:kotak penuh kejutanku

aku merasa seperti sedang mencari judul film yang tidak seberapa kusukai, sesuatu yang berjudul nyaris tiga puluh hari. ini nyaris tiga puluh hari dan kau selalu mengingatkanku setiap hari. ada banyak cara dan banyak acara dimana aku nyaris menculikmu yang pada banyak seandainya jika kau berukuran kurang lebih dari tiga puluh sentimeter, sudah kuculik dirimu dalam tas abu-abuku. kau muncul seperti boneka teddy bear cokelatku yang hilang bertahun-tahun yang lalu. sehingga pada saat kehilangannya aku nyaris membenci semua macam boneka. kau jelas-jelas mengingatkanku, tentang sebuah boneka teddy bear cokelatku yang kini aku tidak pernah ingat lagi namanya.

tapi dirimu nyaris lucu dan kisah kita selalu membuatku tertawa. kita yang sudah nyaris tidak mempercayai apa-apa selain komedi, kesatiran dan hal-hal absurd yang tidak pernah kita mengerti. ini seperti sebuah permulaan dari novel-novel yang akan kita buat di kemudian hari.

setidaknya kau bukan sesuatu yang besar menimpaku jatuh dan lagi-lagi nyaris tidak berdebam. lalu jika kau benar-benar jatuh tidak terdengar aku yakin aku pasti akan mendengarmu. seperti terpaan sarung adinda pada gesekan rumput yang terdengar saijah jauh di dalam tanah.

:masih pada sosok yang sama

ada sejarah baru keluar dari mulutku siang ini. pada raut menjelang pukul tiga. dan kita masih disana, membuat air bah dalam kamarmu dalam siang seterik hari ini.

kau pura-pura menghapus basah. namun tidak pura-pura ketika tertangkap basah. juga aku.

di atas dusta yang kita tambah dalam daftar dosa, kita masih dapat melahirkan banjir di tengah-tengah kegersangan kita. sudah hilangkah pasir dari tempatmu hari ini?

sesuatu yang jatuh biru

langit masih jatuh biru di dadamu

masih tidak kunjung pecah
dan patah

dua tanduk di kepalaku masih belum lenyap
juga ekorku yang menyelinap

dan diriku masih jatuh biru di dadamu
masih tidak kunjung selesai dari duka
dan waktu

sesungguhnya bagaimana mereka akan mengenang nama-nama dalam sebuah buku yang sedang kau pegang tadi siang. kita selalu tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita buat. pada sekian refleksi atas dua buku yang kita bicarakan, sepertinya kita melihat kilasan jejak diantaranya nyaris seperti apa yang sedang kita lakukan saat ini.

pada titik-titik tertentu, seandainya kita masih mempercayai sesuatu. sesuatu yang tidak pernah kita khianati. tetapi hal itu seperti bentuk canda yang nyaris terlalu serius. lalu kita masih saja mentertawakan bentuk-bentuk di udara yang sedang kita salin di kepala. semuanya tiba-tiba terlalu menghambur dari dalam dada. banyak hal masih tidak kupercaya.

dan aku masih tertawa, seandainya semudah itu meninggalkan sebuah airmata semudah sebuah tawa. aku melihat 3600 detik melintas di depanku lalu dirimu melintas di depanku.

di atas semua ini, aku masih sangat ingin menyeretmu. dengan sungguh.

:kita, yang masih terjebak dalam sekian percakapan yang tidak diinginkan

aku merasa hujan begitu tolol menggoda kita di pinggir meja itu. aku tak paham akan apa yang kutemui hari ini. semuanya. seolah-olah segalanya begitu blank untuk ditekuni bahkan. banyak hal dengan tiba-tiba kuhapus dalam inbox ingatanku.

dan waktu masih bertanya di sela-sela kedinginannya, menunggu untuk menikam kita dihari-hari yang sungguh tidak pernah biasa. sepertinya masih banyak ketololan yang lain menunggu kita di luar sana.

:pada segala yang masih

kota penuh ritmis ini masih segelap kemarin sore, seperti waktu kau tinggalkan senja semudah kau meninggalkan jaket hitam yang bukan punyamu itu. kau begitu mudah terkapar di ibukota dan terkurung tak berdaya.

kau mengeluh, memintaku mengirimkan kunci rumah atau mengirimkan bungkusan penyelamatan. tiket yang kupegang masih menunjukkan pukul delapan belas lima belas. masih besok sore.

pada dua puluh empat jam berikutnya, sosokmu masih kian ringkih seperti terakhir kali aku memelukmu. aku selalu terlempar gembira bahkan jika kau berhasil menghabiskan makan malam yang tersedia di meja. atas banyak hal aku berkesimpulan dirimu nyaris: anorexia…

kita seperti lahir dari generasi nyaris amnesia, terkadang depresif dan punya obsesi sejenis anorexia dan kawan-kawannya. namun masih di bawah semesta yang kau tatap: kita tidak menanamkan apa-apa, juga tidak kehilangan apa-apa*

semoga.

aky, 3 desember 2004

*mengutip soe hoek gie