#30harimenulis

Day 30: Wina, 21 Desember 2012

Kenneth

Aku berdiri di tengah jalan. Dimana aku bisa melihat jendela apartemenmu dulu. Gedung itu masih ada di sana. Bahkan jendela itu seolah-olah tak berubah. Membekukan ingatanku kembali ke tahun 1978. Ruangan yang menjadi saksi kita pertama kali bercinta dan menghabiskan waktu bersama, setahun lamanya. Terasa baru saja kemarin. Terasa selamanya.

Jalan ini yang kita selalu lalui jika kita sudah terlalu lapar dan memutuskan untuk turun ke bawah. Kafe favoritmu tetap berdiri, mereka mempertahankan tempat itu dengan gaya lama dan aku baru saja menghabiskan secangkir kopi di tempat itu. Di pojokan favoritmu, Vivian. Dimana senyum dan gairah hidupmu membekas. Aku membayangkan melalui perjalanan waktu dan kembali ke surga kecil kita itu. Bagaimana dengan surgamu Vivian?

Apakah aku akan menyusulmu malam ini?

Aku memutuskan perjalanan ini, ketika aku mengetahui bahwa malam ini dunia akan kiamat. Aku melihat langit yang tak menentu. Dadaku berdebar mengetahui ketidakpastian itu. Satu yang pasti, ketika aku akan mati, aku ingin berada di kota ini. Aku ingin menghirup ingatan kebahagiaan dan segala tentangmu sebelum aku melebur dengan semesta raya.

Udara tiba-tiba menusuk. Selamat tinggal, Vivian.


Auf wiedersehen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s