Dua Tangisan pada Satu Malam

Cerpen Puthut EA

Ia seorang perempuan yang tidak pernah benar-benar kucintai, juga aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Kami saling membutuhkan dalam sebuah rentang waktu tertentu. Sebab begitulah pada dasarnya manusia, salah seorang bisa menggantikan yang lain, tapi bukan dan tidak pernah seutuhnya. Dan ada saat-saat seseorang dipaksa menemukan yang lain, untuk menggantikan keseluruhan atas kepergian orang yang berbeda. Aku membutuhkannya, ia membutuhkanku, hanya untuk rentang waktu tertentu.

Hidup ini mungkin disusun oleh bukan hanya tingkat kerumitan tertentu, tapi juga atas ketidaktepatan tertentu.

Aku membutuhkan seorang perempuan yang bawel, punya daya ingat tinggi, renyah, hangat, dan selalu bisa mengingatkanku di mana aku meninggalkan pena serta buku yang barusan kubaca, tentu sekalian mengingatkanku bahwa baru tadi pagi aku membeli kertas tisu sehingga tidak perlu beli lagi ketika aku harus keluar untuk mencari sebungkus rokok. Kutemui ia dalam diam yang cukup, tidak bawel, serta sering lupa menaruh jepit rambut dan kacamata.

Tapi, kami memang harus bertemu dan harus menjalin hubungan, sebab bukankah dunia memang disusun oleh tingkat ketidaktepatan tertentu?

Pada saat kami makan, ia memesan apa-apa yang aku pesan. Coba bandingkan dengan perempuan-perempuan terdahuluku yang semua nyaris sama dalam memperlakukanku, mereka tidak pernah memesan makanan yang aku pesan. Aku memesan daging berlemak, mereka, perempuan-perempuan yang pernah berhubungan denganku, memesan sayur-mayur. Aku memesan teh hangat, mereka memesan kalau tidak air putih pastilah air jeruk. Berbeda dengan perempuan yang satu ini, ia memesan makanan dan minuman yang sama dengan yang aku pesan. Bahkan, ketika aku membuat kopi di pagi dan malam hari, ia membuat juga dalam porsi yang lebih besar.

Lalu ia berubah fungsi sebagai teman biasa saja, walau pada saat-saat tertentu, kami masih saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ia sama seperti kawan laki-lakiku yang lain. Berbicara tentang sepak bola, merokok bersama sambil menonton acara televisi, berebut cepat ke kamar mandi karena sama-sama begadang hampir di tiap malam, berebut memakai sepeda motor sebab tidak suka naik bus atau taksi, rebutan membaca koran pagi yang dibaca pada sore hari. Kamar mandi kotor, cucian menggunung, dapur berantak-an, ruang makan sekaligus ruang nonton televisi berceceran sampah.

Tapi, aku tidak pernah menggerutu dan kesal. Dia juga. Kami menjalani hari-hari seperti itu dengan biasa. Ia hadir sama pentingnya dengan televisi, ia hadir sama tidak pentingnya dengan televisi.

Hingga aku memang benar-benar menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Sedangkan pada saat ia pergi sama seperti ketika aku melipat koran seusai dibaca. Sama seperti ketika aku harus melepas sepatu ketika pulang. Pada saat ia pergi kami masih sama-sama saling membagi senyum dan aku masih sempat menemukan kacamatanya yang tertinggal di atas monitor komputer. Membantu dan mengumpati barang-barang bawaannya yang tidak bisa masuk ke dalam tas besarnya.

Kami sempat bertemu dengan suasana mirip salah satu lampu di ujung gang lengang pada waktu lewat tengah malam tapi kami melewati hari-hari dengan biasa, tak penting amat. Dan kami menutup bersama sebuah perpisahan yang juga biasa dan tak penting amat.

Tapi ingatan-ingatanku atasnya, pada hari keenam setelah kepergiannya benar-benar membuatku menangis. Tangis yang tidak lagi biasa, tangis yang tidak bisa kupungkiri lagi, bahwa ada yang lenyap dalam hidupku. Dan, aku tidak menyesal menangis, aku merasa tumpahnya air mataku cukup membangun alasannya sendiri, bahwa memang ada yang penting dalam hidupku yang lenyap dan aku pantas menebusnya dengan air mata yang tumpah. Mungkin bahkan pada lain waktu akan kutebus lebih dari sekadar air mataku.

