Yogyakarta, 10 Juni 2011

Kai

Jika ada seorang perempuan yang membuat dadamu guncang ketika ia memalingkan mukanya dan tak lagi menatapmu. Rasa mendecit dalam dada. Sesak yang sesaat tak terhingga. Kau tak ingin kehilangan kedua mata yang menatapmu tajam hingga saat ini. Ia tak pernah benar-benar hilang. Bahkan dalam ingatanmu kau ingat kau selalu merindukan tatapannya. Kau yang tak pernah mau mengakuinya.

Dalam sehela nafas kau menawarkan genggamanmu. Ia menatapmu akhirnya dan dadamu lega. Nafasmu tak lagi memendek. Ia kembali mengenggam tanganmu. Janji kalian sebesar genggaman tangan. Kata dan tindakan hanya berada dalam dua pasang tangan. Hanya berada disana dan berdiam disana. Antara laki-laki dan perempuan. Antara cinta dan benci yang berganti-ganti. Antara keberanian dan kecemasan.

Kau ingin selalu mengajaknya melihat ke depan dan memastikan dalam kehidupan yang sekarang, sepasang tangan kalian selalu bergandengan. Apapun. Bagaimanapun. Sepasang tangan yang mengenggam harapan.

Kau menariknya, Kai. Kau mencintainya. Selalu. Bercinta kepadanya. Selalu dan selalu. Bahkan luruh keringatmu tak lagi mengkhianati hatimu ketika bersatu dengan sempurna pada keringatnya.

Yogyakarta, 23 Mei 2011

Ing

Ia membuatmu gila, Ing. Lebih gila daripada yang pernah kau bayangkan. Cintanya padamu tiada akhir. Cintamu padanya tiada akhir. Tak ada lagi ujung batas. Bahkan setelah kalian akhirnya memutuskan untuk sekali lagi bersama sekian bulan terakhir. Kobaran rasa ini menggila dalam dirimu setiap malam.

Tak ada lagi yang koyak moyak di dalammu semenjak malam ia pergi sekian tahun yang lalu. Kau memintanya pergi malam itu, karena kau tak sanggup lagi menahan perasaanmu yang membesar dan ketakutanmu untuk merusak segalanya dengan itu. Permintaan itu adalah kesalahan besar. Lubang dalam hatimu semakin membesar tiap malam dan di menit pertama kau melihatnya lagi setelah sekian lama, lubang itu menghilang.

Kai.

Kau menyebut perlahan namanya dalam setiap nafasmu. Kau seperti gadis remaja dan ia cinta pertama. Sejarahmu bersamanya sudah tak terhitung. Tawa dan tangisan kalian selalu datang bergantian bagai lingkaran kehidupan. Saat ini kalian berdua mulai memakluminya dan tersenyum karenanya.

Ia menggandeng tanganmu dengan mantap kali ini. Kau menatap matanya. Tak ada keraguan lagi seperti dulu. Hatimu berdegup dengan lebih tegap. Kau bangkit dari sekian kehancuran. Di dalam dirinya kau menemukan kembali dirimu.

Hari ini adalah kencan pertama kalian setelah sekian lama kalian berpisah. Matahari bersinar cerah dan hati pada akhirnya tak pernah mati.

Yogyakarta, 23 Mei 2011

Tara

Mereka pernah menyebutmu gila, Tara. Kau pun tahu sekian tahun yang lalu, kau nyaris gila. Sejak bertemu Raka, yang semula seumpama pemantik dari segala ingatanmu, menjadikanmu terbakar habis. Kau mempercepat roda waktu. Mempercepat hal-hal yang harusnya belum terjadi.

