#30harimenulis

Day 25: Yogyakarta, 27 September 2010

Tara

Email balasan itu masuk. Kenneth Maruti di inboxnya. Segala hal yang kau ingat tentang Kenneth Maruti dan ibumu mengingatkanmu akan sesuatu. Bahwa segalanya dalam dunia ini mulai abu-abu. Mulai tak kelu. Segalanya mulai berjalan melampaui benar atau salah. Baik atau buruk. Sosok abu-abu yang kau kenang. Raka. Fotografer favoritmu dengan spesialisasi membuat warna abu-abu diam dalam foto-fotonya.

Kau tak pernah bertemu dengan dirinya lagi. Lagi-lagi kau mengingat Kenneth Maruti dan ibumu, dan puluhan tahun yang mereka lalui. Bersama pada satu ingatan. Memori. Sejarah. Rasa kemelakatan abadi dalam perasaan individu-individu.

Kau membalas email itu sambil melepaskan ibumu, melepaskan ayahmu dan bahkan dirimu. Kau begitu lega setelahnya. Rasa maaf dan terimakasih membumbung dari dadamu. Kau berterimakasih dari hatimu yang terdalam kepada Kenneth Maruti. Agar dia tidak lagi bersedih. Ia harus tahu bahwa membuat ibunya bahagia di suatu waktu adalah bentuk-bentuk keabadian yang tak tergantikan. Ingatan berharga yang tak tergantikan.

Kata-kata kadang dapat menyelamatkan seseorang seumur hidupnya. Kata-kata sesederhana: maaf dan terimakasih pada kehidupan.

#30harimenulis

Day 24: Nairobi, 26 September 2010

Kenneth

Sudah berhari-hari Kenneth memikirkannya. Memikirkan kapan untuk membalas tombol reply di layar Blackberry-nya. Ia memikirkannya namun enggan mengingatnya. Ia merasa lucu bagaimana sebuah tombol dapat menentukan segala ingatan akan dirinya, akan Vivian dan akan kenangan mereka bersama.

Ia mengingat perjalanan hidupnya. Mengingat kota-kota yang pernah hidup dalam kenangannya. Tak ada yang sepekat kota Wina. Kenneth menghela nafasnya. Panjang sekali. Bahkan sekotak coklat Belgia yang selalu ada di laci meja kerjanya mengkhianatinya. Ia selalu menginginkannya. Dark chocolate dengan filling mint berwarna putih. Bertahun-tahun coklat itu wajib berada di tempatnya, kadang bukan untuk dimakan. Namun untuk dikenang.

Bahkan putrimu menemukanku, Vivian. Aku tak mengerti. Tak mengerti mengapa ia menemukanku. Apakah kau ingin ia menemukanku? Aku sulit berbicara sambil mengenangmu.

Matanya basah. Lagi-lagi. Seperti sekian puluh tahun yang lalu di Flughafen Wien di pagi yang paling dingin dalam hidupnya.

#30harimenulis

Day 23: Bogor, 14 Desember 2006

Tara dan Tio

“Kau tak perlu mengirimkannya, yah. Kita bahkan tidak tahu apakah orang ini masih hidup atau tidak.”

Tio memberengut. Baginya kesedihan itu memuncak serupa dendam. Tara mengalah, mengetahui bahwa ia tidak bisa mengubah keputusan ayahnya. Bahwa kematian dan rasa cinta bisa menjadi sebuah rasa cemburu yang buta tak perlu.

Surat yang dibuatnya penuh kebencian itu sudah di dalam amplop. Untuk laki-laki yang lebih hitam dari dirinya, yang pernah merengut istrinya, ingatan istrinya di suatu waktu di masa lalu. Mereka telah menorehkan sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang lebih menyengat ketimbang sebuah rasa kehilangan istrinya yang begitu dicintainya. Ia sadar bahwa setiap manusia bukanlah orang suci. Juga bukan dirinya. Tapi bentuk dendam itu tak juga hilang. Ia harus berbuat sesuatu untuk luka pada hatinya yang semakin mendalam.

