#30harimenulis

Day 12: Nairobi, 17 September 2010

Kenneth

Sebuah email masuk dalam inboxnya. Kenneth Maruti menatap barisan kata-kata yang terpapar di layar komputernya. Lama. Berulang kali. Seolah-olah ingin memastikan bahwa matanya tak rabun oleh umur. Tak rabun oleh waktu yang menipu.

Vivian.

Nama itu lagi. Nama yang membekas pada memorinya.

Vivian. Wina. Tara.

Tara. Putri Vivian mengontak emailnya. Vivian sudah meninggalkan dunia ini empat tahun yang lalu. Matanya berkaca-kaca. Ia melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang menggenang di pelupuknya. Sudah berapa tahunkah itu? Kenangan. Rasa hati yang remuk redam. Semakin teriris dengan kepergian Vivian untuk selama-lamanya.

Ia mencoba mengingat hari ketika di Flughafen Wien, ketika ia melepasnya. Ketika ia bertemu dan melepasnya. Dia seharusnya tidak pernah melepasnya.

Vivian, der Schatz.

Jika saja ia bisa memutar kembali waktu. Jika saja ia punya sedikit keberanian yang lebih. Jika saja…

Rasa sakit di dadanya memuncak. Semua kenangan itu kembali seperti air bah. Kenneth tak siap. Tak pernah siap dengan kepergian Vivian. Apalagi ini yang kedua baginya. Terlalu menyakitkan. Ia mencoba menguatkan diri agar jantungnya tidak berhenti dan dirinya menyusul Vivian. Walau ia ingin. Sungguh. Ia ingin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s