saya juga tidak mengerti kenapa mereka lebih suka menjadi perhiasan atau sejenis pajangan ketimbang bergerak langsung di jalanan. apakah sebuah pilihan menjadi begitu sulit? saya sudah lelah dengan apa yang disebut gender, pembagian demi pembagian. karena bagi saya itu semua menjadi omong kosong. sama seperti semua puisi tentang kartini yang pernah dibuat. semuanya menjadi terlalu romantis dan penuh basa-basi. ini sudah terlalu melelahkan. dimana semua perkataan itu terjadi? dimana semua itu pernah berinteraksi, kenapa semuanya begitu kosong melompong dan seolah-olah hanya saya sendiri dalam ruangan seperti ini?

kita yang masih disini, duduk di antara meja menyusun sekian revolusi yang masih saja belum tersedia di makan pagi kita. apalagi yang tersisa, selain orang-orang terdekat kita lalu keseharian kita yang masih juga membutuhkan sekian perubahan.

seperti dalam wilayah yang absurd, kita masih disini membicarakan tentara, tentara dan tentara! menusukkan belati di dada mereka dengan pena. mereka yang tidak pernah sendirian dan kita yang menulis harus dengan sendirian. dan mereka masih saja dengan tenang menembaki orang-orang, merampas, menginjak-injak semua yang bernama kemanusiaan.

lalu ada saya, ada kamu dan ada semua. tidak bisa hanya melihat saja, karena ini bukan sinetron, anjing!!! dunia juga bukan sebuah televisi raksasa yang pantas kita tonton berulang-ulang. dimana kepala dan hati kita, kemudian perasaan yang sudah dijatuhkan berkeping-keping.

masih ada sesuatu dari kehancuran. masih ada sesuatu dari yang sudah dipecahkan. sesuatu itu harus kita temukan, segera dan jangan berbasa-basi lagi!