Ekor Ikan di atas Danau Phewa

Setelah satu bulan perjalanan

Dadanya mendadak sakit di sebelah kiri

Dan semalaman kau diminta memeluknya

Hingga kesedihan pergi

dan air mata menguap

seperti butir-butir es yang menghujam atap di bawah bukit Archagaon

Seperti rindu

Pucuk cinta berjatuhan seperti salju

Mencapai tanah dan akhirnya mencair jua

Sekian tembok di dadamu telah runtuh setahun yang lalu

Kau tak perlu menengok tembok Cina untuk tahu

betapa tebalnya itu semua

Jauh sebelum semua ini berlalu

Musim dingin akan datang

Dan topan telah membuat segalanya bergeletakan

Mengundang kematian dan ratapan

Dadanya bergemuruh di bawah siraman air panas

Air matanya mengalir seperti arus Sanubheri

yang tak tertahankan

Kau ingat betapa dinginnya air sungai di Himalaya

Bagai tusukan duri es yang seolah akan memerangkap isi kulitmu

Yang hanya manusia

Namun tusukan di dada

seperti kecupan yang tak kunjung reda

Di antara musim yang berdatangan

Sebagaimana tangisanmu

yang mencairkan segala kebekuan

di puncak-puncak gunung salju

Dan di sela mentari pagi

Ia selalu membangunkanmu

Untuk selalu melihat ke arah cahaya

Merahnya Dharamsala

selimut merah marun
masih bersibak harum
dharamsala

tetes salju pernah mengendap
dingin udara pernah meresap
dalam gelap

malam-malam sepi
dalam detak dada yang terbaring
jemari yang mencari
terkatup hingga pagi

di tanah ini
ziarah-ziarah sunyi
terjadi

dalam keheningannya
aku menghirup
segala kenanganmu
segala ingatan
dan memori

dan pada segala kehilangan
dalam mata biksu
yang menatap nanar
api yang tengah menyala

di tanah mereka
jauh disana

lilin tak lagi cukup menerangi
tubuh telah menjadi sumbu

betapa, betapa merahnya
dharamsala

dalam matamu
aku mengingat
segala cerita

pada akhirnya kita semua adalah pengungsi
dalam naungan buddha
dan dalam doa yang kelak
menyala dalam lilin biasa

The Red of Dharamsala

The red maroon blanket
still smell of Dharamsala

The drip of snow has once precipitate
The cold air has once seep through
In the darkness

Lonely nights
Inside the beating chest whom had lied down
The lingering fingers
Clasping together until morning

In this land
The silent pilgrimages
Existed

In its quietness
I breath
All your memories
All memories
Which once mine

And in every lost
At the monk’s eyes
That stared at
The burning fire

On their land
Far away

Candles no longer illuminate
Bodies has become the burning thread

How red, oh how red is
Dharamsala

Inside your eyes
I remember
Every stories

In the end we all are taking refugee
Under the auspices of Buddha
And in the prayer that one day
Can light like an ordinary candle

Menuju Laut Lepas (Towards the Open Sea)

:c.

jejakmu nampak
dalam sulur dedaunan
di sepanjang tanah jawa

your steps arises
in the vine leaves
across this land of java

waktu seperti mundur ke belakang
sementara kita tidak sedang berada
di atas kuda
pada sebuah jaman yang lampau
ini bukan sesuatu
yang bukan apa-apa

time took a step back
while we are not
riding horses
of the past
this is not something
that is not nothing

ketika kujejakkan kakiku pada tanahmu
suatu waktu
momen itu hanyalah untuk menunggu ingatan
pada sebuah tepian sungai
dimana aku menangkapmu
bagai ikan
dan melepasmu sepanjang jalan
pulang

when i step my feet on the ground of your land
one time
that moment only awaits the coming memory
on the riverbank
where i caught you
like the fish
and release you all the way
home

aku menatapmu berenang
menuju laut lepas
dan dalam perjalananku
aku menatap
ke arah yang kau tuju
laut, laut, laut

i see you swimming
to the open sea
and on my journey
i saw
to the direction you are heading
the sea, the sea, the sea

dan jejakku yang bergerak menujunya

and of my steps slowly going to the same sea

melalui sungai yang sama: ibu gangga yang agung

through the same river: the magnificent mother of gangges

Keeping Quiet (Tetap Diam)

Now we will count to twelve
and we will all keep still.
Sekarang kita menghitung sampai dua belas
dan kita akan tetap diam

For once on the face of the earth,
let’s not speak in any language;
let’s stop for one second
and not move our arms so much.