Tapi, aku masih mencoba meyakini bahwa aku memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Atau memang terkadang tidak ada hubungan antara cinta dan rasa sedih yang tidak masuk akal dan tiba-tiba? Pertanyaan itu tidak penting, tapi tiga hal ini penting bagiku. Pertama, apakah dia juga menangis pada malam keenam setelah dia pergi? Kedua, apakah tangisannya—jika ia menangis—juga tidak membutuhkan alasan-alasan penguat bahwa aku merupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Ketiga, apakah ia sudah menemukan laki-laki lain?

Aku harus menemukan jawabannya.

Aku menangis pada hari keenam setelah kepergianku meninggalkannya. Meninggalkan? Ah, mungkin itu bukan kata yang tepat. Aku teramat sulit untuk menemukan kata yang tepat, tapi begini, aku menyukainya semenjak pertama bertemu dengannya. Apa yang aku sukai? Aku juga tidak tahu. Tapi laki-laki itu membuatku bergetar dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhku. Melapisi kulitku dengan radar-radar peka akan kehadirannya. Menjalin sampai nadi dan pikiranku. Beri maklumlah pada diriku. Aku seorang selebriti terkenal, muda, cantik, di mana-mana selalu mendapat perhatian besar. Tapi, laki-laki itu membuatku kembali ke masa lampau, empat lima tahun yang lalu, ketika aku masih seorang mahasiswi semester awal yang sibuk casting peran ini dan peran itu. Dia melihatku dengan tatap mata biasa. Bahwa, ia mengagumi kecantikanku, aku bisa merasakannya, itu pun dengan samar, tidak seperti orang lain. Tapi di hadapannya, segala ketenaranku mendadak seperti tak ada artinya, bahkan ketika aku hendak mengambil gelas berisi minuman di dekatnya. Ia hanya memberiku tempat, tersenyum lalu melenggang pergi dengan meninggalkan aroma tubuh tanpa parfum.

Aku adalah perempuan yang dicari-cari. Perempuan yang selalu ditunggu-tunggu kemunculannya dalam hal apa saja, dalam acara apa saja. Dan ia hadir, tanpa wajah yang menunggu kedatanganku, menunggu kemunculanku. Tidak menyambut segala kedatanganku dengan wajah berbinar. Laki-laki itu tidak seharusnya begitu, sebab ketika aku tidak bisa membuatnya butuh, maka aku harus bersiap, aku membutuhkannya. Tapi sejujurnya, perasaanku kepadanya begitu kuat pada kali pertama aku menatapnya.

Beruntunglah aku. Terbiasa memainkan berbagai peran dan menyembunyikan perasaan. Semua kusimpan dengan rapi, bahkan ketika aku bisa mengorek keterangan tentang laki-laki itu.

Aku berhasil mengenalnya lewat cara yang sengaja kurancang. Biasa. Aku ingin rancangan adegan yang dia bisa tahu, aku tidak sengaja untuk berkenalan dengannya. Lalu kami saling berbicara. Terlalu memukau! Suaranya yang tenang membuatku terayun-ayun di antara jeda kata yang diucapkannya. Ia seperti berbicara pada sekujur tubuhku. Dan memaksaku untuk terus-menerus mengais kesadaranku yang hampir lenyap ketika menghadapinya, mendengar suaranya, bersitatap dengannya. Aku harus memaksanya untuk duduk, sebab aku percaya ketenangan orang berdiri gampang dilumpuhkan. Menggenggam gelas minum erat-erat, tapi jelas itu tak bisa me-mungkiri apa yang kurasakan, sebab aku berkali-kali minta tambah air minum. Ia merayapi kesadaranku dengan selimut rasa tak tentu.

Kami semakin akrab. Tentu kami juga bercinta.

Aku membanjiri hidupnya dengan rasa yang bergelora. Menumpahkan apa yang kurasakan dengan segala cara yang aku bisa. Mencoba meyakinkan terus-menerus bahwa ia adalah laki-laki yang kudamba, dan aku adalah perempuan yang dia tunggu. Begitu kulakukan saban waktu. Tapi aku tahu, sangat tahu, laki-laki itu melakukan segalanya bersamaku dengan perasaan biasa. Ia tidak tenggelam dalam banjir rasaku.

