kita pernah berhenti di satu makam hanya untuk membuktikan kalau kita bisa mendaki bukit itu bersama-sama. kabut telah turun malam itu, menaungi sekeliling kita. gelap sudah menjelma, bersama minus mataku yang nyaris rabun senja. aku tidak bisa melihat apa-apa, selain nafasmu yang kentara.

kita harus turun katamu, kita benar-benar harus turun kataku. tetapi aku ingat, sebelah kiri dan kanan kita hanya jurang adanya. bagaimana? mataku seperti buta lalu kau benar-benar menuntunku seperti orang buta, namun tidak meminta-minta seperti di jalan-jalan.

kita sedang berada di ketinggian kesekian di suatu bukit yang sialan, bukit yang sama yang menggoda kita di sore hari yang tidak cerah. aku nyaris jatuh, kau sempat menggendongku beberapa kali. benar-benar gelap, hanya bayangan sekitarmu yang kelihatan, lalu hutan-hutan. bunyi ular dan sebagainya.

dua jam berikutnya masih gelap, tetapi kita sudah di kaki bukit, masih dengan posisi yang sama. posisi orang buta peminta-minta yang tidak meminta apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s