Tentang Keberanian

Beberapa hari lalu ketika saya melihat posting Inna Hudaya soal tagar #metoo atau #sayajuga, saya otomatis menggerakkan diri untuk menuliskan cerita saya. Namun efek dari apa yang saya bagikan pada publik, berbalik seperti ombak besar pada diri saya.

Skala persoalan ini begitu besarnya, saya merasa diterjang tsunami atau gempa-gempa besar yang pernah saya rasakan di hidup saya. Dan gilanya, gempa ini saya rasakan datang dalam diri saya.

Saya memutuskan untuk hari ini berbicara dengan lebih jernih dan dalam bahasa ibu saya. Bahasa Indonesia. Saya mengetahui dengan benar apa yang saya ceritakan akan membuat yang membacanya merasa sungguh tidak nyaman. Tulisan ini dibuat bukan untuk membuat pembacanya nyaman. Namun saya merasa, dunia ini sudah tidak punya waktu untuk merasa nyaman akan hal-hal yang begitu merusak kehidupan kita.

Saya merasa, dengan membicarakan ini, saya membicarakan apa yang selama ini tabu di masyarakat kita. Saya bicara untuk ibu saya, nenek saya dan semua perempuan sebelum saya. Juga untuk perempuan-perempuan masa depan, anak cucu saya di masa mendatang. Untuk mereka saya berbicara dan untuk mereka, saya ingin mengatakan bahwa keberanian itu menular.

Pada usia enam tahun, sepupu laki-laki saya melakukan pelecehan seksual terhadap saya selama dua tahun lamanya. Saya selalu diam dan merahasiakan ini, tidak membicarakannya kepada siapapun di keluarga saya. Dia adalah sosok kakak laki-laki pertama saya yang saya kenal dalam hidup saya yang masih polos. Dan bukan menjaga saya, dia mematahkan apapun yang saya percaya mengenai laki-laki di umur yang begitu belia.

Di usia dua puluh enam tahun, mantan suami saya melakukan perkosaan terhadap saya. Karena dia pikir dengan melakukan hal tersebut sebagai usaha membuat saya hamil lagi dengan anak kedua, pernikahan kami akan bertahan. Alasan dimana pernikahan kami berakhir adalah ketika saya mengetahui bahwa ia telah melecehkan 7 teman dekat perempuan saya selama saya dalam kondisi hamil dan menyusui anak laki-laki saya. Tujuh perempuan bayangkan! Ini sakit jiwa. Saya tidak membutuhkan seorang bapak yang tidak bisa menghormati perempuan untuk anak laki-laki saya. Keputusan untuk bercerai sepenuhnya saya lakukan atas dasar ini.

Saya bisa bilang sekarang bahwa, selama proses saya hamil dan menikah dengannya selama hampir dua tahun. Saya membiarkan diri saya diperkosa berkali-kali. Karena saya tidak menginginkannya dan saya bahkan berada di titik muak dengan seks. Dan laki-laki yang harusnya menjaga saya, menghormati saya, bahkan tidak menghormati ketika saya berkata tidak. Saya harus menendangnya, mengatakan tidak berkali-kali, dan dia tetap tidak mendengarkan saya. Saya tidak tahu bagaimana mengatakan atau bercerita kepada orang lain ketika saya mengalami kekerasan di dalam rumah dan kamar saya sendiri. Ketika anak saya lahir perlahan saya membangun keberanian saya, karena anak saya adalah masa depan.

Dan mantan suami saya melakukannya karena dia pikir dengan saya menjadi istrinya, saya adalah objek. Mainan yang bisa diperlakukan seenaknya dan sudah menjadi kewajiban saya untuk menurutinya. Jika pernikahan adalah sesuatu yang didasarkan dengan hal ini, saya memilih untuk tidak menikah lagi. Buat saya cukup sekali saya diperlakukan sebagai objek seksual belaka. Barang dan properti orang lain.

Dua insiden ini begitu membekas dan merusak saya dari dalam. Yang lebih parah semua ini didukung oleh sistem. Ketika sistem tenaga kesehatan seperti dokter yang seharusnya menangani saya ketika mengalami trauma paska perkosaan. Malah mengatakan dan menyalahkan saya, bahkan mentertawakan saya, melecehkan saya secara mental. Saya berbalik kepadanya, mana ada orang yang mau diperkosa, bahkan oleh suami sendiri?! Maaf, tapi persepsi di Indonesia ini gila. Mereka tidak percaya bahwa ada perkosaan dalam pernikahan, ada perkosaan dalam pacaran, ada begitu banyak pelecehan. Dan kemarin malam saya harus membaca posting Dhyta Caturani bahkan Kapolri negara ini menyalahkan korban perkosaan.

Ini gila. Saya harus bicara.

