:a.y.

di antara hamparan pandangku
dadaku tiba-tiba menyengat
karena bintang-bintang di kota ini begitu terangnya
aku silau dijamah rindu
ketika tangan kita pernah bergenggaman erat
di antara pagi dan jalanan yang sepi

aku hilang pada kesepian kita…

Prolog Senja

kata-kata menelanku di kota ini, pada lembar-lembar putih, pena-pena lalu kacamata pembaca-pembaca, di tangan kawan-kawan, seperti air yang mengalir sungai. mendobrak pintu-pintu air kota, membuka terowongan-terowongan rahasia abad lampau, lalu masih ada kita yang bercinta masih di atas kasur itu dan dinding merah terakota tua, dua malam lamanya. saling menelan air mata, duka dan tawa seraya bersetubuh-rubuh menjadi satu.

aku masih ingat warna kulitmu, coklat tua menggemaskan dan kadang-kadang menggilakan. sering kuciumi permukaan coklat itu, sering pula kubasuh dengan segala yang bisa membasuh, baunya lekat melekat di tubuhku juga begitu seringnya. sungguh mengertikah mereka mengapa tarianmu yang mendedak bumi, langkah derap sepasang kakimu begitu sering menggodaku. lalu keheningan datang dengan bening seperti gemericik air mengisi malam.

pada tangan kirimu dan tangan kiriku, kucari garis -garis yang menghubungi genggaman tangan kita yang bertahan bermalam-malam. kugali kuburmu dan mandi dengan segala sisa abu disitu.

djokja, 30 april 2002

merekam kematian pada kertas putih bukanlah dosa di tanganmu, juga bukan karena tinju yang mengalir ke arah rahangmu kawanku sayang, juga bukan karena seorang perempuan kau menjadi penuh dengan amarah dan angkara. karena kau adalah seorang rahwana yang mencintai sita dengan gila, dengan murka, dengan darah dan hati yang tetap saja suci penuh luka doa. maka, ada saatnya kau tidur dipangkuanku, tertidur terlelap menenangkan suasana, esok hari kau sudah harus pergi lagi, menggelar perang, mengumbar raga melawan rama-rama sombong itu.