Hingga Asa lahir, tanpa kau pun mengenal ayahnya. Seumpama Bunda Maria yang pernah kau percaya di suatu waktu, itulah yang terjadi pada dirimu. Seumpama Dewi Kunti yang ceritanya kau baca berkali-kali sewaktu kau kecil, itulah yang terjadi pada dirimu. Namun kau hidup di abad dua puluh satu. Sedikit sekali manusia yang masih percaya dengan keajaiban, apalagi dewa dewi. Dan kau tak memiliki sosok Yusuf ataupun Pandu di sisimu. Kau melahirkan dan membesarkan Asa sendirian.

Kau membawa Asa kemana pun kau pergi. Dirimu selalu berjalan bersamanya. Anak yang bagai cahaya di sisimu. Seringkali kau merasa dirimulah yang tengah digandeng olehnya dan bukan sebaliknya. Asa yang luar biasa.

Sahabatmu, Ranmu, mengajakmu pergi dalam waktu dekat. Kau masih ragu. Untuk yang kali ini, kau tidak tahu apakah kau akan mengajak Asa. Perjalanan ini lebih merupakan ziarah. Ziarah ke dalam dirimu. Mimpi, pertanda dan kenangan berkelindan dalam kepalamu.

Kau melihat dirimu ke arah matahari. Sosok cahaya itu muncul.

Tidak, Batara Surya. Aku tak akan pernah melarungkan Karna. Aku bukan Dewi Kunti. Aku adalah diriku sendiri.

Kau akan membawa Asa bersamamu. Selalu.

Yogyakarta, 13 April 2007

Kai

Kau menatapnya, Kai. Ia tak lagi menatapmu. Kau tahu, ia begitu kecewa. Tak ada yang lebih menyakitkan baginya, ketika kau tak menjaganya. Kau yang dipercaya menjaganya selama enam bulan terakhir.

Ia tak sekedar kuat. Ia luar biasa kuat. Ia membuktikannya kepadamu. Namun malam kau pulang padanya dengan tanda merah tak terhindarkan di dadamu, tatapannya seolah habis. Pucat dan putus asa. Ia pergi dan tak pulang semalaman. Kau cemas dan mencarinya kemana-mana. Kau tahu kau telah menyakitinya begitu rupa. Kau minta maaf dan ia tetap pergi. Sekali ini matanya mendendam. Tertusuk sampai ulu hati kau ditatapnya.

Ia pulang siang harinya. Kau tak bertanya. Ada bau laki-laki lain di tubuhnya. Kau tahu. Dirimu remuk redam dibuatnya. Dendam adalah bahaya. Racun yang mematikan cinta. Salah kata adalah kematian. Kau bercinta kepadanya dan merasakan panas tubuhnya. Panas hatimu tak padam ketika kalian mandi bersama. Kata-kata meluncur dan satu tonjokan di tembok kamar menyelesaikan segalanya. Kau pergi. Meninggalkannya. Tak sanggup lagi menatapnya. Kau selalu dan selalu mencintainya, hingga tak tahu berbuat apa.

Kau pulang pagi harinya. Menemukannya di kamar yang lain. Sudah memindahkan kasur dan mulai mengepak barang-barang. Kau mencoba jernih. Membangunkannya dengan ciuman. Kau bercinta kepadanya dan ia menangisimu ketika ia mencapai puncaknya. Cinta telah menjadi begitu menyakitkan.

Tadi malam kau pulang. Rumah yang sepi telah ramai. Ia mengundang orang-orang datang. Ia nyaris tak menatapmu. Kau menariknya ke sudut rumah. Ia tak juga menatapmu. Malam itu kau sadar. Kau kehilangannya. Kau mencoba menciumnya dan wajahnya menghilang. Ia terlalu sedih untuk mencintaimu saat ini. Ia terlalu kecewa untuk meninggalkan sebuah senyuman untukmu.

Kau pergi, Kai. Ia memintamu meninggalkan hidupnya.

