Menuju Selatan

Aku rindu bau laut itu. Sendirian. Samudera lepas yang mengosong pada entah. Aliran pasir yang mengalir di antara sela jemari kakiku. Bau asin yang menguat di udara. Rambut yang terbawa angin, lembab dan melengket ketika pulang. Dan semua perjalanan menuju laut yang selalu-selalu menjadi ritual kesendirianku.

Titik Rapuh

Mungkin di sinilah aku membiarkan diriku merapuh. Mungkin di titik-titik inilah aku benar-benar berhadapan dengan dirimu ataupun dengan diriku sendiri. Seolah-olah aku menatapmu pagi ini. Terbangun hanya untuk menatapmu. Di segala perjalanan sekian bulan kemarin aku menatapmu, entah dekat, entah dari kejauhan. Entah di atas bantal tidur yang sama, ataupun dari sebuah bukit di Himalaya. Aku sedang mencoba membaca di mana sebenarnya diriku telah lekat. Dalam ruang mana sebenarnya kita telah mendekat dan seberapa jauh sebenarnya artian jarak.

Di tepian sebuah danau yang sunyi, aku tak lagi memutar memori. Dirimu dan diriku berada di sana sekarang, di sebuah kesunyian yang tak lagi mencekam. Tak ada angin. Hanya kicau burung seperti pagi ini. Dalam segala yang terlahir baru, sebagaimana adanya aku menemukan diriku dan juga dirimu, benar-benar sebagaimana adanya.

Jupiter dan Mars

Bagai sekian planet yang berputar, kita sedang berada di sebuah jalur yang tak jauh berbeda. Bahkan mengarah ke arah yang sama. Kau mengumpamakan kita bagai sebuah anak sungai yang tengah mengalir, menuju pertemuan dan perpisahan hingga kemudian sama-sama bertemu di lautan. Aku mencoba mengenali nada suaramu, mencoba mengenali lagi apa yang sebenarnya sedang kau rasakan hanya dari suaramu. Aku ingin kita sama-sama mengendap kini. Mengendapkan segalanya hingga terlahir baru dan bertemu di ruang yang tak lagi sesak akan air mata.

Aku masih mengenali jejakmu di udara seperti biasanya. Bahkan sebelum bertemu lagi denganmu. Tak ada yang berubah sebenarnya. Dalam mimpiku yang sementara, lagi-lagi dirimu yang terbaca. Sesuatu yang hidup bersama-sama dalam nafasku.