Ketika bahkan saya sudah tidak percaya dengan kepala polisi pimpinan nasional negara ini yang seharusnya menjaga dan mempertahankan hak setiap warganya untuk mendapatkan rasa aman. Pimpinan macam apa yang membiarkan kami para perempuan dirusak sedemikian rupa. Negara sudah melakukan kekerasan terhadap kami, tidak menghargai dan menghina kami sebagai perempuan. Tidak ada perlindungan yang bisa kami harapkan dari mereka.

Siang ini saya bertanya, apalagi yang harus saya percaya?

Rasa sakit di dada ini terasa bertubi-tubi. Teman-teman yang berbagi kisahnya sekian hari ke belakang di postingan saya dan juga yang mengirim pesan personal mereka kepada saya. Kami seperti saling memeluk dan menangis sambil berpegangan tangan. Kami hanya bisa menjaga diri kami masing-masing dengan kekuatan kami masing-masing. Jika kami bisa membasuh luka kami dengan air mata, kami sedang melakukannya. Kami membasuh diri kami sambil tetap berdiri tegak. Biar lelah kami diserap oleh tanah, ibu sejati kami dan kami memiliki kekuatan untuk meneruskan hidup kami. Merawat dan menjahit luka di rahim kami, menyembuhkannya, agar kelak kami tidak melahirkan lagi generasi yang penuh luka-luka kekerasan.

Baru minggu lalu saya memberikan kesaksian dalam rekaman soal kekerasan domestik di Indonesia dan sekian kekerasan yang terjadi pada tubuh saya. Baik oleh pribadi, baik oleh negara, baik oleh sistem. Baru tahun ini juga, saya mengalami kekerasan oleh mantan pasangan saya dimana saya mengalami pemukulan (battering) ketika saya berada di negeri asing. Saya sungguh berterimakasih kepada teman-teman saya dari seluruh dunia, guru dan kawan baik saya di Nepal, yang menjaga saya melewati proses ini. Saya tahu, semua peristiwa ini akan membuat saya jauh lebih kuat sebagai seorang perempuan dan juga manusia.

Saya bahkan mengatakan jika saya adalah jalan dimana semua pengalaman saya bisa berguna bagi semua orang untuk berefleksi. Merasakan apa yang dirasakan setiap perempuan yang mengalami kekerasan. Saya merelakan diri saya. Biarlah apapun yang sudah terjadi sekarang bisa bertransformasi menjadi kekuatan untuk berbicara.

Studi saya dalam sejarah mengajarkan saya, bagaimana bangsa ini, bagaimana peradaban ini memperlakukan para perempuan.

Kita sudah kehilangan semua kehormatan kita terhadap perempuan. Terhadap ibu kita. Semua dan segala bentuk kekerasan bisa terjadi kepada setiap perempuan, tidak peduli siapapun dia. Saya ingin bertanya kepada setiap laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap perempuan, apakah kalian tidak melihat pada mata mereka: ibu kalian, nenek kalian, istri/pasangan, kakak adik kalian dan anak-anak perempuan kalian? Apakah kalian tidak bisa merasakan jika apa yang kalian lakukan itu terjadi pada mereka?

Apakah sudah begitu hilangnya rasa kemanusiaan dan kebaikan dalam diri kita, wahai manusia? Ini adalah pertanyaan besar. Dan dengan pura-pura tidak mau mengakui persoalan ini, tidak peduli dengan isu ini, dengan menafikan ini semua mengatakan persoalan ini tidak ada, dirimu berkontribusi dengan pembiaran untuk melanggengkan terus menerus siklus kekerasan ini di dunia.

Saya melihat dan merasakan, inilah kenapa kita juga begitu mudahnya merusak alam kita, merusak ibu kita, rumah kita bersama. Menambang gunung dan mencemari laut. Merusak ekosistem. Membuang plastik sembarangan. Membakar hutan dan begitu mudahnya menebangi semua pepohonan yang menaungi hidup kita. Untuk keserakahan, kita merusak diri kita dari inti yang paling dalam.

Bagi saya, ibu bumi, adalah bentuk cinta yang terdalam. Cinta yang tak menuntut balas. Cinta yang tanpa pamrih. Cinta yang ikhlas. Ia membiarkan semuanya terjadi bahkan ketika kita, manusia, anak-anaknya, memperkosanya berkali-kali, merusaknya tanpa memikirkan masa depan dan diri sendiri.

Tapi saya tahu dalam cintanya pun ia tidak diam. Kita sebagai manusia harus dengan jeli melihat itu semua. Alam memberikan tanda-tandanya. Dan itu semua karena cinta bukan karena ketakutan.

Manusia hidup dengan rasa ketakutan. Takut lapar, takut tak pernah cukup, takut menyinggung perasaan, takut berbicara, takut hidup, takut mati, dan lain sebagainya. Siklus ketakutan itu tidak pernah berakhir ketika dirimu terus menerus memberinya makan.

