Deskripsi Sebuah Taman

Ada satu garis tak terlihat melintasi bumi ini, mencapai tempat di mana kau terduduk di sebuah taman. Dengan begitu banyak orang. Kau bilang kau merasa bermimpi di kota ini, sesuatu yang sempat kau sebut rumah, atau bahkan tanah air. Namun rumah yang lain tiba-tiba tak lagi familiar bagimu, dan ingatanmu akannya saat ini hanyalah sekian cerca serta trauma. Betapa sesuatu memiliki potensi untuk berbalik begitu saja. Betapa tipisnya sebuah ilusi.

Sebagaimana setahun yang lalu, kau merasa bermimpi terbangun di antara teralis jeruji. Apakah waktu sesuatu yang relatif? Apakah arti sebuah jarak? Berapa sementaranya sebuah rasa? Betapa lekatnya tubuh pada sesuatu yang tak lagi ada.

Sekian pertanyaan itu muncul dalam percakapan nyaris dua jam. Di antara lalu lalang sepeda dan manusia. Kau merasa seperti menonton sebuah sirkus yang bernama manusia. Dan aku mengenang, kata-kata yang tertulis begitu banyaknya di sekian kertas, buku. Catatan-catatan abadi yang akan tersimpan dalam memori. Satu tahun, kita telah menyimpan sekian rupa. Satu tahun kita telah berbagi sekian kata. Juga mungkin cinta. Lalu rasa itu beranjak menjadi sesuatu yang lain dalam suara kita berdua. Dan aku tak mengetahui itu adalah apa?

Aku berpasrah pada waktu, sebagaimana hidup selalu mengajarkanku. Harapanku adalah kau mengambil banyak waktu, membayar sekian waktu dan kesempatan pada hidupmu yang juga tak sebentar. Hingga percakapan di sebuah taman akan beranjak membaik dan pijakanmu pada bumi menguat kembali. Seperti bola-bola yang selalu kaumainkan di pinggir jalan, penuh warna dan tawa yang lekat di hatiku.

Arupadatu

: M.B.K

Aku telah berganti sekian rupa dan mengenalmu dalam sekian wujud. Dari semua perjalanan kita ke Barat, seperti rombongan pengiring biksu mencari teks Buddha ke arah Barat. Tidak ada monster sepanjang jalan selain jalan terjal, sungai deras, jurang tak berkesudahan dan diri kita sendiri. Aku mengenakan sari hijau dan kuning di suatu masa, mengalungkannya di antara leher dan pundakku. Dan turban putih itu bertengger di kepalamu, yang terkadang mengingatkan aku akan segala sesuatu.

Dalam kekinian pada akhirnya pilihan-pilihan datang, juga dalam berbagai bentuk. Seorang brahmin tua yang kau pilih di kuil Pashupathi berkata akan tiga pilihan, tiga jalan dan tiga nasib. Karmastan, Rajastan dan Dharmastan. Kau menyadari jalan kita berbeda namun nasib kita berkelindan dan di persimpanganlah kita mengetahui bahwa tetap menderita adalah sebuah pilihan. Juga bahagia. Kita berbicara mengenai membangun kebahagiaan. Aku menjawab kebahagiaan terletak dalam diri kita sendiri dan tidak pernah pada orang lain.

Aku menawarkan genggaman tanganku dan dirimu pundakmu. Selagi bersandar kepadamu, aku menopang diriku pada tanah. Karena dari sanalah akarku mengakar dan diriku telah tumbuh. Karena bumi adalah ibuku dan tanah telah menjadi rumahku, pijakanku sepanjang jalan.

Jadi kau yang memiliki hati yang berani, seberapa beranikah kau menghadapi cinta? Sumber derita sepanjang segala masa dan juga sumber inspirasi yang tiada habisnya dipuja. Sanggupkah kau meniti seutas benang sutra itu dan menumbuhkan kedua pasang sayapmu?

Aku tengah menyiulkan panggilan pada Garuda yang telah muncul dimana-mana. Adakah Batara Bayu mengijinkan hatimu ikut reda dan menunggangnya bersamaku? Dalam doakulah, kau ada selalu.

