Yogyakarta, 29 Desember 2003

Kai

Malam telah jatuh biru. Gerimis meresapi tanah. Kau membereskan semua alat-alat musik yang bergelimpangan dan para kawan-kawan pemabuk yang berjatuhan. Di meja pojokan, perempuan itu masih disana. Kau terkesiap, hanya ada empat orang termasuk dirimu yang selamat tegak berdiri dari pengaruh alkohol malam ini.

Semalaman kau mengamatinya. Dirinya memakai kaus putih terusan dan sepatu boot hitam. Rambutnya dibiarkan lepas tergerai kemana-mana. Rokok kretek Dji Sam Soe terus menerus menari di jemarinya. Sesekali ia menggoyangkan kepalanya dalam alunan musik reggae semalaman suntuk. Ia pun menenggak dengan santai arus minuman yang terus mengalir. Masih dua botol tersisa di meja. Tawanya terdengar renyah untuk jam empat pagi.

Kau memutuskan untuk bergabung dengan meja tersebut. Mengulurkan tanganmu dan menatapnya. Ia meniup asap rokoknya. Ing. Jawab perempuan itu pendek. Matanya dengan tajam membalas dari balik bingkai kacamata merahnya. Kepalamu tiba-tiba terasa berat dan kau hanya ingin rebah. Kau berpamitan, menenggak satu tegukan terakhir dan menuju motormu yang terparkir.

Hujan meresap ke segalanya, termasuk mendinginkan mesin motormu tanpa kompromi. Kau mulai kehilangan akal akan bagaimana kau akan pulang. Perempuan itu lewat di sebelahmu. Salah seorang kawan akhirnya menawarkan solusi agar dirimu berboncengan karena kalian tinggal di arah yang sama. Utara.

Ia menyalakan mesin motornya dengan santai, mengiyakan untuk mengantarmu pulang. Kalian berbicara santai di atas motor. Hari masih gelap dan pagi masih dingin. Kau menyadari ia seorang perempuan. Tak baik untuk pulang di jam-jam demikian apalagi karena kepala kalian sama-sama berat. Lima menit menjelang tempatmu, kau menawarkan dirinya untuk masuk dan secangkir kopi hangat sebelum ia benar-benar pulang.

Perempuan itu tidak pernah pulang hingga tiga puluh enam jam berikutnya. Ciuman kalian di pukul lima pagi berujung dengan lekatnya tubuh, keringat dan mungkin awal dari cinta.

Ketika ia benar-benar pergi. Kau memanggil namanya di dalam hati. Ing. Kau tahu kau akan selalu mengingatnya walau kau yakin ia akan melupakanmu setelah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s