jika aku harus menjejak
di atas kakiku sendirilah aku berdiri

dan hari itu pantai tak lagi jauh
angin tak lagi kusam

langit bersaksi secerah-cerahnya biru
hingga matahari mencintai kulitku
dalam sengatannya yang kurindukan

jika kubuang semua masa
tak ada penyesalan yang tersisa dalam diriku lagi

aku selalu lahir baru
dalam diriku

bahkan jika dirimu
tak menginginkannya

menghadapimu
dunia

yang tak lagi akan mematahkan apa-apa
dalam diriku

di jejakku sendiri
dalam irama puasa
aku memegang diriku sendiri

Yogyakarta, 29 Desember 2003

Ing

Hujan sudah turun semalaman. Musik sudah tak lagi berdentam. Kau menangkap satu sorot mata yang memandangimu sejak tadi. Ketika sekian hembusan rokokmu memenuhi udara malam dari bibirmu yang kering dari udara dan basah oleh anggur murahan yang berputar tak henti-henti. Kau masih sanggup. Jika hanya cairan, kau tak akan pernah mabuk.

Laki-laki itu akhirnya menghampirimu, ketika hanya empat orang, termasuk dirimu yang masih berdiri tegak di tempat itu. Kai, ia tersenyum ketika menyalamimu. Kau hanya menatapnya. Tajam. Lalu menghembuskan kembali asap rokokmu. Kau tak pernah berpikir panjang. Tak sampai sepuluh menit, laki-laki itu berpamitan pulang. Kau tak melihat ke arahnya, melainkan langit dan tetesannya yang semakin mengecil.

Kau menengok jam di layar hp-mu. Kau memutuskan untuk pulang dan menemukan laki-laki itu teronggok bersama mesin motornya yang kedinginan. Kau hanya bertanya untuk basa-basi, hingga seorang kawan menyusul dan menghampiri. Beberapa kali mereka mencoba untuk menyalakan motor, namun gagal. Kau sudah mengenakan helmmu ketika kawan kalian mengusulkan agar kalian berboncengan. Kau tak merasa repot. Toh, arah yang kalian tuju sama. Utara.

Subuh mulai menyengat. Ia membuatmu tertawa di atas motor. Hingga tak terasa motormu hampir mencapai tempatnya. Di menit-menit laknat itu, akhirnya kau memutuskan untuk mampir. Kepalamu lebih berat karena kantuk ketimbang jumlah cairan yang masuk semalaman.

Bau kopi panas menyengat di kamarnya. Subuh yang dingin, pembicaraan yang hangat, senyum yang hangat. Laknat. Uap tak hanya muncul dari sepasang gelas kopi yang terlantar, namun juga dari deru nafas yang mewarnai udara kamar hingga pengap. Panas nyaris liar. Deru memburu yang kalian ulang berkali-kali hingga tigapuluh enam jam berikutnya. Kalian hanya keluar ketika teringat makan.

Kau pulang dengan kepala sepening-peningnya dan bau tubuhnya yang seakan menempel dalam tubuhmu selamanya. Kau mengucapkan selamat tinggal dan tak mengingat namanya.

Yogyakarta, 29 Desember 2003

Kai

Malam telah jatuh biru. Gerimis meresapi tanah. Kau membereskan semua alat-alat musik yang bergelimpangan dan para kawan-kawan pemabuk yang berjatuhan. Di meja pojokan, perempuan itu masih disana. Kau terkesiap, hanya ada empat orang termasuk dirimu yang selamat tegak berdiri dari pengaruh alkohol malam ini.

Semalaman kau mengamatinya. Dirinya memakai kaus putih terusan dan sepatu boot hitam. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai kemana-mana. Rokok kretek Dji Sam Soe terus menerus menari di jemarinya. Sesekali ia menggoyangkan kepalanya dalam alunan musik reggae semalaman suntuk. Ia pun menenggak dengan santai arus minuman yang terus mengalir. Masih dua botol tersisa di meja. Tawanya terdengar renyah untuk jam empat pagi.

Kau memutuskan untuk bergabung dengan meja tersebut. Mengulurkan tanganmu dan menatapnya. Ia meniup asap rokoknya. Ing. Jawab perempuan itu pendek. Matanya dengan tajam membalas dari balik bingkai kacamata merahnya. Kepalamu tiba-tiba terasa berat dan kau hanya ingin rebah. Kau berpamitan, menenggak satu tegukan terakhir dan menuju motormu yang terparkir.

Hujan meresap ke segalanya, termasuk mendinginkan mesin motormu tanpa kompromi. Kau mulai kehilangan akal akan bagaimana kau akan pulang. Perempuan itu lewat di sebelahmu. Salah seorang kawan akhirnya menawarkan solusi agar dirimu berboncengan karena kalian tinggal di arah yang sama. Utara.

Ia menyalakan mesin motornya dengan santai, mengiyakan untuk mengantarmu pulang. Kalian berbicara santai di atas motor. Hari masih gelap dan pagi masih dingin. Kau menyadari ia seorang perempuan. Tak baik untuk pulang di jam-jam demikian apalagi karena kepala kalian sama-sama berat. Lima menit menjelang tempatmu, kau menawarkan dirinya untuk masuk dan secangkir kopi hangat sebelum ia benar-benar pulang.

Perempuan itu tidak pernah pulang hingga tiga puluh enam jam berikutnya. Ciuman kalian di pukul lima pagi berujung dengan lekatnya tubuh, keringat dan mungkin awal dari cinta.

Ketika ia benar-benar pergi. Kau memanggil namanya di dalam hati. Ing. Kau tahu kau akan selalu mengingatnya walau kau yakin ia akan melupakanmu setelah ini.

katakanlah aku mulai gila. akanmu. seakan segalanya tak pernah habis-habis. seakan waktu di dunia tidak pernah lagi cukup. tak pernah aku mencintaimu seperti ini. bahkan pada malam-malam yang paling laknat sekalipun yang mana dulu aku tak pernah bertahan untukmu.

aku tak mengerti lagi, jika mencintaimu bisa segila ini. bahwa menginginkanmu bisa sebesar ini. melebihi masa-masa dimana segalanya tidak lagi rumit. segala yang tampak saat ini menjadi sesederhana mencintaimu dengan segala kesungguhan yang tersisa padaku. yang tak pernah aku jatuh sebelumnya.

jejakmu ternyata tak pernah pergi dengan benar-benar dariku. bahwa arah yang menggerakkan hatiku ternyata memang selalu dan selalu menuju padamu. ratusan prosa dan sekian puisi sudah terbuang sebelumnya. tak lagi kerak-kerak di masa lalu membuatku goyah, hanya satu yang mulai kupegang teguh: bahwa seutuhnya aku adalah milikmu.