: batavia, kota yang penuh dosa

ketika rasi-rasi gagal memetakan sebuah peristiwa, aku terbangun dalam malam yang kesekian, penuh peluh yang gusar mencari sesuatu di tengah-tengah udara yang masih menunjukkan dua puluh derajat celcius. seperti semua lingkaran dalam genggamanku dan peta-peta dalam punggungku, tanganku dan semua permukaan kulit tubuhku. peta-peta yang tidak terjelaskan dan seolah-olah hendak memunculkan rajah hitam kelam juga penuh.

ini hari kedua setelah kutinggalkan batavia. dalam suasana merah dan hitam, aku menemukan sosok laki-laki yang tetap mengguncang. menaruh suasana dalam sebotol vodka yang kubawa. semuanya tetap saja tidak menjelaskan apa-apa dan meninggalkan suasana yang menoreh segala rasa di dalam dada.

pada lima jam berikutnya, terlepas dari waktu dan peristiwa. rasi-rasi tetap aja gagal memetakan apa-apa.

suara deringan yang terhenti pada hitungan ketiga belas menyentakmu sedemikian rupa. menyadarkanmu akan ribuan kesedihan yang terpendam selama ini. orang-orang menjadi lenggang dan tiada yang terjaga. begitulah adanya ketika rasa sepi datang menyergap dengan tiba-tiba. mereka masih menyisakanmu sebotol vodka, tetapi kau menyerah pada tegukan yang ketiga. tiba-tiba langit malam berubah menjadi merah jambu dan saat itu kau masih tidak mengerti apa yang tengah terjadi. setelah nyaris tujuh ratus hari kau bersamanya, kau ingin pergi walau tidak mengerti mengapa dan harus. untuk pertama kali, kau menangisi bukan untuk orang-orang yang pergi, tetapi untuk yang datang, bermalam-malam yang lalu dan hanya dia laki-laki ketigabelas yang berdiri di depan pintumu.

:ks

ketika luka seketika juga mengangga, panjang dan lebar. ketika percaya seketika mati begitu saja. entah mengapa aku teringat dirimu di ujung sana. di persimpangan yang kukira tidak akan kupilih untuk kulewati. seolah-olah kau menungguku untuk kembali lagi menemukan jalan yang lebih baik dan hidup yang lebih baik.

untukmu, sekali ini aku bersyukur.