“Aku melihatnya pergi begitu saja, tanpa mengucapkan apa-apa, apalagi perasaanku. Dua bulan kemudian ada bentrok dengan gerilyawan, desa mereka dibakar dan di antara tiga belas ribu korban perang saudara itu, ia adalah salah satunya,” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rajiv, di tengah malam yang tak seberapa dingin dan pojokan kamar yang sudah gelap karena malam dan listrik lagi-lagi tak menyala malam ini. Seperti semua pembicaraan yang menuju kepada sesuatu, manusia akan membicarakan sekian pengalamannya akan cinta.

Aku memeluk kantung tidurku malam itu. Membayangkan perempuan cinta pertama Rajiv dan bagaimana perang saudara di wilayah yang tengah kulewati, mencabiknya dari hatinya. Aku teringat mendadak oleh cinta pertamaku sendiri. Laki-laki Ambon yang nan jauh dari kampungnya. Kata-katanya yang seolah baru kemarin sore ketika ia tengah bercerita tentang rumah pamannya yang dilempar granat di tengah-tengah kerusuhan Ambon yang penuh gejolak di tahun 1999. Saudara yang membunuh saudara. Manusia demi manusia.

Hingga pagi, aku gelisah akan pertanyaanku mengenai cinta pertama dan bagaimana perang saudara mewarnainya. Di bagian belahan bumi tropis dan di bawah kaki-kaki Himalaya seolah semuanya menjadi tak lagi jauh berbeda. Rajiv telah tertidur sekian jam yang lalu, di tengah kegelapan yang mulai terang oleh remangnya pagi, wangi embun mengusik sekian pertanyaanku akan kedamaian dan segala usaha yang akan kita lewati menujunya.

Di sebuah sore yang tajam oleh rindu, kau mengucapkan kata-kata itu “Berjalan kepadamulah, aku menuju sebuah rumah. Dan perjalanan itu masih panjang…” Ditatapnya sepasang mata itu, oleh sinar matahari yang mengecap kilat coklat muda yang di satu masa telah kau hafal dalam hati. Semalam ketika degup di hatimu tidak berubah dan ketenangan di dalam dadamu mengkhianati segala hal yang telah ditahan setahun yang telah berlalu, hanya karena satu langkah memasuki sebuah rumah di atas bukit itu

Seolah terulang kata-kata di bandara siang itu, lima belas menit sebelum pesawat berangkat “Kau yakin untuk melepasku?” dan ketika kata ya, mengalir dari mulutnya, kau melepaskan dirimu dalam sayap-sayap semesta dan terbang bersama seluruh alur hidup yang dapat mengubah nasib. Kalian berdua.

Namun satu langkah memasuki sebuah rumah, segala gejolak tersedan di dada, tawa dan tangis itu seolah kembali berputar, pada kekinian yang baik-baik saja. Dan kau menghela nafas dengan tenang sepanjang malam. Terbangun pada ingatan akan sekian dansa di malam hari, pada suara pisau di atas talenan dapur serta cangkir-cangkir kopi yang tandas di pagi hari, pada bau tanah dan kemiri di helai rambutnya. Pada jauhnya jarak dan dekatnya degup dada di pagi tahun baru yang kedua. Segala langkah yang telah kau lewati dalam setiap doa yang kau rapal di sekian perjalanan yang kau tempuh. Begitu jauh dan ia kini begitu dekat.

Dan pada momen ketika jarak itu mengada, kenyataan menjadikannya tiada.

