Mimpi yang Ketiga

Aku tak lagi mengerti kita berada di arah mana. Namun dalam mimpi ini kita selalu tertangkap basah. Dalam detail yang mengendap, aku hanya mengingat ketika kepalaku kutaruh begitu saja pada lekuk sisi tubuh kirimu. Seolah mendengar di antara jantung dan gemericik suara perut. Sensasi yang aneh untuk menjadi bagian rusuk kirimu. Mitos Hawa yang tak pernah kumau percayai dan aku akan terbayang wajahmu yang juga mengingkarinya di suatu sore.

Sore yang nyaman untuk saling bergelung, dalam hangatnya matahari senja dari arah jendela. Aku hanya ingat gelung rambutnya saat ini. Seolah kubiarkanlah semua nubuat tanda-tanda ini. Pada kenyataannya mungkin kita hanya berbicara melalui aliran udara dan gelombang kesadaran kita masing-masing.

Aku tetap tak lagi sabar, namun juga belum dapat dikatakan rindu. Karena hal-hal yang kita ketahui dan juga belum lagi terjadi.

Mimpi yang Kedua

Ia merangkak di tengah-tengah tanah yang selalu menahanmu pulang. Kau tak lagi mengingat-ngingat sekian percakapan yang terjadi di sana. Hanya di mimpi ini, segalanya menjadi terlalu jelas. Sejelas jalan-jalan dan ramalan yang berkelok untuk membawamu ke sana. Ke tempat yang kau tahu kau akan selalu datang. Kau terbangun dan mungkin saja, hanya menunggu sepasang tangannya untuk menyambutmu penuh. Jika ini semua bukan mimpi yang sejenak dan berulang.