Kathmandu, 9 Juni 2014

Hans

Dia tidak memimpikan akan kembali menemukan perempuan itu di perjalanan di atas langit. Ketika pesawat baru saja lepas landas untuk menuju kota ini. Ia ingat benar setahun yang lalu. Ia memantau gerak geriknya di pojokan sebuah kafe. Rambutnya kala itu masih pendek setelinga, namun senyumnya lebar dan ia langsung menyukainya. Pipinya bersemu merah dan ia mengetahui bahwa itu adalah karena cinta. Caranya menatap laki-laki di sebelahnya. Ia hanya terdiam mengamati mereka. Berkomentar hanya jika ia merasa diminta.

Namun sore itu, perempuan itu menyebutkan namanya dari sebelah kiri lorong tempat duduk pesawat. Ia juga sama tidak percayanya. Ia tidak percaya kebetulan, namun ini sedikit keterlaluan. Astaga, Tara.Β Ia setengah berguman. Ia segera mengambil tempat duduk di sebelahnya, ketika orang di sebelah perempuan itu dengan tahu diri segera berpindah ke tempat duduk lainnya karena penerbangan malam itu tidak terlalu penuh. Juga karena mereka berbicara sedikit terlalu keras. Ia tidak peduli, dengan segera ia memeluknya.

Ada sesuatu dalam pelukannya. Ada sesuatu yang rapuh, mungkin juga pecah. Ada sisa tangis dalam lekuk wajah perempuan itu. Ia tidak menanyakan. Ia hanya mengerti, walau sedikit menebak. Entah mengapa ia ingin mengusap kepala perempuan di sebelahnya ketika ia menangkap rasa sedih mewarnai suaranya. Di penghujung penerbangan, akhirnya ia memberanikan diri mengusap kepala Tara dan menatap dalam-dalam matanya. Perempuan itu hanya tersipu sedikit, tersenyum sedikit malu.

Mereka berjanji untuk bertemu esok hari di pojokan jalan di tengah alun-alun kota. Perempuan itu berjalan duluan dengan tas punggungnya yang tidak seberapa besar. Ia hanya bisa mengirimkan ciuman yang bersayap dari kejauhan di atas tangga sambil melihatnya pergi untuk sekali lagi.

Sampai esok hari.

Sanur, 10 Agustus 2014

Tara

Ia menemukan kalung yang dibelinya untuk Hans terdampar di atas pasir. Ia membelinya di salah satu toko di Jakarta. Kalung hitam dengan desain perak sederhana bertali hitam. Ia memakai gelang yang sama berwarna merah di pergelangan tangan kanannya. Malam itu setelah selesai upacara bulan purnama, Ranmu menemaninya untuk mencari kalung yang tercecer itu. Mereka menjemurnya di atas pasir sekian jam sebelumnya.

Mereka pertama menemukan cincin daun yang dibelinya di Kathmandu dan diberikannya kepada Belle malam itu. Tara masih ingat detik itu, mata Belle yang berbinar seolah tak percaya. Tara tidak hanya memberinya cincin daun, ia menitipkan sekian harapan atas Ranmu kepada Belle.

Malam itu, Tara hanya memeluk Ranmu dan memijat punggungnya seperti biasa. Menutup luka-luka mereka, membasuhnya dengan harapan. Ia melepaskan Ranmu, sekian kali lagi. Tidak untuk selamanya. Karena keluarga sejiwa akan selalu kembali, seperti ombak tenang yang selalu menyapa kedua telapak kakinya ketika berjalan di atas pantai.

Satu minggu kemudian, Tara tahu ia akan memimpikan Ranmu di Kathmandu.