Rumah

Entah sejak kapan

Dirimu menjadi tempat berpulang

Tempat menjejak dan berpijak

Bahkan jika belum waktunya berpulang

Masih banyak kelana yang harus kulakukan

Meneruskan perjalanan dengan hanya menenteng segalanya dalam satu tas

Sambil perlahan melepaskan segala beban yang tak perlu

Seperti Bhumy, anakku

Mungkin dirimu yang membuatku mengalirkan airku menuju tanah

Pada tanahlah kita semua akan kembali

dan kepadamulah, suatu hari aku akan kembali

Melewati semua janji, dalam sekian kehidupan

yang tak pernah pasti

Bertemu denganmu adalah menemukan rumah

Dan dengan tetap berjalan, entah berapa jauhnya langkah

Arahku berpulang menujumu

Banphikot, 5 Juni 2014

Sebuah surat untuk sang Nenek: Tethyst (1)

:Oma Leni Tanukusumah dan semua perempuan yang dituakan, demi para mamak tua dan demi Tethyst

Setua-tuanya perempuan, Nek. Kau adalah yang tertua. Yang paling kuno bahkan. Dan kau adalah satu-satunya nenek yang kupunya. Dan di antara segala cinta dan benci, di puncak sisa Laut Tethyst yang tertualah, aku mendoakanmu. Tepat di gerbang Annapurna, yang juga mengingatkanku pada kelimpahan semua rasa masakan yang pernah kau masak seumur hidupmu. Demi satu alasan: cinta. Filosofimu sederhana. Makanan adalah cinta dan hatimu adalah dapur yang mengepul. Hanya itu satu bentuk cinta yang kau tahu. Satu-satunya.

Dan di 89 segalanya berakhir, dengan sedikit pahitnya patah hati. Juga patah kaki.

Ah, Oma, semoga segalanya berakhir baru dan segala yang pahit akan berputar demi kebaikan dalam sekian roda kehidupanmu yang akan datang.

Bercak merah cahaya membawamu ke gerbang surga, menandakan naiknya ruhmu kembali ke langit. Aku melempar buah-buahan kering, padamu, pada opa, pada bapak ibuku. Dan di antara derap salju di wajahku hari itu, pada nenek tertualah, aku menyembah sujudku. Pada empat penjuru. Pada kakang kawah adi ari ari sedulur papat limo pancer. Di pusatlah aku menjejak. Antara Tethyst dan Cimmeria.

Om Tare Ture Tuttare Soha

Himalaya adalah sebuah satuan gunung yang terus menerus tumbuh dari masa ke masa. Himalaya adalah salah satu sisa laut yang tertua. Laut kuno di antara Gondwana dan Laurasia. Apalah jadinya jika gunung tertinggi macam Everest aka Sagarmatha aka Chomolungma puncaknya tak pernah benar-benar pasti ketinggiannya. Para summiters mengetahui dengan pasti bahwa kadang puncak adalah ilusi, karena seolah ia tumbuh tak habis-habis. Tapi untuk abad ini kita semua telah bersepakat akan masalah ketinggian yang pasti. Untuk saat ini.

Lalu, Nek, di sekian laut di mana aku menemuimu selalu. Di sekian sisi lautan Hindia. Baik selatan Jawa maupun sisi pantai Barat Australia. Belum lagi di Pantura. Ah, dan selain Mars, air menguasai garis lahirku. Dan kepada Neneklah aku menuju. Sang Ibu tua.

Dalam pesisir Sanur aku menenggelamkan kepalaku, mengapung dalam ringannya ombak dan menemukan pelukanmu. Matahari terbit ketika aku tengah berlari di atas pasir. Pada air, segalanya terbasuh. Pada air, kesedihan terlarung, juga kesialan dan kepahitan. Oh, pada Selatan di mana seluruh doa menuju. Semua sungai dan air yang turun dari gletser-gletser Himalaya. Nek, padamulah, Nek. Kami bermula, menuju dan berakhir.

Om Mane Padme Hum
Hong Wilaheng Sekaring Bawono Langgeng

(bersambung)

Lagi-lagi, Demi Perseus (di Hari yang Sama)

Seorang tukang batu dari India Utara, mencegatku di pinggiran alun-alun kota Kathmandu, sepulangnya dia menunaikan sholat Jumat. Ia mengomentari orang Kashmir, saudara tua yang dari jaman entah, yang kerumunannya kutemukan di Dharamsala, 816 orang di antara bangsa Tibet dan Yahudi. Ada yang absurd di kedai teh salah satu pass tertinggi Annapurna, bendera bintang daud yang tertempel di titik tertinggi 5416 meter ketinggian. Dua segitiga itu, menyatu. Aku meraba punggungku, seolah mengingat sebuah tatto yang masih terhutang dan terlupa di antrian tukang tatto, di hari lain di Kathmandu.

