Datang

: dalam usaha mengingat sebuah fragmen kecil

Hujan tak datang-datang dan kau merasa tidak biasa. Semua tempat yang kau datangi, yang kau tinggali selalu hujan. Sehingga tak jarang, sejak kecil orang-orang menamaimu: Gadis Pembawa Hujan.  Ada rasa sedih yang seolah tersedan di dadamu, ketika daun-daun menguning dan tak lagi mampu menyimpan rindunya pada awan-awan kelabu.

Atas segala rasa sedih, tak ada serintik pun yang turun dari langit. Seolah-olah dunia sedang kehilangan perasaan. Dan terik mentari tak lagi menjadi menyenangkan. Bahkan segala yang terlalu terang itu menyakitkan. Dalam remangnya matahari sore, hembusan angin yang bagai nafas pada jiwa pun tak membekas. Kau mencoba menghitung segalanya kembali dengan menjejerkan sekian kerikil di tanah. Pasir kering bercucuran. Tanah kehilangan pegangannya. Kau melihat kelapa terbelah. Sekian pawang menahan langit berbarengan. Doa pun dengan sia-sia kau panjatkan.

Tak mengerti lagi kau akan bau cuaca. Akan bau hujan yang akan datang. Karena semua sedu sedan telah tertahan. Kau telah lupa bagaimana caranya tanah basah, aroma lembab yang menguat di ruas ujung hidungmu telah hilang. Demi Tuhan, betapa keringnya dunia ketika rasa sedih menghilang. Bahkan pertanda hujan pun tak lagi menjadi harapan.

Tara

Tak akan ada yang menggantikannya, Tara. Kau hanya membuat ruang pada semesta agar berjanji untuk menemukan dirinya kepadamu lagi. Warna kesedihan masih memenuhi relung kameranya. Kau selalu hampir mati dibuatnya. Tak ada pernikahan yang membantu kalian kecuali keterkaitan ingatan dan usaha-usaha pelupaan. Bahkan jejak jiwanya melekat pada anakmu kini. Keajaiban muncul dimana-mana. Bekasnya masih selalu tengah kuat di pojokan kota yang sama. Tak ada yang bergerak, Tara. Saat itu.

Apa yang membuat hatimu tak kunjung bergerak? Tak pernah benar-benar membuka kecuali hanya kepadanya. Kenapa momen yang ditangkapnya seperti kata-kata yang tak pernah sampai kepadamu. Seorang fotografer yang lain mengingatkanmu lagi akan janji itu tiga hari yang lalu. Kau tak pernah lupa, mimpi kepulangan bersama itu. Ia yang menangkap dan kau yang mencatat, di tengah-tengah bau teh mentega yak.

Suatu hari, kau yakin, kepulangan itu akan lengkap dan udara akan ikut memadat. Tak lagi sesak dadamu di hadapanmu. Kau janji, tak lagi sesak. Seperti angin, dia menyertaimu setiap saat bahkan ketika kalian tak lagi bertemu atau menyapa. Jiwa yang berkelindan padamu. Jiwa yang pernah menjadi cahaya penunjuk terang menuju keabadian bersama.

Dalam mimpimu, kelopak teratai bermekaran. Dalam mimpimu, di senja itu kau meraih tangannya dan tak ada yang lagi lepas. Dan gelap pun akan lewat menunggu pagi tiba.

Vivian

Di antara cahaya matahari tanah tua ini, aku mengenangmu, Kenneth. Ketika perutku tengah membesar nyaris delapan bulan. Dokter melarangku bergerak banyak. Kerjaku hanya tidur dan makan es krim. Suster-suster memuja kulitku sebagaimana kau pernah memujanya, empat tahun yang lalu, di tengah dinginnya salju kota Wina.

Aku tak mengerti bagaimana diriku membesar. Hanya teknologi mutakhir yang dapat menjelaskannya. Aku merasa aneh dengan anak yang tengah kukandung ini. Dia tak lahir dari penis laki-laki. Ia tak lahir dari kenormalan. Ia disatukan di laboratorium dengan alat-alat. Lalu ditanamkan begitu saja ke dalam rahimku. Mereka menyebutnya bayi tabung. Aku membayangkan dalam perutku tumbuh semacam tabung yang bergerak. Spiral yang bulat, bagai penis yang melesak terlalu dalam. Namun bukan sesuatu yang alami.

 

Aku tak tahu mengapa aku mengingatmu di antara menguningnya dedaunan. Anak ini akan lahir di musim yang berguguran. Anak ini jika ia lahir selamat akan bangun di antara runtuhnya daun pepohonan.

