bicaralah, ini hari ketujuh, kita tidak sedang beristirahat sekarang, tidak seperti tuhan yang berhenti di hari ketujuh, ingat itu! kita sudah bukan lagi anak-anak, walau ini memang sama sekali tidak lucu. bicaralah…

mengenangmu adalah seperti yang sudah-sudah, tapi dirimu tidak patutlah kukenang. dahulu. jangan dulu. ini adalah hari ketiga, bukan waktunya bangkit dari waktu yang bukan kematianmu. aku menemukanmu, dalam jejak udara yang tidak kian membeku, namun dingin mengigilkan hati yang sendiri dalam pojokan kamar sunyi. bau-bau telapak kakimu menempel di karpet biru, kaus apekmu di keranjang baju serta seprai bantal, seprai ranjang juga tirai jendela kamar kita. aku tidak ingin mencuci tumpukan baju kotormu, bukan karena kekurangan deterjen tetapi karena kekurangan tutup-tutup botol untuk menyimpan sisa aroma segenapmu. sekalipun, aku tidak akan membakar semuanya. hanya menyimpannya, menyimpannya seperti kenangan yang tidak patut dikenang.

makanan di lidahku merindukan bumbu-bumbu dapurmu, yang asin dan pedas. kekhas-an masakan-masakanmu, di panci yang sudah hitam arang dan juga kompor yang tidak kalah hitamnya. lidahku, merindukanmu, segenap rasanya. keringatmu yang asin, tanganku yang pedas sehabis mengulek sambel untuk makan pagi kita. makanan satu piring yang diciptakan untuk kita. lidahku, lidahmu, lidahku merindukan lidahmu.

aku sadar, aku tidak perlu mencarimu di ratusan kilometer menyeberangi lautan. dirimu meninggalkan segala remah-remah sepanjang perjalananmu ke barat. seperti burung-burung yang sedang melintas ke selatan, aku akan memungut semua remahmu untuk mencari kepulanganku. lalu dimana kita akan sampai dan berada, di depan sebuah gundukan makam ayahmu? lelaki tegar yang selalu kau ceritakan dengan mata sendu, mati di tanah asing diiringi kepanikanmu mencari pertolongan selama sehari semalam melintasi belantara hutan sumatera. ditemani macan dan semacamnya, dengan luka-luka di lenganmu. dia sudah tiada di setengah perjalananmu ke selatan, jatuh tidak bernafas di pangkuan ibumu yang sekarang menghilang ke arah timur. dan itulah, hari terakhirmu menitikkan air mata. air matamu sudah habis kini, hanya pernah kulihat di sepotong tulisanmu, corat coret di buku notesku selagi kau menungguku. mengerang, kesakitan seperti tulisanmu. penuh dengan rasa sedih.

kau mengamati tubuhku, mengukur segalanya dengan jengkalan-jengkalan, dengan jangka, penggaris, meteran dan segala jenis ukuran. kau berhenti sejengkal setelah pusarku. matamu bertanya. penuh keluguan. mataku menjawab. penuh sudah semua. kita berhenti di dua buah titik x dan y, menghubungkan segalanya pada titik temu xy. kita berdua yang selalu mendapat jelek dalam nilai matematika versi sekolahan.

matamu penuh kesedihan, di bulan ketiga pertemuan kita. disanalah letak semua daya tarik yang tidak mempedulikan gravitasi bumi, letak geografis dan logika benda-benda. adik angkatmu terlempar dari motornya waktu itu, kau pergi ke timur untuk menguburnya. dia masih menunggumu dalam nafasnya yang terakhir, setelah itu dia selalu lahir kembali dalam mimpimu di malam-malam berikutnya. selalu dan selalu, tengah-tengah subuhmu dipenuhi dirinya. kadang-kadang teriakan, kadang-kadang rasa bingung yang tidak pernah selesai, dan terakhir datang sepercik bahagia mengetahui dirinya tetap hidup dalam mimpimu. ceritamu tidak pernah habis akannya. aku mendengarkanmu sambil sesekali mengamati rangka jendela kayu, sesekali melirik pada matamu yang masih saja terbersit rona kesedihan berwarna abu-abu.

