Vivian

Di antara cahaya matahari tanah tua ini, aku mengenangmu, Kenneth. Ketika perutku tengah membesar nyaris delapan bulan. Dokter melarangku bergerak banyak. Kerjaku hanya tidur dan makan es krim. Suster-suster memuja kulitku sebagaimana kau pernah memujanya, empat tahun yang lalu, di tengah dinginnya salju kota Wina.

Aku tak mengerti bagaimana diriku membesar. Hanya teknologi mutakhir yang dapat menjelaskannya. Aku merasa aneh dengan anak yang tengah kukandung ini. Dia tak lahir dari penis laki-laki. Ia tak lahir dari kenormalan. Ia disatukan di laboratorium dengan alat-alat. Lalu ditanamkan begitu saja ke dalam rahimku. Mereka menyebutnya bayi tabung. Aku membayangkan dalam perutku tumbuh semacam tabung yang bergerak. Spiral yang bulat, bagai penis yang melesak terlalu dalam. Namun bukan sesuatu yang alami.

 

Aku tak tahu mengapa aku mengingatmu di antara menguningnya dedaunan. Anak ini akan lahir di musim yang berguguran. Anak ini jika ia lahir selamat akan bangun di antara runtuhnya daun pepohonan.

 

Surat ini terlarang dan kau tahu bahwa aku tak akan bisa mengirimkannya kepadamu. Hanya dapat kutiupkan dalam lembar dedaunan yang jatuh ke tanah lembab. Sehingga mungkin dapat mencapai ingatan pada kulitmu akan memori dinginnya musim salju di suatu waktu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s