Saya merasa sudah waktunya kita berbicara tanpa ketakutan. Sudah waktunya kita menyingkap tabir apa yang selama ini menahan kita membicarakan hal-hal yang menyakitkan untuk mencari solusi. Menyembuhkan luka diri kita masing-masing, perempuan dan laki-laki. Menemukan kembali keseimbangan alam kita masing-masing. Bersama-sama dan tidak sendirian.

Saya berterimakasih saya selalu dikelilingi kebaikan. Saya masih punya rasa percaya dengan manusia setelah apapun yang saya lalui. Saya percaya dengan menumbuhkan anak saya menjadi laki-laki yang baik, saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini ketika kita mau percaya dan menjalani apa yang kita percaya. Saya percaya dengan kebaikan seperti bagaimana saya pun percaya dengan cara kita membicarakan mengenai kegelapan kita.

Kandy, Sri Lanka, 20 Oktober 2017

Di Selatan

Gelap yang hanya diterangi bulan

Pasir membentang

Menafsirkan bintang di atas kepala

Mantram-mantram berseliweran

Pada segala ibu kita semua berpulang

 

Namun dirimu menyentuh air

Seperti pertanda semesta

Mataku basah

Setelah sekian abad

Aku sudah tak lagi mengenali siapa yang sebenarnya berpulang

Pada apa

 

Tapi pada dadamu

Gemuruh subuh

Membuatku menaruh kepalaku

Kembali ke dalam lengkung rusukmu

 

Aku seolah menggenapi segala yang kembali menyatu

Yang Utara

dan yang Selatan

Yang jauh

dan yang dekat

Tak terpisahkan

 

Sudah beribu-ribu perjalanan kita berdua tempuh

dan pada pelukan di sebuah sore itu

kata-katamu menggema bagai rima di telingaku

 

Kau yang sudah berjalan begitu jauh menujuku

dan aku yang akan selalu menangkapmu

 

Maka kubiarkanlah segala yang mendekap

Hingga cuit burung menandakan pagi

dan angin laut bertiup kembali dari Selatan

 

Parangkusumo, 27 Juni 2018

Purnama Elogprogo

Jika kita mendamba sesuatu yang begitu gelap

Seumpama perasaan, hatiku sepekat bau-bau memori yang melekat

Seperti sisa percikan cat yang bertahan dengan waktu

Di pintu-pintu setua mata nenek dari nenekmu

Umur dari memori adalah kesinambungan

 

Keningku menghadap tanah Jawa

di antara batu-batu stupa

Setua para nenek moyangku

yang bukan hanya pelaut namun juga orang-orang yang mencipta

Bangunan-bangunan yang mengincar keabadian

yang berkali-kali coba dihancurkan oleh anak-anaknya yang tidak mengerti

Kutukan naik dan turunnya peradaban

Betapa perubahan adalah nilai-nilai yang sementara

 

Akhir-akhir ini aku tidak paham

Mengapa manusia meledakkan anak-anaknya sendiri

Ketika seorang ibu harimau yang kelaparan tak akan tega memakan anaknya sendiri

Manusia selalu adalah mahkluk dengan potensi yang mengerikan

Aku menengok ke atas

Pada purnama di atas kepala

Dan melantunkan doa-doa yang sudah terlalu tua

Kesedihan dan melakoli yang sudah luntur dalam udara

Setelah Empat Belas Tahun

:T.O.

 

Aku menemukan diriku di Bangkok

Bagian-bagian diriku di Sungai Chao Phraya

Martabak Karim yang ramai

sepulang kuliah yang selalu kusantap

berganti dengan sepeminuman teh di toko teh tua di sebelahnya

yang sepi dan membuatku tenang menulis

begitu banyak

di halaman-halaman jurnal

 

Pasar-pasar mewarnai perjalanan kita

yang terus menerus bersinggungan

Setiap satu bulan setengah

Apakah aku tetap harus bertanya dengan bagaimana jalannya karma?

Berkali-kali kubilang

Aku tidak pernah percaya dengan kebetulan

Pertemuan-pertemuan selalu menemukan alasannya tersendiri

 

Bibit-bibit

Berserakan di meja dan semalaman kita memilahnya

Kita menemukan diri kita di tanah

dan di dapur

lalu di meja makan

Sambil mencari dan mengenali rasa di lidah

di pelosok-pelosok meja makan kota Bangkok

 

Aku mengingat sekelebatan sosok

yang berteduh di balik rimbunnya hutan bakau

dalam kota yang kita lalui dengan sepeda

kuil-kuil yang membuatku berhenti dan bernafas

Brahma bertangan empat

di tengah bisingnya Siam

 

Bau bunga anting putri

mewarnai semua perjalanan tujuh hari itu

Malam terakhir aku menemukanmu

Menjahit sepotong kain di meja hostel

di tengah udara yang masih begitu panas

 

Kita berpisah lagi

hanya untuk mengetahui

kita akan bertemu kembali

Kora

:K. T. D.