cincin di jari manis tanganmu pernah mengecohku, bukan hanya pernah, tetapi beberapa kali membuatku tidak sengaja mengeluarkan airmata. cincin emas tipis yang tidak akan sampai lima gram jika ditimbang. sisa dari salah satu kancing baju nenek buyutmu yang dilebur jadi cincin itu. cincin itu berukuran pas pada jari manisku. kita saling sering bertukar cincin, tetapi cincin jari tengahku tetap terlalu besar untuk jari manismu. bukan itu saja, cincin perak bermotif tameng dayak itu sama sekali tidak manis untuk jari manis. ia dileburkan untuk melawan atau untuk menjadi tameng dari segala yang mengancam. seperti itulah, mengapa kita bertukar cincin dan selanjutnya mengembalikannya pada jari kita masing-masing.

kita mengenali luka dari bentuk tubuh, tetapi jiwa, seperti lukisan tatto di tubuhmu, dia akan ada selamanya. bukan hanya sekedar luka-luka belaka. begitu juga tentang cinta. kita tidak mengenalinya dari bentuk tubuh, kita mengenalinya dari dalam sini, begitu tunjukmu pada dada. tetapi seingatku disitulah letak jantung, letak kunci hidup.

aku mengenali cinta dari bungkusan plastik sisa soto yang dia jual sepanjang siang, untuk makan malamku yang mulai jarang. makanlah, begitu sahutnya, sambil menebar semua bumbu di mangkok kami, tengah-tengah malam. semangkok soto yang tidak mengenal cuaca selalu menghangatkan hati yang mulai lelah, menutup hari dengan sendok-sendok perak.

begitulah, seperti sebotol orange juice dan sekotak susu bendera coklat yang kita beli malam-malam di circle k, sebelum menuju utara. kita berguman sepanjang jalan, sambil minum di atas motor yang tengah berjalan, berbicara tentang hidup sambil melewati jalan-jalan penuh dengan tutup botol. satu-satunya keunikan yang kita temukan lagi-lagi hanya di kota ini.

lampu bohlam berwarna merah meyambutku di pagi selanjutnya, kau akan terbang ke timur sana? tanyaku, setelah baru mengenalmu beberapa hari. aku seperti merasa kehilangan sesuatu yang sudah lama melekat. di rumah pantaimu, lihatlah ke lautan sekali-kali kawan, angin selatan akan membawa kabarku menuju rumahmu.

yogyakarta, siang ini menyengat dimana-mana. maafkanlah, jika aku sedang menenggelamkan diriku ke dalam kesibukan yang tak henti-henti. kawan-kawanku yang baik, seperti yang pernah dibilang e.k. dan juga p.e.a. aku sedang mempersulit diriku sendiri. entahlah, aku sedang berada di jalan-jalan, tempat-tempat persinggahan baik di utara maupun selatan. tetapi aku sedang senang, begini, walau capek, walau lelah lalu pecah di tempat tidur sepanjang malam.

aku sedang membuang, semua yang perlu kubuang, aku ingin benar-benar meninggalkan dan tidak ada kata untuk kembali. jadi maafkanlah sekali lagi, jika proses itu berkaitan dengan waktu dan segala hal yang sudah kita sepakati. memang, aku juga menunggu, seperti kalian yang juga selalu setia menunggu, sekarang sesuatu yang ditunggu itu akan segera selesai.

semoga kita semua akan segera bermain kembali.

