cerita untuk qq

terkisah dialah tuhan dan aku setan penggoda. aku yang pernah mengecap surganya dan dicampakkan ke atas bumi. lalu aku menari-nari di liuk-liukan jalanan, mencari korban. memangsa dengan buas cermin-cermin keluguan.

aku pernah bersamanya di antara pepohonan, yang begitu hijau ranum. aku pernah melumat habis buah-buah merah delima itu sampai tak tersisa inti sarinya. dia menatapku tajam dan aku masih menjilatinya. dia hanya meringis, entah marah atau menangis.

suatu hari dia diam seribu dendam dan dilemparkannya aku ke bumi. aku kehilangan sayap-sayapku, aku mati dan patah. putihku berubah jadi merah darah. sungai-sungai pun berubah warna tertumpah berkaleng-kaleng cat merah pekat dari langit. hari itu semua gelap hitam dan terbakar merah darah amarah. bumi tak punya lagi matahari dan matahari tak lagi sudi menyinari bumi. hanya api, hanya api, membakar bumi. neraka bumi. seperti kiamat yang datang, aku mengerang dan berteriak TUHAN!

dia yang kupuja, kusembah, kucinta, satu-satunya. menghempaskanku begitu saja, sampai mati rasa tulang-tulangku merasai kerasnya tanah merah ini. tetapi ada yang lebih hancur daripada raga. ada yang lebih hancur daripada jiwa.

namun semuanya ada di masa yang sudah lampau. karena aku adalah hitam dan dia adalah putih. aku adalah matahari dan dia adalah hujan. aku adalah macan dan dia adalah lembu. dia adalah tuhan dan akulah setan. kami tetaplah ada walau berjarak langit dan bumi. mungkin suatu hari kami akan bersatu kembali ketika semuanya sudah menjadi keabu-abuan.

debu berdebu yang mengabu.

aku ini si malin kundang
tidak mengenal kelamin
lelaki atau perempuan

aku dikutuk-kutuki
disumpahi sampai hatiku beku
dan sekarang keras seperti batu

aku ini si malin kundang
anak yang hilang dari peradaban
bukan timur dan juga bukan barat
aku ini tamu yang tak diundang

si malin kundang
mencoba berkumandang
tetapi hanya diizinkan berdendang!

bau rokok kataku
keringat sisa semalam
kau belum juga mandi

kaus merahmu masih melekat
dan celana jinsmu masih yang itu-itu juga
kau belum juga mandi

pagi ini
aku semakin tidak peduli
dan kau belum juga mandi