Untuk sekali ini di muka bumi ini,
marilah kita tidak bicara dalam bahasa apapun;
mari berhenti untuk satu detik
dan tidak menggerakkan tangan kita terlalu banyak.

It would be an exotic moment
without rush, without engines;
we would all be together
in a sudden strangeness.

Ini akan menjadi momen eksotis
tanpa terburu-buru, tanpa mesin;
kita semua akan bersama
dalam keanehan yang tiba-tiba

Fishermen in the cold sea
would not harm whales
and the men gathering salt
would look at his hurt hands.

Nelayan di laut yang dingin
tidak akan menyakiti ikan paus
dan para laki-laki yang mengumpulkan garam
akan melihat pada tangan-tangannya yang terluka.

Those who prepare green wars,
wars with gas, wars with fire,
victories with no survivors,
would put on clean clothes
and walk about with their brothers
in the shade, doing nothing.
What I want should not be confused
with total inactivity.
Life is what it is all about; I want no truck with death.

Mereka yang mempersiapkan perang hijau,
perang dengan gas, perang dengan api,
kemenangan tanpa ada yang selamat,
akan mengenakan baju bersih
dan berjalan dengan saudara mereka
di bawah keteduhan, tak melakukan apapun.
Apa yang aku inginkan janganlah dikacaukan
dengan total tanpa kegiatan.
Hidup adalah mengenai semua ini; aku tak mau berurusan dengan kematian.

If we were not so single-minded
about keeping our lives moving,
and for once could do nothing,
perhaps a huge silence
might interrupt this sadness
of never understanding ourselves
and of threatening ourselves with death.
Perhaps the earth can teach us
as when everything seems dead
and later proves to be alive.

Jika kita tidak terlalu berpikiran satu hal saja
mengenai membuat hidup kita selalu bergerak,
dan untuk sekali saja tak melakukan apa-apa,
mungkin sebuah keheningan yang besar
dapat menganggu kesedihan ini
akan ketidakmengertian kita mengenai diri kita sendiri
dan mengancam diri kita sendiri dengan kematian.
Mungkin bumi akan mengajarkan kita
ketika semua terlihat mati
dan kemudian ternyata masih hidup.

Now I’ll count up to twelve
and you keep quiet and I will go.


Sekarang aku akan menghitung hingga dua belas
dan kau tetap diam dan aku akan pergi.



Pablo Neruda


Diterjemahkan oleh Astrid Reza

Gemintang Yang Kedua (The Second Sight of Stars)

:c.

sore itu, pohon randu di tengah candi
seolah tengah memeluk
senja yang tak memburu

that afternoon,
the randu tree in the middle of temple ruins
seems to embrace
the unrush twilight

malam itu di bawah gemintang yang kedua
kita tengah berkaca pada diri masing-masing
dan kau raih tanganku
menenggelamkan segalanya pada semesta raya

that night,
under the second sight of stars
we were reflecting at each other
and suddenly you took my hand
drowning everything in that very universe

kurasa telah kulihat semua mimpi ini
telah kubaca pada bintang-bintang di langit barat
bahwa api itu akan datang bagai naga
yang perlahan

i felt that i seen this dream
i read it on the stars of the western sky
that the fire would come slowly
like a gentle flying dragon

kukejapkan mataku dengan pelan
mencoba menyimpan semua ini
ketika semua kata sedang tak kelihatan
dan masing-masing lidah kita sedang saling menahan
segala yang akan selalu datang
dan selalu pergi

i winced both of my eyes quietly
trying to remember all this
when all the words are unseen
and each of our tongues seems to hold
on whatever may come
and whatever may leave

dan semua langit malam yang tak akan pernah sama lagi

and of all the night skies that would never be the same anymore

parangendog, 26th june 2012