:joned

sebutlah, kisahmu sebagai soemantri dan soekrosono. tetapi benar-benar caramu menyakiti kata adalah melalui gerak badan, caramu menyakiti adalah melalui semua bunyi dan juga dengan tembang-tembang. caramu menyakiti memang dengan cara-cara masoischtis sejati. pertunjukanmu mengingatkanku dengan sade, dirimu mengingatkanku semua bentuk kekerasan akan mencapai titik muak, seperti dunia yang sedang mencapai titik muak.

sebutlah, dirimu sebagai mas mantri dengan adikmu soekrosono. lalu kisah kalian adalah tentang kesetiaan dan pertanyaan-pertanyaan. mengapa harus ada kesetiaan? mengapa imej, mengapa martabat, mengapa keluarga, mengapa kedudukan, mengapa harus setia, mengapa dan mengapa selanjutnya. sebuah pertanyaan yang ditujukan pada masyarakat kita yang terlanjur berada di jebakan semua bentuk kemunafikan.

sebutlah dirimu, sebagai seseorang yang berdiri di tengah panggung, memukau segala penjuru ring pertunjukan. tubuhmu yang basah oleh semua keringat hasil gerakmu, kemilau yang menganggu mata dan rasaku. begitulah adanya, caramu yang meminjam segenap perhatianku. bahkan berhasil menjauhkan diriku dari cinta yang duduk di sebelahku.

jauh dari cinta, jauh dari kesetiaan…

sebutlah dirimu lagi, soemantri yang ingin memindahkan taman sriwedari ke kraton maospati. sebutlah soekrosono mencari dan membantumu. sebutlah dirimu terbelah. sebutlah soekrosono rebah dan mati. sebutlah soemantri si pengkhianat kesetiaan yang tinggal dalam kesepian.

sebutlah aku mencari kesepian itu.

-seusai menonton.nobody wants to kill.gardanalla & don anung-

:untuk w.

Senin pagi yang biadab, lampu-lampu berhenti di semua warna kuning. Tetapi tidak ada wajahmu disitu, bahkan di bau jalanan dan bau karet ban yang terbakar, tiada sepercik pun ditinggalkan. Aku mendapatkanmu masih terkapar di tempat tidur di siang yang sama, lelah, lalu pergi tanpa mencium jejak-jejakku seperti biasa.

Hari itu memang harus dirayakan sebagai pesta kebiadaban. Awal-awal dari ketololan perang berabad-abad lamanya. Aku tertawa melihat kotak-kotak televisi yang sudah dibakar dari neraka peradaban dan dihidangkan di piring sarapan pagi, hangat-hangat.

Lalu aku melihat lukisanmu yang merah merona, seperti bibir laki-laki yang tertinju berdarah. Hasil dari semua kegilaanku padamu, begitu sahutmu menanggapi persoalan kematian kita yang begitu dekat.

Kenapa kita begitu dekat? Kucari jawabku di seluruh alur keringat tubuhmu, dan aku menemukan tangismu yang tidak terdengar disitu. Mendengar seorang lelaki menangis adalah seperti mengiris bawang di tengah jantung kita. Apalagi mendengar tangisan yang tidak terdengar? Belah saja hatiku, seperti mimikmu yang sudah kehilangan jujurnya urat muka.

Aku menemukan punggungmu dalam satu mimpiku suatu malam. Ia bergerak tanpa kusadari, bergerak tanpa kesadaranku. Kukira hanyalah sebuah mimpi yang mempermainkan ingatanku seperti bola sepak. Tapi lagi, itu hanyalah satu bentuk penyangkalanku akan mimpi-mimpi yang sudah terjadi. Mimpi-mimpi yang terjadi ketika jari-jarimu menyentuh dan membongkarku bagaikan kardus mainan kecilmu yang kautemukan di pojokan gudang. Namun kita tidak sedang berada di sana. Kita sedang berada di bawah satu meja untuk menghindari silaunya lampu yang menganggu tidur kita.

Kita sedang membongkar semua kebusukan kita dalam malam-malam yang diciptakan untuk bulan bulat penuh. Di saat yang sama, kita merutuki hujan yang selalu saja menghalangi kita untuk menemukan jalan pulang masing-masing. Bersama Tuhan, kita mencari bentuk kita dalam tampilan televisi kabel dengan empat puluh dua chanel. Doa-doa diucapkan dengan secangkir teh hangat dan bungkusan-bungkusan rokok yang tercecer. Seperti dupa katamu suatu ketika, asap-asap dan sisa abu itu.