Yogyakarta, 19 Februari 2004

Kai

Mungkin di dalam matanya yang separuh tertutup kau selalu menemukan yang selama ini kau cari. Tapi kau tidak pernah mengakuinya. Perempuan itu pun tidak pernah mau mengakuinya. Ia hanya tertawa. Menghembuskan asap rokoknya tepat di wajahmu setelah kalian selesai bercinta. Ia tak akan percaya.

Ia hanya mulai datang ketika kalian sama-sama membutuhkan sesuatu. Mungkin sekedar seks. Mungkin sekedar teman minum. Mungkin hanya sekedar teman bicara dan kalian menatap langit-langit kamar sambil berbagi sepuntung rokok bersama. Tidak mengandaikan apa-apa. Mimpi-mimpi kalian mungkin terlalu saling bersilangan.

Ini skandal. Gumannya suatu waktu ketika nafas kalian telah reda.

Kau tak pernah mengerti mengapa ia menulismu dalam puisi ketika ia bahkan tak mengingat namamu. Tapi ia mengingatmu ketika dirimu muncul dalam satu bentuk pesan teks. Kata-kata pendek yang ia akan selalu tahu itu adalah dirimu. Kau mengingat segala detail akan dirinya. Menghapal semua lekuk tubuhnya bagai kitab suci. Mengerti titik-titik tubuhnya bagai menghapal rasi bintang.

Ia akan selalu memanjakanmu di atas ranjang. Dan hanya itu pintu yang dibukakan atas dirinya atasmu. Tapi seperti segala bentuk ingatan dan kebiasaan. Segala titik itu akan terhubung suatu hari pada hatinya. Jika suatu hari ia membekas padamu. Jika suatu hari hanya kenangan-kenangan manis yang kau ingat sambil lewat.

Kau memagut bibirnya. Ia memagut bibirmu. Untuk saat ini kalian tidak membutuhkan kata jika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s