Yogyakarta, 29 Desember 2010

Kai

Dadamu berdesir, Ing. Kuketahui semua itu dari hangat matamu. Getaran yang muncul dari siku kirimu. Aku masih mencintaimu Ing, dari segalanya, atas segalanya. Delapan tahun, sejak kau duduk di pojokan meja yang sama. Dan kau semakin bersinar. Semakin matang dan mekar.

Aku ingin menahanmu malam ini, Ing. Aku ingin tak peduli. Aku ingin membawamu dan tak akan melepaskanmu lagi. Tak akan pernah. Melihatmu lagi, hasratku ingin menjagamu. Ing-ku yang begitu percaya. Kau yang tak pernah kecewa.

Ing, terlalu besarkah jika kuberharap suatu hari nanti kau akan kembali padaku? Aku pernah berjanji kepadamu, Ing dan pada waktu itu kita berdua sama-sama lari. Apakah waktu selalu tak pernah tepat? Aku ingin menatap sekali lagi matamu, Ing. Melihat binar cahaya yang selalu percaya padaku.

Kutahan genggamanmu ketika kau hendak pulang. Senyummu seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Sekali lagi, ingin kudengar nafasmu. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu betapa aku mencintaimu.

Kau pergi dan aku tak pernah tahu kapan kau akan kembali.

Lhasa, 9 Juli 2011

Ranmu

Bicaralah, Tara. Agar aku mendengarmu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi laki-laki bermata abu-abu di hatimu. Namun kau harus maju. Kau harus berharap dirimu sendirilah yang akan menggantikannya. Bahwa dengan mencintai dirimulah, kau tak akan lagi kehilangan dirimu. Tak lagi menyakiti dirimu lagi.

Di antara pepohonan aku selalu melihatmu. Mengintip dari kejauhan. Apakah kau akan mengenggam tanganku, Tara? Apakah kau akan melangkah dan tertangkap padaku? Apakah kau akan sanggup untuk terjun lagi dan tak kembali. Karena kau serupa cermin jiwaku, Tara.

Tara, aku tahu kau tengah mencariku. Dalam potongan-potongan mimpi engkau datang. Dengan gaun biru langit. Rambut panjang hitam legam. Matamu yang tajam tak pernah semenusuk sedemikian. Menatap ke depan dan dalam. Kau datang sendirian.

Tak lagi sedih. Tak lagi sendu. Tak lagi hilang. Kau tahu kau tengah mencariku. Kaulah yang memegang kendali itu lagi. Seperti dulu. Ketika sosokmu muncul sebagai rajaku. Bicaralah, Tara. Agar aku mendengarmu. Agar aku dapat menjawabmu. Kau yang kini serupa ratu.

Kau masih diam. Kuteguk anggur dari botol termosmu.

Lhasa, 9 Juli 2011

Tara

Di ketinggian ini aku selalu membayangkan perasaanku. Bagaimana rasanya berdiri di tebing yang sama kembali. Mengingatmu. Mengingat sekian senja yang lalu. Kukira segalanya berkilas. Melewatiku. Matamu yang beku. Abu-abu.

Raka, nerakaku adalah tak bersamamu. Nerakaku adalah tidak mengenalmu.

Di danau yang nyaris beku, kucelupkan kepalaku. Mengingat rasa sebelum kehidupan berdetak menyentuh jantungku. Apakah jiwa? Apakah masa? Apakah ingatan? Apakah ada yang sia-sia dari yang tersisa?

Surgaku adalah ketika aku melihat matamu. Momen ketika pintu surga itu terbuka lagi. Masih senja dan selalu senja. Aku tak pernah bisa menutup segala rasaku akan dirimu. Tak pernah bisa. Terlalu pekat dan dalam. Bahkan ketika kubayangkan lagi, janji kita untuk ke tempat ini lagi.

Bukan kau lagi yang berada di tebing itu. Hanya sahabatku dengan tatto teratai mungil di lengannya. Ia juga membawa kamera, tapi juga bukan milikmu. Tiada sesuatu adalah milikmu selain ingatanku.

Aku mendengar bunyi lonceng samar di kejauhan. Bendera doa berkibar warna warni. Himalaya terlihat dengan megahnya. Aku selalu melihat ke arah utara. Selalu ke tempat-tempat yang tinggi. Udara selalu menyengat ketika kuhirup. Baumu ada dimana-mana. Wajahmu membekas di setiap butir pasir yang terbawa angin lalu.

Ini keterlaluan.

Raka, aku selalu merindukanmu dan aku tidak baik-baik saja.

Selamat ulang tahun yang ketigapuluh. Selamat…

Kuteguk anggur dari botol termos.

Wina, 23 Desember 2012

Tara

Aku tahu aku merindukanmu pagi ini, ketika pertama kali kelopak mataku terbuka. Aku melihat cahaya putih meremang di sekitarku. Setelah jelas, aku menemukan diriku sedang memeluk anakku yang tertidur di dadaku. Aku tahu kiamat telah lewat dan aku masih hidup di kotamu. Salju turun menutupi seluruh kota dan dinginnya melewati tembok serta jendela. Aku tak tahu kemana aku akan pulang dalam cuaca seperti ini. Aku seharusnya pulang pagi ini, tapi tubuhku terasa malas untuk beranjak dan selimut tebal telah menjadi kulit keduaku.