Yogyakarta, 14 April 2007

Ing

Kau akan mengingatnya, Ing, sekuat apapun kau ingin melupakannya. Sekuat apapun kau menggosok lantai kamar. Baunya menempel dimana-mana. Dirinya muncul dalam semua bentuk di rumah itu. Rumah yang kalian impikan bersama-sama untuk pertama kalinya. Dia yang selalu pulang padamu. Malam kemarin adalah malam terakhir ia pulang padamu. Kau yang memalingkan muka, kau yang ingin menyelesaikannya.

Tak kuat, Ing, tidak kali ini. Bukan suara perempuan lain yang muncul di benakmu, tapi dadanya yang merah oleh bibir perempuan lain ketika ia pulang padamu. Kau menahan amarah. Enam bulan kau bertahan. Detik itu kau ingin menyerah. Meninggalkannya selamanya.

Meninggalkan dirimu yang mengingatnya. Adegan ia memelukmu di dapurnya, di dapurmu dan di rumah yang kalian tempati bersama ini. Kalian yang bercinta dimana-mana. Di atas meja kerjamu, di kamar mandi, di taman, di dapur, tak ada ruang yang kalian lewati. Memori adalah terlalu. Kau yang tak akan pernah jatuh padanya, terserak dimana-mana. Kau mematahkan janji yang tak pernah ingin kau pegang.

Kau selalu mencintainya. Bahkan ketika kau memindahkan semua barangnya dari kamarmu. Memasukinya dalam kardus dan kantong plastik. Menghela nafas kau mencoba menata ulang hidupmu dan mencoba bertahan.

Ia ingin menciummu semalam. Di hadapan kawan-kawanmu, dirimu bisa bertahan. Berpaling dan tak lagi menatap matanya. Sendirian, kau tahu kau tak akan pernah bisa. Sendirian, kau menangisi dirinya kini. Tak pernah kau luka sedemikian. Tak pernah kau tahu bahwa kau selalu dan selalu mencintainya. Terisak, kau mengecat kamar dengan cat putih.

Bau cat juga tak mengalahkan bau tubuhnya yang membekas padamu. Mungkin kau yang harus mengecat ulang tubuhmu.

Yogyakarta, 20 April 2011

Tara

Jika bisa ia ingin mengambil sebuah penghapus dan menggunakannya untuk masa lalu. Jika bisa ia ingin melupakan sosok sepasang mata yang tak pernah mengembalikan hatinya kembali ke tempatnya. Satu-satunya hal yang ia menyesal. Satu-satunya laki-laki yang selalu direlakannya untuk hanya diketahuinya hidup di suatu tempat.

Ia tahu ia akan menangis jika laki-laki itu mati. Jika bisa, ia ingin menutup mata laki-laki itu untuk terakhir kali dengan tangannya. Jika bisa, dibacanya peta langit dalam biasan mata laki-laki itu. Kematiannya yang menuju kemana. Jiwa yang terbang. Tubuh selanjutnya. Kehidupan selanjutnya. Ia ingin berada disana. Sekali lagi saja.

Ribuan tahun yang menyiksa. Lima tahun yang selamanya. Yang tanpanya selalu kosong. Yang selalu menyisakan sebuah lubang di hatinya.

Jika mereka mencintai sepi, sebenarnya mereka sedang berbohong. Karena ia dan juga laki-laki itu tidak pernah bisa sendirian. Mereka selalu menyampaikan pesan-pesan kesendirian itu lewat teks dan foto. Seperti surat-surat dalam botol yang selalu mereka kirimkan dan dilarung ke lautan. Tak ada arah mata angin di hatimu. Tak ada arah mata angin di hatinya. Hanya degup, denyut dan pesan-pesan yang terbengkalai. Bagi kalian tak selalu dunia ini terhubung. Hanya cara-cara lama yang kalian gunakan. Hanya kenangan. Memori. Ingatan dan bahasa kesepian.

