Jejak Saffron

Segelas teh di pojokan dipan kayu. Uapnya menghiasi udara ruang tamu. Rambutmu basah oleh minyak kelapa. Minyak kelapa yang sama yang kugunakan untuk membuat sambal matah. Semalam kita membuatnya dalam porsi kecil-kecil, karena di udara dingin, minyaknya akan mengendap kental dan meninggalkan tempelan lemak di langit-langit lidah kita.

Bau pegunungan mewarnai nafasmu. Aku seperti tengah mengecap salju yang tiada rasa. Sejenak terasa jejak saffron yang bercampur tembakau. Kau bercerita mengenai ladang-ladang saffron di tanahmu, sementara rasa itu mengendap menuju dadaku.

Aku tak pernah lagi bertanya apalagi yang abadi, selain detik-detik percakapan yang menggenangi ingatan.