Aku hanya ingin pulang kepada dirimu. Pada hari aku mati.

Manusia selalu identik menempatkan ketakutan dengan kematian. Aku membutuhkan dirimu ketika menghadapi kematian, bukan karena takut, tapi karena ingin menghadapi cahaya. Rasa silau yang melingkupi diri sampai tak bergerak. Getaran abadi yang ingin kubagi.

Anakku terbangun, matanya yang bulat terbuka lebar. Ia menatapku.

“Mama, kapan kita pulang ke Yogya?”

Itu adalah kata-kata pertamanya. Ia tak peduli kiamat. Tak peduli kematian. Anak-anak sekarang selalu punya keberanian yang lebih untuk menghadapi dunia.

“Hari ini.”

Pada akhirnya, aku tahu aku akan pulang ke Yogya dan meninggalkan separuh jiwaku di kota ini.

Proses Kreatif #30harimenulis
@astridreza

:sebuah catatan dan pengakuan


Saya menulis karena saya tidak bahagia. Saya menulis karena menulis adalah jalan melawan ketidakbahagiaan – Mario Vargas Llosa

Virus itu mewabah, menyerang saya dan saya tidak mati. Atau sebaliknya saya mati berkali-kali. Sekarang saya terserang adiksi, untuk terus maju atau bahkan melompat. Meraih benar obsesi saya yang utama: menulis dan menerbitkan sebuah novel. Pada akhirnya saya harus setuju apa yang dikatakan Marquez. Seseorang baru dapat menuliskan sesuatu yang besar ketika mereka mengalami hal-hal besar. Saya tidak tahu sebesar apa sebenarnya hal-hal yang telah saya jalani dalam hidup saya. Namun saya bisa mengatakan bahwa saya sudah melewati beberapa kiamat kecil pribadi.

Ide kiamat itulah yang pertama kali muncul. Lalu obsesi saya pada ingatan dan sejarah personal. Pada kematian dan kesedihan. Sisi-sisi depresif dan kecenderungan bunuh diri. Saya melepaskan diri saya dalam tulisan-tulisan saya. Kesakitan-kesakitan saya. Saya melepaskan banyak beban-beban emosi yang selama ini telah tertanam atau tergurat dalam diri saya. Saya tahu, saya membutuhkan #30harimenulis dan saya harus melewatinya sampai selesai.

Katakanlah pada awalnya ide fiksi untuk #30harimenulis adalah sesuatu yang amat personal bagi saya. Namun kemudian arus penulisan itu berkembang, karakter-karakter di dalamnya mulai bicara. Dan hampir setiap nyaris subuh, saya mulai memiliki jam biologis untuk bangun dan mulai mengetikkan kata-kata mereka. Sampai hari ini saya masih memiliki kebiasaan ini karena bagi seorang orangtua tunggal dengan anak berumur dua tahun, jam-jam ini adalah jam terjernih dan terhening bagi saya. Saya belajar menulis dengan efektif dan tidak terganggu. Latihan dan disiplin yoga yang saya lakukan tiga bulan terakhir tiba-tiba menyatu dengan rutinitas menulis saya. Bagi saya rutinitas baru ini luar biasa karena pada awalnya saya tidak begitu yakin saya akan memilikinya.

Di akhir #30harimenulis saya menemukan diri saya yang baru. Tidak hanya sekedar tulisan. Tidak sekedar fiksi. Project ini tiba-tiba menjadi begitu riil dan menjadi bagian dari diri saya. Begitu banyak peristiwa tiba-tiba terlewati tapi sekaligus terekam, perasaan mengetahui ini adalah menyenangkan. Dan ketika #30harimenulis saya yang pertama berakhir, saya juga merasa sedih, saya tiba-tiba ingin memulainya lagi, setiap hari.

Fragmen yang dihasilkan dari #30harimenulis akan saya teruskan, entah secara pribadi atau via blog ini. Satu kebetulan yang menarik lagi, ini adalah posting saya yang ke seribu satu. Umur blog ini hampir sepuluh tahun dan signifikansi angka seribu pada hari terakhir #30harimenulis membuat saya terkesima. Saya ingin melihat seberapa jauh saya bisa membawa diri saya menulis dan saya pikir momen ini adalah sekarang, ketika semesta sedang menjatuhkan sekian hal dalam hidup saya untuk saya jalani. Terimakasih pada kawan-kawan seperjuangan yang baik berhasil atau gagal, merelakan diri mereka diwabahi dan ditularkan semangat yang sama. Pada akhirnya hidup adalah proses, nikmatilah:)

Thank you to @maradilla for letting me involve with this project.