Yogyakarta, 19 Februari 2004

Kai

Mungkin di dalam matanya yang separuh tertutup kau selalu menemukan yang selama ini kau cari. Tapi kau tidak pernah mengakuinya. Perempuan itu pun tidak pernah mau mengakuinya. Ia hanya tertawa. Menghembuskan asap rokoknya tepat di wajahmu setelah kalian selesai bercinta. Ia tak akan percaya.

Ia hanya mulai datang ketika kalian sama-sama membutuhkan sesuatu. Mungkin sekedar seks. Mungkin sekedar teman minum. Mungkin hanya sekedar teman bicara dan kalian menatap langit-langit kamar sambil berbagi sepuntung rokok bersama. Tidak mengandaikan apa-apa. Mimpi-mimpi kalian mungkin terlalu saling bersilangan.

Ini skandal. Gumannya suatu waktu ketika nafas kalian telah reda.

Kau tak pernah mengerti mengapa ia menulismu dalam puisi ketika ia bahkan tak mengingat namamu. Tapi ia mengingatmu ketika dirimu muncul dalam satu bentuk pesan teks. Kata-kata pendek yang ia akan selalu tahu itu adalah dirimu. Kau mengingat segala detail akan dirinya. Menghapal semua lekuk tubuhnya bagai kitab suci. Mengerti titik-titik tubuhnya bagai menghapal rasi bintang.

Ia akan selalu memanjakanmu di atas ranjang. Dan hanya itu pintu yang dibukakan atas dirinya atasmu. Tapi seperti segala bentuk ingatan dan kebiasaan. Segala titik itu akan terhubung suatu hari pada hatinya. Jika suatu hari ia membekas padamu. Jika suatu hari hanya kenangan-kenangan manis yang kau ingat sambil lewat.

Kau memagut bibirnya. Ia memagut bibirmu. Untuk saat ini kalian tidak membutuhkan kata jika.

Yogyakarta, 29 Desember 2003

Ing

Hujan sudah turun semalaman. Musik sudah tak lagi berdentam. Kau menangkap satu sorot mata yang memandangimu sejak tadi. Ketika sekian hembusan rokokmu memenuhi udara malam dari bibirmu yang kering dari udara dan basah oleh anggur murahan yang berputar tak henti-henti. Kau masih sanggup. Jika hanya cairan, kau tak akan pernah mabuk.

Laki-laki itu akhirnya menghampirimu, ketika hanya empat orang, termasuk dirimu yang masih berdiri tegak di tempat itu. Kai, ia tersenyum ketika menyalamimu. Kau hanya menatapnya. Tajam. Lalu menghembuskan kembali asap rokokmu. Kau tak pernah berpikir panjang. Tak sampai sepuluh menit, laki-laki itu berpamitan pulang. Kau tak melihat ke arahnya, melainkan langit dan tetesannya yang semakin mengecil.

Kau menengok jam di layar hp-mu. Kau memutuskan untuk pulang dan menemukan laki-laki itu teronggok bersama mesin motornya yang kedinginan. Kau hanya bertanya untuk basa-basi, hingga seorang kawan menyusul dan menghampiri. Beberapa kali mereka mencoba untuk menyalakan motor, namun gagal. Kau sudah mengenakan helmmu ketika kawan kalian mengusulkan agar kalian berboncengan. Kau tak merasa repot. Toh, arah yang kalian tuju sama. Utara.

Subuh mulai menyengat. Ia membuatmu tertawa di atas motor. Hingga tak terasa motormu hampir mencapai tempatnya. Di menit-menit laknat itu, akhirnya kau memutuskan untuk mampir. Kepalamu lebih berat karena kantuk ketimbang jumlah cairan yang masuk semalaman.

Bau kopi panas menyengat di kamarnya. Subuh yang dingin, pembicaraan yang hangat, senyum yang hangat. Laknat. Uap tak hanya muncul dari sepasang gelas kopi yang terlantar, namun juga dari deru nafas yang mewarnai udara kamar hingga pengap. Panas nyaris liar. Deru memburu yang kalian ulang berkali-kali hingga tigapuluh enam jam berikutnya. Kalian hanya keluar ketika teringat makan.