Tio menyimpan surat itu ke dalam laci. Tara menatapnya. Mengingatkan bahwa semua hal ini akan sia-sia belaka. Sebagai seorang anak, Tara mungkin bisa memaafkan ibunya namun dirinya sebagai seorang suami, sulit baginya untuk memaafkan kesalahan istrinya.

Dadanya terasa bengkak. Rasa sakit menjalar dari organ hatinya. Ia kesal. Begitu kesal, sedih dan kecewa. Seketika Tio memuntahkan darah di tempatnya berdiri. Darah memenuhi meja kerjanya. Tara panik. Berteriak memanggil Kama.

#30harimenulis

Day 22: Wina, 15 Desember 2012

Raka

Laki-laki itu terbangun dan tak mengerti mengapa matanya basah. Ia tahu ia tak sekedar merindukan istrinya, Katrina, yang diantarnya ke Flughafen Wien pada hari kemarin. Sesuatu telah menyentuhnya ketika salju pertama jatuh dari langit dan menimpa tanah. Sesuatu yang menggoncangkan pertahanan dirinya untuk mengingat sebuah rasa yang timbul dari dalam dada. Sebuah rasa yang menebal pada pagi berikutnya sehingga membuat matanya basah, bantalnya basah dan dadanya sesak tak karuan. Ia melap air matanya. Kedua anjingnya menyambutnya, menjilat sisa air mata yang masih lembab di pipinya. Dua ekor Siberian Husky, keduanya jantan. Yang satu bermata biru dan yang satu bermata abu-abu.

Kedua ekor anjing kesayangannya mengingatkan dirinya akan sesuatu. Ia terduduk di ranjangnya. Enggan bangun dan melingkarkan selimut ke badannya. Sakya, anjingnya yang bermata abu-abu menarik-narik selimutnya dengan giginya. Sedangkan Sinkh, melingkarkan kepalanya ke tangannya, minta dielus-elus. Anjing-anjing yang manja pikirnya. Ia begitu menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.

Katrina pernah bingung dengan cara ia menamai kedua anjing itu. Nama yang aneh dan eksotis katanya. Kadang terasa terlalu jauh dan asing. Ia tengah mengingat sesuatu yang jauh dan asing. Sebuah ingatan yang pernah dibaginya dengan seseorang. Ia tak pernah sepenuhnya mengerti mengapa ia menamai kedua anjingnya dengan nama-nama itu. Mungkin ia memang tengah mengingat seseorang itu, ingin mematri ingatan itu pada sesuatu.

Ia bangkit dari duduknya, sedikit malas-malasan. Membuka kulkas dan menuangkan susu untuk kedua anjingya. Menuangkan untuknya di panci untuk dijerangnya. Ia butuh segelas coklat hangat untuk menyelamatkan pagi itu.

#30harimenulis

Day 21: Wina, 15 Desember 2012

Tara

Setelah konferensi hari ini berakhir dan Asa, anakku sudah kembali ceria, kami berjalan kaki, keluar dari hotel dan menyusuri kota Wina. Mencari tempat untuk makan malam. Aku selalu membawa anakku kemana pun aku pergi. Sebuah pegangan pada kehidupan untuk senantiasa berjalan.

Aku tak tahu mengapa wajah anakku selalu mengingatkanku pada dirimu. Aku merasa menjadi perempuan dalam mitos-mitos. Karena kau hanya datang dalam mimpi-mimpiku selama kehamilan anakku. Hanya dalam mimpiku kita bisa bersentuhan.

Aku tak mengerti banyak hal. Aku juga mengerti banyak hal. Ketika aku melihat anakku dan membawanya ke kota ini, menyadari kehadiranmu di kota ini, aku merasa cukup lega. Juga penuh. Rasa kelengkapan itu melekat. Begitu dalam akan ingatanmu, akan segalanya tentangmu.