#30harimenulis

Day 30: Wina, 21 Desember 2012

Kenneth

Aku berdiri di tengah jalan. Dimana aku bisa melihat jendela apartemenmu dulu. Gedung itu masih ada di sana. Bahkan jendela itu seolah-olah tak berubah. Membekukan ingatanku kembali ke tahun 1978. Ruangan yang menjadi saksi kita pertama kali bercinta dan menghabiskan waktu bersama, setahun lamanya. Terasa baru saja kemarin. Terasa selamanya.

Jalan ini yang kita selalu lalui jika kita sudah terlalu lapar dan memutuskan untuk turun ke bawah. Kafe favoritmu tetap berdiri, mereka mempertahankan tempat itu dengan gaya lama dan aku baru saja menghabiskan secangkir kopi di tempat itu. Di pojokan favoritmu, Vivian. Dimana senyum dan gairah hidupmu membekas. Aku membayangkan melalui perjalanan waktu dan kembali ke surga kecil kita itu. Bagaimana dengan surgamu Vivian?

Apakah aku akan menyusulmu malam ini?

Aku memutuskan perjalanan ini, ketika aku mengetahui bahwa malam ini dunia akan kiamat. Aku melihat langit yang tak menentu. Dadaku berdebar mengetahui ketidakpastian itu. Satu yang pasti, ketika aku akan mati, aku ingin berada di kota ini. Aku ingin menghirup ingatan kebahagiaan dan segala tentangmu sebelum aku melebur dengan semesta raya.

Udara tiba-tiba menusuk. Selamat tinggal, Vivian.


Auf wiedersehen…

#30harimenulis

Day 29: Wina, 21 Desember 2012

Raka

Raka menatap langit dari jendela apartemennya. Langit kehilangan bentuknya. Berubah-ubah tak karuan. Ia tak punya televisi. Hanya berita-berita bermunculan di internet yang tidak ia klik. Ia jenuh. Dengan kematian. Dengan kiamat. Ia membiarkan segalanya datang, seperti bagaimana ia senang membiarkan hujan datang membasuh tubuhnya. Basah. Menangisi seluruh keberadaannya.

Rasa sedih selalu datang tiba-tiba dan malam ini akan dihabiskannya sendirian. Seluruh ingatan akan hidupnya selama ini berkelebat. Ia membayangkan konstelasi tata surya yang sejajar, jika ia dapat melihatnya di langit malam ini. Membayangkan dirinya sebagai satu atom terkecil dalam tata surya yang didominasi kegelapan dan keheningan. Ia membayangkan terjadinya dunia dalam satu dentuman besar. Satu nafas besar yang merubah segalanya. Menjadikan segalanya.

Ia teringat perempuan itu. Yang berkata akan mengandung anaknya namun tak mungkin. Selalu ada momen yang menjadikan nafas mereka tertahan bersamaan. Selalu ada yang sedih tercekat di udara. Namun pada akhirnya selalu ada nafas lega. Udara dan bahagia sepekat momen terakhir kali ia melihatnya. Tanpa sadar ia berkata ketika matanya melihat ke arah jendela. Selamat tinggal, Tara.

#30harimenulis

Day 28: Wina, 21 Desember 2012

Tara

Langit akan berubah malam ini. Satu konstelasi tata surya akan berjajar dalam sekian jam. Tara bermalas-malasan di kamar hotel, berbaring dan mengganti channel televisi dengan enggan. Ia tidak pernah suka dengan televisi. Asa sedang menggambar di meja dekat sofa.

Televisi segalanya berisi tentang kiamat. Ia tak lagi percaya berita. Ia hanya merasakan apa yang diciumnya di udara pagi tadi. Ketika ia sedang mencari secangkir kopi dan segelas susu hangat untuk anaknya. Koran-koran walaupun ia tak mengerti bahasa Jerman berbicara demikian, ia bahkan enggan membuka berita di internet. Segalanya sama. Pertaruhan akan kiamat dunia.

Dia tak peduli dimana ia akan mati. Ia mungkin hanya akan memeluk anaknya dan mereka lebur bersama dengan kehancuran dunia ini. Jika segala sesuatu memang akan terjadi. Tirai kamar hotel dibiarkannya terbuka. Tara menatap langit. Mengucapkan selamat tinggal. Dua patah kata, untuk seseorang di kota yang sama.

#30harimenulis

Day 27: Nairobi, 28 September 2010

Kenneth

Email balasan dari Tara sampai di inboxnya. Panjang sekali. Ia sambil tak kuasa mengutipnya. Tak kuasa membacanya. Tak kuasa mengingat. Tak kuasa membalas apa-apa.

Mungkin terimakasih akan menjadi sesederhana sebuah ungkapan. Perasaan menyayat yang menderanya, yang jika muncul akan diingatnya sepanjang waktu. Sampai pada hari ia mati.

Ia merasa aneh membaca email Tara. Bagaimana putri Vivian memaafkan dan mengerti semua perasaannya pada Vivian, bahkan ketika ia belum bercerita apa-apa. Sejenak ia merasa putri Vivian jugalah putrinya. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh. Kesadaran yang membuat dirinya menghela nafas sejenak.

Kelegaan pada dirinya meruap. Ia tiba-tiba ingin berada di jalan-jalan kota Wina, hanya untuk mengingat dan mungkin tersenyum.