Bicara soal teh, seorang laki-laki Kashmir suatu sore mengajarkan cara membuat chai susu kental dengan benar. Dan percayalah seorang dari Mumbai di waktu yang lain, mengomentari chai buatanku persis rasanya seperti yang dijual di jalanan kota kelahirannya. Aku menganggap ajaran membuat teh itu sukses berat. Tapi aku menyukai teh khas Kashmir, kahwa, yang diselingi wangi safron, mawar, kapulaga, almond dan kadang pistachio. Lalu di sore akhir musim dingin itu aku mendengar sebuah cerita tentang Jusuf.

Percayalah, Perseus, tidak ada gunanya menghindari Centaurus. Namun cerita Jusuf akan mengajarkan bagaimana caranya menjinakkan Centaurus. Bagaimana sesungguhnya segala yang literal dalam teks-teks yang bertebaran dalam kitab-kitab adalah rahasia para juru tulis dan kita jauh dari gempita keluguan dari terlalu banyak masa.

Cerita Jusuf adalah versi manusiawi dari salah satu nabi utama dan bagi beberapa pihak adalah yang terakhir sebelum kiamat tiba. Jusuf adalah pembalikan dari kemartiran dan kejayaan pasca surgawi. Jusuf adalah sesuatu yang jauh dari janji-janji surga. Adalah seorang Jusuf yang pergi menaiki karavan para pedagang dan tiba di Ladakh, jauh ketika ia belum menginjak usia tiga puluh tahun dan masih remaja ingusan. Catatan para biksu di Ladakh, mencatat seorang Jusuf mempelajari bagian dari Boddhicita dan pada akhirnya menyebarkan ajaran mengenai cinta kasih ke arah Barat. Jejak aksara para biksu tercatat di balik jubah merah sang nabi sebagai sisa bahan arkeologi. Dan skenario kebangkitan dirinya di hari ketiga, membawanya tidak terbang ke langit sana, namun di balik para murid yang setia (dan berahasia), ia pergi nun jauh ke daratan Kashmir. Jejak kakinya diabadikan di sana dan sosok Jusuf dihormati oleh para Muslim sebagai juga salah satu nabi utama mereka. Mereka menghormati kematiannya dan jasadnya yang fisik, sebagaimana separuh bumi ini masih memuja kematian non-fisiknya. Bagi orang Kashmir, Jusuf berakhir dengan damai dan biasa-biasa saja.

Jadi tombak Centaurus adalah lagi-lagi masalah perspektif, senjata melawan ketakutan yang terbesar adalah menerima kenyataan dengan berbesar hati. Kematian tidaklah selalu kematian, pada Jusuf dan juga pada namanya yang lain adalah sebuah kelahiran kembali. Ingatlah, ajaran ini: jika seseorang menampar pipi kananmu, maka sodorkanlah juga pipi kirimu. Kurasa pada akhirnya memeluk Centaurus dan menawarkan dadamu kepadanya adalah sebuah jalan keluar dari ketakutanmu sendiri. Dan itulah inti ajaran akan kasih. Melakukan hal-hal yang di luar dugaan dan reaksi. Atau bahkan hal-hal yang biasa-biasa saja. Bahkan kematian pun percayalah, dalam hitungan bisnis, ia adalah bisnis yang akan bertahan selamanya seperti juga kelahiran.

Aku teringat bahwa terlalu banyak orang ingin menjadi luar biasa hingga terlupa untuk menjadi biasa-biasa saja.

