saya tidak tahu darimana saya belajar kerinduan. padahal negeri ini hanya membutuhkan industrialisasi – kata orang-orang. Perbaikan status sosial, kenaikan ekonomi dan peningkatan gizi untuk anak-anak cerdas, itukah industrialisasi? presiden mengatakan, stabilitas keamanan dan sistem politik akan mempengaruhi kurs nasional, tak satupun mengatur tentang kerinduan. lalu sejak kapan kerinduan menghuni otak saya? haha! pancasila terlalu renta dan UUD hanya bisa berkelakar untuk sebuah kerinduan, KERINDUAN TENTANG SEBUAH PERUBAHAN!
-my lenin again, 23 februari 2004, @073254

ada waktunya ketika orang-orang yang bertulang punggung kuat sekalipun akan menangisi kepergian seorang sahabat. punggung-punggung yang bergetar terasa begitu berduka untuk sesaat.

lalu tegap.

berjalan kembali.

-in memoriam of mansour fakih, mansour fakih residence, 160204

kenapa saya mulai malas menulis kata-kata? saya mulai malas memanipulasi keadaan dengan memperkosa kosa kata dengan kekejian bahasa. ya, inilah yang bernama dosa sastra – seperti kata seorang kawan yang dahulu kerap menjumpaiku di satu dua kali pertemuan singkat dengan berbagai kata-kata. saya ingat pram pernah berkata “kita dibangun dengan multinasional kapital”. sudah tentu kita sepakat dengan berbondong-bondong melawannya. tetapi saya terjebak tradisi, “dimana saya bisa menulis?”. huh, sungguh, saya pun tidak menyadari bila saya secengeng itu! saya bayangkan, “saya menulis tentang pulau buru”, jidat para sipir pun bisa dijadikan prasasti. lagi-lagi tentang modal, lagi-lagi tentang tradisi nasional, lagi-lagi tentang lagu-lagu cengeng, “hei dimana 126 prasastiku? dimana saja aku buang catatan-catatan harian yang kutulis tiap pagi?”

-my lenin, via sms 3 febuari 2004, 04.34 AM-