Kathmandu, 16 Agustus 2014

Tara

Tara menemukan sepasang mata biru Hans menatapnya di balik jeruji besi bermotif bunga ala Newari. Rajutan bambu di belakang Hans entah mengapa menjadi semua latar belakang pembicaraan mereka setelah dua bulan sebelumnya Tara melepasnya di kantor biro narkotika, dengan tangan yang terborgol dan ciuman tak pasti di lehernya, di depan ayah Hans yang emosional dan baru saja bertemu Hans setelah tiga tahun lamanya. Untuk Tara tidak ada kata-kata perpisahan di antara mereka. Hans hanya menatapnya lekat, tak kuasa untuk mendekat karena jarak adalah satu-satunya yang pasti untuk mereka saat ini.

Namun nasib berkata lain. Tara berada di depan Hans saat ini. Walaupun ia harus duduk bersama belasan orang lainnya, tak diperbolehkan untuk menyentuh Hans, hanya saling memandang dan berbicara dalam jarak satu meter. Di tengah-tengah kebisingan belasan pembicaraan dalam bahasa yang belum lagi mereka mengerti. Tara merasa berada di tengah-tengah sarang lebah. Para lebah yang terancam punah, namun tiba-tiba menjelma menjadi kumpulan pembicaraan manusia yang berdengung sama.

Pada latar belakang rajutan bambu yang seadanya, Tara sedikit lega ketika ia menemukan kilatan cahaya telah kembali dalam tatapan Hans. Kilatan-kilatan keajaiban yang ia selalu percaya. Kilatan cahaya yang ditunggunya selama tiga bulan terakhir untuk kembali muncul dalam wujud Hans yang serupa peri dari dimensi dunia yang lain.

Tara tak kuasa untuk tak tertawa bersama Hans, di tengah-tengah semua keabsurdan situasi mereka berdua. Bahwa semesta telah membuat drama yang luar biasa dari kehidupan mereka masing-masing. Bahwa masing-masing lakon mereka adalah lelucon semesta yang luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah malam itu, Tara mendengar tawa Hans yang walaupun samar telah mengisi kembali satu relung di hatinya. Telah membuat nyala di hatinya menjadi lebih terang. Ia membalas semuanya dengan senyum sepenuhnya pada Hans. Dan Hans padanya.

Mungkin yang terpenting dalam kehidupan adalah momen-momen dimana manusia merasakan bahwa cinta adalah satu energi yang menggerakkan kehidupan. Bahwa semua peran adalah giliran setiap orang dalam roda kehidupan. Bahwa tak ada yang abadi selain perputaran. Spiral yang keluar dan spiral yang ke dalam. Bahwa cinta di luar sana sepenuhnya bergantung pada cinta yang kita dapatkan di dalam diri kita masing-masing.

Di bumbung hujan yang memenuhi langit Kathmandu hari itu, Tara menemukan Hans kembali. Dan Hans menemukan Tara kembali. Bahwa jiwa-jiwa yang sepenuhnya akan bertemu akan selalu kembali bertemu.

Tara

Tak akan ada yang menggantikannya, Tara. Kau hanya membuat ruang pada semesta agar berjanji untuk menemukan dirinya kepadamu lagi. Warna kesedihan masih memenuhi relung kameranya. Kau selalu hampir mati dibuatnya. Tak ada pernikahan yang membantu kalian kecuali keterkaitan ingatan dan usaha-usaha pelupaan. Bahkan jejak jiwanya melekat pada anakmu kini. Keajaiban muncul dimana-mana. Bekasnya masih selalu tengah kuat di pojokan kota yang sama. Tak ada yang bergerak, Tara. Saat itu.

Apa yang membuat hatimu tak kunjung bergerak? Tak pernah benar-benar membuka kecuali hanya kepadanya. Kenapa momen yang ditangkapnya seperti kata-kata yang tak pernah sampai kepadamu. Seorang fotografer yang lain mengingatkanmu lagi akan janji itu tiga hari yang lalu. Kau tak pernah lupa, mimpi kepulangan bersama itu. Ia yang menangkap dan kau yang mencatat, di tengah-tengah bau teh mentega yak.