Ia seorang aktris. Dia pikir aku bisa hanyut oleh sandiwara sialnya—yang mungkin sudah dimainkan dengan sungguh-sungguh pada banyak kekasihnya yang dulu. Aku pikir begitulah cara banyak perempuan untuk membuat seorang laki-laki bertekuk lutut dan menjadi gila. Ia akan memberimu perhatian yang tumpah-ruah. Seakan ikut menahan beban yang menimpa—awas, kadang-kadang beban itu sengaja diciptakan agar ia bisa membantu mengangkatnya. Diciptakannya dalam dada, keyakinan yang sempurna. Ruang-ruang ragu dimampatkan. Segala hal dipenuhi oleh kehadirannya.

Hingga suatu saat. Saat yang sangat tepat. Semua dicabutnya, semua ditinggalkan berlubang, rapuh, dan segalanya menjadi tidak terkendali. Kebutuhan atas dirinya jauh melampaui udara, air, dan makanan. Ter-sengal dan merasakan tiba-tiba langit menjadi atap besar yang siap menimpa. Kehilangan dia adalah malapetaka terkutuk yang tidak sanggup untuk diterima.

Serangan balik yang maha dahsyat. Tidak ada yang bisa lebih menjerumuskan lagi jika datang saat-saat seperti itu. Aku sangat tahu, sehingga sepandai-pandai ia menimbuni hidupku dengan segala rasa, aku sangat tahu di balik itu semua aku yakin ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Aku sangat mencintainya. Tapi benar kata orang, cinta saja tidak cukup. Ada hal-hal lain selain segala yang kita rasakan terhadap seorang laki-laki. Bukan, sungguh bukan karena ia kurasakan tidak mau membalas segala yang kurasa-kan. Tapi aku pikir ada saat ketika kita memberi perhatian terus-menerus —bahkan semakin hari kita rasa semakin meningkat—maka memang ada kecewa yang akan menikam ketika itu semua dirasa biasa saja. Ia merasakannya dengan biasa, seolah aku dan perhatian yang kuberikan padanya adalah sepenggal kisah yang biasa ia tonton di televisi. Tak ada kekagetan, rasa bahagia, dan terima kasih.

Maaf, aku pada banyak hal bukan orang hebat. Aku memberi untuk mendapatkan sesuatu, paling tidak orang merasa bahagia karena pemberianku.

Lalu kuputuskan untuk pergi. Paling tidak aku berpijak pada alasan yang mungkin tepat. Jika aku tidak bisa membahagiakannya, maka aku memang harus pergi. Sebab kebahagiaanku dimulai dari sebuah kebahagiaan kecil di wajahnya.

Tapi aku menangis pada hari keenam setelah kepergiannya. Benar-benar menangis. Sendirian di kamarku yang menyimpan hampir seluruh bayangannya. Ku-pandangi benda-benda yang akrab dengan kehadirannya, lalu aku me-nangis lagi. Segala hal tiba-tiba menjadi setengah hilang, setengah melenyap, menjadi tidak seperti beberapa saat yang lalu, ketika ia hadir dalam segala tumpah-ruah peristiwa dan keping benda-benda.

Dan tiba-tiba aku terserang penyakit yang sangat kubenci: cemburu! Aku merasa ia pergi dan menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, dan ia membanjiri laki-laki itu dengan perhatiannya yang luar biasa. Dadaku sesak dan panas, napasku seperti terbakar. Aku menangis, menjerit, otakku ikut terbakar. Ruang berganti warna merah dan hitam. Aku meraung, telah benar-benar kehilangan dia.

Aku bangkit minum air dingin sebanyak-banyaknya, sebagian kupakai untuk mengguyur kepalaku. Lalu aku duduk, menyalakan rokok. Aku harus berpikir dengan tenang.

