Kathmandu, 16 Agustus 2014

Tara

Tara menemukan sepasang mata biru Hans menatapnya di balik jeruji besi bermotif bunga ala Newari. Rajutan bambu di belakang Hans entah mengapa menjadi semua latar belakang pembicaraan mereka setelah dua bulan sebelumnya Tara melepasnya di kantor biro narkotika, dengan tangan yang terborgol dan ciuman tak pasti di lehernya, di depan ayah Hans yang emosional dan baru saja bertemu Hans setelah tiga tahun lamanya. Untuk Tara tidak ada kata-kata perpisahan di antara mereka. Hans hanya menatapnya lekat, tak kuasa untuk mendekat karena jarak adalah satu-satunya yang pasti untuk mereka saat ini.

Namun nasib berkata lain. Tara berada di depan Hans saat ini. Walaupun ia harus duduk bersama belasan orang lainnya, tak diperbolehkan untuk menyentuh Hans, hanya saling memandang dan berbicara dalam jarak satu meter. Di tengah-tengah kebisingan belasan pembicaraan dalam bahasa yang belum lagi mereka mengerti. Tara merasa berada di tengah-tengah sarang lebah. Para lebah yang terancam punah, namun tiba-tiba menjelma menjadi kumpulan pembicaraan manusia yang berdengung sama.

Pada latar belakang rajutan bambu yang seadanya, Tara sedikit lega ketika ia menemukan kilatan cahaya telah kembali dalam tatapan Hans. Kilatan-kilatan keajaiban yang ia selalu percaya. Kilatan cahaya yang ditunggunya selama tiga bulan terakhir untuk kembali muncul dalam wujud Hans yang serupa peri dari dimensi dunia yang lain.

Tara tak kuasa untuk tak tertawa bersama Hans, di tengah-tengah semua keabsurdan situasi mereka berdua. Bahwa semesta telah membuat drama yang luar biasa dari kehidupan mereka masing-masing. Bahwa masing-masing lakon mereka adalah lelucon semesta yang luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah malam itu, Tara mendengar tawa Hans yang walaupun samar telah mengisi kembali satu relung di hatinya. Telah membuat nyala di hatinya menjadi lebih terang. Ia membalas semuanya dengan senyum sepenuhnya pada Hans. Dan Hans padanya.

Mungkin yang terpenting dalam kehidupan adalah momen-momen dimana manusia merasakan bahwa cinta adalah satu energi yang menggerakkan kehidupan. Bahwa semua peran adalah giliran setiap orang dalam roda kehidupan. Bahwa tak ada yang abadi selain perputaran. Spiral yang keluar dan spiral yang ke dalam. Bahwa cinta di luar sana sepenuhnya bergantung pada cinta yang kita dapatkan di dalam diri kita masing-masing.

Di bumbung hujan yang memenuhi langit Kathmandu hari itu, Tara menemukan Hans kembali. Dan Hans menemukan Tara kembali. Bahwa jiwa-jiwa yang sepenuhnya akan bertemu akan selalu kembali bertemu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s