kadang mengetahui sesuatu atau merasakan sesuatu jauh-jauh hari sebelumnya adalah sesuatu yang menyedihkan. ada saatnya dimana kau tidak mau kenyataan itu benar.

namun bagaimanapun aku masih agnostik, ibu. aku tidak bisa berdoa. aku hanya bisa berharap.

Potret-potret sephia di sepanjang rumah yang semakin renta
:mijn modre

Kain sutera hitam dari perjalanan yang jauh menyelimuti kulitnya.
Bunga-bunga serupa sakura berwarna dadu dan putih bertebaran dimana-mana.
Ah, betapa ayu. Kulit putri itu serupa keramik porselin yang dibawa kapal-kapal Cina.

Di depanku ia menengak segelas susu kedelai tercampur jus-jus buah, dengan mug serupa porselin bergambar sapi yang tengah merumput.

Kakek itu pergi meninggalkan segalanya demi mengejar seorang nona. Bahkan dunia menghilang dari ingatannya.

Maka ia menemaniku untuk bertanya kepada orang-orang tua. Yang tersisa. Hanyalah kepingan-kepingan puzzle yang semakin rumit dan semakin panjang. Pada siapakah puzzle itu akan diselesaikan? Dan aku semakin cemas.

Kakek yang lain meninggalkan anaknya, hingga delapan puluh tahun ia masih terluka dan seperti tidak memiliki siapa-siapa.

Apakah mendekati angka enam puluh, aku masih tidak mengenalnya? Ia menjawabku dengan kehalusan yang tidak tergambar dan ia sungguh tidak sadar. Apakah masih banyak hal sebetulnya menyakitimu?

Kedua belah tangannya bercahaya senja. Terlalu hangat bahkan untuk diriku. Senyala api itu bersandar di punggungku. Sudahkah kita saling mengenali satu rahim dengan rahim yang lain.

Oh, demi Dewi Sri, segala penguasa tanah dan bumi ini. Demi ibuku, demi segala ibu. Ibuku, apakah kau baik-baik saja?

Bogor, 10 November 2005