Di ujung ekor Scorpio ini, sudah waktunya debu-debu kita bersihkan dari kitab-kitab yang telah lama menunggu untuk kita baca ulang. Dan percayalah profesi tahunan yang telah kita geluti selama ini, Perseus, adalah masalah interpretasi. Namun kitab bumi dan juga kitab langit adalah teks yang berbeda dalam hal skala.

Di gunung, aku menemukan jejak Tethyst. Di laut dan di sungai, aku menemukan jejak kawanan Achilles yang siap bertempur. Tak ada yang terbuang, percayalah, dari segala ke-random-an semua teks yang datang kepadaku dan kepadamu. Bahkan Mbah Google pun telah siap menjadi Mbah tertua di muka wifi semesta. Si pohon tua.

Maka, Perseus, ini adalah waktunya akar membenam kuat ke dalam tanah dan batang pohon tumbuh mencapai langit. Di antara daun-daun yang bermekaran, kitalah para pembuat jembatan menuju pelangi para bintang. Untuk kembali pulang.

Mimpi yang Ketiga

Aku tak lagi mengerti kita berada di arah mana. Namun dalam mimpi ini kita selalu tertangkap basah. Dalam detail yang mengendap, aku hanya mengingat ketika kepalaku kutaruh begitu saja pada lekuk sisi tubuh kirimu. Seolah mendengar di antara jantung dan gemericik suara perut. Sensasi yang aneh untuk menjadi bagian rusuk kirimu. Mitos Hawa yang tak pernah kumau percayai dan aku akan terbayang wajahmu yang juga mengingkarinya di suatu sore.

Sore yang nyaman untuk saling bergelung, dalam hangatnya matahari senja dari arah jendela. Aku hanya ingat gelung rambutnya saat ini. Seolah kubiarkanlah semua nubuat tanda-tanda ini. Pada kenyataannya mungkin kita hanya berbicara melalui aliran udara dan gelombang kesadaran kita masing-masing.

Aku tetap tak lagi sabar, namun juga belum dapat dikatakan rindu. Karena hal-hal yang kita ketahui dan juga belum lagi terjadi.

Ingatan Salju

Bau salju menusuk hidungku bermalam-malam. Selimut merah marun lembab oleh sisa salju yang mencair di pagi hari yang cerah. Rumah-rumah berjejer seceria bendera doa. Teh beraroma mawar dan saffron menguap mengisi dapur bawah tanah. Wangi kretek bertebaran di ruang tengah, menandakan diri yang telah terbangun. Kata-kata Rumi menebar di udara.

Aku begitu dekat, hingga aku terlihat seakan-akan jauh
Begitu bercampur denganmu, hingga aku terlihat seakan-akan terpisah
Begitu terbuka, hingga aku terlihat bersembunyi
Begitu terdiam, karena aku terus menerus berbicara kepadamu

Sejauh puncak-puncak salju dan langit hitam berbintang. Begitu dekat nafasmu. Pada nadiku.

Danau Itu

jika di tepi danau itu, aku akan menemukanmu mungkin itulah saat-saat dimana manusia mulai membuat kenangan. jika kita tak saling berbicara kemudian di tempat itu, maka disitulah aku akan berhenti mencari. titik de javu luar biasa yang membuat semesta diam sementara.

aku tak tahu apa yang memicu sebuah ingatan, selain sekian rasa ribu terkenang dan sensasinya yang menenggelamkan. apakah kibasan rambut yang menutupi wajah ketika tertiup angin gunung? atau senja yang menusuk mata? ataukah sosok punggung kokoh yang seolah-olah pergi? aku tak paham, mencari bentuk dalam fisik yang tak lagi milikku ataupun milikmu. rasa kesatuan yang menjadi satu.

maka, sejak itu, tak kuingat lagi wajahmu ataupun bau jejakmu. karena di hidup kita yang sekarang, kita akan selalu bertemu dalam sekian bentuk dan serpihan yang tak lagi sama, tak lagi utuh. tapi rasa itu masih disana. di sebuah danau yang tertutup es di kala musim panas pun.

dan ingin kuhayati janji itu. dan ingin kuberjalan menanjak segera kesana. menemuimu.