#30harimenulis

Day 2: Wina, 14 Desember 1979

Vivian

Udara bulan Desember begitu dingin. Vivian belum beranjak dari balik selimutnya. Sepertinya hari ini salju akan jatuh ke tanah dan pecah. Dalam waktu seminggu ia akan kembali ke negara tropis yang panas, kotanya yang selalu hujan dan dirinya yang terperangkap tak bisa kemana-mana. Tangan hitam legam yang tengah memeluknya hangat akan kembali ke negaranya yang juga tak kalah panas sepanjang tahun. Tanpa dirinya. Mereka sudah memutuskan untuk tidak lagi bersama. Untuk tidak lagi bertemu. Selamanya.

Vivian membuka kelopak matanya perlahan. Rasa enggan melepaskan pelukan itu membuatnya terjaga. Dapatkah ia tidak memikirkan laki-laki yang tengah memeluknya selamanya? Laki-laki yang membuat dirinya keluar dari cangkang keberadaannya dengan nyaman. Laki-laki yang dapat membuatnya merasakan musim semi dan musim panas sepanjang musim dingin yang mereka lewati bersama sebanyak dua kali. Dirinya yang selalu hujan dan muram dan diam hilang di tangan laki-laki itu.

Ia teringat Tio, suaminya, di ujung dunia yang lain. Sudah nyaris delapan tahun mereka menikah. Sudah lelah ia berjuang demi perkawinannya di mata ibunya. Dan tak ada anak yang mewarnai kehidupan mereka. Tak ada lagi gairah. Ia lelah namun merasa bersalah. Pada Tio dan mungkin pada Tuhan. Juga pada surat-surat Tio yang selalu setia datang dan dirinya yang masih setia dalam surat-surat yang pergi.

Di kota ini untuk pertama kalinya ia merasa bebas. Bebas menentukan hidupnya. Bebas dari mata-mata waspada dan mulut-mulut nyinyir. Tak ada orang yang peduli mengenai hubungan dirinya dengan Kenneth. Laki-laki yang membuka kunci dirinya dan membiarkannya lepas. Lepas dari kurungan sangkar emas. Lepas dari kontrol ibunya. Lepas dari suaminya. Sudah setahun ia menjalani hidupnya dengan tanpa beban. Tanpa harus menyenangkan orang lain selain dirinya dan tentu saja, Kenneth. Laki-laki dari benua hitam, hitam legam dengan senyum cemerlang seperti berlian.

Ia tahu ia mencintai Kenneth. Begitu rupa.

Ia berbalik meringkuk di dada laki-laki itu. Detak jantung Kenneth terdengar. Andai waktu bergerak serupa detak jantung yang dicintainya, maka hidup tidak akan menjadi sesulit dan sepelik ini. Mereka hanya punya tujuh hari lagi bersama.

Tujuh hari.
Seratus enam puluh delapan jam.
Sepuluh ribu dan delapan puluh menit.
Enam ratus empat ribu delapan ratus detik.

Detik-detik itu mulai berkurang. Vivian menutup matanya dan tak ingin lagi terbangun. Tak ingin lagi berpikir mengenai waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s