Yogyakarta, 29 Desember 2010

Kai

Dadamu berdesir, Ing. Kuketahui semua itu dari hangat matamu. Getaran yang muncul dari siku kirimu. Aku masih mencintaimu Ing, dari segalanya, atas segalanya. Delapan tahun, sejak kau duduk di pojokan meja yang sama. Dan kau semakin bersinar. Semakin matang dan mekar.

Aku ingin menahanmu malam ini, Ing. Aku ingin tak peduli. Aku ingin membawamu dan tak akan melepaskanmu lagi. Tak akan pernah. Melihatmu lagi, hasratku ingin menjagamu. Ing-ku yang begitu percaya. Kau yang tak pernah kecewa.

Ing, terlalu besarkah jika kuberharap suatu hari nanti kau akan kembali padaku? Aku pernah berjanji kepadamu, Ing dan pada waktu itu kita berdua sama-sama lari. Apakah waktu selalu tak pernah tepat? Aku ingin menatap sekali lagi matamu, Ing. Melihat binar cahaya yang selalu percaya padaku.

Kutahan genggamanmu ketika kau hendak pulang. Senyummu seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Sekali lagi, ingin kudengar nafasmu. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu betapa aku mencintaimu.

Kau pergi dan aku tak pernah tahu kapan kau akan kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s