Singapura – Yogyakarta, 27 Juli 2011

Raka

Sepertinya kata pulang adalah sesuatu yang terlalu sederhana. Karena tidak pernah ada yang sederhana mengenai kepulangan. Sesuatu yang terlalu dekat dengan kematian. Aku menangkupkan wajahku setelah melihat ke arah jendela pesawat. Changi, udara tropis yang panas, pemandangan bandara yang kaku dan dingin. Aku menengokkan kepalaku ke arah yang lain. Laki-laki berkulit coklat. Sepintas seperti kutu buku. Sepintas kemungkinan ia gay. Namun mungkin juga bukan. Ia tersenyum kepadaku. Aku tersenyum balik.

Aku ingin udara segera berubah. Aku ingin menghirup lagi aroma kota tujuan kami semua dalam pesawat ini. Aroma yang selalu nglangut dan mengalahkan semua rasa dingin yang datang dari negara-negara empat musim. Perjalanan yang terasa mulai terlalu sering membuat semua orang ingin merasakan lagi kepulangan. Semua perjalanan adalah perjalanan kesendirian. Semua perjalanan adalah sebuah usaha untuk mengalahkan kesepian.

Pesawat telah lepas landas. Dan aku mendengar namaku, samar disebutkan oleh laki-laki berkulit coklat di sebelahku. Aku mengedip. Aku mendengar namamu.

Aku tak paham, Tara, mengapa namaku dapat tersimpan dalam lidah kawan-kawanmu. Di mana pun diriku. Di mana pun dirimu. Kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s