Banyak suara-suara berkerumunan di kepalaku dan pagi ini aku jengah, gelisah, terpaku pada pojokan tempat tidur kita yang nyaris tipis. Menghela nafas dan berhenti di antara jendela untuk melihat awan mendung memenuhi kota. Seolah-olah kebusukan tiada hentinya memenuhi suasana yang terus menerus naik turun secara tiba-tiba. Aku tahu dan mengerti kita sama-sama lelah sewaktu kita melihat tumpukan baju kita yang tidak tercuci.

Seolah-olah aku ingin menabrak jalan-jalan yang kulalui, benda-benda yang kulihat, ah, aku benar-benar butuh kamera dan cahaya mentari untuk mengeluarkan sebagian rekaman di laci-laci kepalaku. Buku-buku menyuruhku untuk membelikan mereka tempat setelah udara semakin dingin dan lembab karena hujan yang terus menerus turun membanjiri pelosok nusantara.

Aku ingin menulis lagi sayang, tetapi aku tak bisa dan ingin kubakar semua tulisan-tulisanku yang semakin lama kubaca semakin busuk semakin membuatku suntuk. Ingin kusulut dan kukubur abunya di daerah antah berantah.

Iwan Fals bergema di telingaku diiringi tawa-tawa yang tak pasti dan asing. Monitor-monitor memenuhi ruang di mataku, kata-kata dari buku-buku yang kubaca menyiksaku dan lampu yang baru kita beli terlalu terang untuk kita tiduri. Tetapi menggodaku dengan genit untuk terus menyentuh buku-buku yang sudah lama terlantar karena liarnya pikiran-pikiranku.

Afrizal dan Puthut membuatku untuk menulis lagi, Eka dan kawan-kawan lain memintaku menulis lebih banyak lagi. Sedangkan pikiranku sedang mati, mencoba bangkit dari kekalutan yang mendalam dan logika-logika yang kucoba bangun dengan sehat. Maka lahir sejenis tulisan ini, atau ketidakmatangan teks-teks yang ingin kuludahi.

Aku sedang benci dengan suara-suara baik di luar kepalaku dan di dalam kepalaku. Aku seperti terkurung di rumah sakit jiwa yang berada di dalam kamar kita sendiri. Aku mencarimu dan menunggumu walau dengan tragis karena semalam kita hanya terpisahkan sebuah tembok belaka!

Aku seperti butuh liburan, aku seperti butuh istirahat panjang, aku ingin menerjang ombak lautan, aku ingin asinnya lautan menerpa seluruh tubuhku, aku ingin sinar matahari membakar kulitku sampai hitam legam. Mari kita menikah sayang, lalu berbulan madu di pulau entah dan kawin sampai mati!

kita membutuhkan tiga hari untuk menata semesta kita yang runtuh oleh gempa bumi yang sebenarnya cukup sebentar tetapi cukup untuk menggetarkan semesta kita. begitulah, selama tiga hari kita menghabiskan waktu dengan menata rak-rak, menyusun buku-buku, mengganti seprai ranjang untuk kemudian dikusutkan kembali. selama tiga hari tiga malam, bayangkan.