Suatu hari, kau yakin, kepulangan itu akan lengkap dan udara akan ikut memadat. Tak lagi sesak dadamu di hadapanmu. Kau janji, tak lagi sesak. Seperti angin, dia menyertaimu setiap saat bahkan ketika kalian tak lagi bertemu atau menyapa. Jiwa yang berkelindan padamu. Jiwa yang pernah menjadi cahaya penunjuk terang menuju keabadian bersama.

Dalam mimpimu, kelopak teratai bermekaran. Dalam mimpimu, di senja itu kau meraih tangannya dan tak ada yang lagi lepas. Dan gelap pun akan lewat menunggu pagi tiba.

Vivian

Di antara cahaya matahari tanah tua ini, aku mengenangmu, Kenneth. Ketika perutku tengah membesar nyaris delapan bulan. Dokter melarangku bergerak banyak. Kerjaku hanya tidur dan makan es krim. Suster-suster memuja kulitku sebagaimana kau pernah memujanya, empat tahun yang lalu, di tengah dinginnya salju kota Wina.

Aku tak mengerti bagaimana diriku membesar. Hanya teknologi mutakhir yang dapat menjelaskannya. Aku merasa aneh dengan anak yang tengah kukandung ini. Dia tak lahir dari penis laki-laki. Ia tak lahir dari kenormalan. Ia disatukan di laboratorium dengan alat-alat. Lalu ditanamkan begitu saja ke dalam rahimku. Mereka menyebutnya bayi tabung. Aku membayangkan dalam perutku tumbuh semacam tabung yang bergerak. Spiral yang bulat, bagai penis yang melesak terlalu dalam. Namun bukan sesuatu yang alami.

 

Aku tak tahu mengapa aku mengingatmu di antara menguningnya dedaunan. Anak ini akan lahir di musim yang berguguran. Anak ini jika ia lahir selamat akan bangun di antara runtuhnya daun pepohonan.

 

Surat ini terlarang dan kau tahu bahwa aku tak akan bisa mengirimkannya kepadamu. Hanya dapat kutiupkan dalam lembar dedaunan yang jatuh ke tanah lembab. Sehingga mungkin dapat mencapai ingatan pada kulitmu akan memori dinginnya musim salju di suatu waktu.

 

Tara

Berapa banyak sebenarnya yang telah berlalu, Tara? Berapa belas, puluh dan ribu? Apakah angka-angka masih berarti untukmu? Seperti angin yang telah lalu, mendesau antara lekuk telingamu, melewatimu dan masih melewatimu.

Kau dapat menciumnya dalam udara setiap malam purnama. Bau segar bunga lily. Sebatang keindahan yang pernah kau pegang pada hidup ini.

Masih saja, ia melewatimu dan melewatimu. Sepanjang malam. Bau jejaknya yang telah membekas di kota ini.

Dia sudah pulang. Kau berguman di malam biru purnama.

Dharamsala, 12 Februari 2012


Tara
Kau meninggalkan jejak dirinya di hadapan patung kehijauan, Tara yang Agung. Sebagaimana ibumu pernah menamaimu. Untuk sekali ini kau mendoakannya untuk melepaskannya. Selama-lamanya.
Karma telah berputar, Tara. Dan kau berada di sebuah ujung. Akhir yang kau ketahui.
Perlahan, kau lepaskan cincin perak di jari manis tangan kananmu. Enam tahun. Ribuan perasaan dan waktu. Benda ini telah datang dari tempat yang jauh. Dari perjalanan jiwa yang teramat lama dan rapuh.
Sudahlah, Raka. Disinilah seharusnya segala cerita ini berakhir. Dengan biasa saja. Dalam dingin udara dan rintik salju yang seolah semu. Dalam keheningan biara, kau merasakan dentingan perak pada altar itu bergema pada seluruh keberadaanmu.
Sudahlah, Sakyathara. Aku telah memaafkan diriku. Juga ingatanku akan dirimu.
Bergulirlah menuju hidup yang baru.
Shanti, shanti, shanti.
Damai, damai, damai.

Gema hatimu, Tara. Pada liukan burung elang di antara hutan cemara.