Asa tidak pernah bertanya tentang ayah kandungnya. Tapi ia selalu bertanya akan sebuah foto yang kau ambil dan kupajang selalu di kamarnya. Aku selalu menyukai foto itu sejak pertama kali aku melihatnya. Asa selalu bertanya tentang foto itu dan aku selalu menceritakannya seperti sebuah dongeng favorit yang diulang-ulang.

Seperti aku, anakku, kami selalu merindukanmu.

#30harimenulis

Day 20: Wina, 14 Desember 2012

Kenneth


I’m still alive, Vivian.

Ya, aku masih hidup dan waktu mendaratkan aku kembali ke kota ini. Ke dalam ingatan-ingatan akan dirimu yang telah tiada. Aku masih merasa sendirian. Begitu sendirian semenjak kau lenyap dari pintu keberangkatan di Flughafen Wien. Segala cara sudah kucoba untuk mengusir rasa sepi yang menderaku.

Aku pun menikah dan punya anak. Tapi memori begitu kejam untuk tidak mengijinkan ingatan akanmu menghilang dan terhapus. Tidak pernah ada yang mengajarkanku untuk menghapus sesuatu dari kepala, selalu ada sesuatu yang membuat segalanya tidak terjadi secara sukarela.

Kau akan menghilang dariku pada momen di mana aku akan mati. Tiba di kota ini, segalanya menjadi lebih hidup. Vivid. Seolah-olah aku dapat menyentuhmu. Salju pertama jatuh dan aku melihatnya di kaca jendela bandara. Kaca yang memisahkanku dengan memori kota dimana jarak dan waktu tak ada lagi denganmu.

Aku melihatmu, duduk di kafe, meminum segelas kopi dan aku ingin menghampirimu. Jika segalanya sebegitu nyata. Aku ingin menangis. Entah karena sosokmu atau salju pertama yang jatuh ke tanah. Pecah berserakan serupa hatiku yang kehilanganmu. Selalu.

#30harimenulis

Day 19: Buitenzorg, 27 Agustus 2006

Vivian

Mataku terpejam sudah. Gelap, Kenneth. Aku begitu mencintai kegelapanmu. Aku ingat aku begitu mencintaimu dan membiarkanmu lepas. Membiarkan dirimu melepasku dan mengurung kembali hatiku. Apakah kau masih mengingatku, schatz?

Segalanya terlewat di depan mataku. Segala potongan hidupku dan aku tak lagi kuat. Aku tahu kau masih hidup, maka beberapa hari yang lalu ketika mulutku masih kuat berbicara, aku menceritakanmu kepada Tara, putriku satu-satunya. Aku tahu aku bisa memercayainya. Dirinya yang jauh lebih kuat dariku dan selalu lebih berani, juga lebih nekat. Dia bahkan tidak menangis mengetahui aku akan pergi dari sisinya. Ia hanya marah besar ketika aku dipindahkan ke ICU dan dibiarkan sendirian disana. Aku lega ia berhasil memindahku ke kamar biasa dan berada di antara orang-orang yang kucinta.

Aku tak lagi melihat. Aku hanya merasakan setiap orang berpamitan kepadaku. Bahkan orang-orang yang bersalah dan aku mempunyai salah kepada mereka. Aku lega. Waktuku selesai sudah. Dalam kegelapan ini aku mengenangmu.

Aku mengingat hari-hari kita di Wina. Dinginnya udara. Manis dan pahitnya coklat. Sachertorte favoritku. Coklat mint Belgia favoritmu. Lalu kepulan kopi hangat di kafe-kafe pinggir jalan kota Wina.

Kematian tak lagi menakutkanku, Kenneth. Ingatan terbaikku memberikan apa yang terbaik untuk kukenang, menunggu detik-detik maut menjemputku. Segala harapanku menjadi doa terakhirku. Segala kebaikan dalam hidup ini menjadi lebih jelas. Memaafkan segala dan menerima segala. Betapa ringannya tubuh dan hidup kini.

Cahaya tiba-tiba menusuk mataku. Ayahku dan adikku menjemputku di sebuah gerbang. Cahaya, Kenneth. Aku akan pergi sekarang.

Kenneth Maruti, ich liebe dich.


Auf wiedersehen…