 

Surat ini terlarang dan kau tahu bahwa aku tak akan bisa mengirimkannya kepadamu. Hanya dapat kutiupkan dalam lembar dedaunan yang jatuh ke tanah lembab. Sehingga mungkin dapat mencapai ingatan pada kulitmu akan memori dinginnya musim salju di suatu waktu.

 

Cerita Tentang Sebuah Tatapan

Seseorang pernah berkata kepadaku, “Kau memiliki kemampuan untuk membunuh seseorang dengan satu tatapan, berhati-hatilah menggunakannya.” Aku teringat kau semalam dan aku yang menatapmu malas-malasan. Betapa tertusuknya dirimu. Sedangkan suasana sedang riuh dalam tusukan-tusukan daging barbekiu.

Kuhela nafasku sebelum pulang. Dirimu sudah larut masam dalam setoples selai markisa. Warna cerah manis yang sia-sia walaupun sudah kutambahkan gula. Aku mengingat membungkus segalanya dalam balutan syal Khmer kotak-kotak biru yang kurelakan untukmu. Aku enggan mengingat berapa lagi hal yang telah kurelakan kepadamu.

Kukira kau tak pernah menyesali jarak yang kau buat. Aku tak mengira sebuah tatapan dapat membunuh seseorang sesekali waktu. Semalam aku memang lagi malas berhati-hati. Udara terlalu panas untuk mengendalikan segala sesuatu. Terkadang hidup menginginkan sekian hal untuk lepas kendali. Aku tak ingat di malam keberapa aku pernah mengatakan hal yang sama, bahwa kau tak bisa mengendalikan segalanya.

Aku tak pernah menyesali apa pun. Karena waktu tidak pernah berjalan terbalik. Kenyataan pahit itu harus selalu kita terima. Bahwa yang berubah adalah kekinian kita. Bukan masa lalu dan juga bukan masa depan. Bahwa perubahan selalu ada dalam genggaman dan pilihan adalah milik kita masing-masing. Aku telah memilih jalanku dan tak akan menunggu siapapun untuk menjadi alasan agar tidak pergi. Aku yang ditakdirkan untuk selalu pergi dan pada akhirnya selalu memilih pergi.

Karena aku menemukan Tuhanku dalam perjalanan, karena kuilku adalah di berbagai macam kendaraan dan hati orang-orang yang kutemui di perjalanan. Doaku adalah tapak kesekian, di kota-kota tak berpeta dan tak bernama. Kadang tak berwarna. Aku tak bisa menghentikan langkahku hanya karenamu belaka. Aku sudah di ujung roda yang tengah bergulir. Dan dalam irama alam, yang bergulir, bergulirlah berjalan.

Maafkan, jika satu tatapan akan menyakitkan. Tetapi mungkin lebih baik demikian. Aku masih tak ada alasan kuat untuk menunda perjalanan. Dan masih, dalam segala macam alasan dan karangan, dirimu bukanlah salah satunya. Itu adalah satu-satunya kenyataan.

Mungkin suatu hari masih kutorehkan seberkas namamu dalam satu biji mala. Mungkin suatu hari doa itu akan selalu sampai kepadamu. Dimanapun diriku. Bagaimanapun dirimu.

Tara

Berapa banyak sebenarnya yang telah berlalu, Tara? Berapa belas, puluh dan ribu? Apakah angka-angka masih berarti untukmu? Seperti angin yang telah lalu, mendesau antara lekuk telingamu, melewatimu dan masih melewatimu.

Kau dapat menciumnya dalam udara setiap malam purnama. Bau segar bunga lily. Sebatang keindahan yang pernah kau pegang pada hidup ini.

Masih saja, ia melewatimu dan melewatimu. Sepanjang malam. Bau jejaknya yang telah membekas di kota ini.

Dia sudah pulang. Kau berguman di malam biru purnama.

Catatan Ibukota

Ini sudah bukan sesuatu yang membuat lututmu melemas. Tapi lebih mengenai segala-galanya yang sulit terkatakan. Segala yang serba salah. Di relung-relung kota ini. Cinta menjadi sekaku percakapan di sebuah taksi. Bersalaman tangan menjadi beribu arti.

Aku seolah tak menangkapmu disini. Suaramu menghilang ke latar belakang sebuah restoran. Dan hanya dirimulah yang kulihat terduduk disana. Aku tak paham mengapa aku berada disini setelah satu botol anggur habis di bar sebelah. Aku tak tahu mengapa aku memelukmu dan tak mau mengatakan apa-apa.

Apakah kita bahkan harus berbicara?

Kadang aku ingin hilang kata saja. Menemukanmu pada sebuah pagi yang tidak terlalu dingin di balik balutan kain batik. Terselip disana dan diam dalam ingatanku yang sejenak. Namun tak menghilang jua.

Aku seolah menemukanmu terbelah di kota yang lain. Dan tak ada disini.