kepalaku penuh retak-retakan tanah
luluh lantak

tetapi disini kami semua masih harus tetap mencoba berdiri
lagi

aku hanya membayangkan jika pagi itu kita mati tertimbun
berdua
berpelukan
sampai mati

alangkah romantis
dan sedih

kala hujan masih tetap membasahi yogya
dan bumi yang masih saja berputar

hujan seolah melambat
membasahi segalanya
ibu saya masih saja mati perlahan dibunuh dengan sama pelan oleh nenek saya
dan saya merindukan segelas es coklat di sebuah kafe yang remang
sebelum menuntaskan semua karma yang telah terjadi dan sedang terjadi
melintasi lintasan-lintasan yang terkadang menyebalkan ini

apakah saya harus membunuh nenek saya sendiri? (jika ia benar-benar nenek saya)
ketika bapak dan adik saya menangis di pinggiran ruang
mematikan tivi
bahkan menjual rumah

tubuh saya dipenuhi pisau-pisau besi baja
saya benci
ketika orang-orang membuat saya merasa jahat

ode untuk p.a.t

aku selalu mengenang lelaki tua dengan asap super di antara jemari tangannya. lelaki yang membuatku tidak mandi berhari-hari hanya untuk terperangkap dalam dunia imajinasinya. lelaki yang selalu bangkit dalam berbagai peristiwa dan tidak tumbang-tumbang. namun bagaimanapun orang-orang baik selalu pergi.

duluan.

seolah aku memungut sejumput bunga-bunga melati untuk kutabur di udara untuknya. yang semoga sampai. yang semoga terdengar.

walau telinganya telah dihantam popor senjata. dulu. dulu sekali.

kematiannya seolah telah kulihat semalaman, bahkan dalam layar hpku. berkali-kali, hingga benar-benar tiada. hingga terasa ngilu di dada.

bagaimanapun,
aku pernah mencintaimu, minke,
nyai ontosoroh,
ra tirtoadisuryo,
larasati,
arok,
dan dirimu,
pram.

1 mei 2006