Aku petakan lagi sejarahku dengannya. Melacak dan meletakkan apa-apa yang bisa kuingat ketika bersamanya. Sejak pertemuan yang cukup membuatku kagum. Lalu bisa kuingat bagaimana ia memperlaku-kanku dengan baik, merawat dan melewati proses itu dengan riang dan rapi, mencoba memberiku kejutan-kejutan setiap saat. Tapi aku tahu di belakang semua itu—dan jangan-jangan ini semua karena tinggalan perhatiannya di kepalaku. Aku harus menanggapinya dengan dingin dan biasa saja. Tak peduli, tak mau peduli, sebab aku tidak mau sakit hati. Lalu aku terobos segala permainannya dengan permainanku. Aku berpikir tentang segala hal yang bisa membuatku bertahan dari serbuan perhatiannya. Hal-hal yang menurutku tidak kusukai, memesan makanan dan minuman yang sama denganku, berperilaku pelupa dan teledor seperti diriku, ruang-ruang yang berantakan. Aku harus menghadang dengan bayangan dan pikiranku, sebab jika melihat kenyataannya, aku pasti akan larut, pasti akan tenggelam dalam kepungan perhatiannya yang luar biasa. Bahkan, untuk hal-hal tertentu sudah sangat keterlaluan. Aku selalu pergi dengan taksi atau mobil jemputan. Aku selalu berpikir bahwa ia suka begadang, merokok, dan nonton sepak bola. Hal-hal yang mustahil dilakukan olehnya. Aku harus berpikir bahwa ia tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Tapi sekarang aku nyaris gila. Apa yang kutakutkan dan berusaha kutanggulangi sedini mungkin telah terjadi. Aku telah benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan ia pergi meninggalkanku. Tubuhku dibakar cemburu, sedang aku hanya punya air dingin untuk menghalaunya.

Tubuhku demam. Aku tidak bisa menerima kepergiannya.

Aku menangis pada malam ke-enam setelah kepergianku meninggalkannya. Sebab sore tadi, aku bertemu dengan laki-laki yang luar biasa pada acara pesta. Lalu aku teringat dia malam ini, dan menangis. Tangisan yang sewajarnya. Tangis perpisahan atas segala ingatanku kepadanya. Sebab besok malam aku akan kencan dengan laki-laki luar biasa yang kutemui sore tadi. *

*nemu cerpennya puthut di situs kompas

pk. 07.00

di dalam sajak kau gali maut dengan tanganmu sendiri, dengan jemari
yang telah memperkosa ibumu, mencerabut zakar ayahmu.
kau bilang itu kubur, padahal hanya dengkur. lalu kau bacakan
dongeng sebelum tidur, yang kau pungut dari televisi atau koran pagi
atau obrolan sore

warung kopi, kau hamparkan di tubuhku
selimut tebal, membiarkanku sembunyi dipeluk mimpi.

esoknya,

matahari mencubit mataku. kau baru saja terjaga
membuka jendela dan berdiri di sana
menanggung sejarah yang tertanam di punggungmu.
kau rindukan malaikat yang akan merobek dada dan merampas empedumu
yang mengajarimu membaca alif qaf ra
sampai kau lari terbirit pulang ke rumah.

“tapi kita bukan nabi,” keluhmu.

jam dinding menunjuk pukul tujuh.

-nuruddin asyhadie

I.
kulihat kereta api berjalan
manusia-manusia berdesakan turun
jatuh ke tanah
menjadi serpih-serpihan

sudah begitu lamakah kita menjadi debu di mata mereka?

II.
aku melewati kota-kota hanya untuk mengerti bagaimana hilangnya peradaban di antaranya
hilangnya manusia-manusia dari permukaan bumi
lenyapnya tuhan dimana-mana

dan kekosongan menjadi begitu penuh
dan ingatan-ingatan menjadi lupa

sepanjang jalan yogya-bogor

detak-detak jantung berdetakan seiring jam dinding dan langit-langit retak menjatuhi kita. jalan kita masih amat panjang, kita tidak akan berhenti sekarang. sekarang genggamlah jemariku sampai kita benar-benar terlelap. biarkanlah kita jalani apa yang ada di depan kita sekarang. untuk malam ini tidurlah, tidurlah selagi angin malam masih sejuk dan kedua tubuh kita masih hangat.

sungguh, sayangku, aku tidak peduli apa kata mereka…

yk-71102