Kau pulang dengan kepala sepening-peningnya dan bau tubuhnya yang seakan menempel dalam tubuhmu selamanya. Kau mengucapkan selamat tinggal dan tak mengingat namanya.

Yogyakarta, 29 Desember 2003

Kai

Malam telah jatuh biru. Gerimis meresapi tanah. Kau membereskan semua alat-alat musik yang bergelimpangan dan para kawan-kawan pemabuk yang berjatuhan. Di meja pojokan, perempuan itu masih disana. Kau terkesiap, hanya ada empat orang termasuk dirimu yang selamat tegak berdiri dari pengaruh alkohol malam ini.

Semalaman kau mengamatinya. Dirinya memakai kaus putih terusan dan sepatu boot hitam. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai kemana-mana. Rokok kretek Dji Sam Soe terus menerus menari di jemarinya. Sesekali ia menggoyangkan kepalanya dalam alunan musik reggae semalaman suntuk. Ia pun menenggak dengan santai arus minuman yang terus mengalir. Masih dua botol tersisa di meja. Tawanya terdengar renyah untuk jam empat pagi.

Kau memutuskan untuk bergabung dengan meja tersebut. Mengulurkan tanganmu dan menatapnya. Ia meniup asap rokoknya. Ing. Jawab perempuan itu pendek. Matanya dengan tajam membalas dari balik bingkai kacamata merahnya. Kepalamu tiba-tiba terasa berat dan kau hanya ingin rebah. Kau berpamitan, menenggak satu tegukan terakhir dan menuju motormu yang terparkir.

Hujan meresap ke segalanya, termasuk mendinginkan mesin motormu tanpa kompromi. Kau mulai kehilangan akal akan bagaimana kau akan pulang. Perempuan itu lewat di sebelahmu. Salah seorang kawan akhirnya menawarkan solusi agar dirimu berboncengan karena kalian tinggal di arah yang sama. Utara.

Ia menyalakan mesin motornya dengan santai, mengiyakan untuk mengantarmu pulang. Kalian berbicara santai di atas motor. Hari masih gelap dan pagi masih dingin. Kau menyadari ia seorang perempuan. Tak baik untuk pulang di jam-jam demikian apalagi karena kepala kalian sama-sama berat. Lima menit menjelang tempatmu, kau menawarkan dirinya untuk masuk dan secangkir kopi hangat sebelum ia benar-benar pulang.

Perempuan itu tidak pernah pulang hingga tiga puluh enam jam berikutnya. Ciuman kalian di pukul lima pagi berujung dengan lekatnya tubuh, keringat dan mungkin awal dari cinta.

Ketika ia benar-benar pergi. Kau memanggil namanya di dalam hati. Ing. Kau tahu kau akan selalu mengingatnya walau kau yakin ia akan melupakanmu setelah ini.

Yogyakarta, 18 Januari 2011

Ing

Kai, hanya kau yang tahu benar diriku. Tubuhku. Rasaku. Aku tak bisa menahan untuk tak meneriakkan namamu. Ledakan-ledakan dalam dadaku jika bersamamu. Kurengkuh kepalamu dan kureguk semua rindumu padaku. Apakah waktu selalu membuktikan kepada kita sesuatu?

Segalanya masih sama sekaligus berbeda. Diri kita yang masing-masing bertambah dewasa. Rasa kita yang semakin mengental oleh waktu. Detik-detik yang berjalan dengan lebih sabar dan lebih kuat. Apakah ini benar-benar cinta sejati?

Kutatap matamu, Kai. Ada yang penuh disana. Sinarmu begitu cermerlang kini. Kau membuat diriku sempurna. Kau merajutku dengan utuh dan tiada lagi.

Tiada lagi selain dirimu.