 

Bau pagi itu pekat

Nafas-nafas yang kita keluarkan selagi terbalut jaket musim dingin

Membekas di udara

Jejak pohon Bodhi terlihat samar dalam kabut pagi hari

Dalam perjalanan

Mala dan mantra terus menerus dilantunkan

Berbondong-bondong manusia-manusia dari seluruh penjuru

Himalaya

Berkumpul di kota suci ini

 

Ah,

Sudah berapa langkah dan perjalanan kulalui

Untuk bersinggungan berkali-kali lagi dalam jalan dharma ini

Juga karma

 

Aku menemukan keningku

Menyembah

Di lantai-lantai kuil Bodhgaya

Setiap pagi kulantunkan mantra dan doa

Untuk keselamatanmu

Untuk hidup yang sebentar

dan proses yang masih panjang

 

Selalu dan selalu ada rindu

Selalu pelukan kehangatan itu

membuatku merasakan aliran haru yang hangat

membekas di pipiku

 

Sarapan dibagikan ke barisan para biksu dan peziarah

Di tangga kita menonton hidup berjalan

Apa adanya

Perjalanan ini, Guru, selalu kulalui bersamamu

 

Bodhgaya, Januari 2018

Kematian yang Pertama

:Afriana Dewi & Made Indra

 

Malam pecah berantakan

Kaca-kaca mobil berserakan

Juga tawa-tawa di tahun baru yang berlalu

di konser-konser musik yang pengang

Kawan atau lawan

Sering tak terbedakan

Yang setia

Yang terlupakan

dan melupakan

 

Hidup itu hanya sebentar

Begitulah kuingat dua sosok manusia yang muncul

Di pagi hari

Warungkita

Yang mana warna dapur belum lagi digores

Bau wajan belum lagi dibalur

Wangi minyak kelapa

 

Tawa-tawa itu riuh

Namun kepergian selalu penuh dengan airmata

Rindu itu sekejap

Melupakan selalu mengandung

Selamanya

 

Aku hanya mengingat bunga-bunga yang ditaburkan

Ibumu yang menangis pelan

Dalam gerak emosi yang kencang

Pandangan mata anakmu yang polos

Namun hanya tawa renyah kalian berdua yang kuingat

Membekas di sekian malam

 

Tawa anakku yang polos

Menaiki sosok punggung yang kokoh itu di suatu waktu

Masa sekarang, masa lalu dan hari ini

Adalah gabungan kenyataan-kenyataan yang berbeda

Kematian selalu membawa kepastian

Penutup perjalanan yang mungkin sudah setepatnya demikian

 

Kesedihan dan kematian

Mewarnai musim bagai bunga pohon kamboja yang berserakan

Di musim-musim mendatang yang ingin dilupakan

Mandala

Jeruji jendela kuil Jepang membentuk mandala

Ke arah luar

Di mana gelas-gelas chai dinikmati dengan terbangnya debu ke segala arah

Klakson segala jenis kendaraan

dan sekian jenis lagu di latar belakang

 

Masih jam sembilan pagi

Tubuh dan mataku semakin berat tak tertahankan

Musim dingin telah tiba dan aku tak memakai apa-apa

Selain pinjaman dan pemberian

 

Ziarahku jauh dari bayangan

akan rumah dan kenyamanan

Ziarahku selalu sunyi

bukan dari bunyi

Namun mengosongkan hati

dari apa yang akan mengisi ke depan

Dari diriku yang akan mulai mengisinya kembali

 

Bunyi kompor di kuil ini belum berdesis

Masih menunggu nyala air di pukul sepuluh pagi

Mantra dan puja sudah berlalu di pukul lima

di pukul enam pagi

Aku masih berlalu dalam sekat ranjang kayu

Mengatasi kematian-kematian di dalam mimpi

akan orang-orang yang berlalu

akan kata-kata yang tak tersampaikan

akan maaf yang hanya bisa disampaikan oleh niatan

 

Tak ada yang abadi

Aku tahu

 

Manusia dan penderitaan

Di bawah pohon bodhi, seperti sekian ribuan tahun lalu

Kita sama-sama pernah bertanya

Hal yang masih sama

Membuka mata di Bodhgaya, di luar kuil

Diriku menghadapinya dalam setiap pojokan mata

 

Pada dharma dan karma

Di India

Hanya ini yang kupegang dan kupercaya

Dalam tiap langkah yang terseok

Di setiap kelokan, di setiap perjalanan

yang membawaku pulang

di bawah atap semesta

 

Bodhgaya, 21 Desember 2017